
Sesampainya di rumah, aku sudah melihat ada Bang Gilang di dalamnya. Ternyata, bukan cuma aku yang disuruh untuk datang. Tapi, dia juga.
Ibu menatap ke arahku dengan menautkan alisnya sedangkan Bang Gilang menahan tawa ke arahku.
"Ada apa?" tanyaku dengan ngegas menatap ke arah Bang Gilang.
"Bwahaha, siapa yang ikat rambutmu?"
"Mama."
Seketika, tawanya berhenti sebab ucapanku yang tadi. Ibu langsung berubah menjadi menahan amarah sedangkan Ayah melangkahkan kakinya turun dari kamar.
"Siapa yang kau sebut Mama?" tanya Bang Gilang padaku.
"Mama Farhan, dia tinggal di rumah itu."
"Ha? Udah rumah sempit, cuma 1 kamar mandi tuh orang malah tinggal bareng kalian? Kamu juga, kenapa tadi siang malah ke pasar sama dia? Malah naik angkot pula!"
"Emangnya kenapa?" tanyaku dengan menaikkan satu alis.
"Ha? Emangnya kenapa? Kamu mau mempermalukan Ibu?"
"Kan, aku sama Mama. Paling, mempermalukan Mama. Mana aku pake muntah segala, seharusnya yang malu itu Mama bukan Ibu."
Ibu mengeram kesal dengan tangan yang ia kepal kuat menatap ke arahku, "Kamu liat sendiri! Ini gara-gara kamu yang memberi izin mereka tinggal dengan Nazwa!"
"Jadi, dia mau tinggal sama siapa? Aku? Kamu?"
"Ha? Coba kamu ngaca deh! Rumah ini atas jerih payah bersama dan dengan enaknya kamu tempati dengan istri baru kamu?"
"Ayah udah nikah?" tanyaku dan Bang Gilang serempak.
"Wah-wah-wah, ternyata kamu nikah tanpa sepengetahuan dari anak-anakmu, ya?" tanya Ibu bersedekap dada.
"Jangan ngaco kamu! Siapa yang sudah nikah?" tanya Ayah dengan gelagap.
"Baiklah kalau gitu, aku akan tinggal di sini dan hidup bersama Ibu tiri. Mana tau, Ibu tirinya bisa kecantol sama aku, ya 'kan?" tanya Bang Gilang menaik-turunkan alisnya.
"Gak! Kau tetap tinggal dengan temanmu saja."
"Apa Ayah kira uang yang Ayah kirim itu cukup? Aku bahkan tak punya kendaraan satu pun!"
"Bukankah kau sudah dewasa? Seharusnya kau bisa cari kerja sendiri!"
"Buat apa kerja kalau punya orang tua yang kaya? Siapa yang akan menghabiskan harta kalian berdua? Keluarga baru kalian? Oh, enak sekali mereka!
Pas kalian berdua susah, kami yang merasakan. Giliran kalian senang dan sudah kaya, malah orang lain yang menikmati."
__ADS_1
Aku terdiam, seketika benar juga yang dikatakan Bang Gilang. Aku tersenyum saat ide licik hadir di otakku.
"Pak supir!" teriakku yang seketika membuat ruangan ramai.
"Pak supir!" teriakku lagi dan melihat ke arah pintu utama. Seorang laki-laki tergopoh berlari menuju ke arahku.
"Mana kunci moge?" tanyaku sambil menadahkan tangan.
"Ha? U-untuk apa Non?"
"Udah, sini cepetan!" potongku dan menatap ke arahnya.
Ia memberikan kunci tersebut sambil menunduk ketakutan dan melirik ke arah Ayah, aku menatap Ayah sambil bersedekap dada.
"Kali ini, aku setuju dengan Bang Gilang. Moge akan kuambil kembali!" tegasku dengan tersenyum miring.
"Siapa sih yang datang ke rumah orang dengan tidak sopan? Teriak-teriak! Apa dia kira ini hutan?" pekik seseorang sambil menuruni anak tangga.
Kami menatap ke arah suara tersebut, dua orang wanita turun dengan wajah yang terlihat masam. Aku berdecak dan menyungingkan senyuman.
Namun, hatiku terasa teriris kala melihat seorang wanita yang mungkin anaknya, "D-dia?" gumamku dengan terbata-bata menatap sosok itu.
Bang Gilang menatap ke arahku ketika melihat wanita yang sebaya denganku berada di samping wanita itu.
Dengan menggelengkan kepala, kakiku mundur dari kumpulan tadi, "Nazwa-nazwa," panggil Bang Gilang yang membuat semua orang menatapku.
