
Entah bagaimana bisa, sekarang aku tengah ditemani oleh mereka menuju rumah di jam 10 malam.
Awalnya aku menolak, tapi mereka bersekeras ingin mengantarkan aku sampai rumah dengan motor yang berbeda.
"Udah, sampe sini aja," kataku sambil berhenti di simpang gang rumah.
"Jauh lagi Queen?"
"Enggak, deket kok. Udah, kalian pulang aja."
"Kok, rumahnya beda?"
"Iya, sekarang aku tinggal sama Mama bukan Ibu lagi," kataku menatap wajah mereka yang seketika kebingungan.
"Oh, yaudah deh. Bye, Queen." Mereka melambaikan tangan sambil berlalu dengan motornya dari kawasan rumahku.
Aku menatap motor mereka sampai benar-benar menghilang baru masuk ke dalam rumah, kulihat pintu sudah tertutup rapat.
Dengan pelan membuka pagar agar moge milikku bisa masuk ke dalam garasi rumah, senyum yang tak lekang tertampil di wajahku.
Ada bahagia diperlakukan begitu manis dengan mereka tanpa aku harus khawatir bahwa mereka akan ad perasaan denganku.
Aku sudah resmi masuk ke dalam geng Bagas, mereka janji akan memperlakukan aku dengan baik dan tak akan ada yang jatuh cinta padaku.
Tentu saja aku gembira akan hal itu, kekurangan kasih sayang dan perhatian membuat aku mudah berubah sifat karena perlakuan mereka.
Saat mereka tahu aku belum makan, mereka langsung sibuk membuatkan masakan yang tak kalah enak dari masakan Mama.
Bahagia, senang. Seketika yang kurasakan, perasaan benci dan kecewa hilang ketika bersama dengan mereka.
"Assalamualaikum," salamku pelan. Aku tak lupa dengan amanat dari Mama agar selalu memberi salam baik pergi atau pun keluar rumah dan perlahan mulai kuterapkan.
Lampu ruang tamu sudah padam dan hanya ada lampu hias yang berwarna kuning hidup di samping televisi.
Plak!
Suara pukulan terdengar dari sofa, seperti orang yang memukul tangannya akibat digigit nyamuk atau lainnya.
Aku yang sudah melangkah ingin masuk ke dalam kamar langsung merubah haluan untuk melihat siapa yang ada di sofa.
Mataku membulat kala melihat ternyata Mama tengah meringkuk di sofa dengan mata yang terpejam.
Berjalan mendekat ke arah Mama dan melihat wajah teduh wanita itu, tanganku tergerak untuk menyentuh tangannya yang tertutup baju panjang.
__ADS_1
"Mama," panggilku pelan bahkan seperti berbisik. Ternyata, Mama tak terlalu tidur dengan lelap. Terlihat, saat suara yang begitu kecil ia langsung membuka mata.
Mama mengerjapkan matanya dan duduk sambil melihatku, ia mengalihkan pandangan ke arah jam dinding.
"Kamu habis dari mana? Ini udah hampir jam 11, lho," kata Mama dengan suara serak khas orang baru bangun.
Suara lampu dihidupkan terdengar yang membuat seketika ruangan ini kembali terang menderang.
Aku dan Mama langsung mengalihkan pandangan ke arah orang yang berdiri tak jauh dari kami.
"Dari mana kau? Tak taukah kau Mama sudah menunggumu lama di sini? Apa kau kira Mamaku tugasmu buat menunggumu?" tanya Farhan dengan nada marah tapi wajahnya masih saja datar.
"Farhan! Kamu gak boleh gitu!" tegur Mama menautkan alis dengan wajah marah.
"Ma ... maafin aku, ya, lain kali Mama gak usah nungguin aku," jelasku mematap Mama dan belum merespons ucapan Farhan yang sebenarnya sudah memancing aku untuk marah.
"Apakah kau kira kami bisa melakukan hal itu? Lalu ... kalau ada sesuatu terjadi padamu, apa yang akan kami katakan pada Ibu juga Ayahmu itu?
Kau bukan anak kecil lagi, berpikirlah bahwa orang juga punya kehidupan! Bukan hanya mengawasimu yang seenak hati.
