
"Hmm..." Tanpa banyak drama lagi Alya segera turun dari ranjang kemudian pergi.
"Hey!!.." panggil Indra.
Alya berbalik badan dengan heran.
"Kau tau pintu keluar mansion ini?".
Alya menggeleng seperti orang bodoh...
"Dasar bodoh.. ". Gerutu Indra.
"Ikuti aku... Jangan sampai orang melihat mu keluar dari mansion ku!". Indra melangkah mendahului Alya.
Rencananya Indra akan mengantar Alya melalui pintu belakang mansion, dengan begitu tidak akan ada yang melihat bahwa semalam Indra membawa seorang wanita ke mansionnya.
Selama dalam perjalanan menuju ke pintu keluar belakang, Alya tidak pernah fokus pada jalan di depannya, matanya sibuk melongo kesana-kemari melihat betapa indahnya bangunan ini..
Rumah bak istana bertema bangunan eropa juga di setiap ruangan terdapat benda-benda mahal seperti guci dan barang antik lainnya yang tak ternilai harganya...
"The real Sultan.." batin kemiskinan Alya meronta-ronta.
"Brukkk..." Alya tanpa sengaja menabrak punggung kekar Indra.
"Maaf..maaf tuan.." Alya ketakutan saat Indra berbalik dan meliriknya dengan tatapan tidak suka.
Segera Indra membuka pintu belakang mansionnya, yang jarang di ketahui orang karena tidak langsung berhadapan dengan jalan tetapi harus menempuh perjalanan sedikit lagi untuk ke jalan raya.
"Tuan..." Alya berbalik badan Tampak bingung dengan halaman di depannya.
"Sebelah kanan, lurus saja kau akan menemukan jalan raya.." menjawab dengan datar
"Baik tuan... Tapi".
Indra mengertukan keningnya "apa?".
"Saya tidak punya uang untuk pulang.." sungguh memalukan sekali bukan.
Indra memutar bola matanya"trus?". Seakan pertanyaan itu mengisyaratkan "apa hubungannya dengan Indra itu kan urusan mu".
"Tuan bisa tolong saya... Hari ini saya ada interview dan jika saya pulang jalan kaki maka saya akan terlambat..." Alya memasang muka memelas, seperti kucing yang minta di beri ikan
"Cukup... Kau membuang waktu ku!!!". Indra dengan kesal membanting pintu hingga Alya melonjak terkejut.
__ADS_1
"Ah sial... Kenapa juga aku harus minta tolong kepadanya, Dahla aku yakin aku tidak akan bisa merebut perhatiannya... What apa yang aku pikirkan, kenapa sejauh itu.. bahkan untuk menjadi pelayan di rumah ini saja suatu keberuntungan..." Alya memukuli pikiran bodohnya.
Tidak bisa di pungkiri sejak pertama kali melihat Indra di apartemen, Alya sudah terpesona dan jatuh hati padanya.
Tidak heran jika hampir semua wanita tergila-gila pada Indra pria itu kaya raya, terkenal, tampan dan lagi dia mahal, velue yang dimilikinya sangat tinggi, tidak sembarang orang bisa mendekatinya apa lagi Alya hanya di pandang sebagai parasit.
Alya berjalan dengan cepat ke jalan raya menunggu taxi yang lewat, dia memang tidak punya uang untuk pulang namun taxi bisa di bayar setelah sampai bukan, dan Alya tidak bodoh -bodoh amat.. dia akan membayarnya setelah tiba di apartemen
Tiba di apartemen Alya segera membersihkan diri lalu bergegas untuk bersiap-siap ke kantor..
Setelah menyelesaikan riasan tipis di wajahnya Alya kemudian mengambil tasnya dan...
Rencananya sudah mau berangkat tapi sesuatu seperti ada yang aneh...
Alya mengendus-endus di sekitar kamarnya...
"Aneh seperti ada sesuatu yang harum tapi juga.... Oh my God". Alya baru sadar tadi dia sedang membakar roti di bread toaster...
Bergegas Alya mendekat dan... Benar saja rotinya sudah hitam, hangus tak berbentuk..
