
Farhan dan Gilang akhirnya membawa Nazwa ke rumah sakit, mereka menunggu di luar dengan orang tua yang sudah dihubungi masing-masing.
Mama Farhan akan datang dengan Rangga nantinya, sedangkan Ibu Nazwa sudah di jalan dengan supirnya.
Mereka berdua duduk di bangku tunggu di depan ruangan, merapalkan doa agar tak terjadi apa-apa terutama kejiwaan Nazwa.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka menampilkan seorang dokter wanita dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"Keluarga pasien?" tanyanya dengan menutup kembali pintu ruangan.
Sontak Farhan dan Gilang langsung berdiri secara bersamaan, "Iya, dok. Saya keluarganya!" serempak mereka menjawab membuat dokter menatap satu per satu.
"Kamu siapanya?" tanya dokter ke arah Gilang yang melirik Farhan.
Dia bergeming, "Saya temannya dokter, iya, dia keluarga pasien," ujar Gilang dengan tersenyum menatap Farhan.
Farhan tertegun mendengar ucapan Gilang tadi, ia ingin mengucapkan sesuatu tapi suara enggan keluar.
"Baik, mari ikut ke ruangan saya," kata dokter dan berjalan lebih dulu meninggalkan mereka berdua.
Puk!
Puk!
"Gue yakin, lu pasti sangat ingin tau dengan keadaan Nazwa. Jadi, biar lu yang tau lebih dulu. Lagian, lu juga pasti lebih paham soal beginian dari pada gue. Udah, sana!" suruh Gilang.
"Bang ...," jeda Farhan yang merasa tak enak.
"Udah, santai aja. Sono!"
Farhan mengangguk dan mengikuti dokter yang sudah mulai menjauh, sesekali ia berlari kecil agar tak kehilangan jejak dokter tersebut.
'Lu beruntung Nazwa, dapat keluarga yang begitu baik sama lu,' batin Gilang membuang napas kasar dan duduk kembali.
Nazwa diberi suntik penenang oleh dokter tadinya, sekarang ada perawat yang menemani wanita tersebut.
Dirinya menyalahkan diri sendiri hingga memukuli tubuhnya sendiri, dokter tak mampu untuk menahan hal tersebut dan cara agar wanita itu tenang ialah dengan menyuntiknya.
Di dalam ruangan dokter tadi, Farhan sedang duduk di depan dokter yang hanya tersekat oleh meja.
"Apa dia baru saja mengalami sesuatu?" tanya dokter tersebut menatap ke arah Farhan dan memperbaiki posisi kacamatanya.
__ADS_1
Mata yang berembun dari tadi menunduk dan mengangguk lemah, helaan napas terdengar begitu berat dari bibir dokter tersebut.
Membuat Farhan mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah dokter tersebut, "Dia gak akan dirawat di rumah sakit gila 'kan dokter?" tanya Farhan yang panik.
"Tidak, jika dia bisa mengendalikan diri, berdamai dengan yang terjadi juga keluarga membantu dirinya," ungkap dokter dengan tangan yang bertaut di atas meja.
Sekitar satu setengah jam Farhan berada di dalam ruangan dokter, ia keluar dan berjalan kembali ke arah ruangan Nazwa dengan lesu.
Seolah apa yang terjadi pada Nazwa dapat dirasakan olehnya, bahu yang merosot dan langkah yang lunglai.
"Sayang, gimana?" tanya Mama saat sudah sampai dan melihat Farhan yang berjalan ke arah mereka.
Farhan menatap ke arah suara tersebut, semua tampak cemas bahkan di sana sudah ada Ayah dan Mama tiri Nazwa juga.
"Apa kalian belum ada yang dikasih untuk menjenguk Nazwa?" tanya Farhan menatap ke orang yang ada di sana.
Mereka semua menggelengkan kepalanya termasuk Gilang yang dari tadi sudah berada di depan sana.
Ceklek!
"Korban sudah sadar, tolong jangan ajak berbicara yang berat. Setelah dirasa dia mampu untuk tenang, boleh diajak pulang," ungkap perawat yang keluar dari kamar.
Perawat pergi setelah mengucapkan hal tersebut, karena Nazwa tak ada luka fisik. Jadi, dirinya sudah diperbolehkan untuk pulang.
Mereka hanya dikabari bahwa wanita itu masuk ke dalam rumah sakit saja, tapi penyebabnya belum dikasih tahu.
Gilang yang tengah duduk mendongak dan menatap ke arah Farhan, laki-laki itu hanya bisa diam seribu bahasa.
"Kasih tau aja, sama kasih tau apa yang dikatakan dokter tadi di dalam," suruh Gilang dan diangguki lemah oleh Farhan.
