Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Sudah Tidur Bareng


__ADS_3

Pukul 10 pagi tepat, kami sudah sampai di rumah Ayah. Bendera hijau dan papan bunga seketika memenuhi jalanan bahkan halaman rumah.


Aku datang menggunakan kerudung pastinya, kami pergi hanya bertiga. Karena Bang Rangga--abang Farhan ada kesibukan.


Baru mengetahui namanya setelah sebulan tinggal di rumah itu, sebenarnya ingin menanyakan namanya.


Sebab, ketika pertama kali ketemua. Ia tak menyebutkan nama, tapi aku terlalu malas untuk bertanya.


Banyak yang berdatangan, pasti mereka adalah para teman bisnis Ayah semua dan juga mungkin saudara dari istri baru Ayah.


Kupijak lantai yang sudah lama kutinggalkan, masuk ke ruang tengah tepat di mana terlihat ada yang tubuhnya sudah tertutup dengan kain.


Kutelan saliva mencoba sabar untuk tak membuat keributan atau memancing emosi orang, kulihat ke arah orang yang sedang menangis begitu histeris.


Ayah menatapku seolah tak suka yang membuat langkah kami terhenti, "Kita pulang aja, yuk!" ajak Mama sambil memegang tanganku sedangkan wajahnya tetap melihat ke arah Ayah.


"Kenapa?" tanyaku sok tak tahu sedangkan aku pun sudah paham dengan sorot mata dari laki-laki yang sekarang sudah berjalan ke arah kami.


Dia menarik tanganku dengan kuat dan membawa aku ke taman, "Lepasin!" teriakku memegang tangan Ayah.


Ayah melepaskan tanganku dengan kasar, pergelangan yang kecil ini merah akibat ulah darinya.


"Om apaan, sih!" sentak Farhan yang ternyata mengikuti kami hingga ke taman yang jauh di lewati orang-orang ingin berlayat.


"Kamu yang apaan! Bukan urusan kamu, ini! Ngapain ngikutin kami?"


"Tentu aja urusan saya Om! Karena dia sekarang tanggung jawab saya!"


"Oh, ya? Bagaimana bisa jadi tanggung jawab kamu? Kamu udah nikah sama dia? Atau ... udah tunangan dengan dia?" tanya Ayah yang tak mau kalah.


Ada raut wajah kaget dari Farhan, apakah dia baru tahu sifat Ayah yang sebenarnya sekarang? Kaget 'kan dia.


Padahal, tadi Ayah sedang menangis sambil memeluk istri barunya itu. Tapi, seketika tangisannya menghilang.


Sangat hebat sekali efek dari kedatanganku, menghilangkan kesedihan dan mendatangkan kebencian.

__ADS_1


"Kami udah tidur bareng! Emangnya, masalah buat Ayah? Enggak 'kan?" celetukku bersedekap dada dan membuat wajah mereka berdua menatap ke arahku dengan tatapan kaget.


"Cih! Dasar, anak sama Ibu tak jauh bedanya," cibir Ayah dengan ekspresi wajah yang sudah berubah.


"Biarin! Daripada aku harus seperti Ayah, mending aku seperti Ibu. Aku pun tak sudi dan minat seperti Ayah!" tegasku ke arahnya, "udah, ayo, Sayang! Lebih baik kita pulang aja, kita kira dengan kita melayat melihat anaknya yang mati dia akan sedikit bersikap baik padaku. Ternyata sama saja, setan tak hilang dari dirinya padahal dia sedang berduka!" Kutarik ujung baju Farhan menjauh dari Ayah.


Tentunya, agar kami tak bersentuhan dan bisa-bisa dia marah padaku. Ini saja kulirik dia masih dengan wajah kaget atas ucapanku tadi.


Kulepas bajunya begitu saja dan masuk kembali mencari keberadaan Mamaku, ternyata Mama duduk tak jauh dari Mamanya Anggi.


"Panggilin Mama, gih!" bisikku menyuruh ke arah Farhan yang sudah berada di sampingku. Tak lama, ternyata Mama melihat keberadaan kami.


Ia bangkit dan menyalami wanita itu, aish! Aku tak menyukai sikap Mama yang begitu baik pada orang lain.


