
"Ini ambilah". Ucap Indra pada Celine.
"Terimakasih Ndra.." dengan sengaja Celine memeluk Indra dengan erat.
"Hmm.." Indra melepaskan pelukan Celine..
"Sial apa sekarang Indra ingin menjaga jarak dari ku!!". Batin Celine merasa kesal, padahal biasanya Indra menyukai sikap manjanya.
"Baiklah kalau begitu aku permisi dulu ndra.. ". Ucap Celine berpamitan yang di balas anggukan mantap dari Indra .
Indra kembali ke meja kerjanya sembari memijat-mijat keningnya, masih terngiang-ngiang di telinganya ucapan Celine yang mengatakan bahwa dia di selingkuhi dan telah putus dari tunangan Nya...
"Apa secepat itu". Indra terus bertanya-tanya.
Indra kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi rekannya di Amerika untuk mencari tahu informasi selanjutnya mengenai Celine dan tunangannya, apakah mereka benar sudah berpisah atau belum...
"Cih mengapa aku harus mengurusi hal ini... Tidak berguna". Gerutu Indra sesaat setelah ia selesai menghubungi rekannya di Amerika...
"Harusnya aku tidak perlu tau dan ikut campur masalah ini". Indra membuang ponselnya ke atas meja, dia memutuskan untuk tidak lagi ingin tau tentang Celine meskipun itu sulit bagi Indra namun dia harus membuktikan bahwa dia benar sudah move on dan ingin fokus pada istri kecilnya.
"Kira-kira sedang apa domba kecil ku sekarang?". Indra kemudian menghubungi pihak cctv untuk segera menghubungkan komputernya dan perangkat cctv agar bisa melihat sedang apa Alya sekarang.
"Kemana dia?". Indra bertanya-tanya saat melihat di rekaman ternyata Alya tidak ada di meja kerjanya.
Indra melacak keberadaan Alya mulai dari kantin, jalan ke toilet, lobby dan perpustakaan tidak ada tanda-tanda Alya berada disana..
"Apa dia sedang keluar di jam kerja! Oh atau jangan-jangan dia keluar lagi bersama si bajingan itu". Buru - buru Indra melacak cctv dan memeriksa ruangan BEN..
"Kosong!". Ben tidak ada disana.
"Sial!!!". Bentak Indra kesal, segera ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Alya.
"Nomor yang anda tuju..."
"****.. kemana dia, mengapa menonaktifkan ponselnya". Indra menjadi geram.
Lagi Indra menekan nomor ponsel Alya "nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan, cobalah beberapa saat lagi".
Indra tersenyum miring "kau banyak menguji kesabaran ku domba kecil, takkan ku ampuni kau!". Kesal Indra.
Indra kemudian kemudian menghubungi junsen.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?". Ucap Junsen saat menjawab panggilan dari Indra.
"Apa kau tau parasit keluar dengan siapa, apa tadi dia meminta izin pada mu?". Indra langsung to the poin.
__ADS_1
"Tidak tuan, nona muda tidak meninggalkan pesan". Jawab junsen.
"Lacak dimana dia sekarang ". Jawab Indra lalu memutuskan sambungan telepon.
Junsen mengerutkan kening mendapati telfon sudah di matikan "ck...ck.. masalah begini saja harus aku yang mengurusnya". Junsen menggelengkan kepala.
Padahal dia memiliki lebih banyak pekerjaan, tidak bisakah Indra sendiri yang melakukannya, junsen menjadi kesal karena harus ikut repot dengan tingkah aneh Indra.
Junsen mengambil tablet nya lalu melacak nomor ponsel Alya...
Ternyata nomor ponselnya mati dan hal itu mengakibatkan junsen akan sangat sulit mencari dimana keberadaan Alya sekarang.
"Semakin membuat ku pusing saja". Batin junsen.
"Drutt.. drutt.. " panggilan dari Indra.
"Iya tuan". Junsen menjawab.
"Bagaimana? Kau sudah menemukan nya?". Tanya Indra seperti terburu-buru.
"Belum tuan, ponsel nona sedang tidak aktif, dan hal itu sangat sulit untuk dilacak keberadaannya ". Jawab junsen .
