Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Bukan Dirimu


__ADS_3

Mobil yang dibawa Bang Rangga dengan cepat tadi akhirnya sampai ke rumah, begitu sampai ia langsung masuk ke dalam rumah begitu saja.


Aku dan Mama saling pandang, Mama dengan cepat masuk ke rumah sedangkan Farhan mengambil kunci yang masih tertempel.


Kuikuti Mama, kami tinggalkan Farhan di dalam mobil. Saat Mama akan berniat masuk ke kamar Bang Rangga.


Tanganku menahan, "Biarin Bang Rangga sendiri dulu, Ma. Nanti malam, baru Mama sama Bang Rangga ngobrol berdua," saranku yang membuat Mama menghela napas mengangguk.


Mama pun tampak begitu sedih sebab melihat Bang Rangga seperti itu, kuayunkan langkah kaki menuju dapur.


Belum ada makanan sama sekali, kuambil handphone dan memesan beberapa makanan karena sebentar lagi sudah siang.


"Kau tak pulang?" tanya Farhan yang membuatku mengalihkan pandangan dari benda pipih.


"Ck! Kau mengusirku?" ketusku bersedekap dada.


"Aku bertanya, bukan mengusir."


Kubuang pandangan dengan malas, "Nanti sore aja deh pulang."


"Yaudah, ngapain di dapur?"


"Mau cek ada makanan atau enggak, ternyata gak ada. Pesan aja deh."


"Yaudah, aku mau ke kamar dulu. Mau ganti baju."


"Oke."


Berjalan ke ruang tengah, duduk di sofa sambil menunggu makanan datang. Kulihat sekitar rumah dan masih memikirkan apa yang akan kuucapkan pada Bang Rangga agar membuat semangat laki-laki itu kembali lagi.


Farhan keluar dari kamar bersamaan dengan suara kurir memanggil namaku, "Biar aku aja," potong Farhan dan berjalan ke arah pintu.


'Mama pasti belum makan,' batinku berjalan ke arah kamar untuk mengajak Mama makan bersama-sama.


Tok!


Tok!


Tok!


"Ma, ayo makan!" ajakku dari luar.


Ceklek!


"Mama belum masak."


"Udah Nazwa order tadi Ma."


"Yaudah, Mama ajak Rangga makan juga, ya." Kuanggukkan kepala dan membiarkan Mama berjalan ke arah kamar Bang Rangga sedangkan aku ke dapur.


Farhan sudah membuka bungkusan makanan ke mangkuk-mangkuk, "Sekali lagi jangan bayarkan makanan kalau kami juga ikut makannya," ujar Farhan melirik ke arahku sekilas.


"Maksudnya?" tanyaku yang tak paham dengan apa maksud Farhan.

__ADS_1


"Kau udah membayar makanannya?"


"Sudah."


"Berapa?"


"Emangnya kenapa, sih? Kok kau sekarang jadi lebay, begini? Makanan aja harus dipermasalahkan."


Mama datang membuat aku mengakhiri perdebatan dengan Farhan, meskipun rasanya masih kesal dengan ucapan laki-laki itu tadi.


"Lah, mana Bang Rangganya, Ma?" tanyaku menatap ke belakang Mama mencari orang tersebut.


"Dia gak mau makan, Mama udah ajak dari tadi," sendu Mama.


"Mmm ... kita makan dulu aja, Ma. Nanti Bang Rangga biar Nazwa yang urus," potongku cepat agar Mama tak terlalu kepikiran.


Mama menghela napas dan mengangguk, senyum terpaksa tertampilkan lalu duduk di kursi agar segera makan.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum Abang, Nazwa boleh masuk?" salamku dan mengetuk pintu kamarnya.


"Waalaikumsalam, aku lagi tak minat makan," sahut Bang Rangga dari dalam kamarnya.


"Hm. Yaudah, kalau gitu. Jangan lama-lama sendiri, ya, gak baik tau," putusku karena percuma juga jika harus kupaksa ia untuk berbicara sekarang.


"Maaf, Ma. Bang Rangga kayaknya masih perlu banyak waktu, Nazwa gak bisa paksain. Oh, iya, udah sore. Nazwa pamit pulang, ya," pamitku berjalan ke meja dan mengambil tas.


Farhan hanya menatap ke arahku, kukecup punggung tangan Mama. Karena sudah hampir jam 5 sore.


Aku pun belum mandi sore karena memang tak membawa pakaian, mobil jemputan sudah datang.


