Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Perasaan Tak Enak


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusan di cafe, akhirnya kami pulang tak lupa mampir ke salah satu perbelanjaan.


Bang Rangga membelikan aku cokelat sebagai hadiah telah menemani dia hari ini, bukan hanya satu cokelat melainkan 5 sekaligus.


"Gak mampir dulu Bang?" tanyaku dengan turun dari mobilnya.


"Gak usah deh, udah sore banget ini. Abang langsung pulang, ya, kirim salam sama Om dan Tante aja," pesan Bang Rangga yang kubalas dengan anggukan dan sedikit menjauh dari sisi mobilnya.


Ia pergi dengan membunyikan klakson, kulambaikan tangan hingga mobilnya tak lagi terlihat.


Masuk ke dalam rumah dengan mobil Ayah yang sudah ada di garasi, "Assalamualaikum," salamku membuka pintu mengedarkan pandangan mencari sosok penghuni rumah ini.


***


"Kamu dari mana Rangga?" tanya Mama ketika Rangga baru saja sampai.


"Eh, dari cafe Ma. Tadi 'kan udah Rangga kasih tau."


"Sama siapa?"


"Nazwa Ma."


"Kalian berdua?"


Rangga yang berdiri di samping Mamanya mengangguk dengan kebingungan, tak biasanya Mamanya seperti ini.


"Kamu suka sama dia?" tanya Mama tanpa basa-basi yang membuat Rangga kaget.


"M-mama kenapa nanya kayak gitu?" gelagap Rangga menautkan alisnya.


"Gak, soalnya perlakuan kamu ke Nazwa itu gak biasa."


"Enggak, kok Ma. Rangga gak suka sama Nazwa."


"Yaudah kalau gitu, ayo kita masuk!" ajak Mama dan dibalas anggukan oleh Rangga.


'Jangan sampai mereka bertengkar apalagi bermusuhan hanya karena wanita,' batin Mama yang tak ingin hal tersebut terjadi pada keluarganya.


***

__ADS_1


Waktu terus berjalan, Ibu sekarang sudah menikah dengan pria idamannya. Sedangkan Bang Gilang diberi amanah untuk melanjutkan pekerjaan Ibu.


"Kau mau sambung kuliah di mana Nazwa?" tanya Ibu saat aku berkunjung di rumahnya untuk memberi kado.


Aku tak sempat datang karena ada urusan di luar kota, diajak Ayah untuk berliburan setelah lulus sekolah kemarin.


"Belum tau Bu," ucapku dengan formal sebagai seorang tamu.


Ibu memandangi aku dari atas hingga bawah yang sedang duduk di depan dirinya, hanya ada kami berdua.


Ayah tiriku, tak kutanya di mana keberadaan orang tersebut. Aku pun hanya sebentar di sini tak berniat bahkan untuk menginap.


"Kau sudah dewasa, ya? Ibu menyesal sudah membiarkan dirimu tumbuh tanpa sosok orang tua.


Membiarkan dirimu mandiri di saat anak-anak lain bisa berbicara, bermanja dan berkeluh-kesah dengan orang tuanya," tutur Ibu dengan mata yang berkaca-kaca.


Kuberi senyum meskipun kembali mengingat hal yang lampau masih saja membuat hatiku teriris, "Semua orang punya jalan hidupnya masing-masing Bu, mungkin seperti inilah jalan hidup Nazwa," kataku lembut.


Ibu menghapus air matanya, "Kalau kau ada apa-apa, jangan sungkan untuk langsung bicara pada Ibu, ya."


Kuanggukkan kepala, "Inn Syaa Allah Bu, lagian Nazwa punya orang tua yang lain. Mereka akan sangat senang jika Nazwa repotkan.


Ibu langsung bangkit dan memeluk tubuhku, aku tak sama sekali membenci dirinya. Tapi, entah kenapa rasanya aku sangat tidak nyaman saat berada di dekatnya.


Seolah, aku dan dirinya adalah dua orang asing yang tak ada ikatan. Mungkin, sebab dulu begitu banyak kata-kata hinaan yang Ibu ucapkan padaku.


Sehingga hati ini membeku dan membuat tembok yang begitu tinggi agar aku dan Ibu jadi berjarak begitu jauh.


"Kamu jangan bilang begitu Nak, maafkan Ibu kalau dulu ada salah padamu. Ibu hanya khilaf melakukan hal itu," lirih Ibu dengan air mata yang sudah memenuhi pipi.


