Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Rencana Hampir Berhasil


__ADS_3

"*Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya*."


"Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."


(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7-8)


"Gimana-gimana? Tuh Adeknya udah mulai masuk ke perangkap kita atau belum?" tanya Lio yang baru datang ke taman dengan temannya yang lain.


"Pastinya, dong! Gue jadi pengen cepat-cepat dapet dia, mau liat sehancur apa Abangnya!"


"Iya, biar Abangnya yang songong itu tau apa yang kita rasakan dulu. Kehilangan."


Beberapa tahun yang lalu, Gilang dan gengnya membuat balap liar dengan melawan geng Bagas.


Saat pertandingan mulai, tiba-tiba sepeda motor yang dikendarai oleh teman Bagas malah oleng hingga mengalami kecelakaan bahkan merenggut nyawa laki-laki tersebut.


Pihak Bagas menuduh bahwa itu semua terjadi akibat ulah Gilang dan teman-temannya, bahkan sudah pernah sepeda motor tersebut dibawa ke bengkel untuk dilihat apakah ada kerusakan sebelumnya.


Namun, tetap tak ada. Kecelakaan tersebut murni karena takdir. Akan tetapi, pihak Bagas tetap tak terima dan masih dendam dengan Gilang sampai sekarang.


"Eh, emangnya sampe ngebunuh? Enggak 'kan?" tanya Arpan yang sedikit khawatir.


"Enggak dong, sampe Adeknya hancur aja," ujar Lio tersenyum dengan menaikkan satu alisnya.


Arpan menatap ke arah teman-temannya, ia tak paham dengan apa yang dipikirkan oleh teman-temannya yang tengah tersenyum tak jelas.


***


"Bro, gue liat Adek lu tadi di taman sama geng Bagas. Lu gak takut? Mereka masih dendam dan melakukan hal yang enggak-enggak ke Adek lu?" tanya teman Gilang padanya yang tengah berbaring di atas tempat tidur yang hanya muat dua orang itu.


"Ha? Di taman? Dia sendirian?" tanya Gilang kaget dan langsung duduk menatap ke arah teman satu kamarnya.


"Iya, dia sendirian. Dua orang lagi itu geng Bagas, ada si Bagas dan si Arpan kalo gue gak salah namanya."


Gilang berdiri dan mengepal kuat tangannya, "Bener-bener mau ngajak perang mereka rupanya," geram Gilang menumbuk dinding pelan.


"Santai, Bro. Kita main cantik aja dulu, kita liat apa mau mereka. Lagian, kalo nyuruh Adek lu buat jauhin mereka. Dia pasti gak mau, karena menurut dia mereka gak melakukan kesalahan atau macem-macem.


Lebih baik, lu pasang GPS di handphone Adek lu. Agar, lu bisa tau di ada di mana. Kayaknya Adek lu juga sering bawa handphone, kok gue liat.


Karena 'kan udah gak ada lagi mobil atau moge miliknya. Kalau sudah keterlaluan lu liat apa yang mereka lakukan.


Baru deh, lu panggil kita-kita. Biar kita bantu lu buat ngehajar para laki-laki brengsek itu!" papar teman Gilang yang membuat Gilang terdiam.


Ia mengangguk tanda setuju dengan apa yang diucapkan oleh temannya, "Oke juga ide lu, besok gue balik ke rumah dulu. Mau setel GPS di handphone dia."


"Nah, kalo mereka bisa main rapi. Kita juga harus bisa bermain rapi untuk membalas perlakuan mereka!"

__ADS_1


***


"Nazwa ... bangun Nak, udah jam 5 Subuh," panggil Mama Farhan yang mengusik tidurku.


"Nazwa gak shalat Tante," teriakku dan menutup telinga dengan bantal.


Tok tok tok.


"Bangun atau pintu lu gue dobrak?" tanya suara bariton dengan gambaran wajah dinginnya itu.


Aku mendengus kesal, tak bisakah mereka membiarkan aku untuk tidur lebih lama lagi sampai matahari menyapa?


Berjalan dengan gontai dan bibir yang cemberut, kubuka pintu sudah ada dua orang yang menanti diriku.


"Hehe, kamu ini. Rambutnya udah kayak singa aja," ujar Mama Farhan dengan sedikit terkekeh.


"Farhan ke Masjid dulu, ya, Ma. Assalamualaikum," salam Farhan dengan mengambil tangan Mamanya tak lupa mengecup dengan takzim.


Entah angin apa, tanganku pun kusodorkan ke arah Farhan dengan mata yang tertutup, "Apa?" tanya suara itu sambil menepis tanganku.


"Haha, sudah-sudah. Kayaknya Nazwa belum kumpul nyawanya, kamu sana ke Masjid," suruh Mama Farhan menengahi.


Kubuka mata dan menguceknya, sudah tak ada lagi Farhan, "Mandi dulu, ya, Nazwa. Habis itu kita Shalat," titah Mama Farhan dan kuangguki.


Aku langsung mengambil handuk dan baju ganti ke kamar mandi, "Dih, kok gue nurut-nurut aja sih?" gerutuku saat sudah merasakan dinginnya air Shubuh di kulitku ini.


"Kita shalat di sini aja, ya," kata Mama Farhan dan langsung kuangguki.


Akhirnya, kami shalat di kamarku. Aku merapikan perlengkapan shalat milikku kembali ke tempatnya sedangkan Mama Farhan kembali ke kamar yang dulu sempat ditempati oleh Bang Gilang.


Saat aku ingin ke dapur, Mama Farhan memanggil aku untuk duduk di sofa bersamanya.


"Tante kucir rambutnya, ya," kata Mama Farhan tersenyum ke arahku. Aku mengangguk dan langsung duduk di lantai agar gampang nantinya dikucir.


"Eh, jangan dilantai. Nanti kamu masuk angin," henti Mama Farhan dan membuatku mendongak melihatnya.


"Assalamualaikum," salam seseorang dan masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam, kamu sekolah Nak?"


"Iya, Ma," jawab Farhan dan kulihat ke arahnya.


"Yaudah, siap-siap sana. Biar kita sarapan bareng."


Farhan mengangguk dengan aku yang sekarang tengah jongkok karena bingung harus bagaimana posisinya.


"Kamu di atas aja."

__ADS_1


"Nanti, Tante susah kucir rambut sayanya."


"Enggak, bisa kok. Cepetan naik!" titah Mama Farhan menepuk sofa di sampingnya.


Aku akhirnya naik dan tanpa sengaja mendapati Farhan yang tersenyum sembari mengelap matanya.


'Kenapa? Kok kayak ada yang aneh, ya?' batinku merasakan sesuatu yang tak beres.


Rambutku di kucir dua oleh Mama Farhan, aku tersenyum menatap penampilanku yang sudah seperti bocah SD kembali.


"Kamu cantik banget, sih, Sayang," puji Mama Farhan.


"Makasih Tante, ini juga karena Tante yang kucirkan."


"Panggil Mama aja, mau, gak?" tanya Mama Farhan dengan hati-hati menatapku.


Aku langsung menatap ke arah Farhan yang tengah mengunyah sarapan, "Emm ... baiklah Mama," kataku seketika membuat senyuman Mama Farhan dan Mamaku sekarang semakin mengembang.


"Kamu, kok, gak pake seragam sekolah kayak Farhan? Bukannya kalian satu sekolah, ya?"


"Udah enggak Ma, aku sekolah di rumah sekarang," jawabku sambil memakan sarapan milikku.


"Jadi, kamu sekolahnya di rumah? Jam berapa?"


"Jam 7 atau jam 8 nanti, gurunya baru datang Ma."


Mama tampak mengangguk mendengar jawaban dariku, "Nanti siang, Bang Gilang akan datang ke sini. Jadi, jangan pergi meskipun sekolahmu telah selesai," celetuk Farhan yang padahal tak diajak bicara.


"Mau ngapain dia?" tanyaku sedikit kepo.


"Mau ketemu kau, aku juga tak tau dia mau ngomong apa. Kan, bukan urusanku," sindirnya yang mengingatkan setiap kali dia bertanya soal hidupku.


"Heh! Kok malah ngomongnya begitu kamu Farhan?" tegur Mama dengan alis yang bertaut.


"Gak papa Ma, santai aja," ujarku agar Mama tak kaget dengan suasana rumah ini yang entah seperti apa.


Sarapan pun telah selesai, Farhan pergi dengan menaiki angkot. Aku dan Mama memilih untuk men-cek tanaman yang kemarin kami tanam meski belum semuanya penuh.


"Mama gak dimarahi sama suami Mama kalau di sini?" tanyaku memecah keheningan.


Wanita paruh baya itu menatapku dengan sendu, eh, aku salah nanyakah? Ini yang membuat aku malas bertanya pada orang.


"Suami Mama sudah meninggal," lirihnya yang membuatku semakin merasa bersalah.


"Eh, innalillahi. Maafkan Nazwa Ma, aku sama sekali gak berniat untuk buat Mama terluka atau mengingat kembali," ujarku yang benar-benar merasa menyesal.


Mama tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan, "Gak papa, kok. Kamu gak salah," katanya mengusap kepalaku dengan tangannya yang tak kotor.

__ADS_1


__ADS_2