
Tepat pukul 12 malam, suara alarm milikku berbunyi. Aku segera bangkit dengan sedikit merapikan rambut yang berantakan.
Membuka pintu pelan dan memeluk kado yang sudah terbungkus. Ruang tengah sudah mati lampunya.
"Kamu ngapain?" tanya Farhan dengan suara yang pelan. Ia ternyata mengenali aku.
"Mau ikut juga, dong!" kataku dan menatap ke arahnya juga Abangnya.
Lampu kembali dihidupkan, tak ada lilinnya. Kami berjalan ke kamar Mama, "Dikunci," ujar Abang Farhan menatap ke arah kami yang ada di belakangnya.
"Gimana? Di ketuk aja?" tanya Abangnya kembali.
Aku diam, karena memang tak tahu bagaimana caranya. Tak pernah di keluargaku dulu melakukan seperti ini.
"Mm ... kau pura-pura teriak aja," suruh Farhan natap ke arahku.
Aku menautkan alis, "Dih, kalo Mama kaget, gimana?" tanyaku yang kurang setuju dengan ide Farhan.
"Ya, biar Mama tambah kaget dan tambah ngerasa surprise, gitu," ungkap Farhan.
Aku berdeming, bingung. Tak tahu juga apakah harus mengikuti ide mereka atau tidaknya, "Udah, kayak gitu aja. Gak papa, kok," ucap Abang meyakinkan.
Bagaimana pun, aku takut jika Mama kaget apalagi ketika tahu Mama pernah depresi membuat aku semakin takut.
"Yaudah, deh," pasrahku dan berjalan satu langkah mendekat ke arah pintu kamar Mama.
Kutarik napas, "Aaa ... Mama!" pekikku yang kayaknya akan satu kompleks mendengar suara ini.
Kulihat ke arah belakang, mereka tampak kaget dengan pekikanku itu.
"Apa? Kalian yang nyuruh, kok!" ketusku yang tak ingin disalahkan oleh mereka.
Benar saja pintu terbuka yang membuat kami malah sedikit kaget, Mama keluar dari kamar dengan wajah kaget bahkan sampai lupa menggunakan kerudung.
"Barakallah fi umrik Mama ...!" pekik Farhan yang sudah berada di sampingku.
"Happy birthday Mama," ujarku menatap wajah pucat pasi Mama dan mengelus dadanya. Ia menyandarkan tubuh ke pintu yang sudah terbuka lebar.
"Ma, ayo ke sofa dulu. Kita duduk jangan berdiri begini," timpal Abang sedangkan Mama masih diam saja.
__ADS_1
Mungkin, masih kaget dan mengumpulkan nyawanya sedangkan aku dari tadi sudah menampilkan cengiran karena takut di marahi Mama.
Plak!
Satu pukulan mendarat di tanganku, "Jangan kayak gitu! Mama kaget, tau. Mama kirain kamu kenapa-kenapa!" tegur Mama menatap tajam ke arahku.
"Hehehe, disuruh sama Farhan dan Abang tadi Ma," ujarku membela diri yang tak mau disalahkan seorang diri.
Mama menatap tajam ke arah mereka sedangkan bolu tadi diletakkan di meja yang ada, "Kalian ini apa-apaan, sih? Kok malah ngajarin yang enggak-enggak sama Nazwa?" tegur Mama dan mereka berdua hanya menggaruk tengkuknya.
"Ada apa dek Nazwa?" pekik Bibik dengan berlari ke arah kamarku.
Seketika pandangan kami menghadap ke arah Bibik yang berjalan di belakang sofa kami duduki saat ini.
"Gak papa Bik," sahutku yang membuat Bibik berhenti dan menatap ke arah kami semua.
"Eh, kok pada kumpul di sini semua?" tanya Bibik bingung sambil mengucek matanya. Bahkan kerudung yang ia pakai sampai miring ke kanan dan kiri akibat terburu-buru.
"Ini Bik, anak-anak pada buat kejutan untuk saya," jelas Mama tersenyum ke arah Bibik yang membuat bahunya langsung merosot.
"Oalah! Kirain apaan, tengah malam teriak-teriak," ucap Bibik yang kubalas dengan cengengesan karena merasa tak enak.
"Gak usah, deh. Bibik tidur aja, udah ngantuk banget soalnya," tolak Bibik dan hanya kami angguki bersama.
Bibik pergi kembali ke kamarnya yang dekat dengan dapur, "Ayo, Ma. Doanya," ujar Abang dan mulai kembali melanjutkan acara di tengah malam ini.