"Buk ... anak adalah makhluk pemaaf, mau Ibu sekasar atau sebenci apa pun sama dia tanpa ibu meminta maaf dia akan langsung memaafkan.


Jadi, tak perlu meminta maaf soal apa pun itu juga yang pernah Ibu lakukan pada Nazwa. Nazwa sudah lama memaafkan Ibu," kataku mengusap air mata di pipi Ibu.


Ibu mencium keningku begitu lama, ini pertama kali setelah SD kelas 6 Ibu melakukan hal ini. Air mata lolos dari kelopak mataku saat Ibu melakukan hal tersebut.


"Bahagialah Nak, jadilah orang tua yang berhasil untuk anakmu. Jangan seperti Ibu," pesan Ibu sembari menangkup wajahku.


Kuanggukkan kepala, "Pastinya Bu, aku tak akan membiarkan anakku tumbuh tanpa kasih sayang akibat keegoisnku," sindirku lagi dan lagi tanpa sengaja pada Ibu.

__ADS_1


Kulirik ke arah seseorang yang berdiri, saat tak sengaja ia menatap aku melihat ke arahnya. Dirinya langsung masuk begitu saja.


Ibu tinggal bersama dengan suami barunya di rumah suaminya, katanya suaminya juga duda dan memiliki seorang anak yang tinggal dengan mantan istrinya.


Aku tahu dari Bang Gilang, karena Bang Gilang diundang ke pernikahan dan datang di waktunya. Sedangkan aku, juga diundang tapi tak dapat hadir.


"Bu ... Nazwa pulang dulu, ya, janji sama Mama sebentar soalnya," kataku penuh kebohongan. Aku merasa tak enak dengan laki-laki tadi.


"Kenapa cepat banget?" tanya Ibu menautkan alis dengan menurunkan tangannya dari pipiku.


"Iya, masih ada urusan lain Bu."


"Emangnya, kau sudah bekerja?"


"Bukan Bu, hanya bantu-bantu Ayah karena asisten dia cuti. Sambil nunggu milih kampus mana yang akan Nazwa masuki lebih baik bantuin Ayah."


"Huft ... baiklah, kau hati-hati, ya."


"Iya, Bu. Oh, iya, gak perlu dari transfer Nazwa, Bu. Inn Syaa Allah, Mama dan Ayah sanggup biayain kebutuhan Nazwa."


"Lah, itu 'kan tugas Ibu. Emangnya kenapa? Apa salah seorang Ibu memberi jajan ke anaknya?"


"Kalau dia gak mau, ya, gak usah dikasih! Ngapain juga harus bersekeras ngasih dia duit, anak yang gak tau terima kasih kayak gitu!" celetuk suara bariton membuat aku dan Ibu menatap ke arah suara tersebut.


Dengan tampang yang tak ada ramah-ramahnya, ia berjalan mendekat ke arah kami. Kuberi senyuman meskipun tahu bahwa tak akan dibalas.


"Iya Om, Om benar," kataku membenarkan ucapannya dan menatap ke arah Ibu kembali, "Nazwa pulang dulu, ya, Ibu." Kuraih tangan Ibu dan mengecup dengan takzim.


"Assalamualaikum," salamku dan pergi dari rumah itu tanpa menyapa Ayah tiriku. Kadonya sudah lebih dulu kuletakkan di atas meja sofa itu.


Ketika sudah keluar dari rumah, kupegang dadaku seolah ada yang tak beres dan terlalu kukhawatirkan.


'Tenanglah diri, Ibu tak akan kenapa-kenapa. Dia pasti bahagia dengan laki-laki pilihannya itu,' batinku dan mengangguk. Mengehel napas pelan berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu diriku sekitar satu jam lumayan tadi.


"Kita mau ke mana lagi Non?" tanya supir saat mobil sudah keluar dari kawasan rumah Ibu.


"Ke taman aja Pak, tapi nanti saya pulang sendirian. Bapak bisa tinggalkan saya setelah sampai di taman," titahku dengan wajah lesu menatap jalanan dari kaca mobil.


"Nanti saya dimarahin Nyonya Non," keluh supir menatap diriku dari kaca spion.

__ADS_1


Kulihat dirinya yang sudah menampilkan raut ketakutan, "Saya akan ngasih tau ke Mama nanti Pak, tenang aja," ujarku menenangkan dan mengalihkan pandangan kembali.


__ADS_2