Tuan Muda Menyebalkan

Tuan Muda Menyebalkan
Masih Kesal...


__ADS_3

Alya berbalik badan melihat makanan di atas meja, sebenarnya dia tidak berselera sama sekali, moodnya juga hilang tapi rasa lapar memaksanya untuk menurunkan gengsi dan mau tak mau dia harus makan juga meski dengan cucuran air mata...


Huaaaa... Air mata itu tidak berhenti dan keluar dengan sendirinya.


Di luar...


Ternyata diam-diam Indra mengintip junsen...


"Hmm... Bagaimana apa dia menerima hadiah yang ku berikan?". Tanya Indra berpura-pura membuang muka tidak ingin melihat Junsen, padahal dia penasaran dengan reaksi Alya.


"Iya tuan, nona menerimanya". Jawab junsen, dalam hati dia ingin tertawa atas tingkah aneh tuannya namun junsen khawatir kalau-kalau dia berakhir menjadi bulan-bulanan Indra.


"Apa dia senang... Maksud ku apa yang dia katakan?". Indra sangat penasaran.


"Dia tidak mengatakan apapun tuan". Jawab junsen.


"Terimakasih atau semacamnya apa tidak ada?". Tanya Indra penuh harap.


Junsen menggeleng "tidak ada tuan".


"Oke..." Indra menutup pintu kamarnya dengan malas.


Sementara junsen menatap pintu itu sambil terheran, "semua ini memusingkan". Batin junsen.


Beginilah yang terjadi jika bekerja sama dengan bos muda yang kadang bertingkah dingin, kadang sombong, kadang juga seperti kanak-kanak, sungguh tidak jelas...


Tidak ada yang bisa menebak secara pasti perubahan mood Indra...


Tapi bukankah saat bertingkah aneh Indra menjadi sosok yang lucu... maybe


"Ha-ha-ha lucu dari mananya ". junsen terkekeh kemudian ia masuk ke dalam kamarnya .


Di kamar Indra....


Dia mondar-mandir tak karuan, dia kesal dengan sikap Alya yang tidak mengucapkan terimakasih atau apapun atas usahanya membelikan hadiah tersebut.


Padahal Indra menunggu, jika Alya akan berterimakasih dan melupakan rasa sedihnya.


"Apa dia tidak menyukai bunga?.. lalu bagaimana dengan coklat mahal itu harusnya dia suka... Kalaupun tidak suka coklat harusnya boneka itu bisa menghiburnya, Di mana letak terimakasihnya". Indra terus mondar-mandir berbicara sendiri ...


"Apa dia itu seorang wanita.. kenapa dia tidak suka hal romantis". Indra terus bergumam sembari memijat-mijat keningnya.


Memikirkan nya membuat Indra pusing sendiri, Indra membuang dirinya ke atas kasur lalu menatap langit-langit kamarnya.


Berpikir normal lagi...

__ADS_1


"Apakah keputusan mu untuk menikahinya sudah bulat". Gumamnya lagi...


Indra kemudian berbalik badan memeluk guling dan bergumam lagi "cih... Ayolah Indra mengapa kau jadi gelisah seperti ini.. ha-ha-ha kau berkuasa, untuk apa memusingkan perasaannya.. dia akan bahagia dengan harta yang kau punya".


Indra mencoba melawan akal sehatnya agar dirinya tidak terus menerus menggila memikirkan Alya yang sepertinya sudah terlanjur membencinya.


Indra meraih ponselnya di atas meja, kemudian membuka WhatsApp, ia kemudian membaca ulang hasil chatting nya dengan Alya.


Jarinya bergerak ingin menyentuh layar dan menekan video call....


Namun sedetik kemudian ia berubah pikiran lagi, gengsi tentu saja...


Indra sebenarnya hanya ingin memastikan apakah Alya sudah jauh lebih tenang dan baik-baik saja ataukah dia masih memikirkan perkataannya...


"Ah sial..." Indra membuang ponselnya ke sofa, lalu berguling-guling di atas kasur, entahlah dia benar-benar bertingkah layaknya bocah puber .


"Sebaiknya aku sampari saja dia..." Indra mengambil langkah, keluar dari kamarnya kemudian melangkah ke kamar Alya...