Mama mengadahkan tangannya dan kutatap dengan senyuman, lucu rasanya melihat hal seperti ini untuk pertama kalinya.
Bukan melihat, lebih tepatnya ikut tergabung dalam acara seperti ini. Kalau di keluargaku dulu, yang ulang tahun hanya akan diberi uang saja sebagai kado dan beli kue.
Kita yang ulang tahun dan kita sendiri yang membeli kue serta kadonya sendiri, sedangkan mereka sibuk dengan dunia masing-masing.
"Semoga Papa dan adik ditempatkan di sisi terbaik Allah, Abang kerjanya semakin sukses, Farhan bisa keterima di kampus impian.
Dan, Nazwa bisa segera lulus SMA-nya. Bisa hijrah menjadi anak yang lebih baik dengan menutup aurat juga melakukan kewajiban tanpa disuruh serta dipaksa.
Gak bergaul lagi dengan yang bukan mahram-nya, serta menjadi anak yang lebih bisa diberi arahan," papar Mama sambil menatap ke arahku.
Lah ... kenapa malah doanya untukku semua? Terus, emangnya aku ini artinya bukan bergaul dengan yang bukan mahram, ya?
__ADS_1
Aku dan anak-anaknya 'kan bukan mahram, kugelengkan kepala sedangkan Mama menangkup tangannya tadi ke wajah.
"Gak ada yang bantu aamiin 'kan?" tanya Mama menatap satu per satu ke arah Mama.
"Aamiin!" Serempak kami bertiga mengaminkan doa-doa Mama barusan.
Acara selanjutnya Mama memotong bolu dan memberikannya pada Abang Farhan, "Maaf, Ma gak sempat beli kado. Soalnya dikasih tau juga baru banget sama Farhan. Doanya semoga Mama bisa terus menemani langkah kami."
"Sampai kamu nikah dan punya anak?" tanya Mama.
"Hehe, iya, Ma. Aamiin," ujar Abang Farhan yang hanya kutatap saja. Dia dan Farhan tak kalah jauh bedanya.
Aku jadi semakin penasaran, bagaimana wajah Papa mereka dulu sehingga bisa membuat wajah anak-anaknya begitu tampan. Pasti ... Papanya juga tak kalah tampan.
"Semoga Mama sehat selalu dan selalu dilindungi Allah," ucap Farhan memberi doa pada Mama setelah disuap bolu ke dalam mulutnya.
"Ini, kado buat Mama." Farhan menyerahkan kado yang kubantu mencarinya itu, sedikit bangga karena pendapatku berguna.
"Aamiin, semoga kamu cepat lulus dan kerja. Agar ... bisa menghalalkan yang tadinya tidak halal," sindir Mama sambil melirik ke arahku sekilas.
Lah? Kenapa aku yang dilirik? Aku dan Farhan tak ada hubungan apa pun, pasti Mama salah orang. Farhan hanya diam yang mungkin emang dia punya pacar sepertinya tanpa kuketahui.
Sekarang, giliran aku yang mendapatkan suapan dari Mama. Bukan menggunakan sendok seperti anak-anaknya, melainkan menggunakan tangan Mama langsung.
"Semoga Mama sehat selalu, panjang umur dan ...," jedaku yang bingung mau menyambungkan dengan kalimat apa.
"Dan bisa melihat kamu menikah dengan salah satu anak Mama," celetukku yang langsung tersedak bolu tadi.
Uhuk!
"Haha, santai aja Sayang. Sampe batuk gitu," tegur Mama tertawa.
"Lagian Mama aneh, kok salah satu sih? Udah jelas-jelas yang ini juga," timpal Abang Farhan dengan menunjuk ke arah Farhan dengan dagunya.
Acara selesai di jam 2 malam setelah kami melakukan salat tahajud bersama-sama, jika salat berjamaah atau tak hanya berdua. Maka, boleh orang asing atau bukan mahram menjadi imam.
Namun, jika hanya berdua dan yang imam-in adalah pacar atau temen atau bahkan sahabat maka itu tidak boleh. Itu yang diucapkan Mama tadi ketika aku menolak untuk salat di imamin oleh Abang Farhan.
Ya ... namanya juga aku awam, pasti tak tahulah mengenai hal itu. Salat di Masjid aja aku jarang banget, cuma di waktu ied doang itu pun tak setiap tahun bisa salat ied karena palang merah terkadang.
__ADS_1