
"Hm, kamu tau satu hal? Kita bisa jatuh cinta dengan siapa saja tapi kita tak bisa memaksa seseorang membalas cinta kita itu," imbuh Mama Farhan saat menghampiri putra sulungnya yang sedang menyendiri di taman.
Setelah akhirnya mau keluar dari kamar di jam tujuh malam, Rangga langsung memutuskan untuk ke taman tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Mamanya duduk di samping, sedangkan Rangga menatap kosong ke depan.
"Mama tau gimana rasanya, pasti sangat sakit juga sedikit memalukan diri. Namun, bukankah seharusnya kau harus tau bahwa ini memang takdir dari Allah?
Mau tau sekenal apa pun sama dia, sedekat apa pun sama dia. Kalau emang Allah tidak menakdirkan, ya, sama saja endingnya.
Kita tidak bisa memaksakan rasa kita di dunia ini, kadang memang ada saat di mana rasa hanya perlu di pendam tanpa diungkapkan.
Dan ada pula saatnya rasa itu diungkapkan serta diperjuangkan dengan wanita yang tepat tentunya."
Rangga menatap ke arah Mamanya yang juga tengah menatapnya, "Apakah Rangga tidak pantas bersamanya? Dan apakah Rangga tidak pantas mendapatkan orang yang Rangga sukai?"
"Bukan masalah pantas dan tidak pantasnya. Akan tetapi, masalah takdir atau tidaknya. Bukan berarti ketika takdir cuma mengizinka bertemu kau langsung berpikir bahwa pasti akan bersatu.
Karena, ada sebagian orang yang hanya di izinkan untuk bertemu saja tidak bersatu."
"Sudahlah, Ma. Rangga malas membahas soal percintaan begini, Rangga juga udah baik-baik aja, kok."
"Kamu gak benci sama dia 'kan?"
"Hmm ... mungkin enggak, tapi Rangga pengen berhenti kerja di tempat yang sama dengan dia."
"Huft ... yaudah kalau emang itu keputusan kamu. Apa pun itu akan Mama dukung selagi tidak melanggar aturan Allah."
Rangga mengangguk, ia memang masih sedikit kesal dengan Mawar. Namun, sifat pendendam tak pernah diajari oleh Mamanya dari kecil.
Sehingga, ketika suatu musibah atau kejahatan dibuat oleh orang lain kepada mereka. Biasanya, mereka hanya memaafkan, mencoba sabar, ikhlas dan jika perlu maka menjauh dari orang tersebut.
Tak perlu mengumpat orang yang bersalah atau melakukan hal yang sama dengannya. Karena, tanpa kita sadari ketika kita melakukan hal yang sama dengan orang tersebut maka kita tak ada bedanya dengan dia.
Lagian, Allah tak pernah tidur. Ia akan senantiasa melihat hamba-hamba-Nya yang tertindas atau dikecewakan dengan hamba lain.
Dia akan membuat hamba tersebut merasakan hal yang sama atau hal yang lebih sakit dari apa yang ia lakukan itu.
"Mama masuk dulu, ya. Kamu jangan lama-lama di sini, angin malam gak terlalu baik buat tubuh," jelas Mama menepuk bahu Rangga sebentar lalu pergi meninggalkan laki-laki tersebut sendirian di taman.
__ADS_1
Rangga sudah memutuskan bahwa memang ia akan berhenti bekerja, surat pengunduran diri sudah dikirimkannya tadi sore selesai salat Asar.
Dirinya tetap meminta petunjuk pada-Nya atas segala yang akan ia pilih di dunia ini, mungkin dirinya baru belajar sekarang.
Terlalu terburu-buru tanpa mengetahui dan mempertimbangkan dengan mateng hanya akan membuat kecewa pada akhirnya.
'Hahaha, Nazwa ternyata udah sangat besar sekali. Dia sampe seperti Ustadzah tadi kudengar,' batin Rangga dengan tersenyum dan menggelengkan kepala.
Sebelum Mama datang, dia baru saja mengakhiri telepon dengan Nazwa yang memberi dirinya nasehat agar kembali bangkit dan jangan terlalu larut dalam galau.
***
Pagi ini, Rangga ingin ke kantor untuk terakhir kalinya. Ia ingin mengambil barang-barang yang ada di meja kerjanya juga berkas yang belum sempat ia tangani.
Nantinya, kerjaan itu akan langsung di pindah tugaskan ke orang lain. Jalanan yang masih sepi membuat ia dengan cepat sampai ke kantor.
