
[Maaf, Guys! Aku gak jadi ikut jalan deh kayaknya, next time aja, ya! Sekalian touring kita,] pesan kukirim ke grup setelah sampai di rumah jam 12 siang.
"Sayang, ayo makan siang!" panggil Mama di depan pintu.
"Iya, Ma," sahutku dan beranjak dari kasur meletakkan handphone di atasnya.
Kerudung yang lupakan sudah kulepaskan dari kepala dan pakaian juga sudah berganti menjadi pakaian lebih santai.
Mama menatapku dengan lembut dan tersenyum ke arahku, "Yuk!" Dirangkul Mama berjalan bersama ke meja makan.
Saat sampai, hanya ada Farhan di situ, "Bang Rangga ke mana, Ma?" tanyaku sambil duduk di hadapan Farhan.
"Pergi, gak tau ke mana."
Kuambil makanan secukupnya dan tak lupa berdoa sebelum makan, hanya ada suara dentingan sendok di ruangan ini.
Hingga akhirnya, makan siang selesai dan aku juga Farhan membereskan makanan dan piring di meja makan.
Farhan meletakkan kembali makanan yang sisa di tempatnya dan aku kebagian untuk mencuci yang kotor di wastafel.
"Kalau udah siap, ambil wudhu langsung, ya, Sayang," titah Mama yang baru keluar dari kamar mandi. Aku langsung mengangguk meng'iyakan' ucapannya.
Setelah melaksanakan salat, Mama memilih untuk tidur siang karena mengaku kelelahan sedangkan aku memilih ke taman yang sekarang ada bangkunya.
Bang Rangga membeli bangku agar aku dan Mama bisa santai-santai di sore atau malam hari katanya.
"Panas-panas gini, ngapain di sini?" tanya seseorang yang sudah berada di sampingku.
"Duduklah, ngapain lagi emang?" jawabku sedikit ngegas dan mengalihkan pandangan kembali ke taman.
Helaan napas terdengar dari bibirnya, jangankan dia. Aku saja lelah pada semua ini.
"Kau bahagia?" tanya Farhan seketika yang membuat aku menatap heran padanya.
Ia melirik ke arahku, "Kenapa?"
"Kau yang kenapa? Kenapa malah tiba-tiba bertanya kayak gitu?" tanyaku yang merasa aneh.
"Ya ... aku rasa, hidupmu terlalu berat dengan apa yang terjadi padamu sekarang."
"Hahaha, kau benar. Kadang, aku heran sama Tuhan. Kenapa aku gak dipanggil aja dengan cepat, aku terlalu takut untuk bunuh diri.
__ADS_1
Soal ucapanku pada Ayah waktu itu, tak mungkin aku beneran melakukannya. Aku hanya bercanda dan tak berniat untuk melakukan.
Tapi, mereka langsung berpikir bahwa itu beneran. Kadang, aku ngerasa gak ada gunanya ada di dunia ini.
Anak yang payah, bandel, gak bisa dibanggakan. Entah apa gunanya Allah menciptakan aku," ungkapku yang malah cerita padanya.
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
(QS. Az-Zariyat: Ayat 56)," ujar Farhan yang membuat aku menatap ke arah wajahnya.
Aku terdiam setelah mendapatkan ucapan dari laki-laki tadi, entah mengapa rasanya seperti tersentil.
"Kau mau jadi apa lagi? Bukannya kehidupanmu sudah Allah buat kacau? Kau tau kenapa? Agar kau itu mengadu pada Allah, Allah ingin kau datang padanya.
Tanpa paksaan, tanpa dorongan orang lain melainkan dari hatimu sendiri. Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan hamba tersebut.
Satu lagi, seorang wanita itu tak boleh terlalu bergaul dengan laki-laki. Kau tau kenapa? Karena ... setan bisa saja menghasut mereka berbuat yang tidak-tidak padamu."
"Maksudmu mereka, siapa?" tanyaku dengan menautkan alis.
"Kurasa kau tau siapa yang kumaksud, jaga marwahmu sebagai seorang wanita," kata Farhan sambil meletakkan papar bag di sampingku dan bangkit dari tempat duduk.
Kulihat punggung tersebut masuk ke dalam rumah, cukup lama kulihat dirinya hingga tak terlihat lagi.
