Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Prioritas


__ADS_3

Cukup lama untuk menyuruh Pak supir pulang terlebih dahulu, hingga dirinya mendengar bahwa Mama memberi izin baru dirinya pulang.


Aku memasuki taman di sore hari, banyak anak-anak yang berlarian di taman ini. Tersenyum melihat mereka begitu bahagia menikmati dunianya.


Andai ... ah, sudahlah! Tak adalagi waktunya berandai-andai. Hidup terus berjalan dan aku harus bisa mulai menikmati hidupku kini.


Bola yang sedang dimainkan anak laki-laki sampai di kakiku, aku mengambilnya dan melihat ke arah mereka yang sepertinya sedikit ketakutan sebab bolanya mengenai kakiku.


Seorang anak laki-laki yang mungkin berusia 5 tahun dengan kulit sawo mateng akhirnya menghampiriku.


"Maaf Kak, itu bola kami. Gak sengaja mengenai kaki Kakak," jelasnya dengan menunduk.


Aku bangkit dari duduk dan jongkok agar menyamakan tinggi dengan dirinya, kuusap kepalanya pelan membuat dia mendongak.


"Gak papa, kok. Ini bolanya, semangat, ya!" seruku menyerahkan bola mereka kembali.


Ia memeluk bola tersebut dan mengangguk kembali ke tengah taman tempat mereka bermain tadi.


Duduk kembali dan memandangi mereka yang sedang bermain, "Kak!" panggil seseorang membuat aku menoleh.


"Eh, iya?" tanyaku yang kaget karena tak mengenali anak perempuan ini.


"Bantuin duduk!" pintanya yang memang bangku ini terlalu tinggi untuk anak-anak.


"Ha?" tanyaku kembali karena merasa aneh. Seorang anak yang tak mengenali orang lain biasanya akan takut, lah ini?


"Bantuin duduk di sini! Aisyah mau duduk, ih!" kesalnya yang merasa aku tak paham-paham dengan apa yang dia ucapkan dari tadi.


Aku sedikit terkekeh lalu membantu ia untuk duduk di sampingku, "Kamu sama siapa di sini?" tanyaku menunduk agar bisa menatap dirinya.


"Cendilian," jawabnya dengan cadel.


"Kok gak takut?"


"Tuh," tunjuknya ke arah baby sister yang ada di ujung taman. Baby sister yang merasa di tatap olehku akhirnya melambai.


"Artinya kamu bukan sendirian, tapi sama baby sister," ucapku yang sedikit kesana dengan bocil ini.


"Kakak cama ciapa?"


"Sendirian juga," ucapku dan kulihat ia mencari-cari seperti seseorang.


"Cari apaan?" tanyaku manautkan sebelah alis.


"Cali baby cictel Kakak, mana tau ada juga di ujung."

__ADS_1


"Haha, Kakak udah gede. Masa, masih di jaga."


Dia bersedekap dada dan menatap ke arahku dengan wajah kesal, "Aku juga udah gede Kak, meleka yang macih anak-anak. Main-main dijagain Mama dan Papa, aku gak pelnah tuh dijagain cama Mama dan Papa," jelasnya membuat aku sedikit tertohok.


Ternyata, memang benar. Bahwa, menjadi orang kaya tak selamanya menyenangkan. Kita harus kehilangan sesuatu hal demi kekayaan tersebut.


Sama seperti aku dan anak ini sepertinya, kehilangan kasih sayang kedua orang tua di saat anak lain menikmatinya.


"Cie ... pacal Kakak, ya?" celetuk Aisyah yang membuat aku mendongak.


"Eh, ngapain?" tanyaku melihat Farhan yang sudah berdiri di samping Aisyah.


"Gak ada, emang mau mampir aja ke sini," ujar Farhan dan duduk si sebelah Aisyah.


"Kamu sama siapa ini?" tanya Farhan natap aku.


"Gak tau, dia tiba-tiba aja datang ke sini."


"Aisyah mau pulang aja deh, udah capek," keluh Aisyah menatap wajah kami satu per satu.


Dia diam sedangkan kami pun sama, "Ih ... tulunin!" pintanya dan langsung diturunkan Farhan.


Dirinya berlari ke arah susternya tadi dan melambaikan tangan ke arah kami juga kubalas dengan lambaian juga.


Setelah kepergian Aisyah, aku dan Farhan hanya saling diam dengan pikiran masing-masing yang entah ke mana.


"Belum tau," jawabku seadanya.


"Sibuk banget, ya?" Aku menoleh ketika mendengar pertanyaan seperti itu dari Farhan.


