
Indra mengambil segelas wine di atas meja kemudian mengguncangnya beberapa kali lalu segera meneguknya...
Setelah itu dia bangkit berdiri dan berencana untuk pulang ke mansion.
Entahlah hari ini masih jam kerja tapi Indra sudah merindukan istrinya, perasaan itu muncul tiba-tiba saja dalam dirinya dan entah mengapa Indra tidak mampu melawan gejolak itu pada dirinya sendiri.
Indra pulang di antar oleh junsen dengan alasan dia sedang tidak enak badan sehingga menugaskan junsen untuk mengambil ahli pekerjaan selanjutnya. .
"Selamat siang menjelang sore tuan, anda sudah kembali?". Ucap pak Yen menyapa.
Indra hanya mengangguk kemudian menyerahkan tasnya pada pak Yen dan berjalan ke arah kamar
"Apa nona muda masih istirahat? Apa dia sudah makan siang?". Tanya Indra sembari terus berjalan di ikuti pak Yen dari belakang.
"Nona muda belum makan siang tuan, sepertinya beliau masih beristirahat". Jelas pak Yen karena tadi pak Yen sempat menawarkan makan siang pada Alya namun dia menolak dengan alasan masih kenyang...
Padahal Alya menolak karena tidak ingin semeja makan dengan Bu vanessa, Katrin dan Celine yang datang berkunjung.
"Baiklah". Indra beranjak dengan langkah kaki yang lebih cepat ingin memanggil istrinya untuk makan siang, karena hari sudah menjelang sore
"Ceklek.." Indra membuka pintu kamar
Terlihat Alya sudah bersandar sembari memainkan ponselnya di atas kasur.
"Sudah bangun?". Tanya Indra mendekati membuat Alya terkejut.
"Suami ku kau sudah kembali?". Jawab Alya...
"Cih.. bahkan sekarang aku sudah sangat lancar memanggilnya suami ku". Batin Alya.
Indra mengangguk "mengapa belum makan honey, apa kau tidak lapar hmm?". Tanya Indra sembari mengambil ponsel Alya dan meletakkannya di atas meja.
"Aku baru berencana akan turun ke bawah suami ku". Jawab Alya dengan senyuman.
"Kalau begitu come on ". Indra meraih tangan Alya untuk membawanya ke meja makan
Mereka bergandengan tangan menuruni anak tangga, Indra belum menyadari kehadiran Celine di sana, yang ternyata sudah menunggu Nya di bawah.
"Hey Ndra.." sapa Celine membuat Indra menoleh mencari sumber suara.
__ADS_1
Ternyata Celine sedang duduk menonton drama dengan Katrin di ruang tengah.
"Celine?". Indra mengerutkan keningnya...
"Untuk apa dia kemari?". Batin Indra.
"Aku memiliki banyak cerita untuk mu makanya aku datang dan menunggu mu di mansion, ku pikir kau akan kembali larut malam.. tapi.. (Celine berhenti sejenak menatap Indra dengan raut wajah khawatir) hmm apa kau sakit?".
Celine yang sudah mendekat langsung menyentuh kening Indra memastikan apakah Indra sakit atau tidak.
"Aku baik-baik saja". Menjawab dengan nada malas ..
Kemudian melirik istrinya yang terlihat sebal namun tetap menundukkan kepalanya.
"Huuufff syukurlah" . Celine bernafas lega.
"Kau ingin mengatakan apa?". Indra mulai to the poin.
"Hmm aku ingin berbicara berdua, boleh kah". Jawab Celine dengan wajah penuh harap.
"Oke ". Indra melepaskan tangan Alya.
"What.. apa mereka akan kembali bersama.. cih menyebalkan sekali, saat bersama dengan ku kau memperlakukan aku layaknya wanita idaman tapi ketika wanita lain datang kau mencampakkan ku, kurang ajar!!". Gerutu Alya dalam hati menahan kesal.
"Honey kau boleh makan siang terlebih dahulu, tidak perlu menunggu ku". Ucap Indra kemudian pergi ke ruang kerjanya di ikuti Celine dari belakang.
