Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Pindah Rumah


__ADS_3

*Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al-Isra' ayat 32*.)


Kami telah sampai di depan rumah yang berpagar warna putih dan tak memiliki loteng, mungkin mengingat hanya cuma kami berdua yang tinggal.


Tak ada pembantu, memang itu perintah dari Ayah. Kami tak diberi pembantu juga supir, apa-apa sekarang harus sendiri.


Suara notif masuk ke handphone, ternyata uang transfer dari Ayah dan Ibu. Mereka akan mengirim uang setiap bulan ke kami.


"Aku mau pergi, kau tak apa sendiri 'kan?"


"Buat apa nanya?" tanyaku sambil mendorong koper ke kamar. Dia keluar dari rumah dan menguncinya.


Di dalam mobil tadi, kami sudah diberi kunci satu-satu. Aku juga punya kunci cadangan rumah ini.


Tok tok tok.


Suara ketukan terdengar saat aku sudah memegang gagang pintu kamar, "Dih, siapa sih? Orang mau beberes juga!" ketusku dan akhirnya berjalan ke pintu.


"Ha? Kau ngapain ke sini?" tanyaku heran saat melihat Farhan sudah ada di depan rumah dengan koper di sampingnya, "ngapain bawa koper segala?"


"Aku yang akan membantumu belajar selain guru home schooling," jelasnya dengan tersenyum begitu tipis.


Kunaikkan satu bibir ke atas, "Dih, apaan! Gak ada!" tolakku yang mulai frustasi dengan apa yang sudah dilakukan Ayah.


"Tenang, kita gak akan berdua. Akan ada pembantuku nanti di sini, tapi dia hanya melayani aku. Bukan kau dan Abangmu," jelasnya yang membuat aku tak bisa lagi berkata-kata.


Kukepal tangan dan teriak sambil berjalan masuk, mengusir dia pun tak mungkin lagi. Jika Ayah yang sudah menyuruh maka tak bisa diganggu gugat.


Meskipun tak ada tingkat, tapi rumah ini lumayan besar hingga kamar yang ada di dalamnya empat. Pas untuk aku, abang, Farhan dan pembantunya.


"Gila! Aku sampe gak habis pikir, bagaimana bisa Ayah nyuruh dia? Apa hubungan dia dengan Ayah sampe dia mau-mau aja?" geramku dengan mondar-mandir di samping kasur dengan kamar yang tak terlalu luas.


Setelah selesai membersihkan kamar dan menyusun baju-baju ke dalam lemari dengan tiga pintu.


Kuambil handphone dan kublokir nomor Ayah, aku geram rasanya pada laki-laki itu. Tak apa bukan kalau aku membencinya?


"Kau tak makan? Ini sudah hampir jam 7 malam," teriak suara yang sekarang sudah tak asing di telingaku.


"Tidak, kau saja," usirku dengan tetap berbaring di kasur sambil tarik-ulur sosial media.


"Keluar!"

__ADS_1


"Apa hakmu menyuruhku?" tanyaku dengan suara yang kunaikkan satu oktaf.


"Atau kugendong kau dari kamar menuju meja makan!" ancamnya seketika membuat aku duduk dengan cepat.


Meletakkan handphone di nakas dan membuka pintu yang sudah ada dia di depan kamarku, "Jangan suka diancam!" hardiknya dan berlalu meninggalkan.


"Aku sudah makan," ujarku dan berdiri sambil memegang kursi kayu.


"Jam berapa? Di mana?"


"Kenapa kau repot-repot peduli padaku? Aku bukan siapa-siapamu!"


"Ayahmu berjasa pada keluargaku, aku sama seperti dirimu. Tak ingin hutang budi," tekannya di kalimat terakhir seperti ucapanku tadi siang di saat memberinya air mineral.


"Ck!" Aku berdecak dan mengalihkan pandangan, "ternyata karena ada sesuatu. Aku udah yakin, sih, mana ada di zaman sekarang yang benar-benar tulus membantu!"


"Tentunya, siapa yang mau membantu tanpa balasan? Aku juga salat dan melakukan kewajiban demi mendapatkan balasan dari Allah yaitu surga dan kehidupanku baik-baik saja."


Aku terdiam dan menatap ke arahnya, "Terserah!" potongku mengakhiri perdebatan. Kembali ke kamar dan berniat untuk kembali nongkrong di cafe.


Belum puas rasanya aku di situ bahkan kopiku saja belum habis kuminum akibat telepon dari Ibu tadi siang.


"Kau mau ke mana?" tanya Farhan yang tiba-tiba sudah berada di ruang tamu saja.