Padahal, dirinya sedang berpelukan dengan Nenek sihir. Apakah dia tak merasa takut akan hal itu?


"Berhentilah mengumpat seseorang, tak 'kah kau liat dia sedang berduka?" bisik Farhan ke dekat telingaku.


"Eh!" kagetku sambil menatap ke arahnya dengan kebingungan.


Sudah ada Mama yang dibelakangnya ada Mama Anggi dan Ayah masuk secara bersamaan. Mama berdiri di sampingku sedangkan Mama Anggi menghadap ke arahku.


"Apakah ... kau yang membunuh anakku? Apa salah anakku? Dia tak pernah benci padamu? Kenapa kau bunuh dia?" teriak Mama Anggi yang membuat aku kaget hingga menautkan alis.


Saat tangannya akan menarik bajuku, Farhan langsung di depanku menjadi temeng sehingga wanita itu tak jadi menarik baju ini.


Kulihat ada berbagai orang yang mengarahkan pandangannya ke kami bahkan Ustadz juga menatap ke arah kami.


Ayah langsung memeluk tubuh istrinya yang kembali menangis histeris bahkan sampai terkulai lemas.


"Udah, kalian pergi sana cepat! Tak perlu datang ke sini lagi!" usir Ayah dengan kerasnya.


Kugeserkan tubuh Farhan dari depanku dan sedikit jongkok ke arah Ayah yang sudah terduduk di lantai karena menopang tubuh istrinya itu.


"Aku peringatkan sama kalian, ya! Jangan asal menuduhku jika tak ada bukti! Kalian kira, aku sudi untuk menyentuh anak kalian itu? Dan aku ke sini juga karena dipaksa Mamaku, kalau enggak? Jangankan menginjak kaki ke sini, bertemu dengan wajah para penghianat dan tukang selingkuh kayak kalian aja aku ogah!" paparku yang langsung memeluk lengan Mama dan mengajaknya untuk keluar.

__ADS_1


Sekilas sebelum keluar, ada beberapa orang sampai menutup mulut, mengelus dada dan menggelengkan kepala karena mendengar ucapanku.


Terserah sama mereka mau mencap aku apa dan siapa, anak durhaka? Anak tak tahu diuntung? Malin kundang? Atau apa saja, terserah! Aku sudah tak peduli lagi.


Karena memang dari awal aku selalu saja dipermalukan oleh Ayah atas hal-hal yang kuperbuat baik itu kesalahan besar atau kecil.


Aku yakin, tadi dia membawa aku ke taman juga karena ingin membilang bahwa aku penyebab anaknya meninggal itu.


Farhan langsung menyetopkan taksi yang kebetulan lewat, Mama masuk lebih dulu. Saat aku dan Farhan ingin masuk.


Pandangan kami berdua bertemu dengan sosok yang tak asing, "Hai Buk Wati," sapa Farhan dan Buk Wati langsung berjalan mendekat ke kami.


Kucium punggung tangannya dengan takzim, dia menunjuk ke arahku," Nazwa, ya?" tanya Buk Wati yang secepat itukah dia melupakan aku?


"Bukan, Buk. Agnez Mo," sahutku asal.


"Huss!" tegur Farhan padaku.


"Hahaha, kamu masih aja kayak dulu."


"Jadi mau kayak apa Buk?"


"Bah, apakah kau dendam pada Ibuk? Sampai gaya bicaramu tak berubah juga?"


"Enggak, Buk. Mana bisa saya dendam dengan kepala sekolah yang mengeluarkan saya dari sekolah," sindirku dengan tersenyum paksa.


"Haha, bukankah kau yang minta? Ibuk hanya menurut saja."


"Yaudah, terserah Ibuk deh. Masuk, Buk. Mayatnya udah mau dimakamkan kayaknya."


"Iya, Ibuk duluan, ya. Mari!" pamit Buk Wati dan pergi berjalan masuk ke dalam rumah Ayah.


"Hey, kok masih belum masuk juga?" tegur Mama dengan membuka kaca mobil menatap ke arah kami.


Seketika, aku dan Farhan langsung masuk ke dalam mobil. Kami lupa bahwa akan pulang dan malah menatap ke arah Buk Wati.

__ADS_1


__ADS_2