Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Permintaan Mama


__ADS_3

Mama sadar setelah seharian koma, aku tak bisa menjenguk Mama pagi ini karena ada kelas. Tapi, Mama sudah menyuruh aku untuk datang ke sana sebisa aku saja.


Kelas hari ini hanya sampai jam 12 siang, aku langsung memesan taksi online karena supir ada urusan dengan Mama tiriku.


"Nazwa, ya?"


"Iya Pak."


Masuk ke dalam mobil dan tak lupa membeli beberapa cemilan terlebih dahulu, rencananya aku ingin menemani Mama di rumah sakit sebab besok hari Minggu.


"Makasih, ya, Pak," kataku sambil memberi ongkos serta beberapa jajanan yang tadi sempat kubeli.


"Makasih juga Dek." Aku tersenyum dan keluar dari mobil, berjalan ke arah ruangan Mama dengan hati yang cukup senang.


Meskipun, Mama belum boleh pulang. Setidaknya mendengar kabar bahwa Mama sudah siuman saja sudah lumayan.


Kubuka pintu dan mengedarkan pandangan, tak ada siapapun kecuali Mama yang sedang tertidur.


Kututup kembali pintu dengan perlahan, berjalan ke arah kulkas mini dan memasukkan beberapa minuman yang kubeli tadi ke dalamnya.


"Kamu udah lama sampe Sayang?" tanya suara yang begitu lemah sekarang di telingaku.


"Eh, Nazwa membangunkan Mama?" tanyaku kaget dan menutup kembali pintu kulkas karena sudah selesai mengisinya.


Mama mengulum senyum dan menggelengkan kepalanya pelan, kuletak kresek yang masih ada beberapa cemilan di atas nakas.


Duduk di samping Mama dan tersenyum ke arah Mama, "Yang lain mana Ma?" tanyaku karena tak mendapati sosok kedua orang itu.


"Siap-siap mau salat. Kamu gak salat?"


"Enggak Ma," ucapku menggeleng.


Tangan Mama menyentuh pipiku dan mengusap lembut, "Kamu gak papa 'kan?"


"Lah, seharusnya Nazwa yang nanya begitu ke Mama. Mama gak papa 'kan?" tanyaku mengambil tangan Mama yang ada di pipiku, "Mama sakit apa? Kenapa bisa sampe koma begini?"


"Mama cuma kecapean aja."


"Mana ada orang kecapean sampe koma Ma!" kesalku mendengar jawaban tak masuk akal dari Mama.


Mama malah terkekeh membuat aku semakin kesal dibuatnya, ia menatap ke arah pintu membuat aku menautkan alis bingung.


"Ada sesuatu yang ingin Mama bilang ke kamu," ucap Mama dengan suara serius. Tangan Mama kulepaskan dan menatap dengan serius ke arah Mama.

__ADS_1


"Apa Ma?"


"Kamu suka sama Farhan?"


"Ha?" kagetku yang tiba-tiba diberi pertanyaan seperti ini. Kualihkan pandangan dari Mama, aku pun tak tahu apakah aku suka atau tidak dengan laki-laki itu.


"Kenapa kamu kaget?"


"Enggak, aneh aja. Mama tiba-tiba nanya kayak gitu."


"Kamu suka sama dia?"


"N-nazwa gak tau Ma," ujarku menunduk.


Mama menggenggam tanganku yang berada di pinggir ranjangnya membuat aku menatap ke arah Mama.


"Kamu ingat soal sesuatu yang Mama inginkan dari kamu waktu itu?" tanya Mama membuat aku yang sedikit lupa harus mengingat-ingat kembali.


"I-iya, emangnya apa Ma?" tanyaku yang sudah mengingat hal itu.


"Menikahlah dengan Farhan," pinta Mama dengan wajah serius.


Kulepaskan tangan Mama dan menggeleng pelan, aku teringat bahwa Mama masuk ke sini karena serangan jantung.


"Ma ... pernikahan bukan seperti itu 'kan?"


"Maksudmu?"


"Mama gak bisa memaksa dua orang yang tak saling suka dan cinta untuk bersama," kataku pelan dan mencoba lebih lembut.


"Kau tak menyukainya?"


