
Selepas kepergian Bang Rangga juga Mawar, Mama memutuskan untuk tidur siang dan menyuruhku juga.
Awalnya, aku memang berniat demikian. Namun, setelah setengah jam mencoba untuk tidur. Mataku enggan untuk tertutup membuat aku memilih bangkit dan keluar dari kamar.
Duduk di bangku taman yang syukurnya hari tak terlalu panas di siang ini, mataku menatap tajam ke depan.
"Kenapa kau suka sekali ke taman siang-siang begini?" tanya seseorang yang sudah kuhafali suaranya.
Aku diam tak menjawab, tatapan tajam kini berubah menjadi kosong seiring dengan pikiranku yang berkecambuk.
"Hey, kau kenapa?" tanya Farhan lagi dengan menjentikkan ibu jari dan jari tengahnya di hadapanku membuat aku tersadar.
"Apa?" tanyaku menatap ke arahnya bingung.
"Astaga, jadi dari tadi aku bertanya kau tak mendengarnya?" tanya Farhan yang sedikit kesal.
"Dengar," ujarku cepat.
"Apa yang kutanyakan tadi emangnya?" tanyanya dengan penasaran. Aku terdiam, karena memang tak menyimak pertanyaannya seluruhnya.
"Kau akan masuk kuliah di mana?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Mm ... dekat sini aja palingan, gak perlu harus keluar kota," ujar Farhan menatap ke depan.
Aku mengangguk dan melihat ke arah depan juga, "Jurusan apa?"
"Belum tau, nanti aku akan nanya sama Mama juga meminta persetujuan beliau," ungkap Farhan dan lagi-lagi hanya kuangguki saja.
Akhirnya, kami saling diam saat aku tak berniat bertanya apa pun lagi padanya, "Oh, iya!" seru Farhan sambil menatap ke arahku membuat aku ikut menatap ke arahnya juga.
"Apa?" tanyaku yang sedikit penasaran.
"Kau belum membalas budiku," katanya mengingatkan membuat aku menautkan alis.
"Emangnya, kau mau aku balas dengan apa?" tanyaku dengan sedikit kesal. Bisa-bisanya dia menagih hal tersebut padaku.
"Tunggu sebentar!" titah Farhan dan berlari masuk ke dalam rumah sedangkan aku hanya menatap dengan kebingungan saja.
Sekitar 20 menit aku menunggu, akhirnya dia kembali dengan tangannya di punggung. Kutautkan alis merasa aneh dengan sikap Farhan.
"Nih," katanya menyerahkan papar bag membuat aku mengambil untuk melihat apa yang ada di dalamnya.
__ADS_1
"Kerudung?" tanyaku dengan mengangkat kerudung yang ada di dalam papar bag tersebut.
"Ya, kau pakai itu sebagai balas budimu padaku. Namun, niatkan untuk ibadah dan Allah. Bukan hanya semata-mata untuk membalas kebaikanku padamu," tutur Farhan yang sudah duduk kembali di sampingku.
Kuanggukkan kepala dan menatap kembali ke depan, "Thanks."
"Sama-sama," sahut Farhan dengan pelan.
"Hey, kalian ngapain di situ panas-panas?" teriak Mama dari ambang pintu membuat kami yanh hanya diam menatap ke arah Mama.
Aku beranjak lebih dulu meninggalkan Farhan dan menghampiri Mama, "Gak tau, tuh Ma. Si Farhan ngikut-ngikut aja!" ketusku sambil menenteng papar bag tadi.
"Kenapa aku?" tanya Farhan yang sudah berada di samping Mama.
"Lah, emang iya juga. Kan, aku duluan di situ," jelasku sambil menjulurkan lidah.
"Udah-udah, ayo masuk ke dalam," potong Mama yang takut kami akan berkelahi nantinya.
Akhirnya, kami masuk ke dalam rumah. Keputuskan untuk duduk di sofa karena memang sepertinya akan sulit tidur.
Mama pun akhirnya ikut juga Farhan, kucari kartun yang sedang tayang, "Eh, kalian belum cerita gimana di rumah sakit dan kantor polisi tadi lho," kata Mama dengan aku yang sudah fokus ke televisi.
Aku tak menyimak apa yang mereka bicarakan, hanya fokus ke televisi tanpa memperdulikan Mama juga Farhan.
