
"Aku akan mengantarmu ke UKS". Ucap Ben.
"Yah pergilah..." Ucap Alya tak lupa di bibirnya berucap dengan isyarat ke Misel "good luck ". Wkwkwk sejak kapan mereka selicik itu.
"Kau tidak apa-apa disini sendiri?". Ben bertanya kepada Alya, hampir saja Ben melihat dia mengirim kode ke arah Misel.
"Sungguh tidak apa-apa, ayo cepat kalian ke UKS nanti malah jadi masalah besar lagi". Jawab Alya dia juga berusaha mendesak Ben agar segera pergi bersama Misel.
"Baiklah, kami akan segera kembali". Jawab Ben.
Alya mengangguk dalam hati "Berlama-lama juga tidak apa-apa ".
Ben dan Misel akhirnya benar-benar pergi ke UKS, sementara Alya dia sendiri tinggal di gudang sendirian mencari dokumen yang dia perlukan.
Beberapa menit kemudian Alya mengelompokkan dokumen-dokumen yang menurutnya tidak penting lalu membaca dokumen yang ia anggap penting..
"Hey apa yang kau lakukan jangan menginjak dokumennya". Maki Alya pada seseorang yang belum dia lihat wujudnya...
Posisi Alya sedang duduk di samping karton sembari membaca dokumen dan dia melihat sepatu seseorang menginjak dokumennya
Alya pikir itu Ben namun ternyata setelah Alya mengangkat kepalanya itu adalah Indra yang menatapnya kesal
"Tuan? Sedang apa anda disini?". Tanya Alya langsung bangkit berdiri.
Indra menyentil kening Alya "aduh.." Alya mengadu.
"Kau melupakan makan siang ku!". Kesal Indra.
"Oh itu.. maaf tuan aku benar-benar sibuk, sehingga melupakan waktu makan siang anda". Jawab Alya, dia bahkan lupa bahwa dia masih berstatus ahli gizi.
"Sedang apa kau disini... Hmm mana pria yang bersama mu tadi". Tanya Indra dengan bernada cuek..
"Saya sedang mencari contoh laporan untuk presentasi besok tuan". Jawab Alya masih memegangi keningnya.
"Bersama seorang pria begitu?". Ketus Indra.
"Bukan begitu tuan, dia juga..."
"Apa!.. kau mau membelanya?". Indra menyela ucapan Alya sembari mendekatinya semakin dekat
"Tuan.. maaf". Alya memundurkan langkahnya.
"Kau lupa kontrak perjanjian kita.. kau di larang dekat dengan pria mana pun!!". Indra tunduk di telinga Alya lalu menekankan perkataannya.
"Saya mengerti tuan". Jawab Alya takut .
"Terus apa itu tadi di perpustakaan, dan apa yang telah kalian lakukan berdua disini hah!" Ucap Indra.
Rupanya Indra melihat di cctv saat Alya den Ben berinteraksi tadi di perpustakaan hingga masuk gudang.
__ADS_1
Hey ngomong-ngomong sejak kapan Indra perduli dengan hal seperti itu.
Alya menatap Indra kemudian mengerutkan keningnya "apa tuan muda mulai mengawasi ku". Batinnya.
"Tunduk! Turunkan pandangan mu!". Indra mulai kesal, dia tidak suka jika Alya menatap matanya.
"Maaf tuan ". Jawab Alya takut
"Katakan!".
"Apa?".
Indra menarik Alya kedalam pelukannya sembari berbisik dengan penekanan "Apa pertanyaan ku tadi kurang jelas".
Alya semakin takut, kenapa akhir - akhir ini Indra banyak melakukan adegan peluk yang secara tiba-tiba dan itu sungguh menakuti Alya.
"Sa..saya dan Ben hanya berdiskusi mengenai pekerjaan dan laporan untuk besok tuan, tidak ada yang lebih". Alya gugup sekali, Indra semakin memeluk nya dengan erat bahkan Alya bisa mendengar detak jantung Indra
"Seberapa dekat kau dengan nya?". Tanya Indra masih dalam mode berpelukan.
Ralat Indra yang mendekap Alya sementara Alya hanya berdiam diri dalam dekapan bernafas saja rasanya dia takut apa lagi membalas pelukan Indra, Alya tentu tidak berani.
