
"Apa?" tanyaku dengan ketus melihat Farhan yang terus menatapku tanpa mengeluarkan kata-kata.
Ia mengalihkan pandangan sambil menggelengkan kepalanya, aku bingung entah apa yang terjadi padanya.
"Kau tau bahwa kau seorang wanita?"
"Taulah, masa enggak!" jawabku yang merasa bahwa Farhan memberikan pertanyaan yang aneh.
"Kalau kau tau, kenapa malah pergi ke tempat mereka seorang diri? Apalagi tadi malam pakaianmu begitu minim.
Kalau mereka melakukan apa pun itu saat kau di sana bagaimana? Handphone saja bahkan tak kau dengar panggilannya!"
"Di tempat nongkrong mereka ada rumah dan bukan di hutan tempat nongkrongnya, kok. Jadi, gak mungkin ada apa-apa. Lagian pas aku datang, pintu langsung mereka buka lebar-lebar."
"Ya, mereka melakukan itu agar kau mau mendekat ke mereka. Sama seperti memancing ikan.
Kau beri makan terlebih dahulu umpan yang begitu lezat menurut ikan, lalu ketika ikan sudah masuk ke pancingmu.
Kau tarik dia hingga membuat dia kesulitan bernapas, bukan hanya itu. Tapi, kau juga makan atau jual dia ke orang lain."
Aku menggelengkan kepala dan mengalihkan pandanganku kembali, "Kau terlalu berlebihan menilai seseorang. Udah, deh! Kalau kita ke sini cuma mau bahas soal aku. Lebih baik aku pulang aja!" putusku dan ingin berdiri dari bangku.
"Tunggu!" cegah Farhan yang kulihat ia sedikit panik saat aku mengancam akan pergi.
Kududukkan kembali bobot tubuh ke bangku, ia membuang napas kasar dan menatap kembali hamparan air di depan kami.
"Aku mohon, jangan membuat Mama menunggumu dan cemas seperti tadi malam," lirih Farhan yang membuatku menautkan alis.
"Papa dan adikku mengalami kecelakaan di saat mereka pergi malam hari untuk membeli kado Mama waktu itu.
Namun, disayangkan mereka harus kecelakaan dengan truk yang mengantuk. Padahal, malam itu baru pukul 8.
Ya, namanya juga takdir. Mama begitu cemas dan menunggu mereka berdua di rumah, hingga jam 11 malam.
Aku, Mama dan Abang mendapatkan telepon dari rumah sakit yang memberi tau bahwa Papa dan adikku sudah meninggal dunia.
Mama membenci dirinya sendiri, karena kue bolu juga kado yang masih ada di dekat mereka diberikan oleh pihak polisi.
Menurut Mama, akibat dirinyalah mereka berdua meninggal. Itu sebabnya, Mama selalu mengikat rambutmu layaknya anak kecil.
Karena, Mama belum puas dulu mengikat rambut adikku. Aku minta maaf jika perlakuan Mama mungkin terkesan berlebihan padamu.
Apalagi, dirimu bukan anak-anak yang harus dikucir layaknya bocah. Tapi, hanya itu yang membuat Mama gembira.
__ADS_1
Waktu aku minta izin untuk tinggal di rumahmu, Mama juga bertanya soal apakah ada anak perempuan di rumah itu?
Dan aku langsung menjawab iya, ternyata Mama menyusul ke tempatmu dan malah menyuruh Bibik untuk pulang kembali ke rumah," papar Farhan yang membuatku tercengang.
Pantasan, Mama begitu terlihat menyayangiku. Padahal, aku bukan siapa-siapanya. Ia hingga mau menungguku tadi malam.
Mengajakku dan menemaniku belajar, karena dia pernah kehilangan dan merasa bahwa aku adalah pengganti dari anaknya yang telah tiada.
Dia akhirnya menatap ke arahku, aku pun menatap ke arahnya hingga akhirnya kutatap pasir putih yang ada di pantai ini.
"Udah lama kejadiannya?" tanyaku setelah sekian lama diam.
"Setengah tahun yang lalu."
"Gak ada efek ke Mama?"
"Menurutmu?" tanya Farhan yang membuatku menatap ke arahnya dengan diam.
