Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Angkot


__ADS_3

Waktu belajarku telah tiba, Mama menemani aku belajar di sini sekarang. Bahkan, yang seharusnya hanya satu jam malah jadi tiga jam karena Mama ingin tahu bagaimana cara belajar dengan metode seperti ini.


Apakah akunya benaran akan jadi pintar dan diakui oleh negara bahwa lulus SMA atau bukan dan lain sebagainya.


"Kenapa kamu gak sekolah di tempat lain aja, sih? Mama khawatir kalau kamu tetap sekolah dengan metode kayak gini," keluh Mama yang terlihat khawatir dari raut wajahnya.


Miss sudah pulang setengah jam yang lalu setelah Mama memberi makanan dan minuman sambil menyambung cerita yang belum selesai.


"Khawatir kenapa Ma?" tanyaku dengan menaikkan satu alis.


"Ya, kamu jadi gak bersosialisasi sama temen-temen kamu."


"Gak papa Ma, aku seneng malah sekolah begini. Aku gak banyak ketemu sama orang-orang."


Mama menghela napas pasrah dan hanya mengangguk, aku sedikit terkekeh mendengar ucapan Mama.


"Bik, mau ke mana?" tanya Mama saat melihat Bibik membawa kresek belanja.


"Mau belanja Nyah."


"Biar saya aja," potong Mama dan berdiri dengan cepat meminta kresek juga catatan keperluan, "kamu mau ikut?" Aku mengangguk dan merapikan buku-buku yang ada di mejaku.


"Bentar, ya, Ma," kataku berlari ke dalam kamar untuk menyimpan buku.


Kami akhirnya berjalan ke luar gang agar mudah mencari transportasi umum, "Kita naik apa Ma?" tanyaku menatap Mama dengan tanganku yang di genggam erat.


"Naik angkot aja, kamu gak mabok 'kan?" tanya Mama menatap ke arahku.


Aku tak pernah naik angkot sebelumnya, mendengar kata-kata temanku bahwa di angkot bau dan segala macem.


Membuatku lebih tertarik naik gojek atau taksi saja, meskipun memang ongkos angkot jauh lebih murah.


"Mm ... enggak kayaknya Ma," ujarku yang bingung juga. Mana bisa aku bilang mabok sedangkan aku tak pernah menaikinya.


Mama memberhentikan angkot yang kebetulan hanya ada satu penumpang di dalamnya, kami sampai ke pasar dengan selamat tanpa ada adegan mabok dariku.


Mengikuti Mama layaknya anak kecil, entah mengapa ada perasaan sakit dan terharu saat melakukan hal ini.


Aku dan Ibu juga dulu pernah melakukan hal seperti ini, aku akan mengikuti Ibu dari belakang sambil memegang bajunya agar tak hilang.


Namun, itu dulu. Jauh sebelum ego menyerang mereka dan kata 'cukup' tak pernah lagi ada di dalam rumah tangga.

__ADS_1


Bang Gilang memang dulu kuliah, hingga dia memutuskan untuk berhenti di tengah jalan begitu tahu Ibu mulai masuk kerja kembali.


Dia sengaja berhenti agar Ibu tetap kembali menjadi seorang istri dan ibu saja tanpa bekerja. Tapi, semua sudah terlambat.


Mau Bang Gilang berhenti sekali pun kuliah, Ibu tetap lanjut bekerja bahkan hingga akhirnya mereka bercerai.


"Kamu mau coba, Sayang?" tanya Mama tiba-tiba yang membuatku mengerjap, "dikasih coba sama Abangnya." Mama menyodorkan jeruk yang sudah dikupas.


Aku mengangguk dan mencoba jeruk yang dibere Mama.


"Anaknya Buk?" tanya penjual jeruk. Mama mengalihkan pandangannya dengan senyum yang tetap tertampil ke tukang jeruk.


"Iya, Bang."


"Haha, lucu, ya, Buk. Kelas berapa Buk? Masih SMP, ya?"


"Enggak Bang, udah SMA," jawab Mama yang membuatku tertegun. Mama mengakui aku sebagai anaknya pada pedagang buah.


"Gimana? Enak? Kamu suka?" tanya Mama setelah aku selesai mengunyah jeruknya.


"Enak Ma, suka," jawabku tersenyum sambil mengangguk.


"Pak, 1 kilo, ya," pesan Mama dan langsung diangguki oleh penjual dengan semangat.


