Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Kedatangan Ayah


__ADS_3

Suara alarm handphone membangunkan aku dari tidur, bangun untuk melihat suasana malam yang begitu sepi.


Membuka pintu dengan begitu pelan dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu. Kulirik ke arah kamar Mama, Farhan juga Bang Rangga.


Lampu mereka masih padam, segera masuk ke dalam kamar mandi dan keluar kembali dengan wajah yang sudah fresh.


Kubentangkan sajadah di persetiga malam, dua rakaat salah taubat kulaksanakan di susul dengan tahajud.


Aku mengadahkan tangan, meminta dan memohon pada-Nya. Berharap diampuni segala kesalahanku dan diterima ibadah-ibadahku.


Isakan lolos dari bibirku, dengan cepat kubekap agar tak terdengar oleh orang lain nantinya. Mudah saja bagi mereka dapat mendengarnya apalagi dalam keadaan suasana yang hening seperti ini.


Setelah bercerita dan berkeluh kesah kepada Rabb, kulipat kembali peralatan salat dan duduk di tepi ranjang.


Manyapu wajah kembali memastikan air mata sudah tak meninggalkan jejak yang tak kuingin. Kuambil handphone di nakas dan mencari satu nomor.


[Ayah, jemput Nazwa pagi nanti, ya, sebelum ke kantor. Jemput di rumah Mama,] pesan kukirim tanpa menunggu balasan.


Sudah pasti Ayah masih tidur sepagi ini, kumatikan kuota dan memilih membaringkan tubuh dengan menyetel alarm agar tak keterusan tidur.


Suara azan subuh berkumandang, aku langsung membuka kunci pintu dan memasang mukena kembali.


Sebenarnya, aku tak tertidur. Pikiranku mengajak aku untuk berdiskusi hingga tak sempat untuk tidur kembali padahal masih ada waktu.


Dua rakaat kewajiban sebagai muslim sudah kutunaikan, sempat kudengar suara pintu dibuka juga memanggil namaku.


Setelah kembali lagi dan lagi berdua juga memantapkan hati dengan apa yang kuambil nantinya.


Aku mengangguk dan tersenyum, merapikan peralatan salat dan mengambil koper yang dulu diletakkan di atas lemari.


Kubuka koper dan menata baju satu per satu ke dalamnya, beruntung tak terlalu banyak baju yang kubawa dulu.


Kulihat dua buah papar bag dengan warna yang sama berada di sudut lemari, kujatuhkan bobot tubuh dengan koper yang sudah hampir penuh.


Kubuka dan menatap gamis juga kerudung yang diberi oleh Farhan waktu itu, beralih mengunci pintu kembali karena takut jika ada yang tiba-tiba masuk.


"Pas," gumamku menatap diriku dari pantulan kaca.


Gamis yang berukuran M ternyata cocok pada tubuhku ini, juga kerudung yang tak terlalu panjang tapi tak terlalu pendek juga.


"Nazwa, ayo sarapan!" panggil Mama dan kulirik ke arah jam di handphone.

__ADS_1


"Iya, Ma. Bentar!" sahutku setengah teriak. Kembali kukemas baju dan barang yang masih ada di dalam lemari.


Kosong seperti semula aku datang ke sini, handphone dan skincare-ku sudah kumasukkan ke dalam tas ransel yang nanti akan kubawa juga.


Kutatap kamar yang sudah tak ada barangku lagi di dalamnya, ada perasaan sedih saat tau aku akan meninggalkan tempat ini.


Sebelum handphone kumasukkan ke dalam ransel, balasan dari Ayah yang merupakan pesanku tadi malam sudah kubaca.


[Siap, Tuan Putri. Jam 7 Ayah akan sudah sampai di sana,] balas Ayah yang membuat aku sedikit tersenyum.


Mungkin, memang belum terlalu bahagia dan senang membaca pesan seperti itu dari Ayah. Karena mengingat ini kali pertama ia memberikan pesan-pesan yang lebih manis padaku.


Pukul enam lebih aku akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar setelah mengatur napas lebih tenang.


Aku tak ingin mereka terlalu lama menunggu diriku untuk sarapan bareng, kubuka pintu dan mengedarkan pandangan ke ruang tengah.


Kosong. Sudah tak ada orang, suara kunyahan juga air yang di tuang ke gelas terdengar dari dapur.