Indra sampai di depan kamar, ia menarik nafas dalam-dalam kemudian mengepalkan tangan ingin mengetuk pintu...


Namun lagi-lagi gagal, tangan Indra hanya terangkat saja, tidak sampai menyentuh pintu itu...


Indra akhirnya geram pada dirinya sendiri, ia kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya sembari mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


"Fucking ****!!". Makinya pada diri sendiri yang kembali kacau dengan mondar-mandir.


Deg...


Indra akhirnya bisa melihat Alya yang juga tengah berdiri disana, menikmati matahari yang hampir tenggelam dengan warna langit orange..


Di tambah tiupan angin yang menyibak rambut Alya dengan mata tertutup, diam-diam Indra mencuri satu foto disana...


"Dia lucu juga". Batin Indra terkekeh melihat Alya, dengan pakaian seksi dan baju kaos polos.


Alya menoleh dan Tampa sengaja pandangan mereka bertemu satu sama lain..


Indra memberikan senyuman namun Alya menundukkan kepala lalu bergegas kembali masuk ke dalam kamar..


Entahlah rasanya malas saja melihat sang majikan yang akan segera menjadi calon suaminya ..


"Benarkah?". Alya bertanya-tanya.


Jadi apa, dia akan segera menjadi tuan putri, atau nyonya muda di mansion Indra yang super duper mewah itu..


Alya tidak ingin lagi memikirkan persoalan itu, jika di pikir-pikir lagi, mungkin dia akan gila..

__ADS_1


Sekarang yang terpenting bagaimana dia akan hidup selanjutnya...


Alya saat di balkon tadi juga mengingat perkataan Indra semalam, kalau dirinya memang masih terikat kontrak kerja sama tapi saat kontrak itu selesai maka semuanya akan berakhir dan kembali normal...


Lagi pula saat menandatangani kontrak Alya sudah tau persis bahwa haknya telah di beli jadi kembali lagi mungkin ini juga salah Alya yang terlalu tergoda dengan uang.


"Sebentar lagi aku mungkin akan gila". Alya mengambil pil dari dalam tasnya..


Itu adalah pil tidur, Alya ingin tidur nyenyak saja malam ini, dia sudah tidak mau lagi berfikir banyak hal yang bahkan tidak bisa lagi di ubah.


Sejenak Alya melihat boneka beruang besar di atas kasurnya juga buket dan coklat, tidak ada selera untuk menyentuhnya...


Alya membuang muka, ia melangkah untuk mengambil air di meja kemudian meminum pil tersebut lalu dengan satu gerakan semua hadiah yang di berikan Indra terhempas ke bawah lantai...


Alya menarik selimut untuk kemudian tidur, sesaat dia ingin lupa jika dunia begitu kejam padanya...


...****************...


Keesokan harinya...


Hari masih begitu gelap, Alya sudah mendapati kamarnya seperti akan pecah, ponsel di sampingnya juga sedari tadi berdering...


"Iya iya tunggu.." Alya lupa dia masih ada di hotel, dia mengira dia sudah kembali ke Indonesia.


"Selamat pagi nona, tuan meminta anda agar segera turun ke bawah untuk sarapan, sebentar lagi kita akan ke bandara untuk kembali ke Indonesia ". Jelas Junsen.


"Hmm baik pak, saya mandi dulu". Jawab Alya.


"Baik nona, jangan berlama-lama, tuan tidak suka menunggu " .


"Saya mengerti.." jawab Alya.


Waktu pun berlalu....


Di meja makan (Hotel)...


Setelah mengambil makanan, Alya memilih untuk duduk sendirian, sementara Indra duduk di meja lainnya.


Ia mengamati dari jauh, Alya benar tidak ingin dekat-dekat dengannya..


"Panggil dia kemari.." ucap Indra pada Junsen


"Baik tuan". Junsen segera memanggil Alya, namun Alya menolak... Dan lagi-lagi dia di ancam dengan surat perjanjian kontrak.


"Sial..." Gerutu Alya kesal dalam hati, ia kemudian mengangkat piringnya lalu datang dan duduk makan bersama bosnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2