
Barangsiapa menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan Akhirat. (HR. Muslim)
Guru yang mengajar homeschooling sudah datang dan bahkan dia juga sudah bertanya-tanya padaku.
Namun, kujawab dengan seadanya saja, "Apakah Ibumu akan datang?" tanya gurunya menatapku.
"Bisahkah tak perlu ada orang tua? Aku harus membayar orang kalau begitu agar mau menjadi orang tuaku," jawabku seadanya.
Jika kalian berpikir homeschooling dilakukan hanya anak dan guru saja, itu tidak benar. Nyatanya, homeschooling juga membutuhkan atau bahkan lebih banyak orang tua yang berperan pada anaknya.
Mungkin, Ayah berpikiran seperti ini. Karena aku tak dikeluarkan dari sekolah jadi lebih baik gurunya yang mengajar di rumah.
Tanpa dia ketahui bahwa peran orang tua bahkan lebih banyak saat anak diperintahkan untuk homeschooling.
"Baiklah, untuk sekarang ada baiknya kita saling mengenal dulu dan belajar dari hal-hal kecil salah satunya gaya bicaramu Nazwa Nabila," jelas guru dengan menekan namaku.
Aku memutar bola mata malas, adakah cara yang lebih baik agar tak perlu ada sesi tanya jawab? Aku sangat membenci hal itu.
"Kenapa kau harus membayar orang buat jadi orang tuamu? Di mana orang tua kandungmu?"
"Sibuk."
"Bisahkah kau memanggilku dengan sebutan Bu Guru atau Miss?"
"Baik Miss."
"Apa yang membuatmu dikeluarkan dari sekolah?"
"Saya tidak tau Miss, suratnya tidak saya baca. Cuma dileparkan doang ke saya."
"Apakah kau yang ingin homeschooling?"
"Gak. Ayah saya dan tanpa persetujuan saya."
"Kau punya Abang?"
"Punya, tapi dia pergi dari rumah."
__ADS_1
"Kau bahagia?" tanya Miss tiba-tiba yang membuatku terdiam.
"Kenapa nanya ke situ? Miss 'kan bilang perkenalan bukan nanya soal perasaan saya lagi bahagia atau enggak," kataku menautkan alis.
"Hmm ... baiklah, Miss ambil jawaban bahwa Nazwa sedang bahagia dan sangat."
Entah apa saja yang dia tanyakan dan kujawab hingga dua jam berlalu begitu saja, Miss akhirnya pergi dari rumah ini.
Sebenarnya, jadwal belajar hanya satu jam saja. Namun, belajar dengan orang tua tak terhingga jamnya.
Kata Miss, besok sudah mulai belajar seperti layaknya aku di sekolah dulu. Aku jadi sedikit penasaran, apa kabar kedua temanku itu.
"Udah siap belajarnya Dek Nazwa?" celetuk Bibik yang tiba-tiba berada di belakang. Aku langsung melihat ke arah Bibik dan menutup pintu sehabis meliat Miss tadi.
"Sudah Bik," jawabku tanpa senyum.
"Boleh bantuin Bibik?" tanyanya dengan hati-hati.
"Bantuin apa?"
"Itu, Dek. Bibik gak bisa pasang gas, kalau nunggu Farhan nanti lama," keluh Bibik dengan cengengesan.
Meskipun terkenal manja, aku bisa melakukan apa pun sendiri bahkan pasang gas dan mengangkat galon sekali pun.
Brak!
Suara pintu dibuka dengan kasar terdengar dengan jelas, aku yang baru selesai memasang gas langsung bangkit dan menatap ke arah depan.
"Itu siapa, ya, Dek?" tanya Bibik dengan raut wajah yang sedikit takut. Aku langsung berjalan lebih dulu untuk melihat yang datang.
Sedangkan Bibik berada di belakang dengan jalan mengendap-ngendap karena ketakutan. Seorang wanita sudah berkacak pinggang dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya.
"Apa hanya ini saja yang bisa dia berikan pada kalian? Apa kau tak bisa memberontak dan menolak untuk keluar dari rumah itu?" geramnya padaku.
