
"Kalian pulang sama Ayah aja," ajak Ayah saat kami sudah selesai urusan dengan pihak kepolisian.
"G--"
"Boleh Om kalo gak ngerepotin," potong Farhan dengan cepat saat mulutku ingin mengeluarkan kata-kata penolakan untuk ajakannya.
Kuhela napas berat dan dengan terpaksa ikut ke dalam mobil Ayah, "Nazwa sama Mama aja di belakang, ya," titah Ayah yang mengatur tempat duduk.
Saat lagi dan lagi aku ingin menolak, Farhan kembali berulah. Ia masuk lebih dulu ke bangku di samping sopir padahal kami masih di luar.
"Tak perlu!" tegasku saat Ayah berniat ingin membukakan pintu padaku untuk masuk. Aku masuk sendiri dan sedikit membanting pintu mobil dengan keras.
Di perjalanan, aku hanya mendengarkan pembicaraan Ayah juga Farhan. Padahal waktu itu, aku ingat sekali bagaimana marahnya Farhan saat Ayah menamparku.
Lantas sekarang? Dia malah begitu kelihatan akrab kepada Ayah.
"Ehem!" dehem wanita yang berada di sampingku. Aku meliriknya sekilas dengan bersedekap dada.
"Mmm ... Nazwa, kamu masih homeschooling?" tanya Mama tiriku membuka pembicaraan di antara kami.
"Hm!" dehemku singkat sebagai jawaban. Aku masih belum bisa menerimanya dan entah sampai kapan aku tak tahu.
"Kita mampir makan dulu, yuk!" ajak Ayah saat berniat membawa kami singgah ke salah satu mal
"Tak perlu, Mama sudah masak buat kami. Kesian kalo kami tak makan bersamanya!" potongku dengan cepat ketika melihat Farhan akan mengeluarkan suara dari kaca spion.
Dia langsung membalikkan badan menatapku, kulirik ke arah Mama tiri yang mungkin merasa sedih karena tak bisa makan bersamaku.
"Mm ... baiklah, Ayah akan mengantarkan kalian pulang kalau begitu," putus Ayah yang sepertinya sudah lelah dalam membujukku.
"Itu lebih baik," kataku membuat Farhan menggelengkan kepala dan duduk kembali di bangkunya dengan tenang.
Kami sampai di depan pagar rumah Mama, mobil tak dimasukkan karena nanti membuat ribet saja. Lebih baik biar di depan saja. Lagian, dia tak akan bertamu 'kan?
"Ayo, mampir dulu Om dan Tante!" seru Farhan dengan ramah tamahnya yang membuat aku membulatkan mata menatap ke arah laki-laki itu.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu terbuka dan menampilkan Mama yang sepertinya sudah menunggu kepulangan kami dari tadi.
'Habislah ini, Mama pasti akan mengajak mereka juga buat masuk ke dalam,' batinku mendengus kesal.
"Eh, ada tamu ternyata. Mari masuk dulu, sekalian kita makan siang bersama," ajak Mama yang selalu saja bersikap seperti bidadari.
Kulihat ke arah Mama, Ayah dan Mama tiriku melirik ke arahku. Mungkin, mereka bermaksud bertanya dengan tatapan itu.
Apakah aku memberi izin buat mereka untuk masuk atau tidak, aku melongos pergi dari mereka dan masuk lebih dulu ke dalam rumah.
Ketika sedang di kamar untuk mengganti pakaian, kudengar dari arah luar suara yang sepertinya mereka memutuskan untuk masuk.
Wajah yang kesal tentunya terpasang di wajahku saat ini, kuputuskan untuk tetap berada di kamar lebih tepatnya di pinggir ranjang sambil bersedekap dada.
Tok!
Tok!
Tok!
"Siapa?" tanyaku menatap pintu yang tertutup rapat.
"Mau ngapain?"
"Boleh Ayah masuk? Ayah mau cerita sebentar sama kamu," jelas Ayah yang membuat aku bergeming beberapa saat.
Kuhela napas kasar dan memutuskan untuk membuka pintu, "Ada apa?" tanyaku acuh menatap ke arah lain.
"Ayah boleh masuk?"
