
Pagi ini aku dan Mama sudah sibuk di dapur sedangkan Farhan di teras depan menyiram dan menyapu pekarangan rumah.
Handphone milikku yang kali ini kucharger di ruang tengah berbunyi cukup keras, "Ma, sebentar, ya," kataku sebelum pergi ke ruang tengah untuk melihat handphone.
Mama mengangguk, kucuci tangan dan mengayunkan langkah ke ruang tengah. Mengambil handphone dan melihat nama yang tertera.
"Ngapain Ayah nelpon aku?" tanyaku dengan menautkan alis bingung.
Langsung kugeser tombol hijau dan panggilan pun tersambung.
"Ada apa?" tanyaku tanpa berniat basa-basi.
"Sayang, nanti siang kamu bisa ke kantor polisi sebentar? Sekitar pukul 11 siang," ujar Ayah dari sebrang.
"Ngapain ke kantor polisi?"
"Ada sesuatu yang penting."
"Jangan bilang bahwa mereka sudah ditemukan."
"Iya, Sayang. Mereka sudah ditemukan dan polisi membutuhkan saksi dari kamu."
"Baik, aku akan datang nanti. Kirim saja alamat di mana kantor polisinya!" tegasku yang sudah mengepal tangan kuat.
Tut!
Panggilan kuakhiri dan pesan masuk melalui aplikasi hijau dari Ayah, tak lama Mis datang ke rumah yang membuat aku melirik ke arah jam.
Ternyata sudah jam 8 pagi, tanpa terasa waktu begitu cepat terlalui. Aku yang mengira bahwa perpisahan Ayah dan Ibu adalah akhir dari kisah hidupku ternyata salah besar.
Itu adalah awal dari segalanya, dari aku yang mulai belajar menjadi wanita yang lebih dewasa lagi.
Kuambil buku dan ketika berniat kembali ke sofa, sudah ada Mama yang menemani Mis. Aku pun duduk di antara mereka.
Satu jam pelajaran telah selesai, "Ma, pelakunya sudah ditemukan Ayah," kataku sambil memeluk buku pelajaran tadi.
"Ha?" pekik Mama yang kaget sambil menatap ke arahku.
"Ada apa Ma?" tanya Farhan yang masuk dengan berlari membuat kami menatap ke arahnya.
"Pelakunya udah ketemu," ujar Mama memberi tahu kepada Farhan.
"Ha?" Farhan juga ternyata sama saja seperti Mama. Dia pun ikut kaget mendengar apa yang aku katakan.
"Terus-terus?" tanya Mama yang penasaran dengan selanjutnya ceritaku.
__ADS_1
"Ayah menyuruh aku untuk ke kantor polisi nanti siang."
"Kau mau menemui mereka?" tanya Farhan yang membuat aku menatap ke arahnya. Persekian detik aku mengangguk.
"Kenapa, tidak? Aku ingin memberikan selamat pada mereka atas apa yang mereka lakukan padaku," kataku dengan tersenyum meski hati perih kembali mengingat kejadian itu.
Tangan Mama mengelus bahuku, "Kalau emang kamu gak mau dan gak kuat buat bertemu dengan mereka. Gak udah dipaksain, ya."
"Iya, Ma. Tenang aja."
"Kamu temenin dia, ya, Farhan. Jangan biarin sendirian ke sana."
"Baik Ma."
Mama yang tadinya berniat mengikat rambutku menjadi tak berniat, Mama menyuruh aku untuk membiarkan rambut ini terurai.
"Semoga suatu saat rambut ini bisa tertutup sempurna, ya," kata Mama sambil menyikati rambutku.
Lagi dan lagi Mama selalu berucap dan berdoa seperti itu untukku, aku tak pernah merasa risih karena Mama memang tak memaksakannya.
Mama hanya berdoa agar hal tersebut dapat kuwujudkan, masalah memakainya Mama tak pernah memaksaku.
"Aamiin," sahutku untuk pertama kalinya karena biasanya aku lebih memilih diam.
Kami keluar dari kamarku dan melihat Farhan sudah siap dengan pakainnya, "Itu apa?" tanyaku saat Farhan memegang kotak makan.
"Biar aku kuat buat pukul mereka?" tanyaku dengan menaikkan satu alis.
"Hahaha, kau ini Sayang," kata Mama dengan tertawa sambil memukul lenganku.
