Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Kempes Ban


__ADS_3

"Untuk apa dia ke tempat sampah?" gumam Farhan melihat ponselnya untuk mengetahui keberadaan Nazwa.


Tanpa wanita itu ketahui, Farhan dan Gilang sudah sekongkol untuk menghidupkan GPS di handphone miliknya itu.


Tak lama, panggilan dari nomor Gilang pun berbunyi di handphone milik Farhan.


"Iya, Bang?"


"Dia sama siapa ke sana?"


"Gak tau Bang, tapi kayaknya sama musuh-musub Abang itu. Soalnya tadi malam, Nazwa pakai jaket dari salah satu mereka dan tadi siang dia bawa papar bag yang pasti isinya jaket itu," jelas Farhan.


"Baik, gue mau ke sana buat jemput dia."


"Farhan juga ikut Bang!"


"Oke, kita ketemu di sana."


Farhan mengangguk dan mematikan panggilan, ia segera bersiap-siap dan memesan ojek online agar cepat sampai ke lokasi.


"Bik, ada liat Mama?"


"Lagi tidur kayaknya Farhan."


"Oh, kalau gitu bilang Farhan lagi keluar sebentar, ya, Bik."


"Baik, hati-hati, ya."


Farhan mengangguk dan keluar dari rumah, beruntung Mamanya sedang tidur. Kalau tidak? Tentu saja ia tak akan diberi izin untuk keluar.


Begitu sampai di lokasi, sudah ada Gilang yang menunggu Farhan. Mereka hanya berdua dan pergi mencari keberadaan Nazwa.


"Buset, dikasih pelet apa lagi Adek gue sama mereka. Bisa-bisanya mau ikut ke tempat beginian," gerutu Gilang sambil menutup hidungnya.


"Beginilah manusia, belum ada sama sekali kesadarannya terhadap sampah. Sampai sebanyak ini tumpukannya," ujar Farhan dengan menampilkan wajah miris.


Mereka kembali melihat handphone untuk mencari di mana tempat Nazwa berada, "Bang, itu dia!" tunjuk Farhan ke arah Nazwa yang tengah berada di depan anak-anak.


"Kita samperin sekarang juga!" ajak Gilang dengan jiwa yang sudah memanas akibat melihat senyuman para Bagas dan gengnya menatap Nazwa.


"Jangan Bang!" cegah Farhan sambil menahan lengan Gilang untuk menghampiri mereka.


"Apanya yang jangan? Lihat wajah mesum mereka itu! Gue yakin, mereka pasti memikirkan hal yang aneh-aneh kepada Adekku!" geram Gilang dengan rahang yang mengeras.


"Kalau kita bawa paksa Nazwa sekarang dan bertengkar dengan para laki-laki itu, yang ada Nazwa malah berpikiran jeleknya ke kita bukan ke mereka.

__ADS_1


Bahkan, bisa jadi seketika Nazwa jadi percaya pada mereka-mereka itu dibanding ucapan Abang yang menjelaskan tentang maksud mereka mendekati Nazwa."


Mendengar ucapan Farhan, Gilang terdiam, "Benar juga yang kau bilang, baiklah kita akan liat aja apa yang akan mereka lakukan."


"Lagian, Nazwa tadi udah janji sama Mama buat pulang paling lama jam 4. Sebentar lagi juga dia akan pulang sepertinya," papar Farhan yang diangguki oleh Gilang.


Mereka terpaksa bersembunyi di balik rumah warga yang ada di sekitaran penampungan sampah ini.


Meskipun risih dan tak nyaman, mereka terpaksa melakukan itu demi menjaga agar Nazwa tak diapa-apakan oleh mereka.


***


Anak-anak itu tengah menulis dan mengerjakan soal yang kuberi, mereka tampak bahagia dan menyambut diriku dengan baik.


Kulihat gadget, "Sudah jam 3," gumamku yang merasa bahwa jamku kali ini sudah habis.


Karena, aku sudah janji pada Mama paling lama pulang jam 4 sore. Kususun buku-buku yang sengaja kubawa juga pulpen.


Menghampiri Bagas yang ada di ujung bangku, "Kenapa?" tanyanya menatapku.


"Aku harus pulang lebih dulu, soalnya udah janji sama Mama buat cepat pulang," ungkapku yang membuat mereka saling pandang.


"Secepat ini?" tanya Bagas setelah melihat jam di tangannya.


"Iya."


"Gak usah, aku udah pesan gojek kok tadi." Aku kembali ke arah meja depan untuk memakai ransel juga berpamitan dengan anak-anak tadi.


