
Kami melahap makan siang dengan hening, tanpa ada yang membuka suara baik aku maupun Farhan.
"Jangan pernah menerima seseorang hanya karena suruhan atau perintah orang lain, terima dia karena memang kau menyukainya," tegas Farhan membuat aku menatap ke arahnya.
Aku tahu, dia pasti membahas ke arah sana. Bagaimana pun dia mendengar ucapanku dan Mama tadi.
Kuanggukkan kepala perlahan dan kembali menatap ke arah makananku, seketika nafsu makanku berkurang akibat ucapannya tadi.
"Nazwa," panggil Farhan kembali membuat aku menatap ke arah dia lagi.
"Iya?" tanyaku menaikkan satu alis.
Farhan diam tanpa menatap ke arahku, sedangkan aku menunggu apa yang mau dia bicarakan.
"Apakah kau suka padaku?" Kalimat yang lolos dari bibir Farhan membuat aku kaget hingga tanpa sadar tersedak oleh ludah sendiri.
Uhuk!
Uhuk!
Segera kuambil air minum agar melegakan kembali tenggorokan, kuletak gelas dengan perlahan dan beberapa kali mengerjapkan mata.
"Tak tau entah sejak kapan, tapi ada perasaan yang sudah lama ingin kuungkapkan. Perasaan cemas saat tau waktu itu kau pergi dengan mereka.
Perasaan tak terima saat tau kau dilecehkan oleh mereka dan perasaan sakit saat melihat orang-orang berniat melukai dan membenci dirimu.
Awalnya ... aku juga berpikir bahwa ngapain aku harus mengurus hidupmu? Aku sampe harus pindah ke rumahmu hanya demi memperhatikan dirimu.
Padahal, aku bisa aja menolak suruhan Ayahmu. Dan menyuruh dia menyewa bodyguard untukmu. Tapi, itu tak bisa kulakukan. Aku tetap ingin menjagamu baik kau terima atau tidak," ungkap Farhan yang membuat mataku berembun.
"Aku ingin melamarmu, aku ingin menjagamu, aku ingin melindungimu," sambung Farhan kembali dan berhasil membuat bulir beningku menetes dengan deras.
Kugelengkan kepala, seketika kejadian yang lampau teringat kembali, "Gak, kau berhak mendapatkan gadis yang lebih baik Farhan! Jangan bersamaku, aku wanita yang tak pantas bersama dengan laki-laki sebaik dirimu," ungkapku menghapus air mata kasar dan berniat bangkit dari tempat duduk.
"Tunggu!" titah Farhan membuat aku terhenti dengan berdiri, "aku mencintaimu tanpa peduli pada masa lalumu, aku tau semuanya. Kau tak perlu mengingat kembali untuk memberi tauku hal itu."
Farhan berdiri membuat aku menatapnya, netra kami saling temu. Tak tahu bagaimana keadaan kantin. Apakah pengunjung menatap ke arah kami atau tidak.
"Aku ... hanya perlu kau menjawab, mau atau tidak menjadi istriku. Penyempurna agamaku, jika kau tak cinta dan suka padaku. Maka, kau boleh pergi dari sini," terang Farhan dengan nada begitu tegas seperti biasanya.
__ADS_1
Kutatap nanar berwarna cokelat tersebut, tak ada pemaksaan dan kebohongan yang terpancar pada matanya.
Kuanggukkan perlahan kepala ini sebagai jawaban, bibirku tak mampu mengeluarkan suara karena begitu bahagianya.
Mata yang tadinya menampilkan harap-harap cemas kini membulat dengan senyum yang mengembang.
"K-kau ... menerimaku?" tanya Farhan dengan terbata-bata.
Roma merah mungkin terpancar di pipiku, aku mengulum senyum dan menunduk menatap lantai dengan tangan saling tertaut.
Kuanggukkan sekali lagi kepala ini, merasa Farhan sedikit ngeselin karena terus bertanya padahal aku sedang menahan malu dan bahagia.
Kudongakkan kepala menatap tajam ke arahnya, "Ngapain nanya mulu, sih! Nyebelin banget!" ketusku bersedekap dada.
"Wahh ... selamat! Bentar lagi ada yang akan langkahin aku, nih," celetuk suara bariton yang tak asing di telingaku.
Bang Rangga dengan kedua tangan di masukkan ke saku celana berjalan menghampiri kami, senyum mengembang tertampilkan di wajah miliknya.
"Selamat, ya, jaga baik-baik Nazwa. Karena ... banyak yang mau wanita seperti dia," kata Bang Rangga menepuk bahu Farhan dan menatap ke arahku.