"Brengsek!.. cih memang apa yang aku harapkan dari pernikahan bodoh ini!". Alya sangat kesal dalam hati.
"CK..CK..CK.. sepertinya ada yang baru saja di campakan". Katrin datang memanas-manasi.
"Sayang Nya saya tidak perduli sedikit pun karena mereka bersahabat lagi pula nona Celine terlebih dahulu mengenal tuan muda jadi sepertinya wajar-wajar saja mereka berduaan ". Ingin sekali Alya mengatakan itu kepada Katrin sebagai bentuk pertahanan dirinya namun Alya merasa tidak kuat mengatakannya, ada rasa sesak di dada jujur saja
"Hmm sepertinya kamu salah paham, mereka berdua memiliki cerita sehingga harus berbicara berdua". Jawab Alya berusaha tenang.
"Oyah? Kakak ipar tidak curiga mereka sedang berbuat apa di ruang kerja?". Katrin memanas-manasi, sembari melihat pintu yang tertutup.
Wajah Alya merah padam, sejujurnya dia juga penasaran namun dia tidak memiliki hak untuk komplen ..
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu katakan". Alya beranjak untuk menghindari kemungkinan besar perdebatan akan dimulai.
__ADS_1
"Cih.. memang apa! Apa yang akan mereka lakukan berdua di ruang kerja, berpelukan, berciuman atau apa.. oh yang benar saja, apa iya aku cemburu.. cih tidak masuk akal". Alya mensugesti dirinya bahkan dia sama sekali tidak cemburu padahal jantung Nya berdebar kencang menahan cemburu dan amarah.
Katrin tersenyum tipis melihat raut wajah Alya yang merah, dia senang sekali telah menghancurkan perasaan Alya.
Di meja makan Alya hanya menatap hidangan yang telah di persiapkan pelayanan.
Matanya sesekali melihat ke arah ruangan kerja Indra yang tertutup rapat, entah sudah berapa lama ruangan itu tertutup
"Apa yang mereka bicarakan, apakah harus selama itu". Batin Alya gelisah.
Dia sedang menusuk - nusuk makanannya menggunakan sendok sembari terus bergumam.
"Memikirkannya membuat ku tidak nafsu!". Alya meninggalkan makanan Nya yang baru ia cicipi sedikit kemudian mengambil buah apel dan pergi ke taman belakang untuk menenangkan pikirannya yang hanyut karena rasa cemburu.
Alya sudah berjanji untuk tidak memperlihatkan rasa suka Nya pada Indra, bagaimana pun pernikahan mereka hanyalah status bukan sungguhan.
Alya duduk sembari memperhatikan dua orang pelayan yang sedang mengurus bunga...
Alya baru sadar ternyata mereka masih muda-muda kira-kira hanya berbeda dua tahun dari umurnya sekarang.
"Hey boleh aku bantu?". Alya mendekati mereka.
Mereka sontak menundukkan kepala "maaf nona muda, tapi tuan akan sangat marah jika melihat nona mengerjakan pekerjaan kami".
"Ah tidak perlu khawatir aku akan berbicara dengan Nya nanti, lagi pula aku sedang kebingungan harus berbuat apa, suami ku sedang sibuk dengan sahabatnya di ruang kerja ". Jawab Alya.
Dia kemudian mulai menyentuh pot bunga yang kosong dan mengisinya dengan tanah instan yang baru di beli.
"Jangan lakukan ini nona, kami.." pelayan itu khawatir Indra akan memecat mereka jika Alya turut bekerja.
"Tidak apa-apa, aku akan mengatakan padanya nanti". Jawab Alya dengan senyuman.
"Baiklah nona muda". Mereka akhirnya percaya, meskipun masih ada rasa khawatir.
"Oyah bay the way, apa kalian sudah lama bekerja disini?". Alya bertanya berusaha menghilangkan overtaking di kepalanya.
"Sekitar satu tahun nona".
Alya mengangguk "lumayan". Jawabnya.
__ADS_1
Mereka mengobrol dengan santai disana hingga Alya benar-benar lupa dengan rasa cemburunya.
Bersambung