
Kami sekarang berkumpul di dapur untuk makan malam selesai salat Magrib, Mama juga ikut makan bersama karena merasa sudah lebih baik.
"Ma ... minggu depan, Rangga akan ngelamar satu cewek," ujar Bang Rangga yang cukup buat kami kaget.
"Ha? Emangnya kamu punya pacar?" tanya Mama yang ternyata beneran kaget dengan apa yang dikatakan Bang Rangga barusan.
"Jangan bilang, Abang pacaran, ya?" tanya Farhan penuh dengan selidik.
"Heh! Enak aja kamu tuh!" ketus Bang Rangga tak mau di tuduh seperti itu.
"Rangga ketemu sama satu cewek kemarin pas lagi salat Zuhur dan entah kenapa Rangga langsung suka sama dia.
Ternyata, dia satu tempat kerja sama Rangga. Bedanya dia di lantai dua sedangkan Rangga di lantai satu.
Rangga nanya-nanya soal dia sama temen yang tau tentang dia, dan pas pulang dari kantor Rangga beranikan bertanya.
Dia masih single dan belum ada yang ngajak ta'aruf. Jadi, rencananya Rangga akan ajak ta'aruf atau kalau perlu minggu depan langsung lamar dia," jelas Bang Rangga membuat kami semua akhirnya paham.
"Secepat itu?" tanya Farhan yang sepertinya sedikit tak yakin dengan keputusan Abangnya.
"Ya, kenapa enggak? Buat apa komitmen lama-lama? Kalo kita udah sama-sama yakin dan ngerasa cocok, pilihannya cuma dua; ngasih kepastian bersama, atau saling melepaskan."
"Mama dukung apa yang kamu mau, tapi ... suruh dia ketemu sama Mama lebih dulu besok. Mama juga perlu kenal sebelum kamu yakin untuk membawa namanya ke jenjang yang lebih serius.
Feeling seorang Ibu tak akan pernah salah, jadi biarkan Ibu ketemu sama dia baru Ibu beri keputusan untuk merestuimu atau tidak dengannya nanti," tegas Mama membuat kami bertiga menatap ke arah Mama.
"Baik, Ma. Hari Ahad nanti Rangga akan bawa dia atau suruh dia ke sini."
Mama mengangguk dan tersenyum ke arah Abang, aku hanya menyimak dari tadi pembicaraan mereka.
Bingung harus menentang atau bertanya apa, bagaimana pun itu keputusan Bang Rangga ingin menikah dengan wanita yang tak terlalu dikenal olehnya.
"Sayang," panggil Mama sedangkan aku menunduk menatap ke arah nasi.
"Sayang," panggil Mama lagi dan membuat aku mendongak karena tak ada yang menyahut.
"Eh, Mama manggil aku?" tanyaku yang bingung dengan tatapan mereka semua mengarah ke aku.
"Hahaha, apa kau sedang melamun?"
"Enggak, kok, Ma," jawabku dengan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Kenapa dari tadi hanya diam? Bang Rangga 'kan ngasih tau hal yang sedikit mengejutkan," tutur Mama membuat aku melirik ke arah Bang Rangga.
Aku hanya cengengesan dan meggaruk kening yang tetiba gatal, "Gimana menurutmu Nazwa?" tanya Bang Rangga membuat aku membulatkan mata kaget.
"A-apanya Bang?" gelagapku. Entah mengapa, aku sedikit susah konsentrasi sekarang juga lebih banyak diam.
"Berilah masukan buat Abangmu ini."
"Mm ... menurut Nazwa, Abang tak perlu terburu-buru untuk menikahi dia. Jika memang jodoh, tak akan ke mana. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena baru tau sifat dan sikap aslinya.
Kenali dulu, cari tau tentang dia dari keluarga, teman dan sahabatnya juga liat dia apa sudah pantas dan cocok menjadi seorang istri dan Ibu.
Abang tanya juga dia orangnya gimana, apa mau di perintah meskipun perintah tersebut tak menentang agama.
Kalau dia tak bisa diperintah, maka akan susah dengan Abang nanti. Tanyakan juga, apakah dia setelah nikah mau berhenti kerja atau tidak dan cocokkan dengan kemauan Abang," paparku memberikan masukan untuk Bang Rangga.
Mama tersenyum dengan mengulum bibirnya menatap ke arahku, Abang juga mengangguk sedangkan Farhan ia menatap ke arahku dengan bengong.
