
Kuedarkan pandangan melihat ke arah bangunan yang berada di depanku sekarang, masuk ke dalam dengan menggenggam tangan Mama.
Suasana toko cukup ramai, karyawannya juga sudah lumayan sekarang. Aku berjalan ke arah kulkas yang menampilkan berbagi bentuk dan warna serta ukuran cake.
"Maaf, Kak. Ada yang bisa saya bantu?" celetuk seseorang yang membuatku langsung melihat ke arahnya.
"Eh, enggak Mbak. Mau nanya, pemilik toko ini mana, ya?" tanyaku tersenyum ramah dengan Mama yang menghampiri aku.
Karyawannya menatap ke arahku dari atas ke bawah membuat aku mengikuti hal yang sama, kulirik ke arah Mama. Ia menautkan alis dan mengerutkan kening melihat hal tersebut.
"Kenapa liatin anak saya kayak gitunya, ya, Dek?" tegur Mama yang risih sepertinya.
"Maaf Buk. Ada apa, ya, cari bos saya?"
"Kami keluarganya."
"Oh, bentar, ya."
Karyawan Mama pun akhirnya pergi ke ruangan Mama sepertinya.
"Kamu mau Sayang?"
"Mau Ma, mau desert box-nya deh."
"Mbak, tolong ambilin dong."
Sembari menunggu Mama, kami akhirnya duduk di bangku tunggu yang tersedia. Aku melihat karyawan Mama Farhan tengah berbisik-bisik seolah mengatai aku.
Namun, terserahlah mereka mau katakan apa pun itu padaku. Bahkan, jika mereka berpikir aku halu karena ingin ketemu dengan pemilik toko pun tak apa.
"Sayang!" teriak Mama dengan merentangkan tangan yang membuat kami seketika jadi pusat perhatian.
Aku bangkit dan langsung berhambur ke pelukan Mama, Mama mendekap tubuhku bahkan beberapa kali mendaratkan kecupan ke pipi ini.
"Haha, Ma. Nazwa malu diliatin orang-orang," bisikku mungkin dengan pipi yang sudah merah.
"Ya, gak papa dong. Orang kamu anak Mama."
Aku melirik ke arah karyawan Mama tadi, mereka tampak kaget dengan ucapan Mama barusan yang mengakui kau bahwa anaknya.
"Kamu sama siapa ke sini?"
"Sama Mama," ujarku melihat ke arah Mama yang seketika langsung berdiri dari bangkunya tadi.
Mama tiriku menyalim tangan Mama, kami akhirnya diajak untuk ke ruangan Mama sambil bercerita tentang kerjaan juga cake yang ada.
"Ada siapa Mbak?" tanya Farhan yang baru saja sampai di toko kepada karyawan.
"Ada anaknya Ibu di dalam Mas, eh, berarti adek Mas Farhan dong, ya?" tanya karyawan yang memang usianya lebih muda dari Farhan.
"Adik?" gumam Farhan menautkan alis sedangkan karyawan tadi mengangguk dengan senyuman yang manis.
"Terima kasih, ya," ungkap Farhan berlalu ke ruangan Mamanya.
__ADS_1
"Udah jangan terlalu diliatin, jelas gak akan bersama kamutuh dan dia. Orang kayak bumi dan langit!" sindir salah satu teman kerjanya.
"Ck! Biarin, gak ada salahnya 'kan kalo berhalu?" Temannya itu hanya menggelengkan kepala melihatnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum Ma," salam Farhan dari luar. Aku yang sedang menyimak percakapan Mama tiriku dan Mama Farhan langsung kaget dan menatap ke arah pintu yang tertutup rapat.
"Waalaikumsalam, masuk Sayang," suruh Mama Farhan yang pasti sudah hafal dengan suara anaknya.
Ceklek!
Pintu dibuka dan menampilkan Farhan dengan menggunakan tas ransel miliknya, ditutup kembali pintu dan segera menyalim Mama dan menyapa Mamaku.
Ia duduk tepat di hadapanku sekarang, aku hanya mampu menunduk sambil memakan desert box yang kuambil tadi di depan.
"Kenapa gak kuliah?" tanya Mamanya.
"Dosennya gak masuk Ma. Yaudah, mending pulang aja."
Mama hanya ber'oh' ria saja, aku pun hanya sekadar menyimak pembicaraan antara anak dan Mama tersebut.
"Ajak Nazwa sana, beli makanan sekalian buat Mama dan Tante," suruh Mama kepada Farhan.
"Lah, kenapa? Kamu 'kan belum makan Sayang," celetuk Mama tiriku.
