
Siang itu semuanya berjalan dengan baik, hingga kunjungan selesai..
"Cukup lelah juga hari ini". Ucap Alya memijat kakinya, posisinya sedang duduk di teras.
Ben datang dan duduk di sampingnya..
"Hmm kita Makan siang di restoran Mana lagi, bagaimana?" Tanya Ben, waktu sudah melewati jam makan siang sebenarnya
"Boleh". Jawab Alya
Akhirnya mereka semua pergi menuju restoran yang telah Ben pilih.
Restoran sederhana yang memiliki menu makanan yang cukup sederhana juga tapi sangat enak
Setelah sampai di sana Alya duduk berhadapan dengan Ben, yah mereka semua duduk saling berhadapan sih...
"Ada apa?". Tanya Ben bingung, sedari tadi terlihat Alya gelisah, pandangannya selalu sibuk mencari-cari seseorang.
Alya menggeleng lalu tersenyum "tidak ada apa-apa Ben". Jawab Alya.
"Sedari pagi kau selalu gelisah? Apa ada yang ingin mencelakai mu?". Ben mengalihkan pandanganya mencari-cari apakah mungkin ada orang yang mengincar Alya.
"Ha-ha-ha itu tidak mungkin Ben". Jawab Alya kemudian mengambil makanan yang di antarkan pelayan untuknya.
"Lalu kenap..."
"Ayo makan". Potong Alya.
"Hmm baiklah ". Ben pasrah, namun dia juga curiga, sebenarnya ada apa dengan Alya mengapa sikapnya berubah.
"Alya?". Seorang pria tiba-tiba datang entah dari mana menyapa Alya di sela-sela makannya.
"Jakop?". Alya lumayan terkejut dengan keberadaan jakop di sana, rasanya sudah lama sekali mereka tidak bertemu.
Terakhir mereka bertemu saat kelas dua SMA dulu, saat mereka berpacaran, namun pacaran mereka hanya sebentar saja dan harus berpisah karena Jakop yang pindah ke luar negeri bersama kedua orang tuanya.
Dan peristiwa itu terjadi sekitar enam tahun yang lalu, Jakop juga merupakan cinta pertama Alya saat itu, saat pacaran mereka juga masih sembunyi-sembunyi lantaran Alya takut ibu Nensy memarahinya.
"Hey apa kabar kamu, sudah lama sekali". Jakop mengulurkan tangannya.
"Aku baik sekali... Hmm bagaimana dengan mu". Alya tersenyum sembari menjabat tangan Jakop.
"Aku juga sangat baik.. bay the way aku senang sekali dapat berjumpa kembali dengan mu". Jawab Jakop, dari pendengaran Alya sepertinya Jakop mulai kurang fasi dengan Indonesia.
"Aku juga senang... Oyah kapan kamu kembali dari luar negeri?". Tanya Alya.
"Aku?.. satu Minggu yang lalu, nenek ku meninggal sehingga kami sekeluarga harus pulang ". Jawab Jakop.
"Oyah? Aku turut berdukacita". Alya berwajah sedih..
"Terimakasih Vitamin ". Jawab Jakop...
__ADS_1
Hmm hmm.. vitamin adalah panggilan Jakop untuk Alya saat masih pacaran dulu.
Ben mendengar sebutan itu, dia kemudian menatap penuh tanda tanya pada Alya.
"Ah ya.. Ben kenalkan ini Jakop, teman ku dulu di SMA". Alya memperkenalkan.
"Jakop ini Ben rekan kerja ku".
"Halo my name is Jakop". Jakop mengulurkan tangannya.
"Halo, Saya Ben". Ben menjawab cukup ramah.
"Oyah Vitamin dimana kamu bekerja sekarang ?". Tanya Jakop, dia pun mengambil kursi dan duduk di sebelah Alya.
"Di Perusahaan PT.indra Jaya company.. "
"Oyah, aku tahu perusahaan itu.. wah hebat juga ya kamu bisa kerja di sana". Jawab jakop..
"Hmm... ". Jawab Alya.
Mereka masih lama mengobrol ringan saat itu, membahas masa lalu dan yah semua waktu yang telah berlalu.
Hingga akhirnya Alya memutuskan untuk pulang saat mengerti temannya sudah pada menunggu karena mereka masih harus kembali ke kantor.
"Vitamin boleh aku minta nomer ponsel mu?, sungguh aku masih ingin mengobrol banyak dengan mu?l". Tanya Jakop.
