Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Kembali Lagi


__ADS_3

Koper dan tas ransel sudah kubawa keluar dari kamar, Ayah membantu membawakan saat aku sudah keluar dari kamar.


Sarapan kali ini bertambah karena ada Ayah dan Mama tiriku, Bang Rangga sudah izin untuk telat datang ke kantor.


Ayah? Dia bebas karena kantornya, palingan asistennya yang menyelesaikan beberapa urusan saat Ayah belum datang.


Kami berhenti di teras, koperku sudah dimasukkan Ayah ke bagasi mobil. Mama tiriku dan Ayah sudah berpamitan juga masuk ke dalam mobil lebih dulu.


Kutatap ke arah Mama dengan sendu, kudekap lagi dan lagi tubuh wanita yang mengajarkan banyak hal padaku.


"Makasih, ya, Ma. Makasih banyak sekali lagi untuk segalanya, Nazwa gak akan pernah lupain Mama sampai kapan pun itu," kataku setelah pelukan terlepas.


Mama mengangguk dan menangkup wajahku, kecupan diberikan Mama ke kening juga kedua pipiku.


"Sehat-sehat di sana, ya, Sayang. Jangan lupain Mama dan sering-sering ke sini, ya!"


Aku tersenyum dan mengangguk, kuambil tangan Mama yang ada di wajahku untuk menyalim punggung tangan Mama.


Kualihkan pandangan ke arah Bang Rangga,"Makasih, ya, Bang untuk nasehat meskipun gak secara langsungnya. Semoga pernikahan Abang dan Kak Mawar bisa lancar tanpa ada hambatan apa pun.


Maafin Nazwa jika membuat Kak Mawar jadi gak nyaman atau gak yakin sama Abang, sekarang dia udah harus yakin bahwa Abang hanya punya dia seorang," ujarku pada Bang Rangga yang menunduk mungkin merasa bersalah dengan ucapan yang dia katakan kemarin malam.


Kutatap ke arah Farhan, "Aku udah balas budi, tapi ini semata-mata karena Allah. Doakan aku biar istiqomah, ya, jaga Mama baik-baik dan semoga diterima di kampus yang kau impikan."


Aku mundur satu langkah dan menatap ketiga orang di depanku, "Nazwa pamit dulu, ya, Ma, Bang, Farhan. Kalian sehat-sehat semuanya, ya. Assalamualaikum," salamku dan berjalan ke arah mobil dengan melambaikan tangan.


Mama kembali terisak dan di dekap oleh Bang Rangga, laki-laki itu melambaikan tangan ke arahku sedangkan Farhan mengalihkan pandangan.


Masuk ke dalam mobil, Ayah menghidupkan klakson sebelum pergi dari depan rumah Mama. Mobil keluar dari kawasan rumah Mama.


Kulirik ke arah rumah Mama dengan tetap melihat dari kaca spion, mereka masih menatap ke arah mobil kami.


Ada perasaan sakit dan tak rela sebenarnya. Namun, ini memang pilihan terbaik yang harus kuambil.


"Kamu gak papa Sayang?" tanya Mama tiriku dengan tubuh menatap ke arahku.


"Gak papa kok Tante," ujarku dengan menggelengkan kepala dan tersenyum ke arahnya.


"Ehem! Kamu bisa panggil Mama Nazwa, gak perlu Tante," timpal Ayah melirik ke arahku dari kaca spion.


"Hmm ... Nazwa akan belajar, Yah."

__ADS_1


"Udah, gak papa kok Mas. Dia boleh panggil aku apa aja selama dia nyaman," potong Mama tiriku dengan mengusap bahu Ayah di depanku.


Kubuang pandangan ke luar, ransel yang sempat kuletakkan di bangku sambil kuambil dan membukanya.


Mengambil handphone, sudah ada notifikasi dari Bang Gilang juga Ibu. Telepon yang tak kuangkat dari mereka beberapa menit yang lalu.


Ternyata, suara notifikasi dering tak kukuatkan. Kupanggil kembali nomor Ibu mana tahu ada hal penting yang ingin dia bicarakan.


"Assalamualaikum, ada apa Bu?"


"Waalaikumsalam, kamu di mana? Kata Farhan, Ayah datang ke sana dan bawa kamu. Kamu pindah?" tanya Ibu dari sebrang.


"Iya, Ibu. Nazwa pindah ke rumah Ayah sekarang."


"Mereka usir kamu?"


"Eh, enggak Bu. Nazwa sendiri yang mau, kok."


"Kenapa? Gak enak lagi tinggal sama mereka?"


