Tuan Muda Menyebalkan

Tuan Muda Menyebalkan
mencoba baju pengantin


__ADS_3

"Minggu depan". Jawab Indra dengan seringai di wajahnya.


Owin terkejut menatap penuh tanda tanya pada Alya, selama ini Alya tidak pernah menceritakan apa-apa tentang pernikahan bahkan Alya menjadi sensitif jika seseorang membicarakan pernikahan namun apa itu barusan..


Owin menjadi berfikir negatif "tidak mungkin kan Alya hamil?".


"Iya lebih cepat lebih baik ". Pak Roy mengambil kopinya, dia menyeruput kopi itu dengan tangan gemetar.


Dia bingung harus bereaksi seperti apa, Indra bukan orang sembarangan dan dia datang di rumah Nya untuk melamar anak gadisnya sungguh seperti mimpi bagi pak Roy, tidak ada persiapan juga untuk menyambut kedatangannya...


Pak Roy memiliki sejuta pertanyaan untuk anak gadisnya itu, belum genap dua bulan ia keluar dari rumah dan sekarang dia datang membawa pria kaya di rumah? sungguh menakjubkan..


Indra tersenyum miring mendengar ucapan pak Roy, dia berfikir Semua orang sama saja, mereka hanya tergiur dengan uang...


"Honey kita masih ada urusan bukan.." ucap Indra.


Alya mengerutkan keningnya, seperti tidak ada janji hari ini, kira-kira begitulah yang hendak Alya katakan melalui ekspresi wajahnya.


Indra menatap tajam lagi seolah memperingatkan Alya untuk mengiyakan saja perkataannya.


"Oh iyah benar sayang". Alya takut jika Indra sampai bicara masalah perjanjian kontrak di hadapan orang tuanya, tentu Alya akan merahasiakan hal itu dari keluarganya sampai kapan pun.


"Ayah bunda, kak Owin kami masih banyak urusan lagi, kapan-kapan aku akan mampir". Ucap Alya hendak berpamitan.


"Pasti kalian sangat sibuk ya... Oyah tunggu disini sebentar tadi bunda ada buat kue". Bu Nensy yang kebetulan tadi pagi sempat membuat kue dengan maksud akan merayu pak Burhan dan anaknya untuk tidak menyita rumah mereka.


Namun kue itu gagal ia berikan kepada mereka karena amukan pak Burhan dan anaknya yang menjadi-jadi.


"Ini nak, bawalah.. berikan kepada calon mertua mu". Bisik Bu Nensy


Kue itu enak dan spesial karena Bu Nensy membuatnya dengan tujuan agar tidak mengecewakan pak Burhan.


"Hmm..bunda tidak usah repot-repot.. mereka tidak makan kue seperti ini". Tolak Alya.


"Ini enak sayang... Tidak malu-maluin juga kok". Jawab Bu Nensy, reaksinya kini memperlakukan Alya seperti anak kandung sendiri.


"Baik bunda". Alya merasa tidak enak hati jika menolak, melihat Bu Nensy begitu antusias dan yakin pada kue buatannya.


"Kalau begitu Alya pamit dulu.." selesai berpamitan Alya pergi bersama Indra ke mobil...


Hmm lupakan soal motor yang Alya bawah tadi...


Di dalam mobil..

__ADS_1


Alya memangku kue yang berada di dalam kemasan pemberian ibunya, dia tidak berniat menawarkan kue tersebut kepada tuan Indra karena sudah pasti dia akan menolak makanan murahan bukan?


"Pakai ini!". Indra memberikan masker hitam dan topi hitam kepada Alya.


Alya menerima dengan heran " untuk apa tuan?". Tanyanya penasaran.


"Kita akan ke butik mencoba baju pengantin, aku tidak ingin terlihat oleh paparazi". Jelas Indra, dia menjawab tanpa menoleh ke arah Alya.


Alya baru sadar, pantas saja mobil ini berbeda dengan mobil yang biasa Indra pakai, jadi mereka akan ke butik...


Infomasi.... butik sudah di booking Indra sedari pagi tadi, jadi itu semua menjamin keamanan bahwa di sana tidak akan ada paparazi dan pegawai butik juga berjanji akan menjaga rahasia tersebut.


