Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Hadir Di Acara Spesialnya


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu pasca kejadian tersebut, Bagas dan teman-temannya sedang dalam misi pencarian polisi.


Ayah Nazwa melaporkan kejadian tersebut langsung agar Bagas dan teman-temannya mendapatkan hukuman yang setimpal.


"Sayang ... kita ke sekolahan Farhan, yuk! Dia wisuda sekarang," bujuk Mama Farhan sambil mengelus surai hitam milik Nazwa.


Wanita tersebut tengah duduk di atas ranjang sambil melihat ke arah jendela dengan tatapan kosong.


Nazwa sudah dibawa ke psikolog. Dirinya menolak, mau tak mau Ayah Nazwa menyuruh agar psikolog-nyalah yang datang ke kediaman Farhan.


Awalnya, Ayah Nazwa berniat membawa anaknya kembali ke rumah milik mereka. Namun, Nazwa menolak dan berteriak tak ingin tinggal dengan Ayahnya.


Padahal, keluarga Farhan tak ada melarang. Malah, lebih baik bukan? Mereka bisa menghadirkan psikolog terbaik atau mungkin membawa Nazwa ke psikolog luar negri yang lebih hebat.


"Gak mau Ma, aku di sini aja. Mama aja yang pergi," kata Nazwa tampa menoleh ke arah Mama Farhan.


Wanita paruh baya itu menghela napas dan menatap ke depan juga, meski Nazwa mengalami trauma tapi beruntung dirinya masih bisa untuk melakukan kegiatan belajar-mengajar.


Meskipun, harus dengan kalimat yang lebih pelan dan lemah lembut agar dirinya tak merasa tertekan apalagi marah.


"Kamu tau? Kamu gak bisa terus-terusan seperti ini, berdiam diri tanpa melakukan apa pun itu. Mama rindu Nazwa yang dulu.


Nazwa yang membantu Mama melakukan apa pun itu, Nazwa yang akan selalu berdebat dengan Farhan.


Mungkin, sekarang Farhan bukan hanya menunggu kehadiran Mama atau Bang Rangga. Tapi, dia juga menunggu kehadiran kamu," ungkap Mama Farhan yang membuat Nazwa menoleh menatap ke arah wanita dengan senyuman tersebut.


"Buat apa dia menunggu aku Ma? Aku wanita yang gak bener, aku banyak dosanya," rutuk Nazwa pada dirinya sendiri.


Mama Farhan dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menggeggam tangan wanita tersebut, "Gak, kamu sama sekali tidak berdosa soal itu. Kalau kamu yang mau dengan suka rela itu baru namanya kamu berdosa."


Nazwa hanya diam, ia kembali menatap ke arah depan. Mama Farhan bangkit dan pergi cukup lama.


Ia datang kembali dan memakaikan kerudung ke kepala Nazwa, "Jika seorang wanita ingin dihormati dan disegani oleh laki-laki. Maka, dia harus menjaga auratnya agar tak membuat laki-laki tertarik akan lekuk tubuhnya.


Bukan berarti laki-laki baik itu sudah tidak ada. Namun, emang tugas setan itu buat menggoda 'kan?

__ADS_1


Dia bisa saja menggoda yang baik untuk berbuat jahat jika situasinya tepat dan pas," papar Mama Farhan tersenyum ke arah Nazwa.


Nazwa membuka kerudung tersebut, "Nazwa mau ikut, tapi gak usah pakai ini. Nazwa belum siap," ungkap Nazwa menatap ke arah Mama Farhan.


Wanita tersebut, tersenyum dengan bahagia dan menganggukkan kepala, "Gak papa, Sayang. Semoga Allah segera beri hidayah kamu agar segera menutup aurat untuk menjaga dirimu dari laki-laki yang ingin berbuat jahat padamu. Mama tunggu di depan, ya, sama Bang Rangga."


Mama Farhan keluar dan mengecup kening Nazwa terlebih dahulu sebelum benar-benar meninggalkan wanita itu.


"Gimana Ma? Dia mau ikut?" tanya Rangga yang sudah menunggu di sofa dari tadi. Rangga pun sedikit khawatir karena memang semenjak pulang dari rumah sakit Nazwa tak pernah lagi keluar rumah.