Kau bahagia di luaran sana, sedangkan kami? Harus berdoa agar kau tak kenapa-kenapa di dalam rumah ini!"
Tak tahan lagi dengan ucapan Farhan yang kurasa begitu sangat berlebihan, aku tahu mereka khawatir.
"Kalau Ayah dan Ibu bertanya, bilang kalo aku bukan urusan kalian. Kalau perlu bahkan, mulai besok aku akan keluar dari rumah ini agar kalian tak perlu khawatir lagi padaku!" terangku dan berjalan masuk ke dalam kamar meninggalkan anak dan ibu itu.
Kubanting pintu dengan keras dan tak lupa menguncinya, aku menangis sejadi-jadinya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun tak melakukan ini.
Kurasa, pertahananku untuk terlihat kuat dan baik-baik saja sudah tak bisa. Aku letih dengan semua ini.
Aku tak ingin dimengerti, tapi biarkan aku bebas dengan apa yang kumau. Jika ingin beri nasehat, berilah dengan cara yang baik.
Bukan dengan begitu keras dan bentakan yang tak pantas, karena bagaimana pun aku seorang wanita.
Yang terkenal dengan lemah lembutnya dan mudah perasa, kututup wajah dengan bantal agar tak terdengar suara tangisan.
Tok ...!
Tok ...!
Tok ...!
Suara ketukan terdengar dari luar, aku sudah tahu siapa yang akan membujukku. Pasti Mama merasa bersalah dan tak enak hati padaku.
__ADS_1
"Sayang ... maafkan ucapan Farhan tadi, jangan pergi Sayang. Buka pintunya," kata Mama dari luar.
"Pergi Ma! Biarin aku sendirian dulu!" teriakku dengan membuka bantal agar suara yang keluar terdengar jelas.
Helaan napas berat terdengar dari bibir Mama, "Baiklah, Nak. Maafkan Mama dan Farhan, kamu tidurlah dan jangan sampai begadang nangisnya. Besok kita akan bicara," papar Mama yang tahu bahwa aku tengah menangis.
Setelahnya, hanya suara langkah menjauh yang terdengar olehku. Aku kembali menangis entah sampai jam berapa hingga akhirnya tertidur tanpa kusadari.
Suara anjing menggonggong membuat aku terjaga dari tidur, kulirik ke arah gorden masih gelap.
Bangkit dengan perlahan dan merasa bahwa kepalaku begitu berat efek dari menangis semalam.
Kulirik jam di nakas yang berukuran kecil, baru jam 2 malam. Artinya aku baru tertidur beberapa jam saja.
Kembali merebahkan tubuh untuk melanjutkan mimpi dan agar mataku yang terasa bengkak bisa sedikit mengempes.
"Sayang ... ayo bangun! Shalat Subuh," panggil Mama dari luar yang membuat mataku kembali terbuka.
Tok ...!
Tok ...!
"Sayang?" sambungnya lagi akibat tak mendapat sahutan dariku.
"Iya, Ma," jawabku agar Mama berhenti mengetuk pintu kamar yang berisik.
Dengan langkah gontai, aku berjalan membuka pintu. Mama menatapku dari atas hingga bawah membuat aku mengikuti.
"Ada apa Ma?" tanyaku dengan menaikkan satu alis.
"Kamu seperti ini pergi tadi malam?"
Kuanggukkan kepalaku dengan perlahan, "Emangnya kenapa Ma?"
"Kakimu hampir terlihat semua, Mama khawatir nanti kamu kenapa-kenapa kalau pergi seperti ini. Kamu gak papa 'kan?"
"Gak papa, kok, Ma. Aku baik-baik aja."
"Syukurlah, yuk, kamu mau mandi dulu atau apa? Biar Mama siapkan air hangat."
"Mau mandi dulu aja, deh, Ma," kataku dan dibalas dengan anggukan juga senyum dari Mama.
Mama pergi ke dapur sedangkan aku masuk kembali ke kamar tak lupa menutup pintu, kulihat diriku dari pantulan cermin.
__ADS_1
"Emangnya kenapa? Aku tetap cantik, kok, meski pakai dres yang mini kayak gini," gumamku dengan menaikkan bahu bingung.