
"Tuan saya akan pulang sendiri?". Ucap Alya, dia ingin mampir dulu ke Laundry menengok Lea, kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh dari butik tempatnya berada sekarang.
"Tidak, masuk sana ke dalam mobil..." Indra menjawab dengan nada malas sembari memainkan ponselnya, lalu masuk ke dalam mobil setelah Alya.
"Kenapa?". Alya bertanya polos dan bingung..
"Tidak apa-apa, Oyah besok pergilah ke salon kecantikan, buat rambut mu bergelombang sedikit, aku tidak suka rambut lurus tak berbentuk ". Ucap Indra melihat rambut Alya yang hanya lurus berwarna hitam.
Alya memegangi rambutnya, selama ini Alya memang tidak pernah merawat rambutnya karena sudah lurus, rambutnya masih lurus polos tak tersentuh oleh catok.
"Rambut luruskan bagus". Batin Alya
"Baik tuan". Jawab Alya hanya bisa patuh.
"Warnai jika perlu, buat seperti princess ". Indra menarik rambut Alya dengan pelan, kemudian mencium ujungnya...
"Enak saja di warnai, aku suka rambut hitam.. bagaimana kalau di warnai duh itu tidak cocok dengan ku". Batin Alya dia juga khawatir Bu Nensy akan memarahinya jika terlalu banyak gaya.
"Cih... Kapan terakhir kali kau keramas!". Indra kesal ternyata rambut Alya sudah berminyak dan lepek.
"he-he-he Dua hari yang lalu tuan". Jawab Alya, dia sangat malu ..
"Cuci rambut mu secara teratur... Beli juga sampo yang mahal!" Kesal Indra .
"baik tuan". Jawab Alya.
Mereka tiba di apartemen Alya...
"Terimakasih tuan sudah mengantar saya". Ucap Alya seraya membuka sabuk pengaman lalu turun dari mobil.
"Hmm.." Indra menjawab dengan malas seperti biasanya
Setelah memastikan Alya sudah tiba di apartemennya Indra dan junsen kembali mengemudi mobil mereka untuk pulang.
"Junsen". Indra berbicara dengan suara ringan.
"Iya tuan muda". Junsen melihat raut wajah Indra seketika di balik kaca spion.
"Kau dengar tadi, dia bahkan tidak keramas selama dua hari... Apa dia benar-benar seorang wanita, hampir saja aku menarik rambutnya tadi". Indra tertawa membayangkan kembali raut wajah Alya yang sangat malu ketika Indra menyentuh rambutnya.
__ADS_1
Entah mengapa Indra kurang menyukai rambut lurus yang begitu jatuh, dia menyukai wanita yang memiliki rambut yang bervolume juga pirang, hmm seperti model rambut Celine.
Junsen hanya diam dalam hati dia malah bertanya-tanya tentang kewarasan tuan muda, jelas rambut hitam panjang adalah dambaan setiap wanita, lalu bagaimana mungkin tuan muda mengatakan itu jelek.
"Oyah bagaimana dengan persiapan gedung, apa semuanya sudah beres". Tanya Indra, pembicaraan kembali ke mode serius.
"Sudah 50% tuan". Jawab junsen, bagaimana mungkin gedung sudah siap sementara baru tadi pagi ia memesan gedung pernikahan.
"Baiklah... Undangan tidak perlu banyak-banyak, cukup orang-orang penting saja yang datang, tidak perlu mengundang media atau orang kantor mereka tidak perlu tahu soal pernikahan ini, aku ingin pernikahan di gelar secara tertutup saja". Jelas Indra.
"Baik tuan saya mengerti". Jawab junsen.
Tidak berselang lama mereka sudah tiba di apartemen...
Indra turun dari mobil dan langsung beranjak ke kamarnya...
kemudian setelah makan malam dan membersihkan diri Indra pun tertidur.
...****************...
Keesokan harinya...
Ada rasa belum siap untuk melepaskan masa lajangnya, kebebasan yang baru saja ia dapatkan harus ia lepaskan lagi..
"Alya..." Panggil Misel.
"Hmm yah?". Menjawab dalam tatapan kosong..