Seseorang sudah berdiri di teras kantor menatap ke arah dirinya yang baru selesai memarkirkan mobil.
Rangga mengatur napasnya dan mencoba untuk biasa-biasa saja, seolah tak pernah kenal apalagi jatuh cinta pada Mawar.
Saat dirinya melewati Mawar dengan pandangan yang hanya fokus ke depan, tangan Mawar langsung mencegat pergelangan tangan Rangga.
Laki-laki itu langsung berhenti dan menatap lurus ke depan, "Maaf, tolong lepaskan tangan Anda!" tegas Rangga yang membuat nyali Mawar menciut.
"Rangga, tunggu!" panggil Mawar berlari mengikuti Rangga.
Rangga tak menghiraukan, ia benar-benar tak ingin bertemu apalagi sampai bicara dengan Mawar lagi.
Dengan cepat, Rangga memasukkan barang-barang di ruangannya ke dalam kotak yang sudah tersedia.
"Rangga, kamu mau ke mana?" tanya Mawar panik melihat Rangga memasukkan barangnya satu per satu.
"Rangga, kamu mau ke mana?" lirih Mawar mengulang pertanyaan yang sama sekali tak digubris oleh Rangga.
"Rangga!" pekik Mawar dan menutup kotak agar fokus Rangga teralihkan ke dirinya.
Rangga meletakkan bukunya di atas meja dengan kasar, menatap ke arah Mawar tanpa ada ekspresi.
Seolah, Rangga yang dulu dikenal Mawar hilang seketika. Tak ada lagi Rangga yang ramah juga lembut pada wanita, atau ... pada dirinya.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Jangan hadir kembali ke kehidupanku! Pergilah karena aku juga akan pergi serta menjauh dari kehidupanmu!"
"Kalau aku gak mau, kenapa?"
"Haha, jangan jadi wanita yang serakah. Kau tak secantik itu untuk mendapatkan laki-laki yang kau mau dan inginkan."
Deg!
"Apakah kau sekarang sudah tak bisa berkata lembut padaku? Apa agar aku membencimu? Ketahuilah Rangga, sampai kapan pun yang akan kubenci adalah diriku sendiri.
Karena dengan bodoh bisa membuat seseorang yang tulus mencintaiku sakit hati bahkan pergi dari hidup ini."
Rangga terdiam dan menatap wajah Mawar yang sudah dibasahi dengan air mata, ia mengalihkan pandangan dan menutup matanya beberapa saat.
"Keluarlah! Aku tak ada urusan padamu!"
"Rangga, aku minta maaf."
"Ya," jawab Rangga singkat lalu menatap ke arah Mawar, "sudah 'kan? Bisakah kau pergi dari ruanganku? Kau hanya mengganggu saja!"
Rangga menggeserkan kotak dari Mawar, sedangkan wanita itu masih tercengang mendengar ucapan-ucapan pedas nan sadis dari mulut Rangga.
"Baik, aku akan pergi. Sekali lagi, maafkan aku Rangga. Jujur, aku tak pernah berniat mempermainkan dirimu.
Aku tau, bahwa aku salah. Sangat salah bahkan, karena menganggap bahwa semua laki-laki itu sama.
Namun, sekarang aku sadar. Bahwa kau berbeda, aku maklum jika kau menjadi seberubah seperti ini.
Itu pun pasti karena kesalahanku, kau pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku Rangga.
Aku hanya wanita yang banyak dosa dan tak pantas dengan laki-laki baik juga dari keluarga baik sepertimu.
Akan tetapi, satu yang harus kau ketahui. Bahwa aku ... juga mencintaimu," jelas Mawar menghapus jejak air matanya dan berniat ingin keluar dari ruangan Rangga.
"Tunggu!" cegah Rangga saat tahu bahwa Mawar akan pergi. Mawar berhenti dan melihat ke arah Rangga kembali.
"Bunuh dan hilangkan saja rasamu itu padaku, aku tak sudi mendapatkan rasa dari wanita sepertimu!"
Sakit, sungguh! Ketika mendengarkan ucapan sadis berturut-turut dari orang yang kita sukai apalagi orang yang pernah berjuang untuk kita.
__ADS_1
Seperti itulah yang kini dirasakan Mawar, ia menangis sejadi-jadinya mendengar ucapan Rangga barusan.
Ia menggelengkan kepala dan berlari ke luar ruangan Rangga tanpa meninggalkan sepatah kata apa pun lagi.