***
Wanita yang ditunjuk Nazwa tadi langsung menangis di pelukan Mamanya, "Ada apa? Kenapa?" tanya Mamanya yang belum paham dengan apa yang terjadi.
"Kau ... aku akan membantu adikku untuk melakukan hal itu, lihat saja nanti!" geram Gilang dan menghempaskan foto yang ada wanita tersebut.
"Kenapa? Ada apa ini?" tanya Mama wanita tersebut dengan wajah semakin kebingungan.
"Itu Ma hiks ... hiks ... itu Nazwa, teman sekolahku di SMA. Dia deket banget sama aku dulu, hiks ...." Wanita tadi akhirnya melepaskan pelukan dan berlari naik kembali ke atas.
Prok ... prok ... prok.
"Apakah aku harus mengucapkan selamat untuk kalian berdua? Atau ... kalian yang harus mengucapkan selamat untukku?
Selamat untukmu karena sudah berhasil dibenci habis-habisan oleh anakmu sendiri dan untukmu. Jaga anakmu sebelum anakku melenyapkannya di dunia ini.
Ya ... bagus, sih hal itu. Aku dukung mereka, bahkan kalau perlu. Biar kusewa penjahat terkenal dan paling ahli agar membuat anakmu lenyap dengan seketika di dunia ini.
Akibat membuat anakku terluka seperti itu," jelas Ibu Nazwa melambaikan tangan terlebih dahulu sebelum pergi dari rumah.
***
__ADS_1
Kupinggirkan motor yang kubawa sekarang, mataku menyipit kala melihat ternyata GPS di handphone-ku menyala.
Segera kumatikan dan menelpon Bagas, hanya mereka sekarang yang kutuju. Aku bingung dan tak tahu lagi harus ke mana sekarang.
"Halo, kalian di mana?" tanyaku dengan suara serak.
"Oke, aku akan ke sana sekarang juga. Tunggu aku, ya," ucapku dan mematikan panggilan.
Sialnya, aku malah tengah memakai dress di atas lutut. Hal tersebut membuat pahaku terlihat akibat angin yang menerpa di malam hari.
Tapi, aku tak peduli lagi soal itu sekarang. Toh, aku pun menggunakan celana pendek yang menutupi paha meskipun tetap saja terlihat.
Kulepas helm di rambutku, ikatan yang dibuat Mama seketika berantakan kembali. Kubuka ikatan tersebut dan membiarkan rambutku terurai begitu saja.
Kupandangi tempat kumpul mereka, kulihat suasana di sekitar tempat ini. Cukup ramai orang berlalu-lalang.
"Ba!" teriak Arpan sambil membuka pintu membuat aku seketika kaget.
"Ih, dasar lu!" geranku dan menepuk bahunya. Ia tertawa dan membuat aku akhirnya tertawa juga.
"Yuk, masuk, Queen!" ajak Arpan dan kuangguki. Pintu terbuka dengan lebar tanpa ditutup kembali oleh mereka.
"Pintunya dibuka aja, daripada kau nanti berpikir bahwa kami melakukan yang enggak-enggak padamu nanti," jelas Bagas yang sudah duduk di sofa yang tersedia di tempat kumpul mereka ini.
Kupandangi isi di dalamnya, bahkan ada kulkas mini di situ, "Kami kadang nginap di sini dan paling sering tinggal di sini itu Lio. Karena, dia bukan asli orang sini tapi kuliah di sini," ungkap Bagas tanpa kutanya.
"Kalian semester berapa?"
"Terakhir."
"Sudah akan menyiapkan skripsi dong?"
"Yap! Mangkanya kami sering ke cafe itu, agar mencari inspirasi. Eh, malah selalu ketemu sama kau."
"Humm ...."
"Kau kenapa? Ada masalah apa?" tanya Lio sekarang yang membuka suara. Aku langsung mengalihkan pandangan menatap ke arah mereka.
Aku bergeming, bingung harus menceritakan dari mana dan apakah harus kuceritakan pada mereka semua?
"Yaudah, kalau emang Queen gak mau cerita juga gak papa, kok. Yang penting selalu ingat, kami akan selalu ada untukmu," jelas Arpan membuat aku terkekeh.
"Lah, kenapa Queen?"
"Hahaha, kau sangat lucu. Panggil aku Queen, padahal aku bukan seorang ratu."
"Kami akan meratukan kau, karena hanya kau seorang wanita dalam geng kami," papar Bagas dan kulihat mereka semua mengangguk mantap.
__ADS_1