Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Menampar Balik


__ADS_3

Begitu kuota kuhidupkan, pesan demi pesan bermasukan ke handphone-ku yang lebih banyak di isi grup milikku.


[Nanti malam kumpul, gak?]


[Kumpul dong!]


[Queen mana, nih?]


[Queen, kumpul 'kan?]


Kubuang napas perlahan dan mulai mengetik pesan untuk dikirim ke room chat milikku.


[Sorry, Guys! Gak bisa kumpul malam ini, soalnya ada urusan.]


[Yah ... bakal, sepi dong.]


[Wkwkwk, next time, okey?!]


[Siip!]


Brak ...!


Pintu di dobrak membuat aku kaget, segera bangkit dari tempat duduk dan meletakkan handphone asal.


Kulihat sudah ada Ayah tak jauh dari pintu dengan tangan yang terkepal kuat dan rahang yang mengeras.


Mama, Abang dan Farhan sudah keluar juga menuju ruang tengah untuk melihat ke arah Ayah.


"Maaf, ada apa, ya, Om?" tanya Farhan membuka pembicaraan karena bingung dengan apa yang terjadi.


Wajah Mama seketika pucat karena kaget dengan apa yang terjadi sedangkan Abang Farhan menautkan alisnya bingung.


Ayah berjalan mendekat ke arahku sedangkan aku hanya menatap bingung dengan apa yang terjadi padanya.


Plak!


Satu tamparan mengenai pipi mulusku, aku sempat terdiam sebentar dengan rambut yang langsung berantakan karena tamparan yang dibuat.


"Om, ada apa? Kenapa tampar Nazwa?!"


Kuangkat kepala dan menatap ke arah Ayah, kuusap sebentar untuk menghilangkan nyeri yang kurasakan.


Setelah itu, dua orang wanita dengan tergopoh-gopoh berlari masuk ke dalam rumah. Satu wanita langsung memegang lengan Ayah sambil menangis.


"Apa yang kau lakukan sehingga membuat dia menangis?"


Aku diam, berdecih dan menatap tajam ke arah anaknya itu. Dia sedang bermain-main denganku ternyata.

__ADS_1


"Jawab!" bentak Ayah kembali yang kulirik membuat Mama menutup matanya.


"Apa yang kubuat? Dia masih hidup, kalo mati mungkin aku yang buat!" jawabku santai ke arah Ayah.


"Kau ...," geram Ayah dengan berjalan kembali mendekat ke arahku.


"Apa? Ayah mau nampar aku lagi? Ayo! Bukannya pipi aku memang sudah biasa jadi tamparan Ayah dan Ibu?" tanyaku dengan menantang.


Anaknya tetap menangis dan menahan tangan Ayah agar tak lagi mendekat dan menampar pipiku.


Aku berjalan dengan tegas ke arah mereka, kutatap tajam ke arah wanita yang dulu sempat menjadi teman terbaikku.


"Apa yang kau bilang dengan laki-laki ini sehingga dia menamparku, ha?" teriakku di hadapannya.


Ia menggelengkan kepala, "A-aku tidak bilang apa pun. Papa hanya salah paham," jawabnya dengan mendongak menatap Ayah.


Ayah menautkan alis, seketika wajahnya berubah dari yang tadi begitu marah padaku.


"Apa maksudmu, Sayang?" tanyanya dengan begitu lembut.


Cih!


Ingin sekali kuludahi mereka dan menendang mereka semua dari rumah ini. Namun, apalah daya aku saja menumpang.


"A-aku diputuskan oleh pacarku Pa. Aku tak tau apa salahku, begitu saja dia putuskan aku," jawabnya dengan serak.


Plak!


Satu tamparan kukembalikan pada anak kesayangan Ayahku, wanita itu terjatuh akibat perbuatanku.


Wanita paruh baya yang bergelar Mamanya kaget begitu juga dengan Ayah yang berada di sampingnya.


Aku langsung mundur dan menatap tajam ke arah mereka, Ayah menatapku dengan kebencian juga rasa ingin memusnahkan aku sepertinya.


"Jangan mentang-mentang kau Ayahku, seenak hatimu memperlakukan aku, ya! Kau pikir aku apa? Tempat pelampiasan rasa kesalmu?


