Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Menemani


__ADS_3

Rasulullah Saw bersabda: “Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong."


Tak tahu jika akhirnya Mama Farhan akan menginap di sini, aku pun akhirnya harus mengendap-ngendap untuk keluar rumah.


Sehabis makan malam tadi, aku pamit ingin tidur lebih awal karena besok sudah mulai belajar homeschooling.


Tapi, sangat aneh rasanya jika tak keluar minimal satu jam di malam hari. Menikmati angin yang dingin dan suasana malam hari.


Gojek sudah kusuruh untuk berhenti di depan gang saja agar tak terdengar suara motornya nanti.


Saat sudah lolos dari rumah, aku berlari dengan cepat, "Pak, ayok!" perintahku dengan Pak gojek yang sudah mengulurkan helmnya.


"Kenapa Dek? Kabur dari seseorang, ya?" tanya Pak gojek yang mungkin takut juga bahwa aku adalah orang yang dikejar.


"Enggak, kok, Pak. Udah telat saya soalnya," kataku dengan helm yang sudah terpasang rapi di kepala.


Roda dua ini dijalankan membelah jalanan di malam Sabtu ini, suasana yang lumayan ramai membuat aku tersenyum merasakan belaian angin ke wajahku.


Malam ini, aku tak ingin ke cafe buat minum kopi. Tak baik juga jika terlalu sering meminum kopi bagiku.


Keputuskan untuk ke taman saja, berjalan-jalan sambil melihat orang-orang yang tertawa juga sedang kasmaran tentunya.


Aku duduk di bangku besi warna hitam, menyandarkan punggung dan menatap langit yang dihiasi bulan serta bintang.


"Hello Nazwa!" sapa suara bariton yang tak asing lagi di telingaku. Kutatap mereka yang sudah memasang wajah tersenyum, kali ini hanya berdua saja.


"Kalian ngikutin aku, ya?" tuduhku dengan menautkan alis.


"Enggak, dong. Kata siapa?" tanya mereka dan duduk tanpa izin juga suruhan dariku.


"Ini namanya tuh kami disuruh buat lindungi lu!" tegas Arpan.


"Lindungi dari siapa? Yang harus dijauhi itu kalian!" ketusku membuang pandangan.


"Hahaha, diperhatiin kau cantik juga, ya, Nazwa. Apalagi saat marah-marah seperti ini," ujar Bagas yang membuat aku seketika terdiam.


"Beuh ... iya, dong. Lu udah punya cowok, gak, sih Nazwa?" tanya Arpan dengan menaik-turunkan alisnya.


"Kenapa emangnya?" tanyaku nyolot.


"Ya ... kalau emang gak ada, biar bisa gitu dari kami salah satu. Atau, gak, lu jadi temen kami. Soalnya kami gak punya pacar juga, jadi kau nanti bisa kami perlakuan kayak pacar kami gitu," papar Bagas.


"Gak minat gue!" tolakku mentah-mentah.


"Kalo lu gak minat, ya, gak papa. Tapi ... kami akan tetap melakukan itu, Queen," ujar Arpan kembali menggombalku.


Aku sebisa mungkin menahan diri agar tak terayu apalagi tergoda dengan mereka, jujur kalau seperti ini mulu.

__ADS_1


Aku pasti akan tergoda pada mereka juga akhirnya dan akan gabung ke tim mereka. Suara senar gitar yang dimainkan Arpan terdengar bagus.


Tak paham awalnya, ngapain Arpan membawa gitar ke taman ini. Namun, aku masih enggan untuk sekedar bertanya pada mereka.


Senandung mulai mereka mainkan, lagu yang entah apa-apa saja mereka mainkan bahkan tak jarang mereka tertawa akibat lirik yang salah.


Tanpa sadar, bibirku terangkat melihat kelakuan mereka yang jujur sangat menghiburku, "Lu haus, gak?" tanya Arpan.


"Gak usah ditanya! Jadi cowok itu apa-apa langsung beli aja!" sindir Bagas yang mengambil alih gitar Arpan tadi.


Arpan terdiam dan melongos pergi dari bangku, entah sejak kapan dia mulai memanggil aku dengan sebutan 'lu' padahal yang lainnya memanggil aku dengan sebutan 'kau'.


Tanpa terasa, taman sudah mulai sunyi. Kulihat handphone dan mendapati sudah jam 10 malam, aku membulatkan mata yang niatnya hanya satu jam menjadi 2 jam di sini.


"Kau mau pulang? Biar kami antar, ya?" tawar Bagas yang ternyata mengetahui gerak-gerikku.


"Gak usah," jawabku singkat sambil memasukkan kembali handphone karena sudah mendapatkan gojek.


"Ini, minum aku tadi," sambungku memberikan uang dua puluh ribu ke Arpan.


"Dih, sejak kapan Queen harus memberi uang? Tenang aja Queen, lu gak perlu bayar apa pun ke kami atau ke gue," ujar Arpan mengembalikan uangku tadi.


"Nih, pake jaket. Dingin soalnya, nanti kau masuk angin lagi," tutur Bagas yang meletakkan jaketnya di punggungku.


Aku terdiam mendapati perlakuan mereka yang seperti ini, "Dipake itu jaketnya! Apa perlu aku yang pakein?" tanya Bagas dengan terkekeh.


"Jam berapa?" tanyaku yang seketika membuat mereka tersenyum gembira.


"Sekitar jam 2-an begitu."


"Nanti aku liat dulu, aku gak janji untuk bisa ikut!"


"Oke, ketemu di sini aja."


"Kenapa gak langsung ke tempatnya aja?" tanyaku menautkan alis.


"Ya, gak papa sih. Emangnya kau tak malu, datang sendirian langsung ke sana saat kami sudah sampai lebih dulu?" tanya Bagas yang seketika membuat aku terdiam.


Benar juga, aku pasti malu kalau datang sendirian di sana nanti sedangkan mereka sudah datang lebih dulu.


"Baiklah," pasrahku dan melihat ke arah parkiran.


"Tuh, udah datang gojek lu. Yuk, kita antar," ujar Arpan yang kami langsung berdiri sambil berjalan ke arah parkiran.


"Sini Pak helm-nya," pinta Arpan kepada Pak gojek. Ia memasangkan helm ke kepalaku, beberapa menit pandangan kami saling bertemu.


Hingga akhirnya aku memutuskan kontak lebih dulu dan mengalihkan pandangan, "Terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama my Queen," ujarnya dengan tersenyum tipis.


Naik ke jok belakang, mereka melambaikan tangan padaku dan membuat aku akhirnya membalas lambaian tersebut dengan tersenyum tipis.


Entah mengapa, aku merasa bahagia dengan perlakuan mereka barusan. Sepanjang jalan aku senyum-senyum sendiri seperti orang yang lagi jatuh cinta.


Sampai beberapa kali kututup wajah karena merasa ada semu merah yang sepertinya hadir di pipiku.


Saat akan masuk ke dalam rumah, aku sudah dikejutkan dengan Farhan yang berdiri di ambang pintu.


Kubuka gerbang dan kembali menutupnya, berjalan mendekat ke arah laki-laki yang sudah menyandarkan tubuhnya.


"Dari mana?"


"Luar."


"Jaket siapa?"


"Temen."


"Cowok?"


"Iya."


"Lepas!"


"Ha?" tanyaku yang kaget dengan ucapannya barusan.


"Lepas, apa kau tuli?"


"Kenapa di lepas?"


"Besok, balikan barang cowok itu. Dia siapa emangnya? Pacarmu?"


"Bukan, Bestie aku. Emangnya kenapa?" tanyaku menantang sambil bersedekap dada.


"Gak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan!"


"Ada, dan itu adalah aku dan teman-teman lainnya!"


"Teman-teman? Artinya kau punya teman laki-laki lebih dari satu?"


Aku mengangguk, "Ya, ada empat orang dan aku sendiri perempuan. Emangnya kenapa?"


"Jangan bilang mereka adalah orang yang punya dendam sama Bang Gilang?"


"Kalau iya emangnya kenapa? Bukan urusan kau juga 'kan?" tanyaku dengan menaikkan satu alis, "minggir!" Aku menggeserkan tubuhnya dan masuk ke dalam rumah meninggalkan laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2