
"Satu lagi..." Junsen memasang muka jauh lebih serius
Alya memasang telinga untuk mendengar detailnya.
"Ketika kita tiba di Amerika, tuan akan memperkenalkan nona pada ibu serta adik perempuannya". Jelas junsen
"What... ". Terlihat sorot mata Alya bertanya seakan pertanyaan seperti ini "jadi tuan muda masih memiliki ibu dan adik".
"Yah benar, nona muda Katrin Herlambang namanya, baru-baru ini menyelesaikan pendidikan S1nya dan berencana akan kembali ke Indonesia beberapa waktu lagi sementara nyonya besar beliau akan kembali bersama kita ke Indonesia saat kita pulang nantinya ". Jawab junsen.
"Baik saya mengerti ". Alya mengangguk-angguk.
Keluarga Indra memang tertutup, bahkan tidak ada yang tau kalau dia masih memiliki adik perempuan dan ibu yang tinggal di Amerika.
"Jika ada yang ingin nona tanyakan lagi, nona bisa menghubungi saya". Jawab junsen.
"Sudah jelas pak..." Jawab Alya, dia gemetaran dan gugup sebenarnya, kalau menjadi pacar pura-pura sih mungkin gampang tapi kalau untuk di kenalkan pada keluarga Indra itu sungguh menghawatirkan.
"Baik kalau begitu saya permisi". Junsen pergi ke kursi lain.
Alya menikmati perjalanannya dengan membaca novel yang ia bawah tadi " Perjuangan dan Sandiwara cinta " judulnya.
Sementara di kabin lainnya Indra sedang menikmati tidurnya, sangat malas untuk memikirkan sesuatu yang akan terjadi setelah menyaksikan pertunangan sahabatnya.
Tujuan Indra membawa Alya adalah untuk memanas-manasi Celine sahabatnya itu, tentu saja Indra cemburu, dia sudah menunggu sejak lama namun nyatanya Celine tidak pernah membalas cintanya dengan alasan tidak ingin merusak persahabatan dan dia memilih orang lain.
...----------------...
Waktu pun berlalu...
Alya saat ini sudah berada di mansion nyonya Vannesa atau lebih tepatnya ibu Indra.
Mereka semua sedang duduk berhadap-hadapan, Bu vanessa terlihat tidak suka dengan keberadaan Alya disana, meskipun dengan pakaian yang mahal dia tetap saja tidak suka.
Suasana rumah juga sangat dingin mencekam, sepertinya Bu vanessa orangnya kejam, jangan lewatkan wajah cantik Katrin yang menyimpan banyak tipu muslihat disana, dia juga dingin dan sombong.
Alya meremas jemarinya, sepertinya dia sudah jauh sekali jatuh dalam permainan Indra.
__ADS_1
"Mom dia kekasih ku, namanya Alya... Tidak perlu banyak bertanya tentangnya, kami sudah menjalani hubungan kurang lebih setengah tahun, dan aku membawanya kemari untuk mengenalkan nya pada mommy". Ucap Indra.
Dari yang Alya lihat sepertinya yang paling berkuasa di antara mereka adalah Indra, raut wajah ibunya berubah ketika Indra menjelaskan.
"Oke.." hanya itu Jawaban dari Bu vanessa .
Bu vanessa dan Katrin tidak banyak bertanya lagi, karena Indra sudah menekankan untuk tidak banyak bertanya, mereka cukup tau sifat Indra jika dia bilang A maka A jika itu B maka B tidak ada bantahan lagi...
"Wow kegilaan macam apa ini, ibunya juga seperti tunduk pada perintah anaknya sendiri". Alya terheran - heran
Dan itulah sisi gelap keluarga Herlambang, mereka tidak akrab satu sama lain dan kekuasaan penuh ada di tangan Indra, semenjak ayahnya meninggal, dan dari situ juga Indra banyak diam, malas berinteraksi dan dingin kepada semua orang tak terkecuali keluarganya, itulah mengapa dia sangat di segani bahkan di mansion sekali pun peraturan ada di bawah perintahnya.
