
Aku sampai ke pemakaman yang ada, lumayan dekat ternyata sama rumah kami. Kulirik ke arah Mama, buliran bening yang siap terjatuh terbendung di kelopak mata Mama.
"Ma," ucapku pelan mengusap bahu Mama memberi semangat.
Mama menatap ke arahku, memegang tanganku dan mengangguk seolah paham dengan apa yang tengah kulakukan.
Kami berhenti di pusara yang hanya ada papan kayu sebagai tandanya, aku baru tahu soal ini. Aku kira makam Anggi akan di kasih keramik atau segala macam.
Tubuhku merosot dan berjongkok di depan orang yang dulu begitu dekat denganku, orang yang kini sudah tenang di alam sana, semoga.
"Nazwa, ayo ke kantin!"
"Jangan bolos mulu Nazwa, ntar gak naik kelas, lho."
"Kita 'kan sahabat kau, jadi jangan ada yang dirahasiakan, ya."
"Eh, kayaknya Kak Farhan suka deh sama kau. Sering curi pandang."
"Nazwa ... panggil guru BK."
"Jadi cewek itu, harus kalem dikit Nazwa biar cowok pada mau sama kau."
Seketika, pembicaraanku pada Anggi berputar kembali di pikiranku. Dirinya yag terkenal lebih aktif dibanding sahabatku yang satu lagi.
Bahkan, aku lebih dekat dengan Anggi. Sebelum tahu bahwa Mamanya dekat dengan Ayah, dia beberapa kali menemani aku tidur di rumah ketika diriku sangat kacau.
Dia tak pernah memberi tahu bahwa punya pacar, entah aku yang tak terlalu peduli sama dia sehingga hal seperti itu pun tak kuketahui.
Tanpa sadar, bulir bening sudah menetes di pipiku. Segera kuusap untuk menghilangkan jejaknya.
Tanganku mendekat ke arah papan yang tertulis namanya juga Papanya di situ, aku tak tahu soal Papanya.
Setahuku dia memang sudah lama ditinggalkan oleh Papanya, semenjak kecil karena Mama dan Papanya bercerai.
"Sayang," panggil Mama membuat aku menatap ke arah Mama yang berada di depanku.
"Kamu kenapa?"
"Gak papa Ma, jadi pengen ketemu sama sahabat Nazwa yang satunya lagi. Pengen minta maaf kalau dulu pernah buat dia sakit hati."
Mama tersenyum mendengar penuturanku, "Mama bangga punya anak seperti kamu sayang, meskipun kamu tidak lahir dari rahim Mama. Tapi, Mama sudah menganggap kamu seperti anak kandung Mama sendiri.
Maafkan juga kalau Anggi ada salah sama kamu, ya. Mama gak tau dia punya teman siapa-siapa aja," ujar Mama membuat aku mengangguk.
__ADS_1
Kami memutuskan untuk membersihkan kuburan Anggi dengan mencabuti rumput-rumput yang ada juga tak lupa mengirimkan doa dan menabur bunga yang kebetulan sempat kami beli.
"Dulu, waktu pertama kali Anggi tidur tempat kamu dan tau ternyata Ayah kamu yang ngelamar Mama. Dia menolak dan marah besar sama Mama hehe.
Dia membenci Ayah kamu, dia menolak dengan keras hal itu bahkan dia tak pernah mau menerima kehadiran Ayah kamu.
Tapi, Mama yang terlalu egois. Bukan hanya Mama, tapi Ayah kamu juga. Dia meyakinkan Mama bahwa kalian pada akhirnya bisa menerima dan berbaikan.
Ternyata, semua dugaan itu salah. Anggi keluar dari geng dengan alasan tak dibolehin dan kau tau Sayang?
Saat kau minta di temani ke bar waktu itu, dia tak benar-benar menolak. Dia datang menggunakan mobil pribadi dan melihatmu dari kejauhan," ungkap Mama menceritakan hal lampau di dalam mobil sembari menuju rumah.
"Lah, bukannya yang menolong aku itu Bagas Ma?" tanyaku yang masih ingat dengan pembicaraan kami beberapa bulan yang lalu.
"Ya, emang benar. Tapi, di tengah jalan Anggi yang membawamu pulang. Dia yang menyuruh supir untuk membawa motor dan dirinya yang membawa mobil juga dirimu."