"Baiklah tuan". Alya mengenakan topi dan masker tersebut, sama hal dengan Indra iya juga memakai Masker, topi dan kaca mata.


Tidak berselang lama mereka sudah tiba di butik, Alya baru pertama kali melihat gaun-gaun pengantin yang begitu cantik, dia sangat takjub dan terpesona melihat detailnya.


"Tidak ku sangka manusia bisa memiliki tangan ajaib yang menakjubkan, kain biasa bisa di sulap menjadi seindah ini". Alya membolak-balikan baju yang di jahit dengan indahnya.


"Pilih yang mana yang cocok untuk mu". Ucap Indra sambil menunggu di sofa.


"Baik tuan". Jawab Alya.


Sementara junsen dia berdiri di luar menjaga keamanan.


"Baik nyonya " pegawai segera mengambil.


"Nyonya?". Dalam hati Alya ingin tertawa mendengar kalimat itu, dirinya merasa tidak pantas di sebut nyonya


Alya segera mencobanya di bantu oleh 2 pegawai khusus di ruangan ganti...


Alya melihat dirinya di cermin "gaun ini sangat cantik.." gumam nya


Segera Alya keluar untuk memperlihatkan gaun itu pada Indra..


"Kau serius ingin gaun itu?". Indra mencopot kaca mata hitamnya sembari menatap Alya dengan malas.


Alya mengangguk " gaun ini bagus tuan".


Indra tersenyum kecut " bagus?.. ha-ha-ha norak!". Ucapnya


"Pilih yang lain jangan gaun itu..." Perintah Indra "Seperti Mak.. Mak saja". Gumam nya lagi.


"Tapi..." Alya ingin protes tapi ia

__ADS_1


mengurungkan niatnya "iya tuan". Ucapnya pasrah..


"Mbak saya mau mencoba gaun yang itu saja".


Alya menunjuk lagi, gaun yang hampir sama dengan yang dia pakai sekarang, hanya berbeda warna, jika yang tadi putih tulang dengan tema salju sekarang pilihannya putih bersih dengan tema kristal...


Kali kedua Alya mencoba dan memperlihatkan hasilnya pada Indra ..


"Bagaimana dengan yang ini tuan?". Tanya Alya penuh harap agar Indra sekiranya menyukai gaun tersebut


Indra melihat sekilas kemudian tunduk sembari memijat-mijat keningnya "apa dia senorak itu, hingga pilihannya harus gaun tertutup, jaman sudah canggih... Berapa sih umurnya " batin Indra.


Dia merasa pilihan gaun Alya terlalu keibu-ibuan padahal Indra lebih tertarik dengan gaun yang sedikit terbuka.


"Kau ingin aku merobek gaun itu!! ". Ketus Indra.


"Maksud anda apa tuan?".


"Ganti... Cari gaun yang lebih bagus lagi". Kesal Indra.


"Tapi ini sudah yang terbaik yang mulia ". Batin Alya mulai gemas rasanya ingin menggigit tuan Indra.


"Baik tuan". Dengan pasrah Alya Menganti gaun itu.


Sekarang pilihannya gaun yang benar-benar terbuka di bagian dada, meskipun tidak terlalu namun itu cukup memuaskan Indra.


"Nah kau lebih cocok dengan gaun itu!". Ucap Indra.


"Terimakasih tuan". Alya menjawab sedikit malas.


"Mbak tolong perketat bagian atasnya sesuaikan dengan ukuran tubuhnya jangan sampai ada yang longgar ". Perintah Indra.


"Hey ini sudah ketat mau ketat yang bagaimana lagi". Gerutu Alya dalam hati.


Memang gaun itu sedikit agak longgar di tubuh Alya namun Alya suka dengan gaun itu karena memberikan dirinya kelegaan untuk bernapas hanya saja Indra tidak suka, ia menyukai tubuh Alya jika tampil lebih seksi..


"Baik tuan". Jawab pegawai..


Setelah itu pegawai butik mengukur badan Alya dan mengukur kakinya untuk di buatkan sepatu yang senada dengan gaunnya.


Mereka kembali saat hari mulai gelap...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2