"Tidak terlalu dekat tuan, kami hanya berteman, dia pria yang baik dan sering mengatar jemput.. tidak maksud saya kami hanya berteman tuan". Alya hampir saja keceplosan dengan menceritakan semua yang dia lakukan dengan Ben dulu.
"Mengatar jemput... ? Oh jadi dia sudah sering ke apartemen mu begitu.." kali ini Indra mendekap Alya dengan kedua tangannya, sambil memeluknya sangat erat.
"Tuan.. bukan begitu.." Alya kesulitan bernafas.
"Ben hanya mengantar ku di depan jalan raya tidak pernah masuk area apartemen". Jelas Alya.
"Kenapa?".
"Karena pemilik apartemen tidak mengisikan tamu masuk di malam hari ". Jawab Alya.
"Lalu apa bisa jika siang hari?".
"Saya tidak tau tuan". Jawab Alya ragu-ragu.
"Apa kau pernah berkencan dengannya.. seperti makan atau liburan bersama?". Tanya Indra.
"Kami pernah makan bersama tuan". Kenapa Alya sepolos itu sih menjawab kan Indra semakin greget..
"Apa?". Indra melepaskan pelukannya lalu mengangkat dagu Alya dan menatapnya dalam-dalam
"Makan siang di kantin tuan, tidak pernah di luar". Jawab Alya semakin takut, hampir-hampir dia menangis.
Terlihat Indra bernapas lega.. "jauhi dia atau kau akan di pecat"
"Kenapa? dia pria baik dan..."
__ADS_1
"Kau di larang memuji pria mana pun di hadapan ku mengerti!!". Kesal Indra, tidak terima jika selain dirinya tidak boleh ada yang lebih pantas mendapat pujian .
"Baik tuan". Alya mengangguk.
"Bagus sekarang ikut aku". Jawab Indra lalu menarik tangan Alya.
"Kemana, tuan saya masih ada pekerjaan". Alya berhenti dan tidak ingin pergi, jika pekerjaan ini gagal maka itu peringatan kedua dan dia akan terancam di pecat
"Aku lapar kau tau!". Kesal Indra lalu menarik tangan Alya lagi
"Ah baiklah, saya akan ambilkan makanan di kantin". Jawab Alya tertunduk untuk sementara dia harus meninggalkan lagi pekerjaannya.
"Tidak perlu, junsen sudah menyiapkannya di ruangan ku!". Jawab Indra.
"Kalau begitu untuk apa tuan. . . " Alya ingin mengatakan bahwa untuk apa lagi Indra datang marah-marah mengatakan dia lapar dan sebagainya jika junsen ternyata sudah menyiapkan makan siang untuk nya.
Alya tidak jadi melanjutkan ucapan ketika Indra berbalik dan menatapnya dengan tajam seolah menyuruh untuk diam dan patuh saja
Alya mengangguk, hey itu karena dia takut ya mulia raja Firaun...
Di ruang Indra...
Alya duduk di hadapan Indra setelah mendapatkan perintah darinya.
Kemudian Indra mengambil makanan, dan yang tidak di sangka makanan itu ia berikan kepada Alya...
"Makanlah". Ucap Indra memberikan.
Alya mengerutkan keningnya menatap heran pada tuan muda "apa mungkin tuan muda salah minum obat, tingkah nya menjadi semakin aneh". Alya bertanya-tanya dalam hati.
"Ambil..." Indra menyondorkan lagi.
"Emm.. maaf tuan". Alya menerimanya dengan ragu .
Biasanya dia yang melakukan itu kenapa sekarang malah kebalikannya.
Alya masih kebingungan, dia mencicipi makanan yang Indra berikan sedikit demi sedikit..
Sementara Indra dia juga sudah mengambil makanan lalu memakannya.
"Ting..." Notifikasi masuk ke ponsel Alya.
Alya membukanya ternyata itu dari Ben
"Cantik kau tidak ada di gudang?, Apa kau sudah menemukan dokumen nya". Isi notif.
"Aku sedang di ruangan tuan muda... Sebagai ahli gizinya". Alya membalas.
"Hmm... Letakan ponsel mu jika kau tidak ingin aku menyitanya". Indra menatap tajam.
__ADS_1
Next...