Aku tak pernah takut padamu! Jangan kau pikir dengan kau beri segalanya padaku aku akan tunduk padamu!


Cih!


Hidup tanpa uangmu pun aku mampu!" tegasku dengan suara yang begitu tinggi. Bisa kupastikan setelah ini aku pasti akan batuk-batuk.


Kutinggalkan mereka semua dan masuk ke dalam kamar, sebenarnya aku takut juga jika Ayah kembali menampar atau bahkan memukulku.


Akibat aku menampar anak tiri rasa anak kandungnya itu, bisa-bisa habis badanku yang memang sudah kurus ini.


Di dalam kamar, aku langsung mencari obat biru yang kubeli di apotek dengan kapas. Kuberikan obat biru ke kapas dan memberikannya ke pipiku yang sudah membiru.

__ADS_1


"Awww," rintisku tanpa sadar sudah ada air mata yang menetes.


Apakah aku lemah? Oh, ayolah! Ini sungguh menyakitkan, tak hanya fisik yang dihajar oleh Ayah tapi juga batinku.


Niat untuk mengobati pipimu hilang, aku menangis sejadi-jadinya bahkan hingga sesegukan.


Tiba-tiba suara pintu dibuka membuat aku kaget dan langsung mendongak, Mama berlari sambil mendekap tubuhku.


Memang, ketika aku masuk ke dalam kamar. Perdebatan berlanjut entah siapa dengan siapa, suaranya tak jelas di telingaku.


Kulirik ke arah pintu, sudah ada Farhan dan Abangnya yang melihat ke arah kami di ambang pintu kamarku.


Mama melepas pelukan dan menangkup wajahku, "Aww ... sakit Ma," ujarku dengan cengengesan menahan sakit akibat Mama sentuh pipiku.


"Eh, maaf Sayang. Mama gak sengaja," ujar Mama dengan rasa bersalah.


Aku tersenyum dan menggelengkan kepala, kulihat sudah ada bulir bening yang turun dari mata teduhnya itu.


Tanganku terulur untuk menghapus jejaknya, "Mama gak perlu menangis, aku gak papa, kok. Ini hal yang biasa aku dapatkan, gak tau kalo wanita tadi hehehe," kataku sambil cengengesan.


"Kita pindah dari rumah ini, ya. Kamu tinggal sama Mama aja, gak usah di sini," ajak Mama dengan suara sendu.


Kutatap ke arah ambang pintu yang masih ada mereka berdua, anggukan kecil diberikan oleh kedua orang tersebut padaku.


Kualihkan pandangan kembali ke arah Mama yang masih terisak melihat keadaanku saat ini.


"Emangnya, aku gak repotin Mama?" tanyaku dengan hati-hati.


"Gak Sayang, sama sekali kamu gak ngerepotin. Kita pergi sekarang juga, ya. Kamu kemasin barang-barang kamu dan nanti biar Farhan yang kembalikan kunci rumah juga motor yang kamu bawa."


"Enggak Ma, biar aku aja yang berikan fasilitas ini kembali pada Ayah," potongku cepat yang ingin membuat dia tahu bahwa anak yang tak bisa diatur juga bandel ini masih ada orang yang sudi menampungnya.


"Biar aku temani," timpal Farhan yang tak mau diam saja.


"Mama bantu obati dulu bekas tamparannya, ya," ungkap Mama dan kubalas dengan anggukan.


"Aw ... pelan-pelan Ma," kataku sambil memegang pergelangan Mama.


Begitu perih rasanya ketika kapas tersebut sedikit di tekan ke pipiku yang baru saja mendapatkan perlakuan kurang baik itu.


Farhan dan Abangnya seketika pergi dari ambang setelah mendengar ringisan dan rintihan dari bibirku yang memang bukan kubuat-buat.


Setelah mengobati pipiku, Mama membantu aku untuk beberes baju. Hampir saja aku lupa bahwa ada kado untuk Mama yang kuletakkan di lemari.


"Eh, udah Ma. Biar aku aja yang lanjut, Mama beres-beres juga aja sana," potongku sambil menahan pintu lemari terakhir.


"Yaudah, cepat, ya," kata Mama dan kuangguki dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2