
"Assalamualaikum Tante," sapa Bang Rangga saat bertemu dengan Mama. Sesuai kesepakatan kemarin.
Hari ini, setelah Asar Bang Rangga datang ke rumah untuk mengajak aku bertemu dengan Kak Mawar di suatu tempat.
"Waalaikumsalam Rangga," jawab Mama sambil menangkup juga tangannya di depan dada. Meskipun Mama belum menggunakan kerudung, tapi Mama tahu soal itu.
"Rangga izin bawa Nazwa, ya, Tante."
"Ke mana? Penghulu?" goda Mama yang membuat aku malu.
"Mama, jangan gitu," geramku dengan gigi yang bertaut.
"Haha, tidak Tante. Ke salah satu cafe, kok."
"Oh, yaudah. Kalian hati-hati dan jangan malam pulangnya," tegas Mama dan langsung kami angguki.
Kucium punggung tangan Mama dengan takzim dan berlambai keluar dari rumah.
"Eh, terima kasih," ucapku saat pintu mobil dibukakan oleh Bang Rangga.
"Sama-sama," jawabnya dengan senyuman dan berlari ke arah bangku sebelah.
Di perjalanan tak ada yang membuka suara, Bang Rangga fokus ke jalanan sedangkan aku melihat bangunan di kiriku.
30 menit waktu berlalu, hingga akhirnya kami sampai di salah satu cafe yang biasa terlihat olehku tapi tak pernah kukunjungi.
"Jadi ketemu sama temenmu?" tanya Bang Rangga di sela-sela kami menaiki anak tangga di lantai atas.
"Jadi Bang, nanti ketemu di sini aja. Capek kalau harus pindah-pindah," keluhku dengan sedikit tersenyum.
Ketika sudah sampai di lantai atas, mataku langsung menangkap sosok wanita dekat dengan jendela menatap pemandangan luar sambil menyeruput minuman di cangkirnya.
"Udah, gak usah takut," kata Bang Rangga menyakinkan. Aku mengangguk dan berjalan agak pelan ke arah meja itu.
"Ehem! Maaf, sudah lama menunggu?" tanya Bang Rangga dengan deheman membuat wanita tadi menoleh ke arah kami.
"Oh, tak terlalu. Silahkan duduk," ucapnya mempersilahkan kami duduk di bangkunya.
Aku duduk dengan menghela napas terlebih dahulu, tak tahu apa yang akan terjadi pada mereka. Sebenarnya ingin marah dan memberontak kenapa aku diikutkan dalam masalah seperti ini.
Namun, tak apalah. Lagian Bang Rangga bilang dia mau minta maaf, bukan memperpanjang masalah yang ada.
__ADS_1
"Jadi, ak--"
"Pesan dulu kali, buru-buru amat," potong Kak Mawar membuat kalimat Bang Rangga terjeda. Aku yang berada di tengah mereka selain meja pun hanya menyimak saja.
Kak Mawar sedikit menaikkan tangannya memanggil salah satu pelayan sambil membawa menu.
Kupilih makanan juga minuman, sedangkan Bang Rangga hanya minum saja. Aku tahu ini akan sedikit lama, jadi lebih baik aku sambil makan saja.
Sebelum makanan datang, Bang Rangga atau Kak Mawar tak kunjung membuka suara. Mereka mungkin sedang sibuk dengan pikiran masing-masing
Kak Mawar menampilkan senyuman dari tadi, aku tahu senyuman itu bukanlah senyuman kebahagian melainkan kesedihan.
Dia sudah menyukai Bang Rangga, pasti. Itu yang dapat kulihat dan rasakan dari dirinya serta perlakuannya ke Bang Rangga.
"Aku minta maaf atas ucapan dan apa yang aku lakukan padamu beberapa hari yang lalu," tegas Bang Rangga seperti laki-laki sejati pada umumnya.
"Kenapa kau meminta maaf? Bukankah itu memang salahku? Aku sudah mempermalukan dirimu juga mempermainkan hatimu," jelas Kak Mawar menatap ke arah Bang Rangga.
"Bukan. Itu tak salahmu ... dan masalah mempermalukan juga mempermainkan hatiku," jeda Bang Rangga menatap ke arahku dan saat yang bersamaan terjadi saling tatap di antara kami, "jika memang kita tidak berjodoh, ya, seperti itulah resikonya. Jadi, mau kau tak melakukan hal yang seperti kemarin pun kalau kita tidak berjodoh tetap saja endingnya akan seperti itu."