"Tentu saja.. sebentar ya". Alya segera memberikan nomor ponselnya.
"Kalau begitu aku permisi dulu Jakop, di lain kesempatan kita bertemu kembali". Alya berpamitan.
"Oke see u". Jakop melambaikan tangannya
Tiba di perusahaan....
Alya segera duduk di meja kerjanya, dua jam lagi waktu untuk pulang karena mereka menghabiskan waktu di lapangan cukup lama.
Lama Alya berkutat dengan komputernya, pekerjaannya cukup banyak karena harus membuat laporan kerja untuk hari ini.
"Alya tuan muda memanggil mu". Seorang staff datang menghampiri Alya.
"Bukankah tuan muda sedang dalam perjalanan bisnis hari ini, apa dia sudah kembali?". Batin Alya.
"Aku akan kesana, setelah ini". Jawab Alya, laporan yang harus dia buat belum selesai dan Indra malah memanggilnya.
"Cepatlah sepertinya penting". Staff memperingati.
"Iya aku kesana sekarang ". Jawab Alya.
"Sssttt... Tuan muda selalu memanggil mu, ada apa? Oh atau jangan-jangan kalian memiliki hubungan spesial ya..". Misel mulai curiga.
"Sssttt... Pelankan suara mu, aku tidak memiliki hubungan spesial dengan tuan muda, dan lagi tuan muda selalu memanggil ku karena aku ahli gizinya, sekaligus budaknya.. entahlah pasti dia akan Mengerjai ku lagi.." jawab Alya.
__ADS_1
"Mungkin tuan muda menyukai mu". Misel menebak.
"Tidak mungkin... Dia membenci ku setengah mati". Alya bangkit berdiri.
"Kadang-kadang benci bisa jadi cinta ". Gumam Misel sementara Alya sudah melangkah menuju ruangan Indra.
"Apa dia akan mengintrogasi ku lagi tentang pekerjaan di lapangan tadi.. cih kekanak-kanakan sekali". Alya mulai bisa menebak kemana alur selanjutnya..
"Permisi tuan". Alya mengetuk pintu.
"Masuk!". Suara Indra terdengar galak.
"Tuh kan.. dari suaranya saja sudah sangat menjengkelkan.. muak sekali rasanya harus menghadapinya ". Dengan malas Alya membuka pintu.
Indra duduk di kursinya sembari menatap dengan sinis.
"Tatapan sinis apa lagi itu... Cih entah mengapa aku sangat ingin meneriakinya, kalau aku muak.. muak sekali!!". Batin Alya.
"Kemari!". Panggil Indra masih dengan nada sinis.
"Baik tuan". Menjawab dengan malas.
"Kenapa? Kau tidak suka hah!". Indra menjadi semakin jengkel.
"Tidak tuan, saya suka kok". Jawab Alya.
"Lalu mengapa ekspresi mu seperti itu.. oh apa karena lelaki ini". Indra melempar ponselnya ke atas meja yang memperlihatkan Jokop dan Alya yang sedang bersalaman disana.
"Sudah ku duga mata-mata yang dia kirim pasti telah mengambil gambar ini". Alya tidak heran lagi dengan itu.
"Tidak ada sangkut pautnya dengan pria ini suami ku". Alya bergelut manja sembari duduk di pangkuan Indra...
Beruntung pria itu tidak marah...
"Wah.. kau mau merayu ku ... Kau pikir aku akan luluh". Indra masih sinis.
"Di rayu salah tidak di rayu akan lebih parah.. ". Batin Alya
"Bukan begitu suami ku... Aku hanya.."
"Aku hanya apa hah! Katakan siapa dia mengapa dia memanggi mu Vitamin cih... Apa dia itu racun!!". Indra membuang pandangannya kesal sekali.
"Di..dia Hanya teman lamaku saja suami ku ". Alya meraih wajah Indra dan sedikit bergelagak manja sungguh Alya sudah seperti wanita penggoda yang mahir merayu pria sekarang..
"Teman lama? Apa dia mantan pacar mu!!". Tanya Indra mengintimidasi.
Alya terkejut dia diam dengan pertanyaan itu jika di jawab iya maka pasti Indra akan semakin meledak dan jika di jawab bukan Indra juga pasti akan mencari tahu, dan lebih parahnya lagi jika Alya berbohong dan Indra mengetahuinya.
"Katakan!". Indra meraih dagu Alya lalu mencengkram nya.
"Bagaimana ini.. apa dia sungguh marah". Alua panik dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG