Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Aku tengah berlari di koridor rumah sakit saat mendengar bahwa Mama Farhan masuk IGD karena jatuh sakit.


Padahal, aku baru saja sampai ke kampus dan memilih untuk bolos karena memang sangat ingin melihat Mama.


"Mama di mana?" tanyaku dengan wajah panik pada Farhan dan Bang Rangga yang sudah menunggu di depan ruangan.


"Masih di dalam Nazwa, nanti kayaknya baru di pindah ke ruang inap," ujar Bang Rangga membuat tubuh ini merosot lemas.


"Mama sakit apa emangnya?"


Hening, tak ada yang menjawab bahkan mereka saling pandang satu dengan yang lainnya membuat aku curiga bahwa ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.


"Kenapa diam? Nazwa ingat, ini bukan kali pertama Mama ke rumah sakit. Waktu itu, juga Mama pernah ke rumah sakit meskipun gak sampe di rawat inap. Kalian sembunyikan apa dari aku?" tanyaku yang merasa bahwa ada sesuatu tak kuketahui.


Saat Bang Rangga akan membuka suara, pintu ruangan Mama terbuka dan menampilkan seorang dokter keluar dari dalamnya.


"Keluarga pasien, boleh ikut dengan saya?"


"Baik dokter."


Bang Rangga mengikuti dokter ke ruangannya, sepertinya ada sesuatu yang penting dibicarakan mengenai kondisi Mama.


Kulirik ke arah Farhan, dia menangkup wajahnya yang tampak begitu sangat frustasi. Ingin bertanya padanya, tapi kuurungkan takut menjadi beban baginya.


Berdiri dan melihat ke arah Mama dari kaca pintu luar, terbaring dengan lemah dan perawat yang sibuk memasang juga mengecek keadaan Mama.


"Mbak, udah boleh dijenguk?" celetukku saat salah satu perawat keluar dari ruangan Mama.


"Maaf Dek, belum bisa. Tunggu sampai pasien benar-benar sadar."


"Emangnya Mama saya gak sadar?" lirihku seperti tertusuk pisau.


Aku diberi tahu oleh Bang Rangga hanya sebatas Mama masuk rumah sakit dan alamatnya saja, tak diberi tahu bagaimana kondisi Mama.


"Belum Dek," jawab perawat dan pergi meninggalkan aku dengan kaki lagi-lagi tak bisa menopang tubuh ini.


'Mama sebenarnya sakit apa, ya, Allah.'


'Ma ... kuat, Ma. Ada Nazwa di sini Ma.'


'Mama pasti bisa, Mama adalah wanita hebat yang pernah Nazwa kenal.'


Bulir bening tak mampu lagi kutahan, aku hanya bisa bertanya di dalam hati dan mungkin sebentar lagi akan mendapatkan jawaban yang kuinginkan.


Nada dering handphone mengalihkan pikiranku, segera bangkit dan mengambil handphone yang ada di saku gamis.

__ADS_1


"Assalamualaikum, ada apa Yah?" tanyaku melihat nama Ayah yang tepajang di layar benda pipih ini.


"Waalaikumsalam, kamu ada di mana? Ini Ayah tadi balik ke kampus kamu, air minum kamu ketinggalan," ungkap Ayah membuat aku terdiam.


"M-maaf Yah, Nazwa gak ada di kampus," gelagapku sedikit takut jika Ayah sampai marah karena memang hari ini Ayah yang mengantarkan aku ke kampus tadi.


"Ha? Gimana maksud kamu?" tegas Ayah mungkin yang sudah marah di sebrang sana.


"Mamanya Farhan masuk rumah sakit dan Nazwa sekarang lagi di rumah sakit buat nemenin Mama," jelasku ke Ayah.


"Kapan masuk rumah sakitnya?"


"Hari ini Yah."


"Yaudah kalau gitu, kamu gak lagi bohongin Ayah 'kan?" selidik Ayah mungkin takut jika aku kembali nakal seperti dulu lagi.


"Enggak, kok Yah. Nanti Nazwa kirim fotonya kalau Ayah gak percaya," terangku tak mau dibilang sebagai penipu.


"Iya-iya, Ayah percaya kok. Yaudah, nanti Ayah dan Mama ke sana, ya."


"Iya, Yah."


"Yaudah kalau gitu, Ayah matiin dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Yah," jawabku dan mematikan panggilan. Kumasukkan kembali handphone dan menatap ke arah Farhan yang masih dengan raut wajah yang sama.


Memilih berjalan ke arah kantin, aku ingin membeli minum dan makanan terlebih dahulu agar Farhan setidaknya agak tenangan.


