
Hari ini adalah hari di mana aku akan mengantarkan Bang Rangga untuk tunangan dengan Kak Mawar.
Mama dan Ayah tak bisa ikut karena ada urusan lain, aku diantar oleh supir ke rumah Mama pagi ini.
Acaranya jam 11 siang dan kami harus sudah jalan jam 10 pagi, tak enak jika membuat mereka menunggu nantinya.
"Terima kasih Pak, langsung pulang aja ya. Saya naik mobil sama Mama aja," titahku dan dibalas dengan anggukan.
Aku sudah memakai gamis dengan begitu banyak manik di beberapa bagian, tetap dengan kerudung yang menutup dada.
Kubawa papar bag keluar dari dalam mobil, hadiah kecil untuk pertunangan Bang Rangga juga Kak Mawar.
Mengenai saran yang kuberikan seminggu yang lalu, aku tak menanyakan bagaimana kelanjutannya. Apakah Bang Rangga mencari tahu atau tidak.
Tak enak jika terlalu ikut campur, takutnya Bang Rangga pada akhirnya akan menjadi tak suka padaku.
"Assalamualaikum Ma," salamku sambil mengetuk pintu yang tertutup rapat.
Sambil menunggu pintu di buka, kulihat arloji dan kawasan sekitar, "Udah jam 9," gumamku dan kenatap ke arah pintu saat mendengar suara dibuka.
"Waalaikumsalam, sama siapa ke sini?" tanya Farhan membuat aku menatap lekat ke arahnya sebentar.
Lalu aku tersadar bahwa tengah menatap seseorang yang bukan mahramku, dengan cepat kutundukkan kepala, "Sama supir," jawabku singkat.
"Yaudah, masuk!" Aku mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
Kulihat Mama belum ada di ruang tengah, rasanya seperti aku sekarang tamu di rumah ini.
"Eh, kamu udah sampai Sayang," sapa suara yang begitu sangat kurindukan dari rumah ini.
Aku langsung menatap ke arah sumber suara tersebut dan memeluk dirinya, rasa rindu tak dapat lagi tertahankan.
"Kamu sehat?" tanya Mama menangkup wajahnya.
Aku tersenyum dan mengangguk pasti, "Alhamdulillah, sehat Ma."
"Gimana cake-cake yang baru Mama buat itu?" tanya Mama meminta pendapat. Baru-baru ini Mama mengeluarkan cake dengan varian baru.
Aku disuruh untuk menyicip dan memberi saran, itu pun cake-nya di gojekkan oleh Mama. Bukan aku yang datang langsung ke sana.
"Enak, kok Ma. Bolunya lembut dan gak buat seret," pujiku membuat Mama tersenyum.
"Syukur deh kalau gitu."
"Oh, iya, Bang Rangganya mana Ma?" tanyaku mengedarkan pandangan merasa tak melihatnya dari tadi.
__ADS_1
"Bentar, ya, ini juga udah jam berapa. Dia, kok lama banget deh," keluh Mama dan pergi meninggalkan aku ke arah kamar Bang Rangga.
Farhan tadi pamit ke kamar karena belum siap, mungkin belum pakai aksesoris atau lainnya. Aku pun tak tahu.
Sesekali aku bersenandung kecil, melihat ke arah foto yang sepertinya ada baru. Kudekati meja yang memang untuk tempat hiasan tersebut.
'Maa Syaa Allah, ada aku,' batinku tersenyum melihat foto berempat kami di bingkai tersebut. Foto di saat lulus-lulusan Farhan dulu.
"Maaf kalo gak nanya dulu boleh atau tidak dipajang fotomu, tapi aku liat karena kau pake kerudung jadi ya tak apa di pajang," celetuk seseorang membuatku menatap ke arahnya yang sudah ada di sampingku.
Tersenyum dan mengangguk ke arahnya, "Iya, gak papa, kok," ujarku.
"Udah lama nunggu Nazwa?" tanya Bang Rangga dari belakang membuat aku memutar badan.
"Lumayan, Bang."
"Yaudah, kita langsung pergi?" tanya Mama menatap ke arah kami satu per satu.
"Oke, nanti kita singgah dulu, ya. Mau ngambil buketnya."