Tersenyum dengan bangga karena bisa bermanfaat untuk anak-anak yang tidak bisa bersekolah seperti mereka.


"Ngapain ke sini Dek?" tanya Pak gojek yang mungkin merasa aneh dengan titik jemputnya.


"Lagi ngajar Pak."


"Ha?"


"Iya, ngajar anak-anak yang tinggal di sini."


"Emangnya ada rumah di situ?" Kuanggukkan kepala dan naik ke atas jok belakang, wajah Pak gojek terlihat bingung dengan jawaban yang kuberi tadi.


Apakah dia tak percaya dengan ucapanku? Padahal, hal seperti ini sudah tak asing bahkan ada salah satu Youtuber yang juga membuat vlog tentang keseharian dia yang tinggal di tumpukan sampah bahkan memiliki tetangga.


***


Saat melihat Nazwa sudah pergi menggunakan gojek, Farhan dan Gilang keluar dari persembunyian mereka menuju parkiran.

__ADS_1


"Gimana Bang? Kita tunggu mereka apa kita langsung pulang aja?"


"Kita pulang, tapi tinggalkan kesan yang wow buat mereka," ucap Gilang dengan tersenyum membuat Farhan seketika kebingungan sendiri.


Setelah melakukan hal yang mereka inginkan, Gilang mengantarkan Farhan pulang menggunakan sepeda motor milik teman Gilang.


Dirinya juga sebenarnya belum berjumpa dengan Ayahnya untuk meminta transportasi agar memudahkan dirinya jika ingin pergi-pergi.


"Bang, itu gak papa 'kan?" tanya Farhan sedikit khawatir dengan apa yang mereka lakukan.


"Ya, gak papalah. Orang cuma bannya yang kita kempeskan, bukan remnya kita potong," kata Gilang dengan sedikit teriak agar bisa terdengar oleh Farhan yang berada di jok belakang.


Kegiatan belajar-mengajar telah selesai, Bagas dan gengnya langsung berjalan ke arah parkir motor mereka.


"Sial! Gagal kita langsung mau buat pelajaran tuh ke Adeknya Gilang!" maki Bagas memukul tempat duduk sepeda motornya.


"Padahal, jarang-jarang dia mau diboncengi kayak tadi!" timpal Arpan yang memang sudah beberapa kali mengajak Nazwa untuk bareng.


"Yaudah, kali. Kan ada next time, dia pasti sekarang udah tau bahwa kita itu orang yang baik-baik. Gak seperti yang Abangnya tuduhkan, kita harus memperlakukan dia seperti ratu terlebih dahulu. Jangan gegabah atau kita tak akan dapat apa-apa nantinya," imbuh Lio yang membuat semuanya mengangguk.


"Yaudah, cabut yuk!" ajak Bagas dan menaiki sepeda motornya.


Saat mereka menaiki sepeda motor, ada perasaan yang aneh, "Kok motor gue jadinya berat banget, ya," ucap Arpan yang menggoyangkan ke kanan dan kiri stang motornya.


"Iya, sama, ya."


"Pantesan aja, ternyata ban kita kempes semua! Siapa yang buat ini, ya?" tanya Lio yang menyadari bahkan bannya sudah kempes dan teman lainnya.


"Ha? Tadi baik-baik aja, kenapa bisa gini?"


"Pasti ada yang buat begini."


"Nazwa? Apa tuh cewek?" timpal Arpan yang mengingatkan bahwa Nazwalah lebih dahulu pulang tadi.


"Kampret tuh bocah! Bisa jadi emang dia, sih, yang buat kempes. Mana jauh lagi bengkel isi angin!" rutuk Bagas mendengus kesal.


Mau tak mau, mereka harus mendorong sepeda motor cukup jauh ke tempat bengkel. Di saat panasnya matahari mereka harus tetap berusaha mencari bengkel agar sepeda motornya dapat berjalan kembali.


Sesampainya di bengkel, mereka langsung terduduk lemas di lantai bengkel.


"Kalian pada kenapa?" tanya tukang bengkel dengan menautkan alis.


"Ada jual es, gak Pak? Haus, nih!" keluh Bagas sambil mengipasi wajahnya menggunakan tangan.


"Ada, mau es apa?"

__ADS_1


"Terserah Pak, sekalian isikan angin ke ban kami bertiga, ya," titah Bagas dan diangguki oleh pemilik bengkel.


Seolah tenaga untuk bangkit dan duduk di bangku yang tersedia tak mereka miliki lagi, hanya bisa terduduk di lantai bengkel yang padahal sangat kotor karena dipijak-pijaki oleh orang-orang.


__ADS_2