Kulambaikan tangan ketika melihat Farhan mengantarkanku hingga ambang pintu, dia tak membalasnya hanya memasukkan kedua tangan di saku.


***


"Jadi, gimana dong?"


"Gak jadi tunangannya Yah, kami semua akhirnya pulang deh." Aku menceritakan kejadian tadi siang pada Ayah juga Mama sambil makan malam.


"Kalo gak jodoh, ya, emang susah. Mau kita yakin 100% juga kalo gak jodoh mah."


"Ya, menurut Nazwa bukan masalah jodoh atau enggak sih. Tapi, emang salah si ceweknya yang ngira bahwa semua orang hanya mempermainkan dia."


"Oh, iya, Mama belum pernah liat kamu bawa cowok. Apa ... cowok kamu Farhan?" celetuk Mama tersenyum dengan menaikkan satu alisnya.


Uhuk!


Aku tersedak mendengar ucapan Mama barusan, dengan cepat kuambil air minum agar tenggorokanku kembali lega.

__ADS_1


"Ih, mana ada cowok Nazwa. Kita juga gak ada hubungan apa-apa, kok," jawabku seadanya.


"Tapi, Mama setuju kalau kamu sama dia. Dia juga kayaknya suka sama kamu," tebak Mama yang membuatku serasa bahagia.


"Oh, iya, dia kuliah di mana? Ayah belum sempat berbicara empat mata sama dia, Ayah juga mau bantu kuliahnya," potong Ayah memasukkan sendok yang berisi nasi serta lauk pauk ke dalam mulutnya.


"Dia sama kayak Bang Rangga dulu, Yah. Dia kuliah di situ dan ngambil jurusan yang sama."


"Lah, kenapa dia malah mau di bidang yang sama dengan Abangnya?"


Kunaikkan kedua bahu karena memang tak tahu soal itu, "Ayah udah lama kenal sama keluarga mereka?"


"Lumayan, mereka keluarga yang begitu baik. Bahkan, Papanya juga dulu begitu baik."


"Hm. Cuma Ayah doang yang gak baik, ya?" sindirku menaikkan satu alis.


"Haha, itu masa lalu. Sekarang Ayah akan berubah meski secara perlahan."


"Aamiin, semoga istiqomah dalam berubahnya."


"Aamiin."


"Ma, kita besok ke toko cake Mamanya Farhan, yuk!" ajakku yang memang sudah sangat ingin pergi ke sana.


"Boleh, kamu tau tempatnya?" tanya Mama tersenyum hangat.


"Tau, dong! Sekalian kita nanti singgah ke tempat Anggi, ya," saranku karena belum pernah ziarah ke kuburan Anggi. Bahkan, aku tak tahu di mana tempatnya.


Wajah Mama yang tadinya bahagia, seketika murung sebab mendengar ucapanku tadi, "Maaf, Ma. Kalo emang Mama gak mau temenin gak papa, kok. Kasih tau aja di mana tempatnya."


Mama tersenyum simpul dan menggelengkan kepala, "Gak papa, Mama akan temenin kamu. Lagian, Mama juga udah lama gak datang ke sana."


Aku mengangguk setuju melirik ke arah wajah Ayah yang juga ikutan sendu, selesai makan malam.


Kuputuskan untuk naik ke kamar, aku masih ingin tahu soal kabar Bang Rangga. Meskipun dulu aku sedikit sakit hati padanya.


Namun, aku sudah menganggap dirinya seperti Abang kandungku sendiri. Tak salah bukan kalau aku khawatir akan dirinya?


Nada dering berbunyi di seberang, dua kali panggilan tak kunjung diangkat oleh Bang Rangga.


Kulihat jam dinding, belum waktunya untuk Isya, 'Apa dia lagi makan, ya?' batinku saat tak juga tersambung.


"Asalamualaikum, ada apa?" salam dari sebrang ketika panggilan akhirnya terhubung.


"Waalaikumsalam Bang, Abang lagi di mana?"


"Di taman," jawabnya singkat + datar sudah seperti adiknya saja.


"Sendiri?"


"Hm."


"Abang sudah makan?"

__ADS_1


"Hahaha, kau terdengar lucu bertanya seperti ini. Bukan seorang Nazwa yang banyak basa basi seperti sekarang," ujar Bang Rangga membuatku kikuk.


Untuk saja kami jauh, jika bersampingan pasti aku sudah sangat salah tingkah oleh perbuatannya sekarang.


__ADS_2