"Ada apa? Kau selalu murung, apa beban mu sebanyak itu? Mengapa setiap hari kau selalu tidak bersemangat?". Tanya Misel, selama bekerja Misel tidak pernah melihat Alya dengan raut wajah tersenyum bahagia.
"Ha-ha tidak kok, aku baik-baik saja, hanya banyak kerjaan saja". Jawab Alya berusaha menyembunyikan yang sebenarnya.
"Yakin?, Oyah beberapa hari yang lalu kau benar izin karena pulang kampung?". Tanya Misel, tumben dia peduli...
Alya melirik "pulang kampung, siapa bilang dia pulang kampung?". Batinnya bertanya-tanya, dengan raut wajah kebingungan.
"Katanya nenek mu sakit ya, hmm kamu masih punya nenek?". Misel bertanya lagi.
Kepala Alya berpura, apa itu semua alasan yang di gunakan perusahaan untuk menutupi kepergian dirinya bersama Indra dan junsen ke Amerika.
__ADS_1
Alya mengguk kemudian tersenyum canggung "iya.." dia bahkan tidak sempat melihat wajah neneknya sebelum Alya lahir.
Beberapa menit berlalu dan Misel bertanya setelah Alya melamun lagi "Bagiamana kondisinya, apakah sudah sehat?".
Alya terkejut. "Ehmm... Sehat.. siapa?". Alya kebingungan, pikirannya kosong hanya ada pernikahan yang terus berputar di memori otaknya .
Alya menjadi stress membayangkan dirinya akan menjadi menantu konglomerat yang memandangnya sebelah mata, Alya mulai bisa merambah neraka seperti apa yang akan ia masuki setelah pernikahan..
"Ya ampun Alya.. kamu cuci muka dulu deh, kamu sepertinya banyak pikiran makanya sedari tadi kurang fokus ". Misel memberi saran.
"Yah ide bagus itu ". Alya beranjak untuk masuk ke dalam kamar mandi...
Di depan cermin, Alya memandangi dirinya sendiri, dari sekian ratus ribu penduduk Indonesia dan dari sekian banyaknya karyawan kantor apa harus dia yang mendapatkan keberuntungan.. ralat kemalangan ini...
"Jika saja aku tau akan sejauh ini, mungkin aku tidak akan pernah memulai permainan ini". Alya merenungi kembali saat bahagianya dia menerima kartu no limit yang di berikan Indra dan janji untuk jenjang karier Nya ke depan.
Untuk menyerah itu sangat mustahil Alya lakukan, dia harus maju terus, Alya tidak ingin menyerah sekarang, Alya masih penasaran bagaimana nanti ending hidupnya dan untuk menjadi bagian dari tuan Indra...
Alya berfikir dulu itu hanya lamunannya saja untuk bisa dekat dan tinggal bersama Indra, namun lihatlah sekarang semuanya terjadi dan itu seperti dongeng baginya.
"Percayalah Ini hanya satu tahun Alya... Tuan Indra juga tidak buruk bukan, dia lumayan baik hanya perlu mengiyakan semua perkataannya saja bujan... Yah hanya itu saja". Alya menyemangati diri di depan cermin.
Alya keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah lebih cerah dan fresh dari sebelumnya.
"Bagaimana sudah jauh lebih baik?". Tanya Misel.
"Seperti katamu". Jawab Alya dengan senyuman.
"Nah itu bagus.. ayo ceritakan kondisi nenek mu dan selama kau di kampung ". Tanya Misel.
"Nenek.. nenek baik-baik saja. . iya dia sudah sangat sehat". Alya menggaruk kepalanya, dia tidak terbiasa berbohong.
"Syukurlah..." Jawab Misel.
Alya kembali fokus pada pekerjaannya, selama kepergiannya ke Amerika banyak sekali berkas-berkas yang menumpuk dan itu semua tugas Alya sebagai karyawan training.
"Hmm.. kau masih berhubungan dengan Ben?". Tanya Misel, kenapa sekarang Misel seperti aneh, bukannya beberapa hari yang lalu dia acuh dan seperti kesal pada Alya.
"Hanya berteman baik saja kok, tidak terlalu dekat". Jawab Alya, dia masih tetap fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
next Part...