
"Ini, isinya apaan emangnya Nazwa?" tanya Rangga sambil memberikan papar bag yang dia ambil dari tukang ojek tadi.
"Hadiah buat Farhan," jawab Nazwa dengan wajah datarnya.
"Ciee ...," goda Rangga dan Mama langsung tersenyum ke arah Nazwa.
"Sut! Jangan godain dia kayak gitu!" tegur Mama Farhan membuat Rangga terdiam dan mengangguk paham.
Acara dimulai dengan petunjukan tarian, pembacaan puisi, nasehat dari kepala sekolah dan acara yang ditunggu adalah musik dan ada Farhan di dalamnya.
Farhan membawa gitar dan duduk di tempat yang telah disediakan, 'Sejak kapan dia tau main gitar?' batin Nazwa menatap ke arah Farhan yang berada di belakang vokalis.
Lagu dimainkan dengan bagitu baik, semua orang memberi tepuk tangan mulai dari acara pertama sampai dengan sekarang.
Namun, hanya di waktu ada Farhan saja Mama dan Rangga berdiri untuk memberi tepukan tangan.
"Nazwa, kamu gak mau kasih tepuk tangan buat Farhan?" tanya Mama menatap ke arah Nazwa.
Nazwa mengangguk dan ikut berdiri, ia menepuk tangan juga sebelum akhirnya Farhan turun dari pentas.
Selesai pertunjukan, satu per satu saling foto di papan bunga atau di tempat yang mana saja bagus untuk berfoto.
"Nazwa," panggil seseorang yang membuat Nazwa, Mama dan Rangga berhenti melangkah dan menatap ke arah suara tersebut.
Nazwa tak langsung menjawab, ia mengerjapkan mata menatap kepala sekolah di depannya sekarang.
"Eh, iya, ada apa Buk?" tanya Mama Farhan yang melihat Nazwa tak kunjung menyahut sapaan kepala sekolah itu.
"Enggak Buk, saya kira saya salah liat orang. Soalnya 'kan keluarga Nazwa tak ada yang sekolah di sini lagi hehe."
"Ini keluarga saya," jawab Nazwa dingin.
Melihat ekspresi Nazwa yang sudah berubah, "Hehe, kami pamit dulu, ya, Buk. Mau foto di sana," pamit Mama Farhan dengan cepat memotong agar tak terjadi apa-apa di sini.
Mereka membawa Nazwa ke tempat foto yang telah disediakan, Farhan juga sudah menunggu si situ setelah berfoto dengan teman sekelasnya.
"Ada apa Ma?" tanya Farhan yang ternyata melihat mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Ha? Gak ada apa-apa, kok. Rangga, cepatan panggil tukang fotonya!" titah Mama Farhan sedikit cemas dengan Nazwa. Ia takut jika emosi Nazwa tak stabil di tempat ini.
"I-iya Ma," gagap Rangga yang paham dengan keadaan sekarang. Ia langsung pergi mencari tukang fotonya.
"Ini buat kau," ujar Nazwa memberikan papar bag yang dibawanya tadi, " tapi bukan pake uangku. Karena, Abang yang bayarkan tadi."
Farhan tersenyum dengan sedikit terkekeh mendengar penuturan Nazwa, ia mengambil papar bag tersebut.
"Gak papa, makasih, ya. Padahal, kau sudah di sini aja itu suatu kado yang istimewa," papar Farhan yang entah dari nama belajar menggombal.
Diambil Nazwa kembali papar bag yang sudah di pegang oleh Farhan membuat senyuman laki-laki tersebut langsung hilang.
"Lah, kok diambil lagi Sayang?" tanya Mama seolah tahu apa yang ingin diungkapkan Farhan.
"Dia bilang kado yang istimewa itu kehadiran aku Ma, jadi mau menurut aku ini kado istimewa juga gak akan istimewa menurut dia," ketus Nazwa melirik sekilas ke arah Farhan membuat dirinya cengengesan.
"Haha, kamu ini ada aja. Itu artinya gak ikhlas ngasih kado, dong?"
"Lagian, jangan nyebelin jadi orang!" sebal Nazwa memberikan kembali papar bag tersebut. Ia bersedekap dada membuang pandangan ke arah lain.