Aku tersenyum menanggapi tatapannya itu, "Siap Bang! Abang juga buru-buru cari pendamping deh, biar rumah Mama segera ramai," ejek Farhan yang membuat Bang Rangga menatap ke arahnya dengan datar.
Aku hanya terkekeh melihat perdebatan antara adik dan Abang di depanku ini, kami akhirnya ke ruangan Mama setelah membayar pesanan tadi.
Sesampainya di ruangan, Farhan langsung bercerita dengan Mama soal rencana dia kedepannya dengan aku.
Sekilas, kurasa bahwa Bang Rangga tengah menatapku yang kebetulan sedang duduk di sampingku.
"Farhan, minjam Nazwa sebentar, ya," kata Bang Rangga membuat aku, Farhan juga Mama menatap ke arah dia.
"Mau ngapain?" tanya Farhan dengan menautkan alis.
"Udah, deh, sebentar aja. Tenang, gak akan aku apa-apain," papar Bang Rangga menatap ke arahku.
"Ck! Yaudah, jangan lama!"
"Belum jadi suami aja udah cemburuan banget dirimu, gimana kalo udah jadi suami?" gerutu Bang Rangga dan berdiri dari sofa.
Aku masih duduk dan menatap ke arahnya dengan mendongak, "Ayok!" ajak Bang Rangga padaku.
__ADS_1
Bangkit dan mengikuti ia dari belakang, taman. Ya ... dia membawaku ke taman yang ada di rumah sakit ini.
Menghela napas dan duduk lebih dulu, menatap bunga yang ada di depan bangku kebetulan tertutup oleh pohon sehingga tak terkena panas.
Aku ikut duduk di samping Bang Rangga meski dengan jarak yang lumayan jauh, dia tak menoleh ke arahku sedangkan aku menatap wajahnya dari samping.
"Kau cinta dengan Farhan?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Bang Rangga begitu tiba-tiba membuatku sedikit kaget.
"I-iya Bang," jawabku terbata-bata.
Dia tersenyum tanpa melihat ke arahku, "Kalian cocok, Farhan laki-laki yang begitu baik dan tak mudah jatuh cinta dengan wanita. Beda dengan Abang yang mudah jatuh cinta bahkan bisa cinta dengan orang tanpa dicari tau latar belakangnya dulu.
Kau anak yang baik, pantas dengan Farhan. Dia akan membimbingmu menjadi wanita yang lebih baik lagi dan akan menjagamu, dia juga orang yang bertanggung jawab.
Jadi ... Abang rasa, Abang tak perlu cemas akan dirimu setelah menikah. Karena, kau menikah dengan orang yang tepat," ungkap Bang Rangga menatap ke arahku.
"Lantas, kenapa Abang nangis jika Nazwa akan menikah dengan orang yang tepat?" tanyaku melihat matanya yang sudah memerah menahan tangis.
Bang Rangga tertawa renyah dan menghapus air matanya dengan cepat, "Ini air mata bahagia, karena bahagia Adik-adik Abang akan menikah," jelas Bang Rangga yang entah berbohong atau jujur.
Namun, seperti ada yang ia tutupi dariku. Aku tak mau terlalu banyak menebak-nebak, apa pun itu semoga memang yang dia ucapkan itu benar.
Sekitar dua puluh menit aku dan Bang Rangga berbicara, dia memutuskan untuk masuk ke dalam lebih dulu.
Aku memilih untuk duduk terlebih dahulu di bangku dan membiarkan angin menerpa wajahku, kututup mata dan mendongak melihat awan. Kubuka kembali perlahan melihat birunya langit.
Dulu ... aku kira hidupku akan selesai setelah kedua orang tuaku memilih untuk berpisah. Tak akan ada lagi masa depan yang bahagia juga secerah sekarang.
Broken home, diabaikan, tak dianggap, pelampiasan, beban, kebencian dan berbagai kata kasar dan umpatan selalu kudapatkan.
Namun, ternyata semua berubah. Allah memang maha baik, dia bisa merubah alur cerita seorang hamba kapan saja dan di mana saja.
Aku bertemu dengan seseorang yang tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa dirinya begitu besar berdampak pada perubahanku.
'Sabar' ya, jika dulu aku tak sabar dengan semua ujian yang Allah beri. Mungkin, aku tak akan pernah merasakan ending yang bahagia seperti ini.
'Mendekatkan diri pada-Nya' kalau aku malah semakin menjauh pada-Nya dulu. Entah apa jadinya aku sekarang, bahkan detik ini bisa jadi aku sudah berada di dalam tanah bukan berpijak pada tanah.
TAMAT
__ADS_1