"Maksudnya?" tanyaku tak paham dengan alis tertaut.


"Ya, kau sibuk sekali sepertinya. Sampai-sampai tak pernah lagi ketemu atau menelpon Mama," ungkap Farhan yang sekarang kupahami.


"Bukan sibuk, hanya mencoba terbiasa dengan keadaan yang ada sekarang," jelasku dan membuat Farhan mengangguk paham.


"Nazwa ...," panggil Farhan dan menghadap ke arahku.


Entah mengapa, jantungku rasanya tak aman saat seperti ini. Seolah merasa bahwa Farhan akan mengatakan sesuatu yang sangat penting.


"Ya?"


'Haruskah aku mengungkapkan perasaanku sekarang? Tapi, kalau dia tolak nanti gimana? Aku juga masih takut untuk ditolak,' batin Farhan dengan keringat yang tiba-tiba keluar dari keningnya.


'Farhan jangan-jangan mau ngajak aku nikah, lagi? Ya, ampun! Maa Syaa Allah banget ini mah kalo dapat Farhan,' batinku menahan senyuman.

__ADS_1


Cukup lama, mungkin sekitar sepuluh menit tak juga ada tanda-tanda Farhan akan mengungkapkan apa yang ingin ia bicarakan.


"Apaan, sih?!" tegurku yang tak tahan lagi plus sudah kepo dengan apa yang akan ia ucapkan.


"Kenapa kau marah?" tanya Farhan dengan wajah tanpa dosanya.


"Lama banget lagian kau tuh, mau ngomong aja sampe 10 menit gini lamanya! Emangnya lagi hafalin dialog?" cetusku mengerucutkan bibir.


"Ck! Ternyata kau nungguin dari tadi?" tanya Farhan menaik-turunkan alisnya.


'Astaga,' batinku yang merasa bahwa menunggu kalimat dari bibir Farhan.


Aku menstabilkan mimik wajah yang tadinya kecewa mencoba biasa-biasa saja, "Enggak, siapa juga yang nunggu kau berbicara!" gelagapku memandang ke arah yang lain.


"Aku cuma mau bilang, meskipun kau mau terbiasa dengan keadaan. Tapi jangan sampai seperti ini sama Mama, hubungilah Mama minimal sebulan sekali.


Bahkan, Mama tak kau hubungi ketika lulus sekolah kemarin. Jangankan Mama, aku atau Bang Rangga aja tak kau kasih tau," ungkap Farhan membuat bahuku merosot.


'Dih, kirain akan ngajak nikah. Ternyata cuma mau ngomong itu aja!' batinku memutar bola mata malas.


'Aku belum berani, huh ... semoga secepatnya akan berani mau itu diterima atau ditolak,' batin Farhan yang masih belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya pada Nazwa.


"Iya, nanti pasti aku akan ke tempat Mama, kok. Tenang aja," jawabku seadanya.


"Baguslah kalau gitu," kata Farhan dengan mengangguk.


Kami akhirnya menatap ke arah taman yang masih terus dipenuhi dengan anak-anak karena memang ada alat bermain di taman ini yang disediakan.


"Kau sama siapa di sini?"


"Sendiri, habis dari tempat Ibu tadi."


"Oh, iya, kenapa tidak datang pas nikahan Ibumu?"


"Sibuk."


"Ck! Susah emang sekarang orang sibuk satu ini buat dijumpai," sindir Farhan dengan nada yang membuatku tertawa.


Aku terkekeh dengan menutup mulutku karena bagaimana pun wanita harus memiliki malu termasuk dengan tertawa yang tak seharusnya dibesar-besarkan.


"Kenapa?" tanya Farhan dengan wajah polos.


"Gak papa, lucu aja seorang Farhan ternyata bisa juga menyindir seseorang, ya?" kataku saat sudah selesai tertawa.


Ia menampilkan wajah kesal setelah tahu apa yang membuatku tertawa, kami akhirnya memutuskan pulang saat melihat langit mulai menggelap dengan awan hitam.

__ADS_1


"Di dalam hidup ini, tak ada namanya sibuk. Semua tergantung prioritas, kalau kau prioritaskan Mama maka tak ada kata itu seharusnya," jelas Farhan yang duduk di bangku depan sedangkan aku di bekanang.


Aku yang tengah mengamati hujan yang turun ke bumi langsung menatap ke arahnya, tak salah dengan ucapannya itu. Aku pun merasa salah dalam berucap tadi.


__ADS_2