Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Kematian Anggi


__ADS_3

Tak terasa, sudah sebulan aku tinggal dengan keluarga Farhan. Aku juga belum mengembalikan barang milik Ayah.


Sudah tak ada lagi transfer darinya, ternyata ia semarah itu padaku karena sudah menampar anaknya.


Tanpa diketahui oleh Mama juga Farhan, aku pun sudah bekerja di salah satu cafe kopi yang disarankan Arpan.


Mereka sering datang ke cafe saat senggang dan bercerita juga menghiburku.


[Queen, besok libur 'kan? Jalan-jalan, yuk!]


[Ayolah! Kita belum pernah jalan-jalan, lho!]


[Nah, bener banget. Jalan tipis-tipis dulu, ntar kalo Queen udah ada duit kita gas camping!]


[Gas gas gas!!!]


Aku hanya menghela napas membaca pesan dari mereka di grup, waktu jam kerjaku mulai jam 3 siang hingga jam 10 malam.


[Hayuklah, gas!] kubalas pesan dari mereka. Bagaimana pun aku juga butuh hiburan, tak mungkin harus kerja setiap saat.


Kerjaan telah selesai, cafe telah kututup dan ditemani pemilik cafe. Dia menyerahkan gajian pertamaku di bulan ini.


Setelah selesai, kunaiki kuda besiku dan membelah jalanan di kota ini dengan dingin yang menusuk ke tulang-tulang.


Mama berdiri di ambang pintu menatapku, beberapa kali aku ditanya oleh Mama soal kenapa setiap hari pergi kecuali hari Minggu.


Karena memang, cafe libur di hari Minggu. Beruntung, pemilik cafe seorang yang masih gadis jadi dia pasti perlu waktu weekend untuk kumpul keluarga atau liburan.


"Kamu dari mana aja, sih? Ini bukan yang pertama kali Mama liat kamu pulang sampe larut," tegur Mama setelah kucium punggung tangannya dengan takzim.


Aku diam menunduk, tak tahu harus jujur atau terus berbohong. Aku pun tahu pasti Mama akan curiga dan tak akan percaya lagi dengan alasanku yang itu-itu saja.


"Apalagi sekarang? Kamu habis dari rumah siapa lagi?" tanya Mama saat aku ingin menjawab ucapan Mama.


"Maaf, Ma. Sebenernya, Nazwa kerja part time di salah satu cafe," ujarku dengan menunduk. Tak ada gunanya juga jika terus-terusan berbohong.


"Ha?" Suara Mama terdengar begitu kaget dengan apa yang aku ucapkan, "jadi selama ini kamu kerja?"

__ADS_1


Kudongakkan kepala menatap ke arah Mama sekilas dan menganggukkan kepala.


"Siapa yang kasih izin kamu buat kerja?" tanya Mama dengan nada marah.


"Gak ada Ma, tapi aku gak enak jika terus-terusan numpang hidup sama Mama. Ayah udah gak kasih aku uang lagi bahkan dia udah gak bayar guru aku lagi.


Jadi, aku cuma tinggal dapat uang dari Ibu doang dan Ibu cuma bisa bantu bayar guru aku separuh dan kalo aku mau bayar guru harus pake uang jajan dari Ibu deh.


Aku juga butuh jajan Ma, aku butuh uang buat beli barang atau skincare. Gak mungkin aku minta sama Mama.


Jadi, lebih baik aku kerja aja. Lagian, kerjanya juga gak berat dan lama, kok. Sebentar juga dan pulangnya gak terlalu larut malam," jelasku pada Mama memberi alasan kenapa aku bekerja.


Selain itu, aku juga ingin agar mandiri. Bisa melakukan apa pun itu sendiri tanpa larangan atau paksaan dari orang-orang.


Kutatap wajah Mama menampilkan sendu, dia terlihat kasihan pada apa yang aku jelaskan. Bukan berarti Mama tidak memberiku uang jajan.


Namun, aku selalu menolak karena merasa tak enak. Sudah diterima di rumah dan diberi makan serta tempat tinggal saja, aku sudah amat bersyukur.


