Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Pergi Bersama


__ADS_3

"Nanti, habis sarapan. Kita kembali nanam bunga, yuk Nazwa!" ajak Mama di meja makan.


"Iya, Ma," sahutku dengan tersenyum tipis dan mengunyah nasi goreng buatannya.


"Ma ... nanti jam 10 pagi, Farhan dan Nazwa izin mau main, ya," celetuk Farhan yang membuat aku menatap ke arahnya.


"Kalian mau ke mana?"


"Ada tugas sekolah Farhan dan butuh bantuan dari Nazwa buat nyarinya. Lagian, Farhan bingung kalau nyari sendirian," jawabnya yang membuat aku menautkan alis.


"Oh ... yaudah, jangan lama-lama. Paling lama jam 1 udah ada di rumah dan jangan makan di luar, Mama mau masak sop ayam. Biar ada temennya nanti."


"Siap Ma!" seru Farhan sambil mengalihkan pandangannya ke arahku.


Kualihkan langsung pandanganku, tak ingin terjadi kontak mata pada Farhan. Aku masih kesal dengan ucapannya yang tadi malam padaku.


Kami berbagi tugas, Mama membersihkan di luar. Aku menyapu dan mencuci piring sedangkan Farhan mengelap dan mengepal.


Soal baju, kami akan mencuci sendiri-sendiri menggunakan mesin cuci juga melipat dan menyetrika masing-masing.


Hanya saja, terkadang Mama suka menyetrika pakaianku juga Farhan bersama-sama. Katanya, ia akan bosen jika tak ada kerjaan.


Saat tengah sibuk menyapu, Mama masuk ke dalam rumah dengan laki-laki yang dirangkul Mama.


Aku memberhentikan pekerjaan dan berjalan mendekat ke arah Mama juga laki-laki yang bahkan begitu tinggi dari Mama.


Kutatap dia dengan menautkan alis heran dan Mama langsung melihat ke arahku sambil tersenyum.


"Ma, siapa?" tanyaku sambil memegang sapu dan baru sadar bahwa Farhan sekarang sudah berada di sampingku.


"Abangku," celetuk Farhan yang membuat aku melirik ke arah dia sebentar.


"Iya, ini anak Mama yang nomor satu," jelas Mama sedangkan laki-laki itu sudah mengatupkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis ke arah laki-laki itu.


"Kalian 'kan nanti mau pergi, jadi Mama suruh dia datang ke sini biar Mama gak sendirian," terang Mama.


"Kalian emangnya mau ke mana, sih?" tanya Abang Farhan menaikkan satu alisnya menatap ke arahku juga Farhan secara bergantian.


Jujur, aku pun tak tahu Farhan akan mengajakku ke mana. Hanya saja, dia sudah bilang bahwa akan pergi bersamaku di hari weekend ini.

__ADS_1


"Mau ke mal paling Bang, ada tugas sekolah yang harus dicari," ungkap Farhan dan mendapati anggukan dari Abangnya.


"Emangnya gitu Nazwa?" tanya Abang Farhan tiba-tiba padaku yang membuat aku terkesiap.


"Eh, i-iya kayaknya Bang," gelagapku yang memang bingung harus jawab apa.


"Ciee ... uhuk-uhuk! Nazwa aja kayak gak yakin gitu bahwa kamu mau ngajak dia ke mal," ejek Abang Farhan lagi yang membuat aku merutuki diri sendiri.


Seharusnya, aku bilang saja iya atau apa gitu. Ini, pak acara terbata-bata pula ngomongnya tadi.


"Gak usah kepo sama urusan anak muda!" cerca Farhan dan pergi melanjutkan tugasnya.


"Nazwa pamit juga, ya, belum siap sapunya," pamitku dengan cepat yang takut dengan situasi sekarang.


Jam 9 pagi, kami baru selesai membersihkan rumah sekaligus menyikat kamar mandi. Aku masuk ke dalamnya lebih dulu untuk menyegarkan tubuh yang sudah dipenuhi oleh keringat.


"Kau kenapa basah rambut?" tanya Farhan yang duduk di kursi menunggu giliran mandi.


"Suka akulah! Nanti 'kan bisa pake pengering rambut, sih!" ketusku dan berlalu sambil memeluk pakaian kotor juga handukku.