Aku diam dan tak menanggapi, lalu matanya menatap orang yang ada di belakangku, "Dan siapa itu? Mana mobil? Mana supir pribadi? Mana pembantu? Mana rumah dengan tingkat dan juga luasnya itu? Kenapa sekarang hanya ada rumah yang sempit seperti ini?" protesnya lagi yang ternyata belum selesai.
Dadanya turun-naik pertanda bahwa amarahnya masih memburu, aku hanya mengerjapkan mata menunggu Ibu lebih tenang.
__ADS_1
"Sudah?" tanyaku setelah sekitar lima menit sunyi di ruangan ini.
"Apanya yang sudah?" tanyanya kembali dengan amarah.
Kubalikkan badan dan menatap Bibik, "Bibik ke dapur aja dan lanjutkan masaknya, ya," titahku dan langsung diangguki oleh Bibik.
Beliau langsung mengundurkan diri ke belakang, aku berjalan ke arah sofa karena merasa letih dari tadi berdiri.
"Aku tak niat untuk meminta-minta padanya, jika ini yang dia beri maka ini saja. Lagian, ini juga sudah lebih dari cukup, kok," jawabku menatap ke arah Ibu.
Dia berjalan ke arahku dengan raut wajah yang masih sama, "Gak bisa dong, masa dia enak-enakan sama keluarga barunya nikmati harta itu!"
"Emangnya kenapa? Ibu gak terima Ayah bahagia? Biarkan aja mereka, kalau Ibu mau nikah juga kayak Ayah pun gak masalah, kok."
Dia tampak kaget dengan ucapanku barusan, "Apa yang kau bilang? Tidak mungkin Ibu secepat itu untuk menikah!"
"Wah ... kesian dong atasan Ibu itu, pasti selalu menyuruh Ibu agar cepat-cepat ngenalin dirinya sama kami 'kan?" jelasku menaikkan satu alis.
"Atasan? Ngenalin? Apa yang kau bilang barusan?" tanya Ibu gelagapan dan berdiri dari sofa.
"Hahaha, terserah kalian aja deh. Aku udah gak mau urusin soal kalian, bahkan kalau kalian gak anggap aku anak di publik juga gak masalah. Aku gak pernah rugi, kok, juga gak akan bangga meskipun diakui sekali pun!" jelasku menatap ke depan.
"Kau kenapa berubah seperti ini Nazwa? Bukan anak yang Ibu kenal dulu," lirih Ibu dan langsung kulihat wajahnya.
"Aku berubah karena Ibu juga berubah 'kan? Semua berubah dan berantakan seperti sekarang ini akibat keegoisan Ibu yang tetap kekeh ingin bekerja!" jelasku mengingatkan dirinya agar tak lupa bahwa ini semua akibatnya.
Tangan wanita itu terkepal, "Ha? Segampang itu kau menyalahkan aku? Jika Ayahmu itu mampu menghidupi kita semua. Pasti gak akan terjadi kayak begini!"
"Ayah mampu! Buktinya kita damai aja, semua balik lagi ke Ibu. Kalau Ibu gak ikut arisan dengan teman-teman Ibu itu. Aku dan Bang Gilang gak mungkin kayak anak terlantar begini!" teriakku dengan isakan.
"Kalian pikir? Aku bahagia? Mentang-mentang aku gak pernah memberontak dan mengeluarkan pendapat soal hubungan kalian? Kalian pikir, aku gak tau kelakuan kalian di luaran sana?
Diam, bukan berarti tidak tau! Diam, dilakukan oleh orang-orang yang suaranya tak pernah di dengar! Dan aku memutuskan untuk diam karena hal itu.
Sekarang ... semua udah selesai Bu. Pergilah, cari kebahagian yang Ibu mau. Ibu stres 'kan mengurus rumah dan anak?
Sekarang ... Ibu sudah tak melakukan hal itu lagi, pergilah. Tak akan ada suara rengekan anak perempuan yang ingin ikut Ibu kumpul dengan teman-teman Ibu itu.
__ADS_1
Bahagialah, aku sudah melepaskan dan pergi jauh dari hidup Ibu dan Ayah. Aku tak akan pernah bergantung bahkan bawel dalam bertanya seperti dulu lagi. Terima kasih Bu untuk semuanya," paparku dengan segera menghapus air mata di depan Ibu untuk pertama kalinya ketika aku sudah remaja.