Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Pergi Dari Rumah


__ADS_3

"*Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim ayat 7*)


Aku terjaga di pukul 5 Subuh, sudah terdengar suara ngaji dari Masjid yang memang tak jauh dari tempat tinggal baruku ini.


Perutku terasa sakit, atau mungkin maag-ku kambuh dan masuk angin? Beberapa kali sendawa keluar dari mulutku ini.


[Mbak, maaf saya lupa tf uang kopi saya kemarin malam. Ini, ya, Mbak. Hari ini saya gak ngopi dulu, gak enak badan soalnya hehe,] pesan kukirim sekalian bukti transfer ke akun dompet digital pelayan cafe.


Setelah mengirim pesan, aku bangkit dari tempat tidur untuk mencari obat yang mana tahu ada di dapur.


Dengan memegang perut dan rambut yang acak-acakan, aku tertatih ke dapur menahan sakit.


"Kau kenapa?" tanya seseorang yang membuatku kaget hingga bahuku terangkat. Kupandangi dia yang sepertinya sudah siap-siap untuk ke Masjid.


"Kayaknya masuk angin," jawabku kemudian menggigit bibir bawah menahankan sakitnya.


"Tunggu sebentar, kembali ke kamar dan akan kubawakan obat juga sisa makanan kemarin malam," jelasnya dan berlalu dari hadapanku.


Aku mengangkat bibir bawah dan sudah ingin marah padanya, apa tadi yang dia ucapkan? Makanan sisa? Aku makan itu?


Kugelengkan kepala tak percaya dan kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang yang tak seempuk rumah lama.


"Aku jadi pengen tau, siapa yang sekarang ada di kamarku. Apa Ayah sekarang sudah membawa istri barunya ke rumah itu?" gumamku yang penasaran.


Karena yang terakhir kudengar saat Bang Gilang dan Ayah bertengkar, Bang Gilang berkata bahwa menemukan Ayah sedang bermesraan dengan wanitanya dan aku pun melihat hal yang sama.


Aku jadi penasaran, apakah benar itu hanya wanita mainannya saja atau malah wanita yang dia cintai.


"Nah, makan!" perintah seseorang yang sudah ada di hadapanku. Mendongak untuk menatap piring yang berisi ayam goreng juga saos di dekatnya.


"Ayamnya kau beli di mana?" tanyaku mengalihkan pandangan.

__ADS_1


"Gak tau, diberi oleh supir pribadi dari rumah kau soalnya."


Aku mengangguk paham dan mengalihkan pandangan, "Kapan dia datang ke sini?"


"Tadi malam, pas kau dan Bang Gilang tak ada di sini. Cepatlah makan dan minum obat, sudah hampir waktu Shubuh ini. Nanti aku telat!" geramnya yang hampir saja membuat aku terkekeh.


Kuputuskan untuk mengambil piring dari tangannya itu, ia meletakkan obat dan air putih di nakas samping tempat tidurku.


"Udah, pergi sana! Ngapain masih di sini?" usirku padanya saat tak beranjak.


"Makanlah, aku akan menemanimu lebih dulu untuk memastikan kau benar-benar memakannya," jelasnya sambil duduk di sampingku.


Tak menolak dan banyak bicara, aku akhirnya makan dengan perlahan tanpa banyak protes apa pun itu juga.


"Ayahmu dan Papaku dulu adalah teman dekat atau bahkan sahabat, Papaku punya perusahaan yang sama dengan Ayahmu.


Namun, usaha Papaku tak sesukses Ayahmu. Hingga akhirnya, Papa kekurangan modal dan Ayahmu yang mengulurkan tangan.


Bukan hanya sekali, waktu Abangku akan kuliah dan Mama melahirkan. Saat yang bersamaan Papa juga mengalami kecelakaan.


Hingga akhirnya, aku melihat bahwa keluargamu datang ke gedung pengadilan agama saat itu. Lebih tepatnya hanya dirimu saja.


Dan waktu yang bersamaan, aku melihat Ayahmu yang tentu saja kukenali wajahnya. Ia menyuruhku atau bahkan minta tolong padaku.