"Nazwa sekarang udah tau malu, jadi dia pasti malu kalau jalan berdua sama Farhan," jelas Farhan yang seolah tahu apa yang kurasakan.
Aku mendongak menatap ke arahnya sekilas, kumajukan bibir kesal dengan apa yang dia ucapkan.
"Hahah, yaudah kalau gitu. Kamu aja yang beli sana Farhan," suruh Mama padanya dengan menertawai aku.
"Ih, mana ada! Siapa juga yang malu sama kau? Yaudah, Nazwa ikut beli nasi deh," potongku meletakkan makanan yang sudah tinggal sedikit lagi di atas meja.
Aku akhirnya menyalim Mama tiriku juga Mama, keluar dari ruangan terlebih dahulu sedangkan Farhan berada di belakangku.
Hingga sampai di teras toko, kuhentikan langkah ini, "Kenapa?" tanya Farhan yang bingung kenapa aku berhenti.
"Aku gak tau di mana tempat jualan nasinya," ujarku yang membuat Farhan terdengar menahan tawanya.
"Apa, sih? Orang aku juga baru dua kali ke sini, wajar dong!" ketusku bersedekap dada.
"Iya-iya, wajar kok," potong Farhan cepat agar tak terjadi perdebatan di antara kami sepertinya.
Kikuti langkah dirinya dari belakang, kami berjalan di trotoar dan seketika ia berhenti membuatku menatap heran.
"Kok berhenti?" tanyaku menatap wajahnya.
"Kita harus sebrang, tempat jualan nasinya di situ," tunjuk Farhan dengan dagunya membuat aku menatap ke arah depan.
__ADS_1
"Aku nunggu di sini aja deh."
"Lah, kenapa?" tanya Farhan menatap ke arahku dengan alis yang tertaut.
"Aku takut nyebrang jalan raya." Kendaraan terus saja berlewatan dan tak ada rambu-rambu lalu lintas di sini.
Hal tersebut semakin membuat aku ketakutan, apalagi orang-orang mengendarai transportasi tak pernah pelan.
"Kan ada aku, tenang aja," tutur Farhan membuat aku menatap ke arahnya.
"Udah, yuk! Kau bisa pegang tasku," sarannya dan kuangguki.
Saat jalanan sedikit lenggang, kami akhirnya mulai turun dari trotoar dan berjalan ke aspal dengan aku yang memegang tas ransel Farhan.
Entah mengapa, ada perasaan bahagia saat seperti ini. Kuambil tas di kantong gamis dan mengambil moment seperti ini.
Senyum tak luntur dari wajahku, meskipun sifatnya yang kadang menyebalkan tapi tetap bisa membuatku bahagia.
Kami sampai di tempat makan, ia langsung memesan nasi empat bungkus dengan laukku ayam sambel ijo.
Makan bersama di ruangan Mama dengan Mama tiriku juga Mama Farhan tak ada habis-habisnya bercerita.
Sedangkan aku dan Farhan hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka dari tadi yang entah membahas apa saja.
"Farhan udah punya calon?" tanya Mama tiriku tiba-tiba yang membuat Farhan tampak kaget.
"Udah Tante," jawab Farhan seadanya dengan wajah datar.
Deg!
Seolah tersambar petir di siang hari, kucoba untuk tersenyum meskipun ada perasaan sakit yang entah mengapa bisa.
'Dih, kenapa lu sakit hati Nazwa? Suka dia dong kalo punya calon atau enggaknya!' batinku.
"Lah, kok gak pernah cerita sama Mama?" timpal Mama yang mungkin merasa aneh.
"Belum waktunya Ma, lagian uang Farhan juga belum cukup buat melamar dia. Jadi, lebih baik gak perlu dikasih tau dulu ke siapapun."
"Kapan-kapan kenalin ke Tante, ya. Padahal, Tante kira kamu belum punya calon. Kalian tampak cocok padahal lho."
"Kalian? Siapa Ma?" tanyaku yang merasa kalimat Mama ambigu.
"Ya, kalian. Kamu dan Farhan," jelas Mama.
"Nazwa juga udah punya calon dan spek idaman Ma," ujarku.
"Kok Mama gak tau?"
"Kan, belum saatnya Mama tau. Nanti, pasti akan tau juga, kok," ungkapku yang tak mau kalah dengan Farhan.
Kulirik ke arah Farhan, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kenapa dengan laki-laki itu? Apakah dia mengira bahwa aku halu?
Ya ... meskipun memang benar, masa aku bilang kalo aku belum punya calon sedangkan dia punya.
__ADS_1