Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Karena Sesuatu


__ADS_3

"*Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan perempuan kecuali ada mahram yang menyertai." (HR. Bukhari no: 5233*)


Napasnya memburu dengan dada yang naik turun, ia mengusap wajahnya kasar. Menunggu beberapa menit, tak kunjung ada lagi cacian.


Aku pergi berlalu dari hadapannya, "Mau ke mana kau? Aku belum siap memarahimu!" teriaknya yang tak kuhiraukan.


Saat tengah menaiki anak tangga menuju kamar, aku papasan dengan manusia yang bisa jadi jadi-jadian.


Ia menatap ke arahku seolah aku tak ada sambil memasukkan buah apel ke mulutnya, aku pun tak peduli dan terus menaiki anak tangga.


Kubuka kerudung dengan kasar dan melemparnya ke sembarang arah, kuganti seragam sekolah dan juga tasnya.


Kembali ke luar sambil membawa charger karena sepertinya handphone-ku akan habis batreinya di luar nanti.


Sudah kupesan gojek, tak kunaiki moge milikku itu. Jika dia ada di rumah, maka barang-barangku menjadi miliknya.


Bahkan, dengan gampangnya kadang dia akan menjual barangku karena merasa iri akibat aku dibelikan barang yang kuinginkan sedangkan dia?


Dia juga diberikan, tapi selalu dijual lebih dulu olehnya untuk bermain judi atau menafkahi pacar-pacarnya itu.


"Mau ke mana kau Nazwa? Ibu belum selesai bicara padamu!" teriak Ibu saat aku sudah berada di depan pintu.


Kubalikkan badan dan melihat wajah Ibu yang masih setia duduk di sofa, "Ibu belum, aku sudah!"


Keluar dari rumah yang seperti neraka tersebut, kulirik jam sudah hampir jam 1 siang. Aku ingin ke cafe yang setidaknya lebih menenangkan.


Terbayang sudah suasana cafe dengan musik yang bisa membuat aku setidaknya lupa dengan apa yang terjadi barusan.


Turun dari roda dua dan berjalan ke arah cafe langgananku, aku tak tahu apakah keluargaku tahu di mana tempat aku biasa makan, minum atau sekedar mengeluarkan kekesalan.


Namun, rasanya itu tak mungkin. Aku tertawa dibuat pikiranku sendiri, siapa aku sampai-sampai mereka bisa tahu akan hal itu.


"Seperti biasa Dek?" tanya Mbak penjaga cafe yang sudah hafal denganku. Aku pun langsung tersenyum tipis menatapnya dan mengangguk.


Kucolokkan charger ke handphone, meletakkan kepala di atas meja dengan berbantalkan tanganku.

__ADS_1


"Eh, itu bukannya cewek yang tadi malam, ya?" bisik orang di meja sampingku yang membuat aku seketika menegakkan badan dan melihat ke arah mereka.


"Iya, itu dia. Yang kita bantu pas pingsan di jalan," tunjuk salah satu dari mereka ke arahku. Keempat laki-laki itu seolah bingung dan aku juga lebih bingung.


"Kamu ... yang tadi malam naik moge, gak, sih?" tanya salah satu dari mereka akhirnya menghampiriku.


Kutatap penampilannya, rambut yang di atas bahu dan badan yang lumayan berisi, "Bukannya yang punya moge banyak?" tanyaku menaikkan satu alis.


"Iya, sih. Tapi, yang tadi malam kami bantu kayaknya kamu, deh? Rumah kamu di kawasan Johor 'kan?"


Aku mengangguk dan mencoba mencerna, 'Berarti, kemarin malam selesai dari barr. Aku pingsan di jalanan, dong? Hadeuh ... aku pikir pulang dengan baik-baik aja,' batinku yang merasa malu.


"Oh, jadi kalian yang bantu saya? Terima kasih, ya," kataku dengan tulus meski merasa tak nyaman dengan mereka semua.


"Lio," kata salah satu teman yang tadinya masih duduk di bangku samping tapi seketika berpindah ke mejaku sambil menyodorkan tangan.


Kutatap lama tangannya itu dan akhirnya dia menarik tangannya dengan cengiran, "Hehe, kita cuma mau temenan aja sama lu," jelasnya.


"Kita boleh gabung? Nama gue Bagas," ujar yang duduk lebih awal di bangkuku.