Tak ada hal yang bisa membuatku untuk menolak hal itu, bukannya dari pihak sekolah juga menyuruhku karena Ibumu?" jelas Farhan dengan aku yang seketika terdiam saat dia menjelaskan ceritanya.


Aku diam dan tak berniat untuk menimpal ucapannya, kumasukkan saja makanan ke dalam mulut agar rasa sakit sedikit berkurang.


"Entah bagaimana bisa kau bertemu dengan musuh Bang Gilang, tapi yang kumau agar kau menjauh dari mereka.


Mau mereka duduk di samping atau di depanmu, jangan pernah mau dan terima mereka. Kau pergi aja langsung dari situ.

__ADS_1


Tak ada istilah wanita akan dijadikan ratu oleh teman laki-lakinya, wanita adalah mangsa laki-laki selama laki-laki itu bukan mahramnya," sambungnya lagi bak seorang Ustadz.


"Dan sekarang, kau malah bersamaku? Apa kau ingin memangsaku? Pergilah dariku kalau begitu!" usirku agar dia segera keluar dari kamar ini.


Dia menepuk pahanya dan membuang napas kasar, "Baiklah, aku mau ke Masjid. Setelah ini, kau minum obat, mandi dan shalat. Jangan tidur lagi, segeralah beres-beres rumah karena nanti pagi gurumu akan datang dan aku harus sekolah," paparnya yang tak ingin kudengar tak pula kutanya.


Pintu yang terbuka tadi di tutup dengan dia yang keluar dari kamarku, kuletakkan piring ke nakas dan menatap pintu dengan emosi, "Siapa dia yang seenak jidatnya mengatur-ngatur aku? Cih, dasar menyebalkan!"


Meskipun Farhan kuumpat habis-habisan, tapi entah mengapa aku tetap mengikuti apa yang dia katakan.


Pagi ini, Bibik Farhan sudah datang sebelum ia berangkat ke sekolah, "Bi, tolong temani Nazwa, ya. Saya mau sekolah dulu," pesannya pada Bibik sebelum berangkat sekolah.


Jam 8 katanya guru yang akan mengajariku tiba. Kini, aku sedang duduk di sofa karena rumah sudah kubereskan.


Aku juga sudah sarapan nasi goreng buatan Farhan, kalau boleh kuberi acungan jempol. Akan kuberi keempat jempolku padanya.


"Gue mau tinggal sama temenku balik, lagian kau sudah ada yang jaga. Jadi, aku aman. Ingat pesanku, menjauhlah dari mereka semua. Mereka tak baik untukmu!" tegas Bang Gilang menunjuk ke wajahku.


Tas ransel yang besar dan terlihat penuh sudah ada di punggungnya, "Kau akan ke mana?" tanyaku masih menatap tasnya itu.


"Apakah kau tuli? Aku sudah bilang akan ke tempat temanku!"


"Kenapa bawa barang sebanyak itu?"


"Apakah kau kira aku bisa hidup dengan uang yang nilainya sekecil itu dari laki-laki yang dengan enaknya memberi uang ke keluarga barunya? Tentu saja tidak, aku juga tak menyukai rumah kecil ini. Pengap! Aku sulit untuk bernapas," cacinya melihat sekeliling rumah.


"Kau sulit bernapas bukan karena rumah ini kecil, tapi kau yang sudah akan mati!" ejekku dan berlalu dari hadapannya, "sebaiknya kau segera bertaubat!" Aku masuk ke dalam kamar berniat mengambil buku dengan berteriak pada Bang Gilang.


Terduduk di tepi ranjang, melihat kamar ini dan membandingkannya dengan kamar yang dulu. Sungguh, kamar ini tak ada apa-apanya.


Bahkan, kamar mandi hanya ada satu dan itu membuat aku sedikit kesusahan karena harus ngantri dengan anggota keluarga yang lainnya.

__ADS_1


Namun, di sini tenang. Aku tak harus mendengar; makian, cacian suara benda jatuh, bentakan dan kadang pukulan.


Setidaknya, ini jauh lebih baik untuk kejiwaan dan mentalku daripada rumah yang besar itu.


__ADS_2