Aku diam dan meninggalkan dirinya lebih dulu kembali duduk di tepi ranjang milikku, Ayah masuk dengan membuang napas.
Mungkin, agar dia bisa sabar nantinya dalam berbicara padaku. Pintu tak di tutup oleh Ayah, ia berjalan duduk di sampingku meski dengan jarak yang cukup jauh.
"Nazwa ...," panggil Ayah untuk pertama kalinya dengan begitu lembut dan pelan. Kulihat ke arahnya dengan menaikkan satu alis.
"Ayah tau, kalo Ayah banyak salah padamu. Ayah kejam, Ayah keterlaluan dan lainnya. Kau boleh mencaci juga memaki Ayah.
__ADS_1
Atau ... kalau kau mau, kau boleh menampar Ayah balik seperti Ayah menampar dirimu, memaki dan menghina dirimu.
Kalau Ayah bilang bahwa manusia memang tempatnya khilaf dan salah, kau pasti akan menyangkal itu dan kalimat itu akan kau bilang tempat berlindung dari perbuatan Ayah yang kejam padamu.
Setelah ini, Ayah tak akan pernah menyerah mendapatkan maaf darimu. Bahkan, jika harus bersujud di kakimu pun Ayah akan melakukan hal tersebut demi mendapatkan maaf itu.
Ayah bukan Ayah yang baik, Ayah tau itu. Ayah ... bukan sosok cinta pertama yang seperti orang-orang katakan, Ayah akui itu.
Tak ada yang bisa dibanggakan dari Ayah. Namun, satu yang harus selalu kau ingat dan mengerti.
Bahwa ... Ayah tetaplah Ayahmu, darah Ayah mengalir di tubuhmu. Tak ada Ayah maka tak ada dirimu.
Maaf ... hanya maaf yang Ayah harapkan darimu, maaf dan terima kembali Ayah di dalam hidupmu. Kembali menjadi putri Ayah, kali ini Ayah akan memperlakukan dirimu seperti putri kecil Ayah.
Semua orang pernah melakukan salah dan pastinya berharap dimaafkan, itu pula yang sekarang Ayah lakukan. Berharap dimaafkan oleh dirimu," jelas Ayah membuat aku menatap sendu ke arahnya.
Apa benar ini Ayahku? Atau malah orang lain? Apakah ini hanya sekedar mimpi? Jika, iya, aku mohon jangan bangunkan aku agar mimpi ini tak segera menghilang.
Air mata menetes saat kelopak mataku tertutup sebentar, aku tak pernah percaya dengan semua yang dikatakan oleh Ayah.
Langkah seseorang masuk ke dalam ruangan ini membuat pandanganku juga Ayah menatap ke arah orang tersebut.
Mama tiriku masuk dengan sendu, mungkin dia sudah mendengar pembicaraan kami dari awal hingga aku terdiam seperti sekarang.
Mama duduk di tengah-tengah kami, aku dan Ayah tak perlu bergeser untuk memberikan dia ruang karena memang jarak kami awalnya begitu jauh.
Mama tiriku langsung mendekap tubuhku, cukup lama ia terisak dan kurasakan baju belakangku sedikit basah.
Tak kubalas sama sekali pelukannya hingga akhirnya dia tersadar akan kelancanganya itu, "Ma-maaf, maafkan Mama," ujarnya dengan terbata dan menatapku.
Aku masih bergeming, ia menghapus air mata dan menatap ke arahku, "Maafkan Mama selama ini, mungkin semuanya terlalu mendadak bagimu. Mama tiba-tiba hadir di dalam kehidupan dan keluarga kalian.
Mungkin, anak Mama juga ada salah padamu. Maafkan Mama, Mama ingin menebus semua itu selagi ada waktu.
Mama ingin menyayangimu seperti anak kandung Mama sendiri, Mama ingin menjaga dan mencintaimu Nazwa.
Berikan Mama kesempatan itu, berikan Mama kesempatan untuk merasakan memiliki anak kembali," kata Mama sendu dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Mama?" tanyaku mengulang kalimat dirinya. Ia melirik ke arah Ayah sebentar.
"Eh, maksud saya Tante," gelagap Mama tiriku yang mungkin merasa tak enak sebab lancang dan terlalu berharap kupanggil dirinya dengan sebutan Mama.