Hingga bos pemilik cafe tempat ia bekerja sampai datang ke rumah buat menanyakan kabar wanita tersebut.


Dengan senyum, Mama Farhan mengangguk senang dan duduk di samping Rangga. Rangga ikut tersenyum mendapatkan jawaban seperti itu.


Sekitar 10 menit, Nazwa keluar dari kamarnya dengan tas ransel yang ia bawa. Menggunakan celana yang sedikit longgar dan baju lengan panjang.


Rambut yang di ikat dan wajah di poles sedikit bedak, memang wanita itu cantik dari lahir dan bawaan dari Ibunya.


Meskipun bergaya biasa saja, nyatanya penampilannya terlihat begitu cantik. Mama dan Rangga bangkit menatap ke arah Nazwa yang berhenti.


Mama Farhan memegang pinggang Nazwa dan berjalan bersama-sama keluar rumah menuju sekolah Farhan atau sekolah Nazwa dulu.


Tepat pukul 10 pagi, mereka sudah sampai di sekolah. Ada papan bunga, pentas juga musik dan tukang poto.


Pihak sekolah memang tiap tahun akan membuat acara seperti ini, tentu saja dari uang anak-anak sekolah yang akan lulus.


"Farhan mana, ya?" tanya Mama clingak-clinguk mencari keberadaan Farhan.


"Kita ke tenda itu aja Ma, kayaknya itu bangku buat wali dan orang tua murid, deh," tunjuk Rangga.


"Yaudah, yuk, kita ke sana!" ajak Mama dengan Nazwa yang hanya diam dan mengikuti.


Mereka duduk di bangku yang kosong di tenda tersebut, Mama masih sibuk mencari di mana keberadaan Farhan.


Suara dering dari handphone Nazwa mengalihkan fokus Mama dan Rangga ke arah wanita yang memang berada di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Halo?" tanya Nazwa mengangkat panggilan yang masih di tatap oleh Mama dan Rangga.


" ... "


"Oh, baik Pak. Sebentar," putus Nazwa panggilan tersebut dan memasukkan ponsel ke dalam tas berniat ingin bangkit dari bangku.


"Eh-eh! Kamu mau ke mana?" tanya Mama Farhan mencegat Nazwa dengan memegang tangan wanita tersebut.


"Nazwa mesen sesuatu dan udah datang barangnya di depan sana Ma," kata Nazwa menatap ke arah Mama.


"Biar Abang aja yang ambil barangnya," potong Rangga berdiri dari duduknya.


"Oh, baiklah. Ini uangnya Bang." Nazwa berniat mengambil dompet yang masih ada di dalam tas ransel miliknya itu.


"Udah, gak usah. Biar Abang aja yang bayar," cegah Rangga dan pergi dari tempat duduk menuju depan sekolah.


Nazwa menatap punggung yang semakin menjauh, ia kembali menjatuhkan bobot tubuhnya di bangku plastik itu.


Tak lama setelah kepergian Rangga, saat Mama dan Nazwa tengah bercerita. Rangga datang menemui mereka.


"Wah ... anak genteng Mama dari mana aja, sih?" tanya Mama menatap ke arah Farhan yang duduk di samping Nazwa.


"Ada foto gitu tadi di kelas Ma," ujar Farhan menatap ke arah Nazwa. Nazwa yang melihat Farhan menatapnya dengan begitu aneh langsung menundukkan pandangan.


"Heh! Ngapain gitu banget natap Nazwa?" tegur Mama dengan ketus.


"Hahaha, tidak papa Ma. Senang aja ternyata dia mau datang ke acara ini," ungkap Farhan tersenyum yang dilirik oleh Nazwa sekilas.


"Kepada seluruh murid yang lulus hari ini, dipersilahkan ke aula segera!" titah MC yang tertuju untuk Farhan juga murid lainnya.


"Tuh, denger! Sana," usir Mama dan membuat Farhan bangkit.


"Nanti kita foto, ya, Ma. Jagain Nazwa Ma," pinta Farhan membuat Nazwa mendongak menatap ke arah laki-laki yang sekarang sudah mudah senyum ke arahnya.


Ia mengedipkan mata juga ke arah Nazwa sambil berjalan menatap ke arah wanita tersebut, sudut bibir Nazwa melengkung akibat tingkah Farhan.

__ADS_1


__ADS_2