Dan Alya baru mengetahui akan hal itu, dia akhirnya mulai takut dan berjanji untuk benar-benar tunduk pada Indra, jika selama ini Indra hanya mengancam tentang pekerjaan maka sudah di pastikan kedepannya bukan hanya tentang pekerjaan tapi itu bisa saja nyawa atau keluarga Alya juga ikut terseret jika dia macam-macam..
"Kami akan tinggal di hotel untuk sementara, sampai jumpa besok di acara pertunangan Celine". Indra bangkit berdiri setelah ucapannya yang singkat itu... di ikuti oleh Alya dan junsen.
"Mengapa tidak menginap saja...?". Tanya Bu vanessa sembari bangkit memberikan penawaran...
Wajahnya seperti memohon agar mereka menginap saja, Bu Vannesa memang jarang tinggal bersama Putranya, di Indonesia pun seperti itu, Indra lebih suka di apartemen ketimbang di mansion.
"Sorry mom lain kali saja, aku khawatir kekasih ku tidak merasa nyaman". Jawab Indra lalu dengan refleks menatap Alya kemudian mengedipkan matanya.
"Emm.. nak kalian menginap saja disini ya, tidak apa-apa kan". Bu Vannesa mencoba merayu Alya.
Alya menjadi sedikit kikuk dan tidak enak hati, dia harus menjawab apa sekarang...
"Aku ingin pulang saja ke Indonesia". Teriaknya dalam hati.
"Keputusan ada di tangan tuan muda... Ehmm maksud saya Indra, Tante ". Deg.. Alya sangat gemetaran ketika hanya menyebutkan nama Indra.
"Panggilan kesayangan apa yang cocok untuknya, duh.. dia itu Firaun mana mungkin aku memanggilnya sayang di depan ibunya " batin Alya.
"Bagaimana Nak, kekasih mu sepertinya tidak keberatan jika kalian menginap saja". Bu vanessa kembali menatap Indra.
"Hmm lain kali saja mom". Tolak Indra.
"Sayang ayo". Indra menarik Alya ke dalam pelukannya...
__ADS_1
Srettt....
Di situ juga momen dimana Alya merasa dirinya melayang di udara, di peluk tuan Indra ... Oh sungguh itu di luar ekspektasinya, meskipun senang namun ada juga rasa takut dan gelisah, terhadap pria itu, dia mengerjai dan memanfaatkan Alya habis-habisan.
"Kami permisi Tante... "Alya tunduk membungkuk memberikan hormat... kaku juga rasanya berpura-pura
"Hmm..." Jawab Bu vanessa terlihat cuek
Sementara Katrin sedari tadi dia sudah tidak perduli dan malah membuang muka.
"Kami permisi mom". Indra membungkuk hormat pada ibunya.
Bu Vannesa mengangguk sembari tersenyum "baiklah kalau begitu, hati-hati nak". Jawabnya.
Di dalam mobil....
Alya terlihat gugup, sedari tadi dia hanya memfokuskan pandangannya ke luar jendela mobil, adegan tadi membuat dirinya salah tingkah.
"Apa kau kepanasan?". Tanya Indra karena Alya mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya.
"Tidak tuan". Segera Alya menoleh dan menggeleng.
"Lalu ada apa?". Tanya Indra
"Tidak ada tuan... ". Jawab Alya.
"Kalau begitu santai saja.. atur pernapasan mu dengan baik". Jawab Indra dengan ketus kemudian menyandarkan diri sembari menutup matanya.
"Baik tuan". Alya menarik nafasnya dalam-dalam, sekilas junsen memperhatikannya di spion mobil.
Mereka akhirnya tiba di hotel bintang lima untuk menginap, masing-masing kamar mereka berdekatan, kamar junsen berada di tengah..
"Ingat besok dandan yang cantik, jangan membuat ku malu". Ucap Indra memperingati Alya di depan pintu kamar sebelum ia masuk.
"Baik tuan saya mengerti". Jawab Alya gugup.
Sementara itu Junsen tengah sibuk-sibuk nya membawa koper Indra, tentu dia kan asisten sejati, kalau Alya dia mendorong sendiri koper itu.
__ADS_1
"Atau perlu ku panggilkan orang untuk menata rias diri mu?". Tanya Indra, sembari memainkan ponselnya, hanya sesekali saja dia mengangkat kepala melihat Alya.
Bersambung....