"Bukan hanya itu, aku juga diperintahkan menjagamu. Ini sudah jam 7 malam dan bentar lagi mau Isya, lebih baik kau makan dan salat habis itu tidur. Pembantuku mungkin akan datang besok agar kau ada yang menemani di rumah saat home schooling nanti."


Kumajukan tubuhku ke arahnya, aku tak habis pikir. Apakah dia tak letih berucap seperti layaknya kepala sekolah.


Mungkin, kalau dia dan Buk Wati digabungkan akan cocok. Sama-sama tak bisa berhenti berbicara.


"Bodo amat!" kataku menekan setiap kata yang kuucapkan barusan.


Keluar dari rumah dan menguncinya dari luar, setidaknya ia perlu waktu untuk mengambil dan membuka pintu rumah.


Beruntung, gojek yang kupesan sudah datang. Sebenarnya, aku bukan anak yang banyak menuntut.


Buktinya, saat tak ada satu pun mobil yang diberi oleh Ayah dan Ibu aku tak mengapa. Bahkan, ketika moge-ku diambil kembali padahal sudah berapa banyak uang sekolah yang kuhabiskan untuk renovasinya aku tak masalah.


Aku diam, tak banyak mengeluh dan membiarkan ini semua berjalan bagaimana menurut takdir saja.


Kadang ... aku masih tak menyangka ini semua nyata. Memang, semenjak aku masuk sekolah SMP.

__ADS_1


Ibu dan Ayah sudah mulai sering berantem, hingga akhirnya Ibu memutuskan untuk kembali bekerja dan diterima di salah satu perusahaan yang cukup besar juga.


"Dek, udah sampe," kata tukang gojek memberi tahu.


"Eh, iya, bentar, ya, Pak," kataku dan turun dari jok belakang. Membuka helm dan memberikan kembali ke pemiliknya tak lupa dengan ongkos.


"Lah, kok datang ke sini lagi Dek?"


"Tadi siang ada urusan Mbak, jadi gak sempat sampai habis minum kopinya," jawabku dengan cengengesan.


Pelayan cafe hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, ia masuk ke dalam dengan nampan yang di pelukannya.


Mengambil handphone dan melihat ada beberapa panggilan yang tak terjawab dari nomor yang tak dikenal.


Tak kihiraukan, chat pun masuk silih berganti tapi satu pun tak ada yang membuatku tertarik untuk membacanya.


Aku lebih tertarik untuk melihat beranda sosial mediaku yang ada meskipun terbilang sangat membosankan.


Saat aku mendongak, pas di saat Bang Gilang masuk dengan wanita seksi dan tangannya berada di pinggul wanita itu.


"Cih! Dasar cowok brengsek!" makiku pada Abangku sendiri. Tiba-tiba, ide jahil terlintas di pikiranku.


Aku bangkit dan saat bersamaan pelayan ingin meletakkan pesanan di mejaku, "Mbak, minta tolong tunggu sebentar, ya. Saya mau ke dalam dulu," titahku dan bersyukur langsung diangguki oleh pelayan.


Kulihat mereka duduk di meja bagian dalam sedangkan aku biasa duduk di pojok bagian teras cafe ini.


Tentu saja jika orang yang tak memperhatikan tak akan melihatku, soalnya aku lebih sering menunduk karena membaca buku atau tidur di meja cafe ini.


"Hay, Sayang. Kamu kok bisa di sini, sih? Sama siapa kamu ke sini?" celetukku tiba-tiba yang langsung duduk di samping Bang Gilang.


Satu meja, hanya berisikan tiga kursi saja. Wanita yang sedang di tatap Bang Gilang akhirnya melihat ke arahku dengan wajah garang.


"Apa-apaan sih kau Nazwa! Jangan gila deh!" maki Abang yang pasti sudah sangat marah padaku.


"Haha, kenapa sih Sayang? Ini selingkuhan kamu yang keberapa?" tanyaku dan mengalihkan pandangan ke arah wanita tersebut.


"Hm, gak papa sih kamu selingkuh sama siapa aja. Yang penting, kamu nikahnya tetap sama aku 'kan. Kita 'kan udah dijodohkan sama orang tua kita," sambungku lagi dan tersenyum ke arah wanita yang wajahnya sudah merah padam.


Cup.


Kukecup pipi Bang Gilang dan melambaikan tangan manja ke arah mereka, tak lama suara air yang disiram terdengar.

__ADS_1


"Ups ...." Kututup mulutku dan terkekeh sambil melihat ke arah meja mereka dari mejaku, tak bisa menahan tawa lagi aku terpaksa membekap mulutku sendiri dengan kuat.


__ADS_2