Dengan menunduk dan perlahan, kuayunkan kaki ke arah dapur. Deg-degan pun tak bisa terelakkan lagi.


"Pagi semua," papaku seperti biasanya di depan bangku.


"Pag--"


"Uhuk!"


Mereka yang tadinya fokus pada makanan masing-masing langsung menatap ke arahku dengan raut wajah yang berbeda.


Aku tak lupa menggunakan anak kerudung, manset tangan juga kaos kaki. Itu juga termasuk aurat dari yang aku baca kemarin.


Aku bingung harus berkata apa, hanya bisa menampilkan cengengesan dan duduk di bangku mungkin untuk yang terakhir kalinya.


"Mama! Kenapa, sih? Gitu banget natapnya!" sebalku yang tak tahan akhirnya dengan tatapan mereka.


"Ehem!" dehem Farhan yang mencairkan suasana agar kembali seperti semula.


"Kamu udah pakai kerudung Nak?" tanya Mama penuh hati-hati padaku.


Aku tersenyum, "Inn Syaa Allah Ma, doakan aja semoga Nazwa bisa istiqomah dan menjadi wanita yang lebih baik lagi," ujarku dan beralih menatap ke arah Bang Rangga.


"Maaf, Bang kalau pembicaraan Abang juga Mama lancang Nazwa dengar secara diam-diam. Namun, apa yang Abang bilang sangat benar juga kata Kak Mawar.

__ADS_1


Tak sepantasnya wanita asing tinggal satu atap dengan laki-laki asing bahkan bukan hanya satu orang melainkan dua orang." Wajah Bang Rangga terlihat berbeda, mungkin dia merasa bersalah dengan apa yang dia ucapkan.


"Untuk itu," jedaku mengalihkan pandangan kembali ke arah Mama, "Nazwa akan pindah dari rumah ini dan kembali ke rumah Ayah untuk memulai segalanya dari awal."


Mama tampak kaget dengan apa yang aku ucapkan, kulirik ke arah Farhan dia pun sama dengan ekspresi Mama.


Tok!


Tok!


Tok!


Tak lama, suara ketukan membuat aku menatap ke arah pintu, "Sebentar, ya," pamitku yang sudah tahu siapa yang akan datang.


Kuajak Ayah ke ruang makan dengan Mama yang ternyata suda meneteskan bulir beningnya, Ayah mengajak Mama tiriku untuk menjemput aku.


Segera kuhampiri Mama dan kupeluk dirinya, kudekap begitu erat seolah menguatkan dia bahwa aku masih tetaplah anaknya.


"Mama jangan nangis, ya, Nazwa akan sering ke sini, kok. Nazwa tetap akan jadi anak Mama, jangan sedih kayak gini Ma," ucapku mengelus bahu Mama.


"K-kamu, mau ninggalin Mama?" sendu Mama menatap ke arahku dengan air mata yang kembali terbendung.


Kulepaskan pelukan, menggelengkan kepala juga mengusap wajah Mama menghapus jejak bulir bening itu.


"Enggak Ma, Nazwa gak akan ninggalin Mama. Cuma, Nazwa juga gak mungkin membiarkan diri Nazwa dan Bang Rangga serta Farhan mendapatkan dosa akibat Nazwa," terangku yang semoga Mama paham dengan perkataanku tadi.


Mama diam, wajahnya sendu dengan bahu yang merosot, "Ma ... Nazwa janji akan sering ke sini, kok," bujukku dan membuat Mama menatap ke arahku.


"Janji?"


"Iya, Ma. Nazwa janji, kok," ujarku sembari mengangguk.


Mama merentangkan tangannya memberi tanda agar aku masuk ke dalam pelukannya, aku segera memeluk tubuh Mama kembali dan suara isakan kembali terdengar.


"Sudah, Ma. Nazwa akan baik-baik aja, kok. Begitupun Mama," ucapku sambil mengelus punggung Mama menguatkan.


Beruntungnya, Mama memang akan selalu menggunakan kerudung jika di dalam rumah. Walaupun di dalam rumah hanya ada kami saja.


Mama terbiasa dengan orang atau tamu yang tiba-tiba masuk begitu saja akibat suaminya yang kerab membawa teman ke rumah untuk membahas pekerjaan.


Jadi, mau tak mau Mama harus terbiasa untuk menggunakan kerudung jika di luar kamar dan aku juga akan belajar nantinya untuk terbiasa melakukan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2