
Kutata hati dan emosi agar bisa terkontrol nantinya saat bertemu dengan mereka, laki-laki yang berhasil membodohiku.
Entah harus kuberi selamat atau penghargaan pada mereka, sebab berhasil membuat aku terjebak dengan permainan yang begitu mulus mereka buat.
"Sayang, kau sudah sampai?" tanya Ayah berdiri dengan Mama tiriku.
"Nazwa, panggil aku Nazwa saja," jawabku datar dan menatap lurus ke depan.
Farhan yang baru berada di sampingku, menyalim tangan Ayah dan menyapa Mama tiriku yang berada di sampingnya.
Panggilan itu terdengar begitu menjijikkan di telingaku, apa dia baru sayang kepadaku sekarang? Setelah apa yang kualami, kini?
"Baiklah, mari kita masuk!" ajak Ayah dengan raut yang sudah berbeda dari pertama kali dia menyambut aku tadi.
Mereka berjalan lebih dulu sedangkan aku juga Farhan berjalan di belakang mereka, kami masuk ke salah satu ruangan.
Ayah menjabat tangan polisi yang langsung berdiri setelah kedatangan kami, "Jadi, ini yang namanya Nazwa?" tanya polisi menunjuk ke arahku.
Kuanggukkan kepala menatap ke arahnya, "Ya, saya Pak yang namanya Nazwa," ungkapku.
"Silahkan duduk semua," suruh polisi dan kami angguki.
Kami duduk di sofa yang ada di ruangan ini, "Jadi, di mana mereka? Kenapa tidak ada di sini?" tanya Ayah yang sepertinya sudah tidak sabar.
"Tenang Pak, mereka sedang ada di sel tahanan terlebih dahulu. Ternyata, di antara mereka ada keluarganya yang pengusaha.
Mereka berniat ingin berdamai dan meminta keringanan sebagai sesama manusia, saya beri kesempatan mana tau pihak Bapak berkenan.
Apalagi yang saya liat, sepertinya Nazwa juga tidak kenapa-kenapa dan kasusnya tidak sampai pelecehan ke pemerkosaan," terang polisi tersebut menatap ke arahku.
Aku kaget dengan apa yang dia kataka, apakah harus kasusnya sampai separah itu baru tak ada damai di antara dua kubu?
"Apakah Bapak saudaraan dengan pelaku?" celetuk Farhan dengan wajah garang.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Seharusnya, masalah damai atau tidaknya itu dilakukan di pengadilan saat dijatuhkannya hukuman. Bukan saat seperti ini!" tegas Farhan.
Kulihat ke arah laki-laki yang bertepatan duduk di sampingku, dia sedikit atau bahkan marah besar dengan ucapan polisi barusan.
"Tenang Farhan, ini kantor polisi. Jangan buat keributan di sini," bisikku menenangkan dirinya.
Farhan melirik ke arahku sekilas, ia melepaskan kepalan tangannya tadi dan sorot mata yang tajam pun menghilang.
"Benar apa yang dikatakan Farhan tadi Pak, menurut saya itu urusan kami nanti di pengadilan. Kami tidak menerima bujukan atau permintaan damai di sini.
Kami ke sini hanya untuk memastikan terlebih dahulu pelaku-pelakunya, karena bisa jadi pelaku yang Bapak tangkap bukan orang yang melakukan hal tersebut pada anak saya!" terang Ayah dan diangguki oleh polisi tersebut.
Dia mengangguk dan menelpon seseorang yang mungkin polisi penjaga penjara, kami hanya diam sambil menunggu kedatangan orang-orang tersebut.
"Itu mereka," ujar polisi membuat aku yang kebetulan membelakangi pintu langsung bangkit dan menatap ke empat orang yang baru saja sampai dengan dua orang polisi sebagai penjaga mereka.
Air mata seketika berniat ingin turun tanpa dipinta, ada perasaan seolah di sayat-sayat dengan kenyataan yang kuterima.
Kakiku yang terasa begitu berat, melangkah mendekati mereka yang tak mampu menatap wajahku.
Berhenti di hadapan mereka, menatap satu per satu orang yang pernah begitu aku percayai. Bukan hanya percayai, bahkan salah satu dari mereka sudah mendapatkan hatiku.