"Ada apa Farhan? Apa aku salah bicara?" tanyaku menatap ke arah Farhan yang membuat Mama dan Bang Rangga melihat ke arah laki-laki itu.
Sontak mereka berdua langsung tertawa sedangkan Farhan gelagapan karena kutanya seperti itu.
Duduk, saling cerita dan menonton televisi bersama. Handphone yang sempat kuambil dari kamar terlebih dahulu berdering membuat aku menatap nomor yang tertera.
"Assalamualaikum, halo. Ada apa dokter?" tanyaku saat psikolog-lah yang menelpon nomor ini.
"Waalaikumsalam, Nazwa. Wah ... sudah berani berbicara dengan panjang, ya?" tanya dokter dengan kekehan.
"Lumayan dokter," jawabku seadanya.
"Oh, iya, saya cuma mau bilang dan maaf mengganggu kamu malam-malam. Besok, kamu bisa datang ke rumah sakit aja? Soalnya saya gak bisa datang ke rumah kamu. Lagi ada urusan," ungkap dokter dari sebrang membuatku menatap ke arah Mama yang sedari tadi memperhatikanku.
"Mmm ... liat besok aja, ya, dokter. Kalo emang saya gak bisa, gak usah diperiksa aja. Kapan-kapan aja nanti baru diperiksa lagi."
"Eh, gak boleh gitu. Biar kamu cepat sembuh."
"Baiklah dokter."
"Yaudah, selamat malam Cantik."
"Selamat malam dokter."
__ADS_1
Tut!
Handphone kumatikan dan letakkan kembali ke atas meja, "Ada apa Sayang?" tanya Mama mengusap kepalaku.
"Dokternya gak bisa ke sini Ma."
"Lah, kenapa?" tanya Mama dengan menaikkan satu alisnya.
"Soalnya lagi ada urusan di rumah sakit kayaknya."
"Yaudah, kamu diantar sama Farhan aja. Sekalian dia mau cari atau tanya-tanya soal kampus deket sini," suruh Mama yang langsung kulihat ke arah Farhan.
"Iya, sama aku aja. Gak papa, kok," timpal Farhan seperti tak merasa keberatan.
Kuanggukkan kepala pasrah, kadang aku merasa sangat beban di keluarga ini. Sering kali melakukan kekacauan dan masalah.
Namun, aku tetap tak bisa jauh karena hanya mereka yang mencintaiku begitu tulus. Bukan berarti Ayah dan Ibu tak ada yang mau merawat.
Akan tetapi, jika sama mereka. Aku jadi terpaksa dirawat oleh Bibik nantinya seperti dulu tinggal di rumah mewah Ayah.
"Kamu jadi tidur di kamar Mama 'kan?"
Aku tersenyum dan mengangguk dengan cepat, "Baiklah, besok juga Mama akan kucir rambut kamu. Biar rapi pas mau ke rumah sakitnya."
Kupeluk Mama dengan begitu erat tanda bahagiaku karenanya, "Makasih Ma, makasih banyak!"
"Eh, kenapa Nazwa tidur sama Mama?" timpal Farhan yang ternyata masih mendengar pembicaraan kami.
"Ya, emang kenapa? Kamu mau juga tidur sama Mama?" tanya Mama ketus membuatku terkekeh mendengar perdebatan Mama juga Farhan.
Salat Isya sudah dikerjakan, aku yang sudah berada di kamar Mama langsung naik ke atas ranjang.
Mama masih berdoa sedangkan aku sudah merapikan mukena, Mama menatap ke arahku saat aku juga menatap ke arah Mama.
"Sini Sayang!" titah Mama menepuk pahanya menyuruh aku agar berbaring dengan kepala di atas paha wanita itu.
Aku berjalan dan meletakkan kepalaku sesuai dengan perintah Mama, tangan lembut Mama mengelus rambutku.
Seketika air mataku langsung menetes, "Kamu kenapa? Apa ada yang sakit kepalanya?" tanya Mama tampak raut wajahnya khawatir saat kutatap wajahnya itu.
Kugelengkan kepala kecil dan tersenyum, "Suatu anugerah terindah yang Allah berikan kepada Nazwa karena telah dipertemukan dengan Mama yang sebaik ini," ungkapku dengan suara serak menahan tangisan.
__ADS_1