Akhirnya, Rangga datang dengan tukang foto. Mereka berfoto bersama-sama dan berbagi macam gaya masing-masing.
Bibik sekarang dipindahkan untuk bekerja di toko cake miliknya yang sudah lumayan besar akibat kesabaran dan kerja kerasnya.
"Kita pulang, yuk! Singgah beli makanan dulu, tapi. Udah selesai acaranya 'kan?" tanya Mama ke arah Farhan dengan wajah yang kelelahan.
"Udah Ma, kayaknya Mama juga udah capek banget. Kita langsung pulang aja, yuk!" ajak Farhan dengan nada khawatir.
Sedangkan Nazwa hanya diam dan menatap ke arah Mama Farhan, karena dirinya tak pernah dan tahu soal kesehatan atau penyakit Mama Farhan.
Merek langsung masuk ke dalam mobil yang terparkir, "Mama gak papa?" tanya Nazwa menatap wajah Mama Farhan yang sudah pucat dan bersender di bangku mobil.
"Gak papa Sayang, kamu gak usah takut. Mama cuma kecapean aja," jelas Mama Farhan dengan mengusap pipi Nazwa.
Sekilas Farhan dan Rangga melirik ke arah dua wanita yang ada di belakang dari kaca spion mobil.
Akhirnya mobil menjauh dari pekarangan sekolah dan membelah jalanan, mobil berhenti lebih dulu ke salah satu rumah sakit.
__ADS_1
"Kita mau ngapain?" tanya Nazwa lebih dulu.
"Mau cek keadaan Mama sebentar, kamu di sini aja sama Farhan, ya. Gak akan lama, kok. Kalo lama dan sudah adzan. Kalian salat aja duluan," perintah Rangga dan diangguki oleh Farhan.
Sabuk pengaman dilepas, Rangga dan Mama keluar dari mobil dan tinggal Nazwa serta Farhan di dalam mobil ini.
"Kita ke luar aja, yuk! Di situ ada taman, daripada si sini pengap," ajak Farhan menatap ke arah Nazwa.
Sebenarnya, bukan itu alasan ia mengajak keluar. Namun, karena raut wajah Nazwa yang tampak gelisah.
Mungkin, dirinya takut terjadi hal yang serupa mengingat hanya mereka berdua sekarang di dalam mobil ini.
Nazwa mengangguk dan turun dari mobil di susul oleh Farhan, mereka berjalan secara beriringan ke arah bangku taman rumah sakit.
"Mama sakit apa?" tanya Nazwa setelah menjatuhkan bobot di bangku rumah sakit dengan menatap ke arah Nazwa.
"Gak ada, Mama cuma kecapean aja. Kamu 'kan tau bahwa Mama pernah gak baik-baik aja. Jadi, kalo Mama merasa tertekan atau panik dia akan merasa lemas dan letih."
"Mama panik kenapa tadi?"
"Ya, mungkin Mama panik karena takut aku salah pas nyanyi."
Nazwa mengangguk dan mengalihkan pandangan sambil ber'oh' ria. Ia menatap satu per satu jenis bunga yang di tanam di taman ini.
"Kau sudah selesai sekolahnya?"
"Sudah, dari jam 9 tadi."
"Berarti, begitu selesai langsung diajak Mama ke sini?" Nazwa menatap ke arah Farhan kembali dan menganggukkan kepala.
"Wah ... aku spesial, dong!"
Nazwa menautkan alisnya, "Apanya yang spesial?" tanya Nazwa bingung.
"Ya, spesial padahal biasanya kau habis belajar langsung tidur tapi bela-belain buat datang ke acaraku. Artinya aku spesial."
"Emangnya kau martabak? Pake spesial segala?" tanya Nazwa dengan nada ketus.
__ADS_1
Mendengar ucapan Nazwa seperti itu, bukannya membuat Farhan marah atau kesal. Ia malah tertawa.
'Alhamdulillah, ya, Allah. Perlahan Nazwa sudah kembali seperti dulu lagi,' batin Farhan yang bahagia dengan kembalinya sifat ketus wanita tersebut.