"Bibir lu kenapa?" tanya Arpan menatap bibirku. Aku dan mereka sudah kenalan tadinya. Arpan, laki-laki dengan kacamata juga tubuhnya yang lebih bagus dari mereka semua. Lio, Bagas dan Agung. Itulah nama mereka.


"Gak papa," jawabku sambil memakan kentang goreng. Aku masih kenyang dengan makanan yang tadi kumakan dengan bapak gojek.


"Wait," ujarnya dan membuka tas ransel hitam milik mereka. Ia mengeluarkan kotak P3K dan mengambil kapas juga obat merah.


"Heh! Lu mau ngapain?" tanyaku dengan sedikit ngegas.


"Mau ngobatinlah, emangnya mau apa?" tanyanya dengan wajah yang juga datar. Tangannya maju ke depan dan mengoleskan obat merah menggunakan kapas tadi ke sudut bibirku.


"Lu masih sekolah, ya? Umur lu berapa, sih? Lu besok-besok gak usah make-up, kayak tante-tante tau," celetuk Bagas padaku.


"Emangnya lu siapa? Bukan urusan lu!" cercaku yang tak suka dengan orang sok tahu dengan hidupku.


Handphone berdering membuat aku mengalihkan pandangan dari menatap tajam ke arah Bagas, temannya yang lain memukul bahu Bagas seolah menyalahkan kelancangan ucapannya tadi.

__ADS_1


"Baik, aku akan ke sana. Gak perlu jemput, aku akan naik gojek aja," potongku cepat dan mematikan panggilan.


Kucabut charger dari colokan dan memasukkan ke dalam tas ransel, "Kalian habiskan aja, gue duluan. Thanks buat udah nolong gue, bye!" pamitku terlebih dahulu masuk ke dalam cafe untuk membayar makanan.


Ketika keluar, "Hati-hati, ya, Nazwa," ucap Lio dengan tangan melambai dan yang lainnya melakukan yang sama.


Aku hanya menatap dan mengalihkan pandangan, tak berniat untuk membalas mereka segera masuk ke mobil online yang kupesan.


'Cih, sok baik dan SKSD. Mereka pasti mau dekat sama aku cuma karena tau rumahku gimana, lebih baik aku hati-hati dengan mereka. Lagian, umur mereka juga sudah tua. Tidak mungkin beneran tulus temenan dengan aku yang masih SMA ini,' batinku yang merasa was-was dengan mereka berempat tadi.


Roda empat berhenti sesuai titik lokasi yang kuingin, kuserahkan uang sebesar yang tertera di aplikasi.


Berjalan ke dalam gedung yang kulihat sudah ada mobil Ibu, Ayah dan Bang Gilang di parkiran. Mereka ternyata sudah lebih dulu sampai.


"Nazwa, kau ngapain di sini?" tanya suara bariton yang tak asing di telingaku.


Kulihat orang tersebut, "Bukan urusanmu dan kau tak perlu lagi berpikiran untuk mengajariku, karena aku sudah dikeluarkan dari sekolah!" tegasku bersedekap dada.


"Oh, ya?" tanyanya menaikkan satu alis membuat aku menatap bingung dengan jawabannya itu.


"Non Nazwa, ayo ke ruangan!" panggil seseorang yang tak kukenali. Sepertinya dia pengacara entah pihak Ayah atau Ibu.


Aku mengangguk dan menatap ke arah Farhan lebih dulu, "Terserahmu!" ketusku dan berjalan kembali.


"Bisa-bisanya ketemu dengan tuh cowok di mana-mana, apa dia punya jurus bayangan yang bisa ada di mana-mana, ya?" gerutuku tak habis pikir dengan situasiku akhir-akhir ini.


Kuayunkan kaki masuk ke dalam ruangan, bolehkah aku jujur? Aku tak pernah ingin ini terjadi pada keluargaku.


Namun, melihat mereka yang setiap hari bertengkar pun aku tak kuat. Kata Ayah, Ibu yang selingkuh dengan pemilik kantornya.


Akan tetapi, aku bahkan pernah melihat Ayah berciuman dengan wanita lain di dalam mobil saat itu.


Tak ada yang bisa kepercayai bahkan orang tuaku sendiri, mereka bilang keluarga adalah sumber kebahagiaan.


Tapi, itu tak berlaku pada keluargaku. Kujatuhkan bobot tubuh di bangku yang terasa sangat panas dan seketika ingin membuat aku segera pergi dari sini.

__ADS_1


__ADS_2