Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Rindu


__ADS_3

"Ish Ma! Seharusnya gak perlu sebanyak ini baju yang dibeli," protesku sambil membawa papar bag yang berisikan gamis di tanganku juga Mama ikut membantu.


"Haha, gak papa Sayang. Ini juga isinya bukan gamis aja, tapi ada manset, anak kerudung dan kaos kaki juga jarum pentul. Nanti kamu pakai semua, ya."


Aku mengangguk dan tersenyum hangat ke arah Mama, "Tentu Ma, pasti akan Nazwa pakai, kok."


"Kita letakkan dulu ini, ya, baru ke bagian sayuran." Kuanggukkan kepala setuju, kami pun akhirnya keluar dari mal dan berjalan ke arah parkiran.


Meletakkan belanjaan di mobil dan sekilas melirik ke arah halaman parkiran, tanpa sengaja mataku menangkap sosok yang tak terlalu asing.


Kusipitkan mata agar lebih jelas orang yang kulihat sekarang, "Sayang," panggil Mama yang sepertinya sudah siap meletakkan belanjaan.


"Kamu liatin apa?" sambung Mama dan ikut menatap ke arah yang kulihat.


'Gak mungkin Kak Mawar tadi yang sama cowok lain, kayaknya aku salah orang,' batinku mengalihkan pandangan dan menggeleng pelan.


"Kenapa?" tanya Mama lagi karena tak kunjung mendapat jawaban.


"Enggak Ma, tadi Nazwa kayak liat orang yang Nazwa kenal. Mungkin cuma mirip aja kali, ya?" tanyaku dengan cengiran.


"Mama kirain ada apaan," cetus Mama sambil menghela napas.


Aku hanya menampilkan cengiran dan menautkan tanganku.


"Yaudah kalau gitu, kita belanja sayur, yuk!" ajak Mama karena memang kami belum sempat belanja. Aku mengangguk dan akhirnya kami masuk ke dalam mal kembali.


Memilih sayuran yang akan dimasak dan dipesan oleh Bibi, pikiranku kembali melayang ke Kak Mawar.


Apakah tadi Abangnya? Karena, mereka terlihat begitu dekat bahkan laki-laki itu merangkul bahu Kak Mawar.


Kami akhirnya pulang di jam 12 siang, aku segera mandi agar menyegarkan tubuh ini. Sebelum pulang, aku dan Mama sempat membeli tunik dan rok plisket.


Baju-baju tadi di cuci terlebih dahulu sedangkan aku akan memakai tunik juga rok tadi, kata Mama tak apa pakai itu jika sebentar.


Sambil menunggu gamis kering yang untungnya matahari begitu panas, turun kembali setelah merasa segar.


Aku berjalan ke arah ruang makan, Mama menata masakan Bibik dengan baju yang juga sudah berganti.


"Eh, ayo makan Sayang!" ajak Mama dan kuangguki. Sebenarnya, tak semua makanan Mama yang menata.


Karena, di sini memiliki pembantu yang lebih dari satu. Mereka yang biasanya akan membantu menyediakan segalanya.


'Enakan di tempat Farhan, ya, walaupun rumahnya gak besar tapi aku gak jenuh kayak gini.


Bisa ketawa dan bercanda bareng sama mereka, belum juga padahal satu harian aku tinggal sama Ayah dan Mama.


Tapi, aku udah rindu dengan suasana rumah di sana. Di sini sepi banget rasanya,' batinku dengan air mata yang datang tanpa diundang.


Aku segera menatap ke atas agar air mataku menghilang dan tak terjatuh membuat Mama tahu.

__ADS_1


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Mama yang ternyata melihat apa yang sedang kulakukan.


"Eh, gak ada Ma," terangku dengan mengerjap-ngerjapkan mata sambil melihat Mama yang ada di depanku.


"Kenapa? Sepi, ya, di sini? Gak kayak tempat Farhan?" celetuk Mama tersenyum dengan mengunyah makanan.


"Enggak, kok Ma. Dulu, Nazwa biasa aja dengan suasana kayak gini. Mungkin, Nazwa cuma belum terbiasa aja," ucapku yang sedikit tak enak dengan Mama.


Akhirnya, kami makan dengan saling bercerita. Cerita tentang Mama waktu muda dan lainnnya yang kadang membuat aku tertawa karena kisahnya.


Suara azan berkumandang, aku yang sedang meletakkan piring kotor di wastafel terdiam sebentar.