Tak apa, selagi aku merasa percaya diri dan suka. Aku akan tetap pakai hingga malam nanti. Matahari semakin terik, Mama mengajak aku untuk pulang karena waktu salat Zuhur akan tiba.


Kutelan saliva melihat isi orang yang ada di dalam angkot, penuh. Mama melihatku terlebih dahulu, "Kenapa? Atau ... kita naik ke angkot berikutnya aja?" tanya Mama yang melihat wajahku sudah pucat pasi tentunya.


"Gak usah deh Ma, kita naik aja. Lagian, rumah kita gak jauh," jawabku sambil cengengesan.


Begitu aku duduk di bangku yang pas-pasan untuk bokongku, tak ada celah untuk bergerak meski hanya ke kanan atau ke kiri.


Angkot mulai berjalan dan naasnya, kaca angkot tak bisa dibuka. Mau tak mau bau pun langsung tercampur di dalam.


Aku ingin menutup hidung tapi merasa tak enak, 15 menit telah berlalu. Aku langsung keluar dari angkot dengan cepat tanpa memperdulikan Mama.


Kukeluarkan sarapanku tadi pagi akibat naik angkot itu, aku terduduk lemas di pinggiran jalan. Mama menghampiri aku setelah membayar ongkos angkot.


"Sayang, kamu kenapa? Masih kuat berdiri, gak?" tanya Mama dengan jongkok.


Kuanggukkan kepala dan membawa kresek yang dari tadi memang sudah dipegang, "Sudah, Mama aja yang bawa," potong Mama dan mengambil kresek yang ada di tanganku tadi.

__ADS_1


Tubuhku lemas seketika saat makanan sudah tak ada lagi di tubuh, aku di papah Mama sampai ke dalam rumah.


Di dudukkan tubuhku ke sofa, Mama langsung buru-buru ke dapur, "Ada apa?" tanya Farhan yang baru saja pulang dari sekolah. Terlihat dirinya masih pakai seragam sekolah.


"Mama gak tau dia gak bisa naik angkot," potong Mama yang sudah ada di ruang tamu sambil memberikan air hangat padaku.


"Minum dulu, Sayang," titah Mama dan membantuku minum, "Farhan, tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar Mama!"


Farhan mengangguk dan pergi dari ruangan, "Maafin Mama, ya, lain kali kamu kasih tau Mama aja kalo emang gak bisa naik atau makan sesuatu," lirih Mama yang terlihat merasa bersalah.


Entah atas dorongan dari mana, aku memeluk Mama karena merasa kesihan pada wanita di sampingku kini.


"Mama gak salah, Nazwa gak tau kalo akan muntah juga naik angkot. Kan, gak pernah naik angkot sebelumnya," ucapku dan mengelus punggung Mama.


Pelukan kulepas dan tersenyum menatap Mama, tak lama Farhan kembali hadir. Mama mengoleskan minyak kayu putih ke tengkuk, tangan dan menyuruhku untuk mengoleskan sendiri ke perut.


"Kamu tidur aja, ya, nanti pas waktunya shalat Dzuhur Mama bangunkan buat shalat dan makan siang."


"Mama mau ke mana?"


"Mau masak."


"Aku ikut aja, deh."


"Gak usah, kamu istirahat aja."


"Bosen di kamar Ma, aku liatin Mama aja kok."


"Yaudah, liatin aja ya. Nanti kamu capek kalau bantuin."


Aku mengangguk, kami berjalan bersama ke belakang. Bibik sudah terlihat memberesin belanjaan yang kami beli tadi.


"Bi, cucikan jeruk dan kasih ke Nazwa, ya," titah Mama dan diangguki Bibik.


"Handphone-mu bunyi," kata Farhan yang langsung kulihat.


Aku bangkit dan berniat untuk mengambil handphone, baru beberapa langkah dan tepat berada di depan Farhan.


Tubuhku kembali lemas dan mata seketika tampak gelap. Beruntung, tubuhku di tangkap dengan cepat oleh Farhan.


Pandangan kami bertemu beberapa detik hingga akhirnya Mama datang dan Farhan menegakkan tubuhku.

__ADS_1


"Sayang, kamu kayaknya emang butuh istirahat deh. Sana, kamu istrahat aja. Ayo, Mama antar," ujar Mama dan memapah tubuhku ke kamar.


Kulirik sekilas ke arah belakang, Farhan terlihat melihati kami hingga aku dan Mama sudah hampir sampai di kamarku.


__ADS_2