Deg!
Hatiku terasa tersentuh ketika melihat set gamis dengan kerudung yang senada berwarna mocca ini.
"Kapan dia beli bajunya?" gumamku sambil kembali melihat ke arah pintu yang terbuka tanpa siapa-siapa di situ.
Aku termenung, memasukkan kembali gamis yang diberi ke tempatnya semula dan menatap lurus ke depan sana.
***
"Kayaknya kita udah gak bisa nunggu lama-lama lagi, deh. Ini udah terlalu lama!" geram Arpan dengan tangan mengepal.
"Iya, kita langsung ajak dia camping aja," timpal Lio.
"Benar! Abangnya juga semakin lama semakin menjadi-jadi, dia udah berani buat nama baik geng kita tercemar!" ungkap Bagas menatap tajam ke arah depan.
"Ha? Maksudnya?" tanya Arpan menatap ke arah Bagas yang sedang duduk di sofa tempat kumpul mereka.
__ADS_1
"Lu liat ini," suruh Bagas sambil melihatkan handphone-nya.
Tangan Arpan terkepal membaca apa yang diberi Bagas, Lio dan satu temannya juga membaca apa yang disuruh Bagas tadi.
Dalam status sosmed Gilang, ia menuliskan bahwa geng Bagas adalah geng yang kurang baik dalam segala hal.
Mereka kerap melakukan balap liar dan juga menipu dana, saat geng mereka akan mulai pertandingan balap liar.
Geng Bagas berkata bahwa uang mereka akan diambil ke bank dulu, ternyata mereka tak kembali lagi hingga Gilang mencoba ikhlas.
Bukan hanya itu, Bagas juga menipu dengan taruhan menggunakan uang palsu juga kerap melakukan hal curang lainnya.
"Bangs*t nih orang!" geram Arpan mengumpat setelah membaca apa yang ada di sosmed tersebut.
"Liat aja, kita akan membuat dia berlutut dan memohon pada kita," geram Bagas tersenyum sinis menatap tajam ke depan.
"Lu akan buat rencana apa?" tanya Arpan yang penasaran.
"Haha, ada deh. Tunggu aja tanggal mainnya!"
***
"Bang, seharusnya Abang gak buat status begitu di sosial media Abang!" tegur Farhan yang sedang teleponan dengan Gilang di sebrag.
"Biarin, aja. Kau tak perlu khawatir, mereka gak akan macam-macam," kata Gilang bernada santai.
"Gak bisa gitu Bang, Nazwa lagi dekat dengan mereka. Gimana kalo mereka melakukan sesuatu pada Nazwa dan kita gak tau?" tanya Farhan yang sudah cemas akibat keputusan yang dibuat oleh Gilang.
"Kau tinggal pasang GPS balik ke handphone dia, apa susahnya sih?"
"Bang, aku kecewa sama Abang! Aku kira selama ini Abang adalah sosok yang peduli sama Nazwa, tapi ternyata tidak sama sekali. Abang malah masukkan dia ke zona yang membuat dia bahaya.
Abang bilang apa? Tinggal liat GPS? Emamgnya Abang 24 jam cek keberadaan dia? Dan apakah Abang kira dia gak akan cek handphone-nya?
Dia juga akan keheranan jika GPS-nya hidup, gimana kalo dia dibawa ke tempat yang tidak-tidak dengan mereka dan kita gak tau sama sekali?
Mereka pasti melakukan hal itu akibat ulah Abang juga! Mereka melakukan itu buat balas dendam karena Abang yang sudah mempermalukan mereka!" papar Farhan dengan suara yang tegas sedikit membentak.
Ia sudah mondar-mandir seperti setrika akibat ulah Gilang yang terkesan gegabah, berlagak akan tahu keberadaan Nazwa.
Bahkan, selama Nazwa di tempat Farhan saja dia tak pernah datang menjenguk bahkan dia tak tahu jika Nazwa bekerja part time akibat uangnya tidak lagi diberi oleh Ayahnya.
__ADS_1
Gilang terdiam mendengar ucapan Farhan seolah baru menyadari akan kesalahan yang ia buat, kesalahan yang bukan hanya berdampak pada dirinya melainkan pada Nazwa juga.