"Cih.. dasar payah begitu saja tidak bisa, mana skil IT mu hah!". Indra malah mengomel padahal dia sendiri pun tidak tahu perihal melacak.
"CK.. sudah lah!". Dengan kesal Indra memutuskan sambungan telepon.
Junsen kebingungan "apa ada yang salah lagi?". Batinnya, akhir-akhir ini mood Indra suka berubah-ubah dan semakin menyebalkan tidak saja pada Alya namun juga pada Junsen.
Junsen kemudian mengusap wajahnya "merepotkan saja! Sudah bagus tidak punya pasangan!!". Gerutu nya.
Indra uring-uringan di dalam ruangannya, jangan tanyakan tentang pekerjaan bahkan Indra tidak perduli dengan sekertaris nya yang sedari tadi menghubunginya untuk bertemu dewan direksi karena sebentar lagi akan ada meeting dengan klien.
"Tok..tok.."
"Masuk". Dengan kesal Indra menjawab.
"Permisi tuan, anda sudah di tunggu di ruang meeting". Sekertaris datang memberitahu karena sedari tadi Indra tidak ingin menjawab panggilan telepon kantor.
"Apa mereka sudah datang?". Tanyanya.
"benar tuan". Jawab sekertaris.
"Baik lima menit lagi saya kesana". jawab Indra kemudian mengambil file yang sudah di siapkan kemarin oleh junsen di atas mejanya.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi". Seketika wanita itu segera keluar.
__ADS_1
"Ini semua karena domba kecil itu!, Tunggu saja kau!!". Geram Indra kemudian beranjak ke ruang meeting.
Sementara itu Alya dan 4 orang timnya sedang berada di ruangan khusus karyawan untuk berdiskusi masalah amal...
Yah Tim kerja Alya mendapat perintah untuk membagi-bagikan sumbangan rutin perusahaan setiap tahun ke pada anak yatim dan ke sekolah-sekolah...
Dan mereka sedang berdiskusi mengenai total anggaran dan belanja untuk 10 sekolah SD, 10 sekolah SMP dan 10 sekolah SMA untuk menyumbangkan 1000 paket buku dengan mata pelajaran berbeda-beda,
selain itu projek kedua juga untuk membagi-bagikan sembako dan uang tunai kepada 10 panti asuhan yang sudah masuk dalam anggaran perusahaan dan sudah di konfirmasi bahwa mereka layak menerima bantuan tersebut.
"Baik sekian saja diskusi kita hari ini, ingat besok dan lusa kegiatan kita di lapangan jangan ada yang terlambat". Ucap ketua Tim.
"Siap pak". Jawab mereka bertiga termasuk Misel dan ada satu rekan cowok lagi.
"Oke semangat... Kalian boleh beristirahat sekarang". Segera diskusi pun berakhir.
"Baik pak". Setelah itu Alya dan Misel kembali ke ruangannya.
Alya duduk dan mengaktifkan ponselnya..
Dua panggil tidak terjawab "raja Firaun".
mata Alya melotot "Matilah aku, pasti dia akan mengamuk lagi". Alya ketakutan dalam hati.
"Nona muda hubungi saya jika ponsel Anda sudah aktif". Notifikasi dari junsen sekitar 80 menit yang lalu.
Segera Alya menghubungi junsen dan mengatakan dia akan ke ruangan Nya.
"Alya kamu Mau kemana ?". Tanya Misel
"bentar lagi makan siang loh". Sembari melihat jam di tangan nya.
"Pak junsen memanggil ku, mungkin ada sesuatu yang penting ". Jawab Alya.
Misel mengangguk-angguk "hmm mungkin tentang makanan tuan muda lagi". Misel terkekeh.
"Maybe ". Alya memutar bola matanya. Kemudian setelah itu pergi ke ruangan junsen.
Alya segera masuk ke dalam ruang junsen ketika tiba di sana, beruntung masih ada junsen disana..
"Selamat siang pak". Ucap Alya seraya melangkah mendekati meja junsen.
"Silahkan duduk nona". Jawab junsen.
bersambung
__ADS_1