'Berarti, Bagas tau rumahku karena dia mengikuti waktu diantar sama Anggi dong,' batinku mengerutkan dahi.
Suara dering membuat aku kaget, mengambil handphone dan melihat nama yang tertera. Kulirik ke arah Mama sekilas.
"Siapa?" tanya Mama sedikit menunduk.
"Bang Rangga Ma," kataku yang bingung. Karena, memang tak biasanya Bang Rangga mau menelpon diriku.
Kuanggukkan dan menekan tombol hijau, "Assalamualaikum, ada apa Bang?" tanyaku saat telepon telah tersambung.
"Waalaikumsalam, Nazwa. Saya menganggu kamu?" tanya Bang Rangga di sebrang.
"Mm ... enggak, kok."
"Bisa temani saya besok?"
"Ke mana Bang?"
"Ketemu sama Mawar."
Aku terdiam sejenak, takut saja jika nanti Kak Mawar malah marah-marah padaku atau malah berpikiran yang tidak-tidak terhadap diri ini.
"Hallo, apa masih ada Nazwa di sana?" tanya Bang Rangga dengan sedikit kekehan.
"Eh!" sentakku saat tersadar baru saja melamun.
"Gimana? Bisa atau enggak? Kamu takut ya kalo dia mikir yang enggak-enggak ke kamu? Atau ... kamu takut kalo dituduh segala macam sama dia?" ungkap Bang Rangga yang seolah tahu apa yang kupikirkan.
__ADS_1
"Ya, itu Bang. Nazwa takut aja kalo sampe dia pikiran kayak gitu," gugupku karena memang merasa sedikit takut.
Padahal, dulu jangankan sama wanita, laki-laki saja aku tak pernah takut bahkan untuk berkelahi sekalipun.
Aku tersenyum, seketika teringat pernah menampar seseorang karena dia tidak membantu orang yang dibuatnya jatuh.
Akibatnya, aku benar-benar dikeluarkan dari sekolah akibat dirinya mengadu. Ck! Dasar pengadu.
"Oke Bang, jam berapa besok?" tanyaku dengan cepat, "temenin juga Nazwa, ya, Nazwa mau ketemu sama temen."
Mumpung ada Bang Rangga, apa salahnya sekalian minta antarkan dan temani untuk bertemu dengan salah satu sahabatku dulu.
Meskipun belum tentu dia akan mau dan bisa nantinya, mungkin dirinya ada kesibukan lain di rumahnya.
"Boleh, besok Abang jemput jam 4 sore aja."
"Oke Bang."
"See you."
Aku menutup panggilan lebih dulu, menatap ke arah Mama yang melihatku dengan tatapan lain dari yang biasanya.
"Ih, Mama kenapa?" tanyaku dengan alis tertaut.
"Cie ... kamu ada hubungan apa sama Rangga?"
"Ha? Gak ada Ma, orang gak ada hubungan apa-apa kok."
"Terus, kenapa dia malah minta temani sama kamu? Kenapa gak sama Farhan aja?"
"Ya, mungkin Farhan sibuk atau lainnya," kataku acuh dengan menaikkan bahu sambil membuang pandangan ke luar kaca.
"Cowok kalau udah kayak gitu, hati-hati lho. Pasti ada perasaan sama kamu," bisik Mama ke telingaku yang terasa mengerikan.
"Ih, Mama apaan, sih! Orang Bang Rangga itu udah Nazwa anggap sebagai Abang sendiri juga," ketusku menatap ke arah Mama dengan memajukan bibir.
"Iya-iya, eh, atau jangan-jangan yang kamu maksud calon suami itu ... Rangga, lagi?"
"Enggak Ma, Mama apaan, sih!" sebalku melihat Mama menggoda tanpa henti. Aku langsung turun dari mobil lebih dulu saat menyadari kami sudah sampai.
'Kenapa aku yang diajak, ya?' batinku yang merasa bahwa memang sedikit ada yang aneh.
'Hmm ... mungkin, agar Bang Rangga bisa lebih sabar nanti pas menghadapi Kak Mawar,' sambungku dan membuka pintu segera masuk tanpa menunggu Mama terlebih dahulu.
__ADS_1