Secepat kilat Alya mematikan bread toaster lalu mengangkat roti gosong itu dengan kesal, belum lagi karena ceroboh jari tangannya ikut lecet .
"Oh **** Hari yang buruk". Gerutu Alya.
"Duh pak.. bisa lebih cepat sedikit nggak?, Atau biar saya saja yang bawah motornya". Alya sedikit tidak sabaran di motor (ojek online).
"Sabar mbak, ini lagi di lampu merah". Sang ojek memberitahu.
"Oh.. maaf pak saya sedang buru-buru soalnya".
"Kalau buru-buru mengapa tidak bangun pagi".pak Ojek menjawab lalu segera menarik gas, sedikit membuat Alya terkejut.
"Emm.. it.itu ah sudah lah banyak kejadian yang terjadi pagi tadi..." Alya malas menceritakannya.
Akhirnya setelah 20 menit Alya bisa tiba di kantor meskipun sudah terlambat 10 menit.
Alya tergesa-gesa ke ruang interview, beruntung namanya belum di panggil sehingga dia harus menunggu temannya selesai terlebih dahulu.
"Ah syukurlah ini sedikit melegakan". Alya mengusap dada.
Di depan ruang HRD Alya tanpa sengaja melihat Indra yang sedang lewat beserta beberapa orang berpakaian rapi seperti petinggi -petinggi perusahaan, mereka menuju lift.
Alya sontak menutupi mukanya, khawatir apabila Indra melihatnya di kantornya, untung saja Indra bukan tipe orang yang suka melongo kesana-kemari, pandanganya hanya lurus ke depan dan seperti biasa ekspresi wajahnya datar
__ADS_1
"Ibu Alya.." panggil HRD
"Iya Bu". Alya segera masuk ke dalam ruang.
Di hadapannya sudah ada berkas yang sebelumnya ia sudah kumpulkan.
Setelah HRD melihat CV ternyata Alya masih fresh graduate, namun hal itu bisa di pertimbangkan melihat jawaban memuaskan darinya saat tes tertulis...
Pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan HRD tidak terlalu sulit, lagi pula ini jurusan yang sesuai dengan bidang Alya jadi untuk sekarang aman lah.
Singkatnya Alya berhasil di terima dan harus mengikuti masa trening selama 3 bulan, dan pada masa itu Alya harus mampu menunjukkan dedikasi yang terbaik pada perusahaan.
"Selamat ibu Alya mulai besok ibu sudah bisa bergabung bersama kami di perusahaan ini". Ucap HRD seraya menjabat tangan Alya.
"Baik Terimakasih banyak ibu". Alya tersenyum sangat gembira.
Akhir impiannya untuk bekerja di sana terwujud dan tidak perlu capek-capek lagi untuk bekerja di laundry.
"Aku harus bertemu dengan Lea... ". Alya antusias untuk menemui sahabatnya di laundry.
"Bagaimana? Apa kau lolos?". Tanya Misel..
Dia ternyata sudah menunggu Alya di depan ruang.
Alya dengan penuh kegembiraan mengangguk " ini semua karena berkat mu Misel ". Alya memeluk Misel dengan erat.
"Yey Syukurlah, berarti besok kita sudah bisa bekerja...". Misel sangat antusias.
"Tentu... Hmm sebagai ucapan terimakasih ayo kita ke luar, kebetulan aku ingin ke tempat Sahabat ku sekalian makan siang, hehehe tenang saja aku yang traktir ".
Ekspresi wajah Alya begitu senang sepertinya dia ingin menceritakan hal ini pada sahabatnya, kira-kira seperti itulah yang Misel lihat dari Alya.
"Yah... Hari ini aku nggak bisa Al soalnya masih ada urusan ". Jawab Misel.
"yah gimana dong". Alya memasang muka sedih.
"lain kali aja, kita kan masih punya banyak waktu bersama ". jawab Misel.
"hmm iya sih, ya sudah lain kali aja kalau gitu, aku janji aku yang traktir ". Jawab Alya antusias.
"Janji ya..."
"Iya siap..."
__ADS_1
Next....