Mama mendekap tubuhku, kulihat ada Farhan yang ternyata memperhatikan kami dari tadi. Karena merasa dirinya diketahui, ia masuk kembali ke dalam kamar.


"Gak papa Ma, bukan salah Mama. Udah, yuk, kita masuk! Anginnya makin dingin, nih!" ajakku dengan cepat setelah melepaskan pelukan dari Mama.


Kami masuk ke dalam kamar masing-masing, jujur selama aku bekerja. Tak pernah lagi kujalankan kewajiban kecuali Subuh dan Zuhur saja.


Setelah itu, aku kembali menjadi manusia yang gila dunia dan terobsesi dengan uang uang dan uang saja.


Kurebahkan tubuh ini yang terasa letih, sudah lama tak komunikasi dengan keluarga. Kubuka handphone dan melihat beranda aplikasi gambar kamera itu.


Terlihat Anggi--anak tiri Ayahku itu memposting foto dirinya dengan pacar atau bahkan mantannya seminggu yang lalu.


"Ck! Pacar kayak gitu aja di posting, bukan juga ganteng!" hinaku dengan memutar bola mata malas.


Semasa berteman denganku dulu, memang kami bertiga tak ada yang pacaran. Bukan karena aku melarang, tapi karena mereka yang ingin fokus pada pendidikan.


Sedangkan aku? Bukan karena ingin fokus pada pendidikan, tapi kurasa bahwa tak ada cinta yang tulus di dunia ini.


"Ayahku aja tak mencintaiku, apalagi orang lain?" Kata-kataku ketika para temanku menyuruh aku untuk berpacaran atau menerima ungkapan isi hati seseorang.

__ADS_1


Kuletakkan kembali handphone dengan asal dan mulai masuk ke dalam mimpi yang semoga lebih indah dari kenyataan.


***


Pagi ini, aku tak perlu dibangunin Mama. Aku sudah bangun sendiri dan juga mandi lebih awal sebelum azan berkumandang.


"Kau tau berita sesuatu?" tanya Farhan menatap ke arahku.


Aku mengerutkan dahi, "Berita apa?" tanyaku sambil melirik ke arah Mama yang sepertinya kepo juga.


Farhan monyodorkan handphone-nya ke arahku dan kuambil dari genggamannya, Mama mendekat karena ingin tahu juga.


Di grup sekolah tersebut memberi tahu bahwa Anggi meninggal dunia dengan cara yang begitu tragis.


3 hari mayatnya baru ditemukan oleh polisi yang pastinya ada juga anak suruhan Ayah. Kukembalikan handphone milik Farhan kembali.


Aku sudah tak masuk di grup itu sejak masuk ke kelas 11 SMA dulu, karena memang aku mulai begitu sangat nakal di kelas itu.


"Kita liat nanti, ya," ajak Mama kepadaku.


Kualihkan pandangan ke arah Farhan tanpa menjawab ajakan Mama, "Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" ketusku dengan alis yang terangkat sebelah.


Dia diam dan tak menjawab apa pun, "Apa kau pikir aku yang melakukannya?" sambungku menebak apa yang ada di dalam pikirannya itu.


Plak!


Tangan Mama menepuk tangan Farhan ketika mendengar ucapanku tadi, "Enak aja nuduh Nazwa sembarangan! Kalo gak ada bukti, itu jatuhnya fitnah! Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan!" cerca Mama menasehati Farhan.


"Farhan tidak mengatakan apa pun Ma, dia aja yang sok tau!" ketus Farhan menatap tak suka padaku.


"Paan! Orang mata kau yang menyiratkan semua itu, kalo gak ada pikiran seperti itu. Ngapain liat aku kayak gitu banget, ha?" tanyaku dengan sedikit ngegas.


Sebal rasanya, padahal aku saja tak tahu apa-apa soal kematian Anggi. Bertemu dengannya saja aku sudah tak pernah lagi.


Bahkan, pesan yang selalu dirinya kirim aku tak berniat ingin membacanya. Sebenci itu aku pada wanita itu.


Dan sekarang, mendengar kabarnya yang mati dengan keadaan seperti itu saja tak membuat aku kasian pada wanita tersebut.

__ADS_1


__ADS_2