"Mama pernah hampir gila bahkan masuk RSJ dan harus bolak-balik ke psikolog untuk hal itu."
"Separah itu?" tanyaku tak kalah kaget dengan ceritanya barusan. Farhan mengalihkan pandangan dan mengangguk mantap.
Aku bergeming, tak tahu bahwa kehidupan Farhan separah ini. Bahkan, mungkin lebih parah dibandingkan aku.
"Tunggu sebentar, aku mau belikan minum terlebih dahulu," potongnya dan kubalas anggukan.
Pantasan Mama begitu aneh menurutku, seperti orang yang begitu takut kehilangan aku. Padahal, kalau dia tak pernah terjadi apa-apa dalam hidupnya.
Dia akan biasa saja padaku atau terkesan tidak peduli sebab aku ini bukan anak kandungnya.
"Nih," kata Farhan memberikan kelapa muda padaku.
"Thanks," ucapku dan meminum airnya agar tenggorokan yang terasa kering ini kembali basah.
***
Kami pulang jam 1 siang sesuai dengan ucapan Mama, kukira hanya bohongan semata ke mal. Ternyata, benar.
Setelah dari pantai, aku dan Farhan ke mal untuk menemani dirinya membeli kado untuk Mama yang besok ulang tahun.
Aku pun tak mau kalah, berpura-pura untuk membeli snack tapi ternyata kado buat Mama juga.
Memilih salat di mal setelah itu pulang menaiki taksi online kembali, "Jam berapa mau kasih surprise buat Mama?" tanyaku saat kami akan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Jam 12 malam."
Aku hanya mengangguk tanpa memberi tahu akan ikut merayakan juga ulang tahun Mama.
"Assalamualaikum," salam kami serempak.
"Aku masuk ke kamar dulu, ya, biar bolunya gak keliatan Mama," bisik Farhan dan kubalas dengan anggukan.
Kututup kembali pintu dan mencari keberadaan Mama, ternyata Mama ada di dapur sedang memasak.
"Eh, kalian udah pulang? Kok gak salam, sih?" tegur Mama menatap ke arahku.
"Haha, kami sudah salam Ma. Tapi, Mama yang terlalu fokus kayaknya," ujarku dengan kekehan.
"Lah, iyakah? Hadeuh ... Mama terlalu fokus ternyata masaknya."
"Hehe, gak papa Ma. Lanjutkan aja, Nazwa mau masukkan barang ke kamar dulu, ya."
Mama mengangguk dan mengelus kepalaku lembut, "Mama di mana?" tanya Farhan saat kami papasan di jalan.
"Di dapur," ucapku dan masuk ke dalam kamar.
Kuletakkan snack di atas kasur, melepaskan aksesoris yang ada di badan dan kembali ke dapur untuk makan.
"Panggil Abang sana," titah Mama ke Farhan saat aku sampai di dapur.
"Abang belum pulang?"
"Belum, katanya mau nginap satu malam di sini."
"Ngapain?"
"Gak tau, udah sana bangunin. Nazwa udah lapar, tuh," kata Mama yang membuatku gelagapan.
Padahal, aku tak terlalu lapar karena pikiranku masih terfokus dengan cerita dari Farhan. Untung saja aku tak begitu memberontak pada Mama.
Kata Farhan, Mama bisa kembali kambuh sakitnya jika merasa tertekan atau sakit hati begitu dalam pada seseorang.
Dan aku begitu takut, jika hal tersebut terjadi akibat ulahku tanpa aku sadari. Seperti ada tanggung jawab yang sekarang kupikul.
Kami akhirnya makan bersama dengan sesekali melempar pertanyaan juga tertawa bersama, Mama tampak begitu bahagia dengan apa yang sekarang tengah terjadi.
"Nazwa, gak akan keluar lagi malam ini 'kan?" tanya Mama tiba-tiba yang mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Aku langsung bingung, kulihat ke arah Farhan dengan mengunyah makanan. Laki-laki itu malah membuang pandangannya.
"Mm ... kayaknya enggak, sih, Ma. Tapi, Nazwa kurang tau juga," ucapku yang bingung harus jawab apa.