"Nazwa, tidak sakit. Dia ... menjadi korban pelecehan seksual," ungkap Farhan yang membuat mereka kecuali Gilang kaget.
"Ha?"
"Gak!"
"Kenapa bisa?"
Mama Farhan langsung menangis sedangkan Ayah Nazwa mengepalkan tangan saat tahu anak gadisnya itu mengalami hal tersebut.
"Dia dilecehkan oleh Bagas dan teman-temannya. Mereka mengajak Nazwa camping, padahal mereka memiliki maksud lain," potong Gilang.
"Bagas? Bagas musuh kamu itu?" tanya Ayah Gilang dan mendapatkan anggukan dari laki-laki itu.
__ADS_1
Bugh!
Seketika pukulan mengenai perut Gilang yang diberikan oleh Ayahnya sendiri, mereka yang berlalu lalang di koridor langsung berhenti karena hal tersebut.
Dengan cepat istri baru Ayah Gilang menahan suaminya sedangkan Farhan membatu Gilang dan memisahkan mereka berdua.
"Dasar laki-laki sial*n kau! Gara-gara kau adikmu sampai menjadi korban seperti itu!" bentak Ayah Gilang dengan marah.
Gilang hanya diam di lantai, ia tak melawan dan tak menatap ke arah Ayahnya. Memang dirinya sudah merasa bersalah dan merasa bahwa ini semua karena kesalahan dirinya.
Tak seharusnya membiarkan Nazwa pergi bersama mereka dan tak seharusnya juga ia memposting yang membuat musuhnya itu semakin marah karenanya.
"Om-om, sebaiknya tenang. Jangan buat keributan, ini rumah sakit apalagi kalau Nazwa dengar ada keributan. Takutnya, ia semakin merasa tertekan," ucap Farhan mendongak ke arah Ayah Gilang yang masih menggebu-gebu rasa marahnya.
Dengan napas yang memburu dan di pegang oleh istri barunya, Ayah Gilang mencoba untuk sabar dan orang-orang yang sempat berhenti untuk melihat mereka akhirnya berhamburan pergi.
"Kata dokter, cara mengatasi trauma akibat pelecehan seksual kita perlu membawa dia ke psikolog atau psikiater.
Kemudian, dia juga harus bisa menerima kenyataan meskipun pasti akan susah. Tapi, ya, memang seperti inilah kenyataannya.
Nazwa juga bisa bercerita kepada orang lain dan mungkin psikolog salah satunya, atau jika memang dia tak mau dengan psikolog bisa dengan Ayah, Ibu, Abang atau siapa saja yang diinginkan oleh Nazwa.
Jika pun dia tetap tak mau bercerita dengan kita, menulis di buku diary juga tak ada salahnya. Dia bisa meluapkan kekesalan, kesedihan atau lainnya itu.
Kemudian, kita bantu dia untuk tak menyalahkan keadaan. Kita yakinkan dengan dia bahwa ini memang sudah takdir.
Kalau dia mau berjuang melakukan itu semua dan kita dapat membantunya, mudah-mudahan rasa trauma yang sekarang dia alami bisa menghilang atau berkurang.
Dampak psikis yang dirasakan Nazwa sekarang, dia mengalami stress, trauma, perubahan emosi, dipenuhi dengan ketakutan, dan berkurangnya minat bersosialisasi karena malu untuk bertemu dengan orang lain."
Semua terdiam mendengar penjelasan dari Farhan yang ia ketahui dari dokter tadi. Ayah Gilang terduduk lemas ke kursi yang ada.
Sedangkan Mama Farhan kembali terisak dengan mendekap mulutnya, Rangga membawa sang Mama ke dalam dekapan laki-laki tersebut.
"Kenapa dia tidak melawan saat mereka melakukan hal seperti itu?" tegas Ayah Gilang menatap ke arah Farhan yang masih memegang bahu Gilang.
"Kata dokter, korban pelecehan seksual tidak melawan karena mereka merasa panik dan syok berat yang membuat badan mereka kaku atau disebut tonic immobility.
Nazwa melawan, kok. Meskipun, si brengs*k itu sudah sempat melakukan hal tersebut padanya. Dia hampir saja melakukan hal yang tidak-tidak jika saya telat menemukan dia," geram Farhan menatap tajam ke arah lantai dengan tangan yang mengepal.
Seolah mereka yang melakukan hal tersebut ada di hadapannya, bukan. Jika ada Lio sekarang di hadapannya, dia bukan hanya akan menatap saja.
Mungkin, sudah menghabiskan nyawa laki-laki tersebut langsung saat itu juga.
__ADS_1