Kualihkan mata dan tak sengaja melihat Kak Mawar yang sedang menatap ke arahku, mungkin dia melihat interaksi kami tadi yang saling pandang.
"Aku tidak baik dan jauh dari kata itu, Allah menutup aibku sehingga kau bisa berpikiran sedemikian. Aku yakin, akan ada laki-laki yang jauh lebih baik lagi nantinya datang padamu dan menyatukan cinta kalian di ikatan halal," papar Bang Rangga membuat Kak Mawar mengangguk dengan mengulum bibirnya.
"Yaudah kalau gitu, silahkan minum dulu," kilah Kak Mawar yang tak sengaja kulihat ia mengusap ujung matanya.
Aku yang berada di antara mereka saja merasakan sedih dan sakit hati andai menjadi mereka.
Kumakan kentang goreng dan ea pelangi yang rasanya ada masem, manis dan lainnya tak lupa tentunya sangat menyegarkan.
Pembicaraan mereka telah selesai, hanya tinggal berpura baik-baik saja setelah saling melepaskan dengan cara yang dewasa.
"Oh, ya, kalau begitu kami duluan dulu, ya. Soalnya Nazwa ada urusan lain dan aku harus menemaninya," kata Bang Rangga sembari melihat arloji di tangan kanannya.
Kuanggukkan kepala saat menatap jam sudah ke angka 5 sore, kulihat Kak Mawar menatapku. Dengan senyuman kuberikan padanya.
"Baiklah, hati-hati buat kalian."
"Ya, thanks."
Kami akhirnya pergi dari lantai ini, kulihat ke arah belakang sebentar saat berada di anak tangga. Kak Mawar menangis dengan wajah yang di tutup dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Hey, kau kenapa Nazwa? Jangan di anak tangga, orang susah mau lewat!" tegur Bang Rangga yang membuat aku langsung menatap ke depan.
"Eh, maaf-maaf," terangku merasa tak enak karena ternyata berdiri di tengah-tengah anak tangga.
"Ada apa?" tanya Bang Rangga yang ternyata masih kepo.
"Kak Mawar nangis," lirihku yang merasa sepertinya wanita itu begitu sakit hati dan sedih.
"Terus, emangnya kenapa?"
"Kesianlah Bang."
"Itulah hidup, kita harus melepaskan salah satunya dan menerima kenyataan bahwa apa yang kita inginkan tak harus terwujudkan," cakap Bang Rangga yang padahal beberapa hari sudah seperti orang kehilangan arah.
Tapi hari ini, dia bak seorang yang begitu fasih bermainkan kata. Kutatao wajahnya dengan bibir yang kumajukan.
"Kenapa?" tanya Bang Rangga menaikkan satu alisnya.
"Enggak, gak papa," potongku cepat menatap lurus sambil mengangguk. Kusipitkan mata mencari keberadaan mantan teman atau sahabatku itu.
"Di mana dia?" tanya Bang Rangga yang sudah ikut berhenti di sampingku.
Aku diam sambil terus mencari orang yang mungkin kukenal di antara begitu banyaknya orang yang ada.
"Itu!" seruku menunjuk seorang wanita dan laki-laki yang sedang duduk bersama.
Sedikit berlari kecil ke arah mereka, ada rasa bahagia saat bisa melihat kembali teman lama sampai aku lupa dengan Bang Rangga.
"Hay, Siti!" sapaku membuat kedua orang tadi mendongak.
"N-nazwa?" gagap Siti sambil berdiri dengan menunjukku.
Kedua tanganku berada di belakang, kepala mengangguk seolah membenarkan bahwa aku ini benar-benar Nazwa.
Tanpa aba-aba, Siti langsung memelukku. Aku yang tak siap dengan perlakuan seperti ini hampir saja akan terjatuh ke lantai.
Mungkin, jika Bang Rangga tak menahan tubuhku akan terjadi hal seperti itu.
"Eh, maaf-maaf," kata Siti melepaskan pelukan menatap ke arahku.
"Haha, tenagamu kuat sekali. Hampir aja kita jatuh," ucapku setelah dilepaskan Bang Rangga bahu ini.
__ADS_1