"Entahlah Ma, Nazwa juga tak tau suka atau tidaknya sama Farhan. Namun, satu hal yang mau Nazwa bilang.


Bahwa ... Nazwa gak bisa nerima perjodohan seperti ini. Nazwa gak mau ada seseorang yang terpaksa mencintai Nazwa.


Kami udah besar Ma, berhak memilih apa yang kami kehendaki. Mungkin, kalau Farhan pasti akan mau aja.


Walaupun hati dia terluka sebab ada wanita yang dia cintai. Tapi Nazwa? Nazwa gak bisa melakukan hal itu Ma.


Bukan berarti Nazwa jahat dan tidak menghargai Mama sebagai orang yang telah banyak berjasa bahwa membuat Nazwa berubah.


Namun, untuk urusan pernikahan seperti ini. Nazwa tak mau melakukan hal yang seperti ini, biarlah Allah yang mempersatukan jika kami memang berjodoh Ma. Ya?" ungkapku meminta persetujuan agar Mama mau mendengarkan penolakanku ini.

__ADS_1


Kupeluk tubuh Mama cepat agar dirinya tak kaget dengan apa yang kubilang tadi, meskipun tak dengan suara yang tegas dan nada yang tinggi.


Tapi, aku tetap takut jika Mama nantinya kaget dengan penolakan diriku terhadap permintaannya itu.


Sekilas, aku melihat ada seseorang yang berdiri tak jauh dari pintu. Farhan. Ya, laki-laki itu pasti mendengar apa yang sedang kami bicarakan tadi.


Ia kembali pergi dengan wajah datarnya, aku tak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang. Aku yakin, ini semua murni kemauan Mama bukan Farhan yang meminta.


"Tapi, kamu suka 'kan sama dia?" tanya Mama kembali membuat aku melepaskan pelukan dan duduk dengan tegap.


"Siapa yang tidak suka sama dia Ma? Laki-laki; pintar, soleh, baik, sayang keluarga, pekerja keras serta lemah lembut meski terkadang sedikit menyebalkan.


Namun, jika harus dijodohkan seperti ini. Nazwa tak bisa, karena takut jika dia merasa tak bisa bebas memilih pujaan hatinya.


Mama juga harus tau bahwa pilihan anak Mama pasti adalah wanita baik-baik, atau bahwa wanita yang jauh lebih baik dari Nazwa," ungkapku yang merasa sebenarnya tak pantas dengan Farhan.


Setelah bercerita panjang lebar, memberi Mama makan dan akhirnya Mama terlelap. Aku mengambil uang di dompet berniat untuk membeli makan di kantin rumah sakit ini.


Kubuka pintu ruangan Mama sudah ada Bang Rangga dan Farhan di luar, "Lah, kenapa gak masuk?"


"Kamu mau ke mana?" tanya Bang Rangga langsung berdiri dari duduknya.


"Mau makan Bang."


"Yaudah, Abang mau ke dalam, ya."


"Biar aku temani kau makan," potong Farhan dan berdiri.


"Mmm ... tak usah, aku bisa sendiri, kok," gelagapku yang takut jika dia nantinya membahas soal tadi.


Farhan malah berjalan lebih dulu meninggalkan kami berdua, "Bang, Nazwa pamit dulu, ya," kataku dan pergi mengikuti Farhan.


Aku dan dia hanya diam di koridor menuju kantin, tak ada yang membuka suara karena aku juga berjalan di belakangnya.


"Tolong pesankan aku menu yang sama denganmu," pesan Farhan ketika sudah sampai di ambang pintu kantin.


Ia mencari tempat duduk sedangkan aku mendegus kesal dengan perintahnya itu, kuhentak-hentakkan kaki menuju tempat memesan makanan di kantin ini.


Dua nasi kuning dan satu mangkuk bakso kosong tengah dibawakan oleh pelayan kantin di sini, aku hanya mengikuti dari belakang.


Tadinya, aku berniat membantu. Tapi, pelayanan melarang aku melakukan hal itu. Duduk di sebrang Farhan yang masih dengan wajah datarnya.


"Tunggu minumannya, ya, Mbak," kata pelayan dan kubalas dengan anggukan juga tersenyum ramah.

__ADS_1


__ADS_2