"Terima kasih Mbak," ucapku ketika bertanya di mana kantin dengan salah satu orang yang ada di koridor ini.


Selesai membeli makanan juga minuman, kembali ke depan IGD dan sudah ada Bang Rangga yang kebetulan melihat ke arahku.


"Kamu dari mana?" tanya Bang Rangga lembut dengan senyuman. Meskipun, senyuman itu tak bisa menutupi bahwa ada begitu banyak kesedihan serta ketakutan di raut wajahnya.


"Ini, habis dari kantin. Abang dan Farhan minum juga makan dulu, deh. Biar agak tenangan dikit," saranku memberikan botol air minum terlebih dahulu kepada Bang Rangga.


"Farhan," panggilku membuat dia mendongak saat botol air minum sudah kuberikan ke arahnya.


"Aku tak mau," jawabnya singkat dengan wajah yang datar.


Kuhela napas pelan, bukan waktunya untuk berdebat lebih baik mengalah saja. Jika dia tak mau, yasudah.


"Bang, kata dokter tadi apa?" tanyaku penasaran dengan apa yang mereka bahas bersama dokter tadi.


"Mama akan dirawat inap," ujar Bang Rangga yang duduk di sebrang sedangkan aku di samping Farhan dengan jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


"Emangnya Mama sakit apa?" tanyaku menaikkan satu alis.


"Mama kena tipes," jawab Bang Rangga membuat aku menutup mulut.


Namun, seketika Farhan menatap begitu dalam ke arah Bang Rangga seolah tengah menatap seorang pembohong.


Kulihat ke arah Farhan dan Rangga bergantian, "Kenapa Farhan? Kok liat Bang Rangga begitu banget?" tanyaku keheranana.


Farhan mengalihkan pandangannya, aku tak paham dengan apa yang terjadi. Apakah yang dikatakan Bang Rangga benar atau tidak.


Bahkan, Farhan tak bisa berkata-kata dari tadi. Kalau hanya tipes, kenapa membuat Farhan sesedih sekarang?


Perawat yang tadi pergi ternyata baru masuk kembali, ia membuka pintu dengan lebar membuat kami bertiga berdiri.


"Mama akan dipindahkan, ya, Bang?" tanyaku mendongak dengan wajah yang tak tahu apa-apa.


Bang Rangga mengulum senyum dan mengangguk ke arahku, kubalas senyuman tersebut.


Mama terbaring dengan selimut sampai perutnya, infus sudah terpasang di tangan Mama. Aku menggelengkan kepala dan sejurus air mata bercucuran.


"K-kenapa tipes Mama bisa sepucat itu Bang?" lirihku dengan isakan.


"Mama kedinginan sepertinya ada di dalam ruangan itu, mangkanya sampe pucat kayak gitu. Udah, kamu jangan nangis, ya," kata Bang Rangga menenangkan dengan suaranya yang bergetar.


Kutarik napas dengan sesenggukan, menghapus air mata yang ada.


"Jangan sedih kalau liat orang sakit, itu hanya membuat dia tambah tak bersemangat aja," timpal Farhan dan mengikuti perawat yang membawa Mama.


Aku mengangguk dan berjalan mengikuti Farhan dari belakang sambil memeluk kresek yang berisi makanan juga minuman yang di tolak Farhan tadi.


Mama sudah dimasukkan ke ruangannya yang di dalamnya hanya ada Mama, perawat kembali memasang dan meletakkan alatnya ke posisi yang benar.


"Kami sudah boleh melihat Mbak?" tanya Bang Rangga saat perawat sudah selesai melakukan tugasnya.


"Sudah, tapi jangan banyak-banyak dan tolong hanya sebentar aja. Pasien butuh istirahat," kata perawat yang langsung kami anggukkan.


Farhan menyelonong masuk begitu saja tanpa bertanya apakah Bang Rangga ingin luan atau diriku.


Saat Bang Rangga hanya diam di depan pintu, kuletakkan makanan juga minuman tadi dan berlari mengejar perawat tadi.


"Mbak, tunggu!" panggilku sedikit pelan karena takut Bang Rangga akan mendengar suaraku.


"Iya, ada apa?" tanya perawat menatap ke arahku dan berhenti.


"Saya mau tanya, dong. Mama saya sakit apa, ya?" tanyaku dengan cengengesan agar mencairkan suasana.

__ADS_1


Perawat yang kutanya malah saling pandang dengan perawat yang lainnya, hal itu membuat aku semakin bingung juga penasaran soal kondisi Mama.


__ADS_2