
Aku dan Mama sudah di dalam perjalanan menuju toko cake milik Mama Farhan. Di sepanjang jalan, aku dan Mama saling bercerita satu dengan yang lain.
"Eh, kenapa Pak?" tanya Mama dengan sedikit panik saat merasa mobil seperti ada kendala.
"Ini Buk, kayaknya bannya bocor, deh," keluh supir sambil meminggirkan mobil agar bisa men-cek.
Kami pun akhirnya ikut turun saat supir mencek mobil, terlihat ban mobil yang di depan memang sepertinya bocor karena berbeda dengan ban yang sebelahnya.
"Beneran bocor Buk," ucap supir menatap ke arah kami yang berdiri di trotoar.
"Saya juga bisa liat kali Pak!" ketus Mama sambil menyipitkan mata. Aku menahan tawa mendengar ucapan Mama barusan.
"Saya telepon yang bisa memperbaikinya, ya, Buk."
"Lama gak Pak?"
"Ya, tergantung Buk."
"Yaudah, cepetan kamu telepon dia."
"Baik Buk."
Mama menatap ke arahku yang menutupi wajah menggunakan tangan dan mata yang sudah menyipit akibat matahari yang terlalu menyilaukan.
"Gak ada tempat duduk atau restoran, lagi," keluh Mama melihat sekitar membuat aku juga ikutan melihat.
Aku hanya diam sambil sesekali melihat kendaraan yang lalu-lalang, "Masih lama lagi Pak?" tanya Mama yang sepertinya sudah sangat tidak sabar.
"Mereka udah di jalan Buk."
"Kita naik taksi aja, ya, Sayang," ajak Mama menatapku.
Aku pun akhirnya mengangguk mengikuti saja apa yang mau Mama buat.
"Taksi online aja Buk, soalnya jarang ada taksi yang lalu-lalang di sini," saran supir dan diangguki Mama.
Mama mengambil handphone di tas selempangnya, mencari taksi yang bisa mengantar kami. Sebenarnya, sudah tak terlalu jauh dari sini toko cake Mama Farhan.
__ADS_1
Mobil berwarna putih berhenti di belakang mobil kami, aku dan Mama yang sudah selesai mencari taksi online menatap pemilik mobil tersebut.
"Ibu?" gumamku saat melihat Ibu keluar dari bangku belakang dengan baju kantor dan hels-nya.
Ia berjalan ke arah kami dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
"Ngapain kau ajak anak saya panas-panasan di sini, ha?" tanya Ibu menatap Mama.
"Siapa yang ngajak? Tidakkah kau liat bahwa mobil kami sedang diperbaiki dan ada tukang di situ!" cerca Mama yang memang kebetulan tukang mobilnya sudah datang.
Ibu menggenggam tanganku dan ditarik ke sampingnya, untung saja aku tak menggunakan hels.
Jika aku menggunakannya pasti aku sudah jatuh saat ini juga, "Kau tinggal sama Ibu saja dan Bang Gilang, tak perlu dengan wanita itu. Ibu takut, kau yang akan jadi korban selanjutnya setelah anak kandungnya," hina Ibu dengan wajah datanrnya.
"Ibu, ibu gak boleh kayak gitu. Itu 'kan bukan salah Mama," ucapku mencoba agar menenangkan suasana saat ini.
Ibu membuka matanya dan menghadap ke arahku, sorot mata tajam terlihat, "Apa kau sebut dia?" tanya Ibu sambil menunjuk ke arah Mama.
Kulirik ke arah Mama sebentar lalu menatap ke arah Ibu, "Mama. Emangnya kenapa Bu?" jawabku polos.
"Kenapa? Kau tak salah dalam bertanya? Dia itu orang asing! Tidak seharusnya kau sebut dia dengan begitu.
Aku kaget saat Ibu mengingatkan hal itu, setahuku tak ada Ibu di situ. Entah bagaimana Ibu bisa mengetahuinya.
"Bu, semua orang punya masa lalu buruk masing-masing. Cobalah untuk berdamai dengan takdir Allah."
"Eh! Kau berani nasehatiku?" tanya Ibu nyalang dan menghempaskan tanganku dengan kasar.