"Bukan Bu, gak papa kok. Yaudah, Bu. Nazwa udah sampai, nih. Kapan-kapan lagi Nazwa telepon, ya, atau nanti Nazwa ke rumah Ibu deh," potongku yang melihat kami sudah sampai di rumah Ayah.


Mama tiriku dan Ayah turun lebih dulu, kubawa tas dan keluar dari mobil. Ayah sudah membawa koper masuk ke dalam rumah.


"Eh, Non Nazwa?" sapa supir pribadiku dulu.


"Iya Pak," jawabku dengan tersenyum ramah padanya.


"Mulai sekarang, Bapak kembali nganter dia ke mana aja, ya," perintah Ayah dan dibalas anggukan.


Kami masuk ke dalam rumah, kubawa koper ke lantai atas sendirian. Aku memerlukan waktu untuk sendiri.


Ayah sudah pamit ingin ke kantor dan Mama tiriku akan masak katanya, kubuka koper dan melihat begitu banyak pakaianku yang terbuka dulu.


"Kayaknya, aku harus beli gamis deh setelah ini. Gamisku cuma satu," ujarku melihat pakaian di koper juga di lemari.


"Sayang! Mis kamu sudah datang!" teriak Mama dari lantai bawah.


"Iya, Ma!" sahutku dan dengan cepat membuka tas untuk mengambil peralatan belajarku.


Padahal, aku belum memberi tahu Mis bahwa aku pindah rumah. Namun, dia sudah tahu aku tak lagi tinggal di sana.

__ADS_1


Mungkin, Ayah yang sudah memberi tahunya. Sesampainya di bawah, Mis menatapku dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Kenapa Mis?" tanyaku dengan mengulum senyum dan menaikkan satu alis. Menjatuhkan bobot di samping Mis.


"Kamu cantik banget," puji Mis tersenyum ke arahku.


"Terima kasih Mis," ungkapku yang merasa sedikit malu.


"Ini cemilannya," kata Mama tiriku yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi cemilan dan minuman.


"Oh, iya, terima kasih Buk," ujar Mis menatap ke arah Mama.


Mama tersenyum dan ingin beranjak, "Tante ... temanin Nazwa belajar, boleh?" pintaku karena memang biasanya Mamalah yang melakukan ini.


Wajah Mama tampak kaget ketika mendengar permintaanku tadi, matanya berbinar dan mengangguk ke arahku.


Kutepuk sofa di sampingku, ia duduk dengan meletakkan nampan di meja. Pelajaran pun di mulai dengan serius.


Mama tiriku ikut menyimak kembali tentang prosedur homeschooling ini, beberapa kali anggukan diberikan ke Mis.


"Jadi, apa yang membuat kamu berubah Nazwa?" tanya Mis sambil memakan cemilan yang dibawa Mama tadi karena belajar telah selesai.


"Allah dan surga. Saya berniat ingin masuk ke dalam surga, itu sebabnya saya berubah dan menutup aurat saya Mis.


Meskipun saya tau, tertutup bukan berarti surga langsung bisa saya dapatkan. Namun, setidaknya saya sudah berusaha untuk mendapatkannya," tegasku dengan mantap.


Mis tersenyum dan mengangguk, "Saya sangat kaget, dalam waktu semalam kamu bisa berubah seperti ini."


"Hehe, jangankan semalam. Manusia bahkan bisa berubah dalam waktu beberapa menit Mis, tergantung kita mau mengambil hidayah yang Allah berikan atau tidaknya, sih."


"Kamu bagus banget Nazwa, semoga banyak orang yang bisa terinspirasi dari kamu apalagi kejadian yang sudah kamu alami. Nanti, Mis akan ajak kamu atau undang kamu ke salah satu acara.


Mis ada buat forum untuk saling berbagi cerita dan kamu bisa berbagi cerita kamu ke mereka. Saling menguatkan juga pastinya."


"T-tapi Mis," gagapku sambil melirik ke arah Mama yang sudah tersenyum dan memberi anggukan seolah aku harus terima penawaran itu.


"Mis tau kamu bisa, beri orang contoh Nazwa. Beri mereka motivasi, mungkin ada dari salah satu mereka yang sempat merasakan seperti kamu.


Itu sebabnya mereka memilih homeschooling, karena jujur yang saya tau sebab murid saya milih homeschooling itu cuma kamu.


Sedangkan yang lain? Mereka sangat tertutup sama saya, bahkan untuk berbicara sama saya aja mereka enggan."

__ADS_1


__ADS_2