
*Allah SWT juga berfirman, “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar),” (QS. Ath-Thalaq: 1*).
Ketukan palu telah berbunyi dan hakim pergi dari ruangan setelah urusannya selesai, kedua orang yang duduk di depan tadinya tersenyum bahagia.
Aku berdiri dengan Bang Gilang yang juga ada di sampingku, sepanjang pengadilan tadi kami sama sekali tak bertegur sapa meski duduk bersebelahan.
"Ingat, kau harus nafkahi mereka bukan wanita murahanmu itu!" tekan Ibu menatap wajah Ayah.
"Ck! Kau tak perlu khawatir soal itu, kau tenang saja. Aku bukan laki-laki bego yang mau menafkahi orang asing dan membiarkan anak-anakku," sindir Ayah menatap wajah wanita yang sudah sah bukan istri dan mahramnya lagi.
"Setelah ini? Kami akan undangan ke mana dulu? Ayah, atau Ibu?" tanya Bang Gilang yang membuka suara setelah tak pernah lagi kudengar suaranya bertahun-tahun.
Kursi dia dorong dengan keras dan berlalu keluar dari ruangan yang hanya tinggal beberapa orang saja.
"Permisi!" pamitku yang seolah baru saja pamit dengan orang asing. Aku pergi berlalu dari ruangan itu.
Setahuku, di gedung ini tak jauh ada taman. Aku segera berjalan dengan sedikit berlari ke arah taman tersebut.
Duduk dengan menaikkan kedua kakiku, memeluk lutut dan membenamkan wajah. Kutahan isakan sebisa mungkin meski taman tak terlalu ramai orangnya.
Mungkin, karena masih siang jadi tak terlalu ramai orang di sini. Kurasa, ada tubuh yang terduduk di sampingku.
Kuhapus air mata segera dan mengintip siapa yang ada di sampingku sekarang ini, tisue dia sodorkan ke arahku.
"Hapuslah, aku tak akan melihat air matamu itu," titahnya dan menutup matanya.
"Aku tak butuh! Pergilah!" usirku dengan air mata kehapus kasar dengan tanganku. Dia kembali membuka mata dan meletakkan tisue di tengah kami.
Helaan napas berat terdengar dari bibirnya, ia menatap lurus ke depan, "Apa orang tuamu baru selesai bercerai?"
"Gak, habis dangdutan di dalam sana!" ketusku menjawab asal. Kekehan kecil kudengar dari bibirnya itu untuk pertama kali.
Aku bangkit, berniat untuk pergi. Sangat tak suka saat ada orang lain yang ikut campur atau bertanya padaku.
Berjalan entah ke mana, tak kuhiraukan laki-laki itu yang mengikuti atau bahkan menatapku. Aku ingin sendiri kali ini.
Ting ...!
Suara notifkasi pesan masuk ke dalam handphone-ku yang sedari tadi ada di saku celana.
__ADS_1
[Pulang!] titahnya padaku yang entah dapat dari mana nomor-ku.
"Cih! Apa haknya menyuruhku? Apa karena dia Abang jadi dia berhak untuk mengatur-ngaturku?" gumamku dengan berdecih.
Tapi, aku pun tak tahu akan ke mana lagi siang ini. Jam sudah menunjukkan pukul 3, sudah hampir sore dan perutku kembali lapar.
Mau tak mau, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Hanya ada satu mobil, artinya Ayah dan Ibu tak pulang ke rumah ini.
"Duduk ke sini terlebih dahulu!" perintah Bang Gilang saat aku hendak naik ke kamar.
"Ada apa?" tanyaku dengan punggungnya yang kutatap.
"Duduk!" titahnya ulang dan dengan malas aku pun akhirnya berjalan ke arahnya. Duduk di sofa single yang ada.
"Aku dengar, kemarin malam kau pingsan," ucapnya membuka obrolan.
"Bukannya itu hal biasa yang kulakukan?" tanyaku dengan menaikkan satu alis, "kau yang mengajarkannya!" Aku pernah melihat Abang mabuk-mabukan saat aku ingin mengajaknya pulang dan membantu untuk melerai perkelahian antara Ayah dan Ibu.
Tapi, aku malah ditampar dan di dorong olehnya. Saat itu aku pun dibantu oleh pacar entah sewaannya atau apanya.
Namun, kutepis karena risih dengan pakaian wanita itu. Malah, sekarang aku pun memakai pakaian seperti itu meski lebih sering kali pakaian tomboy.
"Untuk apa kau peduli padaku? Bukankah aku bukan adikmu? Dan jika mereka bunuh aku bahkan sekalian, itu juga bagus. Tak ada yang mau aku hidup dan menjadi bagian dari keluarga ini 'kan?" debatku yang merasa dia tak seharusnya ikut campur dalam hidupku.