Kunaikkan dagu orang yang ada di depanku, wajahnya sudah lebam dan rambut berantakan tak terurus.
"Apa kau bahagia?" tanyaku dengan bibir bergetar. Tersenyum ke arahnya sedangkan dia menatapku seolah menyesal.
Kulirik wajah yang lainnya, mereka menatap ke arahku ketika mendengar aku bertanya pada Lio. Ya, laki-laki itu.
"Bagaimana rasanya bibirku? Manis seperti ucapanmu? Pahit seperti kenyataan yang kau beri padaku? Atau apa?" tanyaku masih mencoba sabar.
Air mata sudah membasahi pipi tanpa bisa kutahan, tanganku kulepaskan dari dagunya sedangkan ia tetap melihat ke arahku dengan kedua tangan berada di punggung.
__ADS_1
"Kalian kira, aku akan gila atau mati dengan apa yang telah kalian perbuat padaku? Kalian salah orang, tak 'kah kalian ingat bahwa orang yang ingin kalian sakiti ini adalah orang yang sudah terlalu sering disakiti?
Aku percaya pada kalian semua, sampai aku tak mendengar kata-kata Farhan, Mama dan juga Bang Gilang.
Aku bodoh! Karena percaya dengan kalian yang kuanggap sebagai keluarga. Bahkan ... aku tolol karena bisa suka dengan laki-laki bajingan seperti dirimu Lio!" bentakku dengan kemarahan juga kebencian yang bersatu.
Seketika Lio langsung mendongak tak percaya, ia menggelengkan kepalanya menatap ke arahku, "Ya, itu benar. Tolol 'kan aku?" tanyaku menaikkan satu alis.
Tak lama, seorang wanita juga laki-laki paruh baya masuk dengan tergopoh-gopoh. Wanita tersebut sudah menangis dan memeluk orang yang ada di depanku.
Aku mundur memberikan ruang pada mereka, Farhan menatap ke arahku dan membuang pandangannya.
Sekilas kulihat matanya seolah berkaca-kaca, apakah dia sakit hati dengan apa yang kukatakan barusan?
Tapi, di kalimat yang mana? Ataukah ... ah, tak mungkin rasanya jika dia suka padaku. Bagaimana mungkin laki-laki yang begitu saleh bisa dipersatukan dengan wanita yang penuh dosa seperti diriku ini.
Setelah sekian menit wanita yang sepertinya adalah orang tua Lio terisak dengan memeluk anaknya.
Dia menatap ke arahku dan langsung bersimpuh di kakiku, seketika aku langsung terkejut dan membantu wanita itu untuk berdiri kembali dibantu oleh Mama tiriku.
"Saya mohon sama kamu, beri keringanan pada anak saya," pinta wanita ini di hadapanku dengan menangkup tangannya.
"Maaf, Tante. Negara kita adalah negara hukum, biarkan hukum yang memberikan mereka pelajaran.
Lagian, mereka bukan anak kecil yang tak tau konsekuensi dari apa yang akan mereka lakukan. Berani berbuat, berani bertanggung jawab, bukan?" tanyaku melirik ke arah mereka berempat dengan bibir yang terangkat sebelah.
"Pak, ya, mereka semua pelakunya. Saya mau kasus ini segera selesai dan mereka mendapatkan hukuman yang seadil-adilnya," sambungku menatap polisi yang ada di samping Ayah.
"Baik, silahkan ikutin saya untuk menceritakan detailnya kembali," terang polisi dengan pergi lebih dulu dari ruangan ini.
Aku mengangguk dan berjalan lebih dulu menyusul ke arah polisi tersebut.
"Jika kau kira setelah ini tak akan ada yang menginginkan Nazwa, kau salah besar! Aku sudah siap mendapatkan cinta yang tak seharusnya dirinya beri kepadamu!" terang Farhan penuh penekanan kepada Lio.
__ADS_1
Langkahku terhenti tadi karena menyadari bahwa Farhan tak ada di sampingku, ketika aku akan memanggilnya.
Dirinya sudah berbicara dengan Lio yang kulihat dari ambang pintu ruangan ini, semburat merah sepertinya hadir di pipiku mendengar kata-kata tersebut darinya.