"Kau seorang Ibu, tapi sifat dan watakmu sama sekali tak pantas sebagai seorang ibu!" timpal Mama dengan menarik pergelanganku pelan ke sampingnya.
"Heh! Kau bilang aku tak pantas? Coba ngaca! Apakah di rumah itu sudah tak ada lagi kaca? Jika aku tak pantas, kenapa anakku masih hidup sampai kini?
Sedangkan dirimu? Hahahaha, bisa-bisanya anak perempuan kegatalan. Eh, ya, gimana gak kegatalan, coba?
Orang Ibunya aja kayak gitu juga, mana gatal sama suami orang pula," hina Ibu dengan menutup mulutnya.
Kulirik ke arah Mama, wajahnya sudah merah padam dan tangan terkepal sempurna.
__ADS_1
"Udah, Ibu. Udah! Malu ini jalan raya!" protesku yang tak mau jika terjadi pertengkaran di trotoar saat ini.
"Sudah, kau tinggal sama Ibu aja. Jangan sama mereka, Ibu gak akan tenang jika kau tinggal dengan seorang Mama yang gagal seperti dia."
"Gak! Nazwa harus tinggal dengan saya, kami yang membawa dia dari rumah Mama Farhan. Kenapa kau sekarang yang ingin mengambil dia?
Tak bisakah kau melihat orang bahagia? Kenapa di jiwamu terlalu iri pada kebahagian orang lain?"
"Hahaha, aku tak salah dengar? Seharusnya semua yang kau ucapkan barusan itu untuk dirimu! Bukan diriku!" tekan Ibu menatap ke arah Mama.
"Udah Ma! Udah Bu! Malu, tau! Nazwa udah besar bukan anak kecil lagi!
Bu ... Nazwa akan tinggal dengan Ayah sebulan dan akan tinggal dengan Ibu sebulan. Bagaimana pun Ayah tetaplah Ayah kandung Nazwa.
Nazwa tak bisa ninggalin dan mutusin hubungan kami begitu saja, karena sampai kapan pun tak akan pernah terputus," potongku yang sudah muak dengan perdebatan.
"Baiklah, tapi kalau mereka melakukan hal yang aneh-aneh padamu. Segera hubungi Ibu!" jelas Ibu yang kuangguki.
Ibu kembali memasang kacamatanya, "Bu," kataku membuat Ibu kembali menatap diri ini.
"Apa? Kau mau duit? Bukannya baru kemarin Ibu transfer?" tanya Ibu saat tanganku mengadah.
Aku tersenyum dan menggelengkan kepala, kuambil tangan kanan Ibu begitu saja sambil mencium punggungnya dengan takzim.
"Hati-hati, ya, Bu. Selamat bekerja," paparku dengan tubuh kembali tegap menatap ke arah Ibu.
"Ehem! B-baik, kau juga," gugup Ibu dan berjalan menjauh dari arah kami.
Kulambaikan tangan dan dibalas oleh Ibu sebelum ia masuk ke dalam mobil, mobil pergi menjauh dari kami.
"Mama kenapa?" tanyaku kaget sesaat setelah mobil Ibu menjauh tiba-tiba Mama langsung memelukku.
"Mama gak mau jauh dari kamu Sayang, jangan tinggal sama Ibu kamu selama sebulan, ya?" pinta Mama dengan suara lirih.
Kuusap punggung Mama dan merasa isakan keluar dari bibir Mama, "Ma ... biar semuanya aman, daripada Mama dan Ibu bertengkar cuma karena Nazwa. Lebih baik seperti itu aja," terangku sehingga memutuskan memberi usulan seperti itu.
Mama melepaskan pelukan dan menangkup wajahku, "Gak papa, Mama gak papa kok kalau harus bertengkar dengan Ibumu. Lagian, Ibumu juga udah punya satu anak. Apa salahnya memberi izin Mama untuk memiliki anak juga?"
__ADS_1
Aku tersenyum dengan hati yang bersyukur, ternyata benar. Jika kita bersabar dengan apa yang sudah kita lalui, Allah pasti akan mengganti sabar kita tersebut dengan nikmat yang tak terhitung.
Salah satu nikmat yang begitu kurasakan adalah mendapatkan; cinta, kasih dan sayang dari orang-orang yang dulu kudambakan hal tersebut diberikan padaku.