"Kau sungguh keras kepala! Kuperingatkan sekali lagi, jangan berteman apalagi dekat dengan para bajingan itu!" tekannya menunjuk ke arahku dengan rahang yang mengeras.
"Hahaha, para bajingan saling mengumpat sepertinya," kataku dengan kekehan dan bangkit dari sofa.
Terlihat wajahnya kaget dengan ucapanku barusan, tangannya turun dan mengepal sempurna membuat urat-urat di tangannya terlihat.
Kulempar tas ransel setelah mengunci kamar, masuk ke dalam kamar mandi menghidupkan shower.
Terduduk di lantai kamar mandi dibawah guyuran air, kupeluk kembali lutut dan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa Tuhan? Kenapa aku tak mati saja? Kenapa tak Kau panggil aku secepat mungkin, aku capek Tuhan capek! Hidup macam apa ini? Apa yang harus aku syukuri dan nikmati dengan kehidupan yang tak jelas seperti ini?" tanyaku dengan berteriak.
Setelah diguyur air dengan waktu cukup lama, hingga tanganku keriput dan memucat. Gigiku gelemetuk menahan dingin.
Keluar dengan piyama dan langsung masuk ke dalam selimut, kurebahkan tubuh dengan perut yang sudah meminta haknya.
__ADS_1
Kukira, bisa memejamkan mata terlebih dahulu agar rasa dingin bisa hilang. Nyatanya, sama sekali tak bisa.
Turun ke bawah dengan memeluk tubuhku dan berjalan ke arah meja makan, "Ya, Allah Non. Non kenapa?" tanya Bibik yang sudah lama bekerja di sini.
"Gak papa Bik."
"Bibi buatkan teh hangat bentar, ya," ujarnya dan sedikit berlari ke arah dapur. Aku membuka piring dan mengambil nasi juga lauk pauk yang ada di atas meja.
Tak lama, suara Abang dengan seseorang terdengar dari ruang keluarga/tamu. Entah apa yang mereka bicarakan, aku pun tak paham.
Padahal, pas aku turun tadi. Tak ada orang, artinya tamu tersebut baru saja datang ke rumah ini.
"Kau kenapa? Bibik di mana?" tanya Bang Gilang yang ke dapur.
"Di belakang," ucapku sambil memasukkan nasi menggunakan tangan.
"Di depan, ada pengacara Ayah dan Ibu. Setelah makan kau ke depan, mereka akan membahas soal harta yang akan dibagi ke kita dan soal rumah ini juga," jelas Bang Gilang yang membuat aku menatap ke arahnya karena kata terakhirnya.
'Kenapa? Kenapa dengan rumah ini? Apa rumah ini akan digantikan penghuninya?' batinku yang akhirnya mengalihkan pandangan ke nasi.
Bang Gilang mencari Bibik untuk menyuruh wanita yang sudah senja itu membuatkan teh, aku membawa teh yang masih ada sisahnya ke depan dengan tubuh yang sudah lumayan menghangat.
Pengacara Ibu lebih dulu membuka suara, Ibu menjelaskan bahwa akan menjenguk kami setiap bulan.
Kami pun akan tinggal di rumah dia seminggu selama satu bulan sekali, tak ada yang protes dengan isi dari Ibu.
Sekarang, giliran pengacara Ayah. Di awal ketetapan Ayah, Bang Gilang sudah tak terima. Ia marah-marah kepada pengacara.
"Dan untuk Nazwa, mulai besok akan ada anak dari temen Ayah yang datang ke rumah baru untuk mengajarimu. Kau akan home schooling dan dibantu juga dengan anak dari teman Ayah, dia bahkan akan tinggal di rumah baru tersebut karena mengingat bahwa Abangmu jarang ada di rumah," ujar pengacara membacakan isi perintah dari Ayah.
"Siapa yang mau home schooling? Aku tak menginginkan itu!" geramku yang tak terima dengan keputusan Ayah semaunya saja.
Kedua pengacara sama sekali tak peduli, mereka keluar dari rumah tak lama datang mobil untuk membawa kami.
Benar yang dikatakan Abang, bahwa rumah ini akan berpindah penghuni. Ayah akan tinggal di sini dengan wanita barunya.
Rumah ini atas nama dia dan tak ada nama Ibu sama sekali, padahal Ibu berkata bahwa rumah ini dibeli juga dari hasil keringat dan tabungan Ibu.
Tapi, Ibu tak peduli lagi. Lepas dari Ayah itu lebih utama menurutnya, sampai kini aku belum mendengar dari Ibu kejelasan tentang apa sebab mereka bercerai sebenarnya.
__ADS_1