Sedangkan Farhan terlihat mendengus kesal dengan ucapanku tadi, kami langsung menyalim tangan Mama.
Mama juga akan pergi nanti ke toko cake, dia tengah menunggu gojeknya datang karena rumah sakit dan tempat cake Mama berbeda arah.
Aku duduk di bangku belakang sedangkan Farhan di samping supir mobil yang di pesan online.
"Nih, makan," titah Farhan memberikan makanan ke arahku.
Aku mengambil bekal tersebut dan membuka bekalnya, "Banyak banget nasinya, ih!" keluhku yang melihat nasi begitu banyak, "berapa sendok, sih, dikasih?"
"4 sendok."
"Banyak banget, buset! Dikira aku apaan, dah?"
"Yaudah, tinggal di makan aja semana sanggupnya!"
__ADS_1
Dengan mencebik, aku mulai memakan bekal yang diberi oleh Farhan. Benar saja, nasinya tak habis kubuat karena memang porsi nasiku dua centong nasi saja.
Farhan membayar ongkos mobil dan kami turun, berjalan bersama masuk ke dalam bangunan yang bercat putih itu.
"Mbak, dokter psikolog ruangannya di mana, ya?" tanyaku pada resepsionis.
Dia menatap ke arahku dari atas ke bawah membuat aku ikut menatap ke diriku sendiri, "Ada apa, ya, Mbak?" celetuk Farhan yang ternyata memperhatikan hal tersebut.
"Eh, mmm ... nanti lurus baru belok kanan sebelah kiri ruangannya," tunjuk perawat ke arah kami.
"Baik Mbak, terima kasih," ungkap Farhan dan diangguki oleh perawat tersebut.
"Mbak, sekali lagi gak perlu melihat seperti itu. Orang yang ke psikolog belum tentu gila, kok. Mbak juga kayaknya butuh ke psikolog, sih, saya rasa. Permisi!" pamitku dan berjalan meninggalkan tempat resepsionis itu.
Ini kali pertama aku ke sini, jadi aku pastinya tak tahu di mana ruangan dokter yang menjadi dokter pribadiku itu.
Kutatap lurus, melirik ke samping saat merasa bahwa Farhan sedang menatap ke arahku, "Lihat jalanmu, nanti tertabrak," cercaku tetap memandang lurus
"Gak papa, sih, kalau tertabrak dengan jodoh."
"Ck! Apa kau kira ini film-film? Ini dunia nyata, bukan film semata!"
Kami sampai di ruangan yang dimaksud perawat tadi, masuk setelah di suruh oleh orang yang berada di dalamnya.
"Hello, wah ... sepertinya sudah ada yang sangat sehat dan pulih, nih," seru dokter psikolog yang menatap ke arahku dengan tersenyum.
"Alhamdulillah dokter," kataku singkat dan membalas senyuman itu.
Di sepanjang cerita, Farhan hanya diam dan memegang bekal yang dibawanya tadi. Ia hanya menatap ke arahku lalu dokter mencoba melihat interaksiku.
"Alhamdulillah, kayaknya Nazwa udah sembuh 90% selanjutnya tingga sering minum obatnya aia, ya," ujar dokter setelah tes selesai.
"Baik dokter, saya gak perlu ke sini lagi besok 'kan?"
"Enggak, minggu depan aja. Biar saya bisa cek dan kurangi obat-obatan kamu jika emang sudah sembuh dan pulih."
"Baik, terima kasih banyak dokter."
"Iya, sama-sama. Kamu juga harus berterima kasih dengan keluarga Farhan yang sudah membantu dan merawat kamu sampai bisa sembuh secepat ini," tutur dokter yang membuat aku langsung melihat ke arah Farhan.
Kuanggukkan kepalaku tanda paham, "Tentunya dokter, kalau begitu kami permisi dulu, ya," jelasku bangkit diikuti oleh Farhan.
Keluar dari ruangan dokter tersebut dan berhenti di depan pintu ruangannya, "Makasih, ya, Farhan. Aku gak tau harus melakukan apa supaya membalas jasa kamu ke aku," ungkapku yang memang merasa tak enak selama ini.
Dia mengalihkan pandangan karena tak mau netra kami sampai bertemu, "Kau bisa melakukan sesuatu sebagai balas budi," ucap Farhan yang membuat aku menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Apa?" tanyaku menaikkan satu alis dan seketika ia menatap ke arahku dengan senyuman yang tak kupahami.