Rasa kantuk selalu saja tiba saat aku masih ingin menonton televisi, dengan keadaan punggung yang bersandar di sofa.
Kupejamkan mata dan membiarkan televisi melihat aku yang tertidur mendatangi mimpi.
***
Beberapa kali mulut kututup saat ingin menguap, kukucek mata dan mengedarkan ke sekitar. Televisi sudah dimatikan dan tak ada Mama juga Farhan di sampingku.
Jam menunjukkan pukul empat sore, artinya aku sudah telat salat Asar. Aku langsung bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.
Mengerjakan kewajiban dan memilih berdiam diri di kamar lebih dulu, dari arah luar kudengar suara Bang Rangga mengucapkan salam dan disambut oleh Mama.
"Gimana tadi di kantor?" tanya Mama kepada Bang Rangga meskipun aku tak melihat pasti yang ditanya adalah Bang Rangga karena cuma dia sendirian yang kerja.
"Begitulah Ma," ujar Bang Rangga yang membuat alisku tertaut. Kutempelkan daun telingaku ke pintu agar lebih jelas mendengar pembicaraan antara anak dan ibu tersebut.
"Kamu kenapa?" tanya Mama dengan nada yang seperti khawatir.
__ADS_1
"Bukan masalah kerjaan Ma, tapi masalah Mawar."
"Mawar? Kenapa dia?" tanya Mama, "kamu liat siapa?"
"Nazwa di mana Ma?" tanya Bang Rangga yang rupanya mencari keberadaanku atau mungkin dia melihat ke arah kamarku?
"Masih salat kayaknya, soalnya tadi Mama bangunin dia susah banget," ungkap Mama.
"Jadi, Mawar gak suka dengan kehadiran Nazwa di rumah kita meskipun Nazwa sudah kita anggap seperti keluarga sendiri.
Dia bilang, meski sudah dianggap keluarga atau bahkan adik angkat. Kami tetap bukan mahram Nazwa dan tak baik jika tidak mahram satu atap."
Deg!
Seolah tersambar petir di sore hari yang padahal tak hujan, aku tak menyangka bahwa Mawar akan seperti itu padaku.
Aku masih setia menunggu respons Mama yang sepertinya bingung ingin mengambil keputusan.
"Jadi, maksud kamu apa?"
"Maksud Rangga, kita harus suruh Nazwa untuk pulang ke rumahnya Ma. Bukan karena kita gak mampu buat membiayain dia.
Namun, agar menjaga harga diri dan kehormatan dia juga sebagai seorang wanita. Bagaimana mungkin kita terus menyuruh dia hijrah sedangkan dia masih tinggal dengan laki-laki asing.
Lagian, kalau kita suruh dia untuk tinggal kembali di rumah Ayah atau Ibunya. Itu juga bisa membuat mereka dekat kembali, bukan?" tanya Bang Rangga pada Mama.
Aku meneteskan air mata, suara isakan bahkan ingin lolos dari bibirku tapi dengan cepat kutahan.
Kuambil handphone membuka situs internet untuk mencari persoalan ini, benar saja bahwa tak boleh jika wanita yang bukan mahram tinggal serumah dengan laki-laki asing.
”Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita (asing) kecuali bersama mahramnya”.(HR. Bukhari dari Ibn ‘Abbas).
Bahkan, bisa juga jatuhnya menjadi haram karena aku dan mereka bahkan tak ada hubungan darah. Hatiku semakin teriris ketika mendapatkan kenyataan.
Begitu jauh aku pada-Mu, sampai hal seperti ini tak kuketahui. Aku menangis sejadi-jadinya, bukan karena sakit hati dengan apa yang diucapkan oleh Bang Rangga.
Namun, pada diriku sendiri. Sebegitu awamnya aku sebagai manusia. Ingin dihormati tapi tak mencerminkan agar dihormati.
Kuletakkan handphone di bantal dan kututup wajah dengan air mata yang bercucuran di wajah. Tak kudengarkan kembali apa yang dibahas oleh Bang Rangga dan Mama.
Rasa penasaranku seketika hilang menyatu dengan angin lalu yang pergi begitu saja tanpa meninggalkan sepatah kata.
__ADS_1