Kami mengangguk dan akhirnya keluar dari rumah berjalan ke dalam mobil, kami hanya berempat saja.
Kata Mama, jika sudah menikah nanti baru diundang keluarga besar mereka. Jika tunangan ada baiknya tidak perlu.
Mama dan aku duduk di bangku belakang, mobil menjauh dari rumah menuju ke tempat jual buket lebih dulu.
"Mama kenapa?" tanyaku yang melihat Mama gelisah.
"Haha, gak tau. Mama malah deg-degan gini, padahal yang mau tunangan Rangga," ungkap Mama dengan cengiran.
Senyuman yang hanya bisa aku tampilkan, karena sebenarnya aku juga sedikit takut. Entahlah, dari ketika aku melihat Kak Mawar saat itu. Aku mulai merasa bahwa ada yang tak beres.
Selesai buket bunga dan uang diambil oleh Bang Rangga dari salah satu teman wanita yang usaha itu.
Dia langsung menjalankan mobil dengan kecepatan sedang ke arah rumah Kak Mawar yang tak kuketahui.
"Gimana sekolahmu?" tanya Mama memecah keheningan.
Mengalihkan pandangan dari jalanan ke arah Mama, "Alhamdulillah lancar Ma, mungkin beberapa hari lagi Nazwa akan mengisi kayak motivasi gitu buat sesama anak yang homeschooling."
"Wah ... siapa yang buat acaranya?"
"Mis langsung Ma, dia juga yang nunjuk Nazwa untuk mengisinya."
"Kamu terima?"
__ADS_1
Aku mengangguk, "Awalnya mau nolak Ma, tapi Mama Nazwa nyuruh untuk nerima."
"Mama?" tanya Mama kembali mengulang.
"Iya, Mama tiri Nazwa."
"Oh, sekarang kamu manggil dia dengan sebutan Mama?"
"Iya, Ma. Bukannya kita harus bisa menerima apa yang sudah Allah tetapkan untuk kita? Salah satu menerima apa yang Allah tetapkan untuk Nazwa adalah menerima kehadiran Mama Nazwa di rumah dan di kehidupan Ayah serta Nazwa juga."
Mama mengusap kepala yang tertutup kerudung, "Kamu semakin dewasa Sayang."
"Alhamdulillah, berkat Mama."
"Bukan, tapi berkat kamu yang ingin mengambil hidayah-Nya."
Aku tersenyum dan tak sengaja melihat kaca spion, terlihat Farhan tersenyum sambil menatap ke arah kami.
Kugelengkan kepala saat dirinya merasa terciduk dan mengalihkan pandangan seketika.
"Farhan jadinya kuliah di mana Ma?" tanyaku menatap ke arah Mama kembali.
"Lah, kok tanya Mama? Kan, dia ada di depan tuh," tunjuk Mama menggunakan bibir yang dimajukan.
"Hahaha, Mama kayak gak tau aja. Mereka berdua malu-malu kayak kucing. Mungkin, sebentar lagi akan ada pertunangan juga," timpal Bang Rangga menatap ke arahku dari kaca spion.
Aku malah mengulum senyum seolah membenarkan dan senang dengan godaan darinya itu.
"Haha, Abang sok tau banget deh," ujarku dengan tertawa agar menutupi malu.
"Farhan kuliah di kampus ××× ngambil jurusan hukum juga."
"Sama kayak Bang Rangga, dong?"
"Iya, Farhan mau menghukum seseorang yang nantinya akan mendekatimu Nazwa," seru Bang Rangga yang lagi-lagi menggodaku.
"Apa sih Bang!" ketus Farhan sambil memukul bahu Bang Rangga.
"Ciee ... sampe merah gitu pipinya," ejek Bang Rangga ke Farhan yang membuat Mama tertawa sedangkan aku mengulum senyum karena tak enak jika ikut tertawa juga.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kami akhirnya sampai di rumah yang cukup besar dengan pintu yang tertutup rapat.
"Lah, kok kayak gak ada acara apa-apa Bang?" tanyaku ketika kami semua sudah turun dari mobil.
"Ini benar rumahnya?" tanya Mama dengan alis tertaut.
__ADS_1