Kalau sama Farhan, semua hal dijadikan masalah dan ocehan oleh mulutnya itu. Aku sudah bersiap dengan baju lengan panjang juga celana jeans milikku.


Tak lupa rambut kubiarkan terurai sudah kuberi vitamin rambut agar wangi nantinya meski di bawah terik matahari.


"Widih ... Farhan! Bidadari lu udah siap, nih!" teriak Abang Farhan sambil menggodaku.


Bertepatan dengan Farhan yang keluar dengan baju yang sewarna denganku, hitam. Ia berjalan mendekat dan menatap ke arahku tak lupa menggelengkan kepala dan wajah datarnya itu.


"Ma ... kami pamit pergi, ya. Assalamualaikum," salamnya lebih dulu dan mencium tangan Mama juga Abangnya lebih dulu.


"Nih, kuncinya. Panasin motornya," titahku menyodorkan kunci moge kesayanganku itu.


"Kita naik taksi aja," potongnya dan berlalu dari hadapanku.


Aku mendengus kesal dan segera menyalim tangan Mama dan menangkup tangan di depan dada ke hadapan Abang Farhan.


Kuayunkan kaki dengan santai meski kutahu bahwa Farhan pasti sudah menunggu di dalam mobil.


Benar saja, laki-laki itu sudah menatap kesal padaku dengan kaca mobil depan yang dibuka, "Cepatlah sedikit!" perintahnya yang kuabaikan.


Kunaiki bangku belakang dan diam tak membuka suara, kulihat ponsel yang dari tadi malam tak kubuka.

__ADS_1


Ternyata, ada panggilan dari Farhan yang begitu banyak juga pesan-pesan yang ia kirim melalui aplikasi hijau.


Di lain itu, aku juga digabungkan ke grup baru. Grup yang ternyata adalah geng Bagas dan mereka menamai aku dengan 'Queen.'


[Haish! Namaku diubah-ubah, gak pake apa-apa pulak itu!] pesan kukirim ke room chat.


[Queen mau apa? Sebutkan aja, biar kita beli atau pergi ke situ langsung secara bersama-sama,] sahut Arpan yang membalas pesanku.


[Jadi, kalau aku mau pergi ke luar negri. Apa kalian juga akan mengabulkannya?]


[Tentu! Tapi, kita ngamen dulu sampe beberapa tahun agar bisa membawamu ke luar negri,] timpal Bagas yang membuatku terkekeh tanpa sadar bahwa sedang berada di mobil.


Kulirik ke arah kaca spion ternyata sudah ada Farhan yang menatapku entah sudah berapa lama.


Seketika, kualihkan kembali pandangan ke arah room chat dan menutup mulut agar suara tawaku tak terdengar lagi.


Ternyata benar, memiliki teman laki-laki lebih menyenangkan dibanding memiliki pacar sekalipun.


Aku begitu bahagia dengan kehadiran mereka di dalam hidupku, diperlakukan dengan begitu baik oleh mereka berempat.


Tanpa kusadari, kami sudah berada di salah satu wisata bukan bangunan seperti yang diucapkan oleh Farhan.


Ia memberi ongkos dan turun tanpa mengajakku, kumasukkan handphone tak lupa mematikan kuota agar tak ada panggilan dari siapapun nantinya.


Berjalan masuk ke dalam wisata dengan aku yang berada di belakang Farhan dan laki-laki itu di depanku.


Dirinya mengeluarkan uang untuk membayar tiket masuk ke dalam dua orang, aku masuk begitu saja masih betah dengan diamku ini.


"Panas, kita duduk di situ aja," ucapnya menunjukkan ke arah bangku-bangku yang tersedia di pinggir pantai. Tentu saja disewa jika ingin duduk di sini.


Aku dan Farhan duduk bersampingan dan hanya terhalang oleh meja bulat yang berada di tengah kami.


Menatap hamparan air yang berwarna biru dengan cuaca lumayan panas membuatku harus menyipitkan mata.


"Ke mana kau tadi malam?" tanya Farhan memecahkan keheningan yang lumayan lama terjadi di antara kami.


"Ke tempat Ayah," jawabku tanpa mengalihkan pandangan.


"Terus?"


"Main."

__ADS_1


"Ke mana?"


"Tempat Bagas," jawabku pelan dan kulirik ia menatap ke arahku membuat aku ikut menatap ke arahnya juga.


__ADS_2