"Ma, ayo kita salat!" ajakku pada Mama yang mengelap meja makan.


Aku baru saja bercerita tentang bagaimana kehidupanku di rumah Farhan dulu, memang biasanya aku dan Farhan akan berbagi tugas.


Atau, jika dia sibuk sekolah waktu itu. Aku dan Mama yang berbagi tugas. Aku kebagian mencuci piring dan mengangkati piring kotor sedangkan Mama mengelap meja saja.


Mama pun akhirnya sekarang melakukan hal yang sama. Tapi, aku tentu saja tak diberi izin untuk mencuci piring oleh Mama.


"Mmm ... Mama lagi PMS, Sayang. Kamu aja, deh," ungkap Mama yang kubalas dengan anggukan.


"Yaudah, deh Ma. Nazwa salat dulu, ya, sekalian tidur siang. Kalo Mama ada apa-apa langsung bangunin Nazwa aja di atas."


"Iya, kamu tenang aja Sayang."


Karena, setiap kamar sudah disediakan kamar mandi sendiri yang memudahkan aku agar salat. Menutup pintu dan masuk ke dalam kamar mandi setelah melepaskan manset tangan, kaos kaki juga kerudung.


Mengambil wudhu dan membentang sajadah, kulaksanakan empat rakaat-ku hingga kututup dengan meminta dan memohon pada Rabb.


Merapikan kembali peralatan salat dan naik ke atas ranjang yang lebih besar dari di rumah Farhan dulu. Tapi, aku lebih menyukai ranjang di sana.


Mengambil handphone yang dari tadi kutinggal, menghidupkan kuota dan melihat nomor Farhan yang ada tanda 'online'-nya.


'Hmm ... chat atau enggak, ya? Tapi, aku malu lagi,' batinku yang bingung.


Aku keluar dari room chat dan melihat grup yang sempat jadi tempat kebahagiaanku kini sepi, ya, tak mungkin di balik jeruji besi mereka dapat bermain handphone.


Aku memilih keluar dan menghapus segala chat di grup itu, aku juga menghapus dan blokir nomor mereka berempat.


Tak ingin ada kenangan apa pun, sudah cukup! Kututup kisah yang membuat hatiku pilu dan teriris itu.


[Nazwa,] pesan masuk yang membuat aku menghapus air mata jatuh di pipi.


[Eh, iya Farhan?]


[Kau sudah sampai?]


[Sudah, kok. Emangnya aku tinggal di planet, jam segini belum juga sampai di rumah?]

__ADS_1


[Hahaha.]


[Mama mana?]


[Ke toko cake.]


[Lah, kok gak tidur siang?]


[Hmm ... Mama kayaknya udah rindu dengan kau.]


[Aku pun sama,] balasku yang tak bisa berbohong.


[Hahah, kalian ini. Baru juga tadi pagi ketemu, udah rindu-rindu aja. Yaudah, nanti malam kalau kau ada waktu. Teleponlah aku, biar aku kasih ke Mama.]


[Okey!]


[Yaudah, lanjutlah tidur siangnya.]


'Eh! Kok dia tau aku mau tidur siang?' batinku yang terdiam dan melihat sudah tak ada lagi status 'online' di pojok atas.


Aku bangkit dari kasur dan melihat ke kaca kamar, 'Dih, pede banget sih aku? Ya, kali Farhan lagi mantau aku,' batinku dan menggelengkan kepala kembali berjalan ke atas ranjang.


Ketutup tubuhku hingga perut dan masuk ke dalam mimpi.


Tok!


Tok!


Tok!


Baru saja akan mulai terlelap, suara ketukan membuat aku terbangun kembali.


"Ya, siapa?" tanyaku melirik ke arah pintu dengan tubuh yang masih berbaring.


"Mama Sayang."


"Masuk aja Ma!" teriakku agar Mama dengar.


Ceklek!


Aku langsung duduk dan menatap ke arah Mama, "Ada apa Ma?"


"Mmm ... Mama boleh tidur siang denganmu?"


Aku mengangguk dengan cepat dan tersenyum ke arah Mama, Mama langsung tersenyum mendengar jawaban dariku.


Siang ini, akhirnya aku tidur dengan berada di dekapan Mama tiriku. Mungkin, beliau begitu sangat rindu dengan anaknya.


Jadi ketika aku berada di rumah ini, dia langsung begitu menyayangiku selayaknya anaknya yang sudah tidak dapat lagi ia dekap.

__ADS_1


__ADS_2